Elora

Elora
Bab_27 (Menyerah)


__ADS_3

"Presdir, sebaiknya anda segera berganti pakaian," usul Diky pada Kenan yang diam melamun.


"Tidak bisa! Elora, dia ...." Kenan tidak melanjutkan perkataannya.


Diky menghela nafas panjang, ini sudah kesekian kalinya ia meminta Kenan berganti pakaian dan Kenan terus saja menolaknya.


"Biar saya yang menunggu Nona Elora," bujuk Diky.


"Ha ... baiklah, segera beritahu saya bila ada yang terjadi pada Elora," pesan Kenan lalu pergi menuju toilet untuk berganti pakaian.


Diky duduk sambil melamunkan kejadian-kejadian besar yang telah ia lalui. Pada hari ini dia mendapatkan sebuah kejutan yang tak pernah terbayangkan olehnya.


Presdir Kenan yang banyak dijuluki sebagai seorang yang memiliki perasaan menampik semua julukan itu dengan tangisan penuh kesedihan karena takut kehilangan orang yang ia cintai. Hari ini, ia sadar bahwa Kenan adalah manusia biasa, sama seperti dirinya.


"Semoga saja Nona Elora baik-baik saja, karena ... aku tak akan sanggup untuk meredam kemarahan Presdir Ken bila sampai Nona Elora meregang nyawa dengan cara seperti ini," monolog Diky.


Diky mengarahkan tatapannya kepada seorang pria berpenampilan layaknya seorang Dokter. Dia menggelengkan kepalanya saat melihat pria itu berjalan dengan angkuh.


"Sikap dia tidak pernah berubah," gumam Diky seraya menggelengkan kepalanya.


"Ey, yo. Diky!" serunya menepuk bahu Diky.


"Berhenti bersikap kekanak-kanakan, Ciko!" ujar Diky penuh penekanan.


Ciko berdecih.


"Gue gak kekanak-kanakan, ya. Yang ada lo tu, ketua-tuaan!" balas Ciko mendudukkan dirinya di samping Diky.


Diky memicingkan matanya.


"Bicaralah selayaknya orang dewasa!"


"Maksud lo apaan?" tanya Ciko heran.


"Itu, kata lo-gue," jawab Diky sewot.


"Asal lo tau, yah, si Kenan yang lebih tuwir dari gue aja masih pake kata lo-gue," balas Ciko tak kalah sewot.


"Presdir Kenan?"


"Presdir Kenan-Presdir kenan, gak usah pake embel-embel Presdir-lah. Jijik gue dengernya," gerutu Ciko.


Diky tak lagi menyahut, jika dilanjutkan lagi mungkin telinganya akan budeg karena suara Ciko yang menurutnya tidak enak didengar.


"Dik, si Elora kenapa, sih, nj*r? Perasaan, tu anak baru keluar tadi siang?" tanya Ciko serius.


Ciko datang ke rumah sakit lantaran di perintahkan oleh Kenan untuk memeriksa kondisi Elora. Namun, Kenan tidak memberitahukan alasan mengapa ia harus memeriksa kondisi Elora.


"Nona Elora baru saja melakukan percobaan bunuh diri, dia---"


"Gila! Kemaren-kemaren dia udah berjuang melawan kematian. Eh, hari ini dia malah nantang kematian," sela Ciko berapi-api.

__ADS_1


"Cara bunuh dirinya begimana?" tanya Ciko.


"Menabrakkan mobil, dan terjun ke sungai," jawab Diky apa adanya.


Ciko mendelik.


"Dua kali percobaan tapi gak mokad, si Elora hebat banget." Ciko berdecak kagum.


Diky memijat pangkal hidungnya, ia merasa bingung kenapa seorang seperti Ciko bisa menjadi Dokter.


Beberapa saat telah berlalu, sebuah brankar keluar dari ruangan ICU.


"Diky, lo ikutin si Elora sana! Biar gue yang nungguin si Kenan, sekalian nanyain kondisinya ke Dokter yang meriksa Elora," perintah Ciko yang diangguki Diky.


"Lah, kok, Papah?" kata Ciko kala ayahnya keluar dari ruangan.


"Terus, harus siapa Ciko?" geram papahnya.


"Nggak tau!" acuh Ciko.


"Lah ...."


"Si Elora begimana, Pah?"


Papahnya tak segera menjawab, ia bingung harus memulai dari mana.


"Pah ...!" panggil Ciko yang tak sabar ingin mengetahui kondisi Elora.


"Haduh, kok, parah banget ... tapi si Elora sekarang aman 'kan?" Ciko bertanya kembali.


"Aman, sebentar lagi dia akan segera sadar," jawab papahnya yakin."


Ciko menghela nafas lega, ia sangat bersyukur karena Elora dalam keadaan aman-aman saja meskipun mengalami banyak luka.


"Ciko, kamu coba diskusikan dengan Kenan mengenai cara untuk menguatkan mental Elora, supaya kedepannya Elora tidak mempunyai niatan untuk mengakhiri hidupnya," tutur papahnya kemudian bergegas pergi lantaran ia harus menangani pasien yang lain.


***


"Ken, lo harus coba sebisa mungkin buat nguatin Elora!"


Kenan mengusap wajahnya kasar, ia tidak mengetahui caranya. Selama ini ia tidak pernah dekat dengan orang lain, dan sekarang ia harus membuat mental seseorang menjadi kuat.


"Mungkin lo ceritain kehidupan yang lo jalanin," saran Ciko.


"Kehidupan gue?"


"Yoi," sahut Ciko tersenyum lebar.


"Jijik!"


***

__ADS_1


"Jadi, Elora di mana?" tanya Gavin kepada ayahnya.


Saat ini Gavin beserta keluarganya berkumpul di ruang tamu untuk mendiskusikan mengenai Elora yang menghilang. Ya, setelah dilakukan penyelidikan, anggota kepolisian mengungkapkan bahwasanya tidak ada korban jiwa dalam peristiwa kecelakaan tunggal itu.


"Ayah sudah meminta orang untuk mencari keberadaan Elora di rumah sakit terdekat," jawab ayahnya.


"Hah ... semoga saja Elora bisa segera ditemukan," ucap Gavin penuh harap.


"Mas, disekitar sana 'kan ada sungai, bisa jadi Kak Elora hanyut di sana," celetuk Cantika.


"Betul itu," timpal ibunya,.


"Jangan memanas-manasi!" peringat Ayah Gavin yang sukses membuat mereka membisu.


Pikiran Gavin kembali kacau, harapannya untuk menemukan Elora berkurang.


"Gavin mau istirahat dulu," pamit Gavin meninggalkan ruangan tersebut.


Selang beberapa detik, Cantika sudah bersiap untuk mengikuti Gavin. Namun, aksinya itu keburu dihentikan oleh Ayah Gavin.


"Kamu jangan mengganggu Gavin!" peringatnya.


"Jika sampai kamu memasuki kamar Gavin, saya akan membuat kamu menyesal," lanjutnya sengit.


Cantika memang telah resmi menjadi istri kedua Gavin, hanya istri Gavin, bukan menantu dari keluarga Aryasatya.


Sebelum pernikahan dilangsungkan, Ayah Gavin bahkan sudah membuat surat pembagian warisan. Yang di mana di surat itu tertulis nama Elora yang mendapat 60% kekayaan keluarga Aryasatya apabila Ayah dan Ibu Gavin meninggal. Lalu 40% sisanya akan diberikan kepada Gavin, sedangkan Cantika sebagai istri kedua tidak akan mendapatkan apa-apa.


'Dasar, tua bangka!' batin Cantika geram.


***


Kini, jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari. Kenan, pria tampan itu tertidur di sebuah sofa yang berada di ruangan Elora.


Pria yang gila kerja itu meninggalkan banyak sekali pekerjaannya demi untuk menemani Elora.


Perlahan, Elora membuka kelopak matanya yang terasa begitu berat. Wanita itu mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan.


'Rupanya aku belum mati,' batin Elora.


Elora berusaha menggerakkan tubuhnya yang sakit, setelah melakukan upaya keras ia berhasil duduk bersandar.


'Aku tidak mau hidup menderita seperti ini,' batinnya lagi.


Elora menggerakkan lengan kirinya untuk meraih sebuah gelas. Elora berniat untuk memecahkan gelas tersebut, dan menggunakan pecahan gelas itu untuk melukai pergelangan tangannya.


Prang!


Gelas yang diinginkan Elora itu jatuh ke lantai dan pecah, dan mustahil baginya untuk mengambil pecahan gelas itu dengan kondisi tubuhnya yang seperti sekarang ini.


Kenan yang tertidur itu langsung terbangun begitu mendengar suara yang nyaring itu.

__ADS_1


"Elora ...."


__ADS_2