
Kenan mulai waspada tatkala mendengar suara langkah kaki yang mendekati ruangan.
'Bagaimana cara untuk menutupinya, dengan selimut yang ditimpa tubuh Elora,' batin Kenan panik.
Ceklek!
Refleks, Kenan melemparkan jas yang berada di tangannya itu hingga menutupi tubuh bagian atas Elora, bahkan wajah Elora juga ikut tertutup.
"Kenan!" pekik Elora kesal.
"Maaf, El." Kenan menyingkap jas yang menutupi wajah Elora.
Kenan menengok ke belakang, pintu sudah terbuka tetapi tidak ada orang yang masuk. Apa mungkin salah masuk ruangan? Pikir Kenan.
"Kamu kenapa lagi?" tanya Elora dengan ekspresi kesalnya.
"Ah, saya kira akan ada orang yang masuk ke sini," jawab Kenan panik.
Kening Elora mengkerut.
"Lantas, apa hubungannya orang yang masuk dengan jas yang kamu lemparkan?"
"Ti--tidak ada." Kenan tergagap dengan mata yang tertuju pada bagian dada Elora yang lebih terekspos dari sebelumnya.
Elora merasakan gelagat mencurigakan dari Kenan, matanya membola begitu sadar akan arah dari tatapan Kenan.
"Mes*m!" pekik Elora memegang bagian atas bajunya supaya dadanya tidak lagi terekspos bebas di hadapan Kenan.
Kenan memalingkan wajahnya, jantungnya sudah berdegup kencang karena khawatir Elora akan marah kepadanya dan tidak bersedia ditemui.
"Seberapa lama kamu melihatnya?" tanya Elora ketus.
"Baru saja," jawab Kenan berbohong.
"Jangan berbohong, Kenan!"
"Saya tidak berbohong, Elora!"
"Kenan! Kamu pasti melihatnya dari tadi 'kan?" desak Elora.
"Pantas saja tadi kami bilang saya nggak tevos, rupanya ... argh! Dasar bajing*n mesum." Elora melemparkan jas kepada Kenan.
Wajah Kenan terlihat masam, tetapi pria itu masih setia duduk di sana memperhatikan Elora yang kesulitan mengancingkan baju menggunakan tangan kiri.
"Biar saya bantu!" usul Kenan.
Elora menatap sinis Kenan, tidak tahu malu sekali dia, pikir Elora.
"Saya akan memejamkan mata," sambung Kenan.
"Yasudah!" sahut Elora.
"Yasudah apa, El?" goda Kenan.
Elora mencebikkan bibirnya, jika bukan karena Kenan telah banyak menolongnya, mungkin ia akan menendangnya sedari awal.
"Bantu saya, tapi kalau sampai kamu mengintip ... saya tidak akan segan kepada kamu," ancam Elora.
Kenan tersenyum tipis, senyuman itu mengartikan kata setuju atas ancaman yang dilontarkan Elora.
Mata Kenan sudah terpejam, tangannya bergerak mengancingkan baju Elora. Satu kancing baju Elora telah berhasil dikancingkan oleh Kenan dan kini hanya tersisa satu kancing yang berada di bagian dada Elora.
Tok! Tok! Tok!
__ADS_1
Kenan terkejut hebat mendengar suara ketukan pintu, saking terkejutnya Kenan secara tidak sengaja mendaratkan kedua telapak tangannya tepat di dada Elora.
"Kenyal dan lembut," gumam Kenan dengan mata yang masih terpejam.
Blush!
Wajah Elora memerah seketika.
"Aaa ...." Elora berteriak.
Mendengar teriakan Elora, Kenan langsung membuka matanya.
"Kenapa, El?" tanya Kenan dengan kedua tangan yang belum pindah dari dada Elora.
"Tangan kamu!" bentak Elora.
Kenan terperangah melihat tangannya yang berada di bagian dada Elora. Bukannya menyingkirkan tangannya, Kenan malah merem*s pelan dada Elora.
"Elora!"
Mendengar suara seseorang memanggil Elora, Kenan refleks mengangkat kedua tangannya bak seseorang yang diciduk polisi.
"Ayah!" seru Elora tatkala melihat ayah mertuanya yang berada di ambang pintu.
"Presdir Kenan!" panggilnya.
Kenan memicingkan matanya, ia tidak kenal kepada Pak tua yang Elora panggil dengan sebutan Ayah.
"Hey, Kenan! Nyahut-lah ...," seru Elora sinis.
Ayah mertua Elora terperangah, menantunya bisa se-santai itu berbicara dengan seorang Kenan Anderson? Itu terasa seperti mimpi.
"Iya, anda siapa, yah?" tanya Kenan.
"Mertua? Berarti anda Ayah dari si bajing*n yang berani menyakiti sepupu saya?" ujar Kenan pedas.
"Jaga ucapan kamu, Kenan!" geram Elora.
"El---"
"Ayah keluar dulu sebentar, El mau ngomong sesuatu sama Kenan," ucap Elora sopan.
Ayah mertua Elora itu segera keluar dari ruangan, tak lupa ia menutup pintu ruangan itu rapat-rapat.
"Kenapa kamu berbicara sekasar itu kepada Ayah saya?" tanya Elora sengit.
"Dia bukan ayah kamu," sanggah Kenan santai.
"Saya juga bukan sepupu kamu," balas Elora tak mau kalah.
"Kamu---"
"Ah, ya ... saya belum memperhitungkan pelecehan yang telah kamu lakukan," sela Elora.
"Saya juga belum memperhitungkan balasan dari segala kebaikan yang saya lakukan kepada kamu," balas Kenan tersenyum miring.
Elora diam membisu, ia tak dapat menyangkal perkataan Kenan. Sedangkan Kenan terkekeh, kali ini dirinya sukses membungkam mulut Elora. Dengan begini, Elora tidak akan membahas kembali pelecehan yang telah dilakukan olehnya.
"Bagaimana?" tanya Kenan menaikkan kedua alisnya.
"Kalau begitu kita impas," jawab Elora memalingkan wajahnya dari Kenan.
Selesai dengan masalahnya dan Elora, Kenan berjalan menuju pintu untuk mempersilahkan ayahnya Gavin memasuki ruangan.
__ADS_1
"Jangan terlalu lama, Elora butuh istirahat," peringat Kenan kepada Ayah Gavin.
Elora memicingkan matanya tatkala melihat Kenan duduk di sofa.
"Apa yang kamu lakukan, Kenan?"
"Tentu saja, duduk."
"Maksud saya, kenapa kamu tidak keluar? Saya mau berbicara penting dengan ayah saya," jelas Elora.
"Kamu mengusir saya?" Kenan menunjuk dirinya.
"Terserah kamu saja-lah! Yang penting kamu diam," pasrah Elora.
Kenan merebahkan tubuhnya, matanya tertuju pada handphone dan telinganya fokus untuk mendengarkan obrolan Elora bersama Ayah mertuanya.
"Elora, ini mengenai perceraian kamu dan Gavin," ujarnya membuka percakapan.
Elora mulai serius, begitu juga dengan Kenan yang langsung berdiri.
"Kamu pasti ingat bahwa pernikahan kamu dan Gavin sangat diinginkan oleh almarhumah Ibu kamu. Sebelum Ibu kamu meninggal dia berpesan kepada Ayah," tuturnya yang menarik perhatian Kenan untuk mendekat.
"Pesan apa?" tanya Elora penasaran.
"Kamu tidak bisa bercerai dengan Gavin," jawabnya yang membuat Kenan dan Elora terperangah.
"Omong kosong!" teriak Kenan murka.
"Kamu diam, Kenan!" ucap Elora penuh penekanan.
"Tapi, El---"
"Kalian hanya bisa bercerai bila Gavin yang menginginkannya," sela Ayah Gavin.
Kenan mengacak kasar rambutnya kasar, kemudian tertawa hambar.
"Pandai sekali anda dalam mengarang cerita," ungkap Kenan dengan sorot penuh kebencian.
"Saya tidak mengarang," sanggahnya meyakinkan.
"Apa jaminannya?"
"Nyawa saya." Ayah Gavin mengatakannya tanpa ada sedikitpun keraguan.
"Saya akan mengingat itu, jika anda ketahuan berbohong. Maka ... saya sendiri yang akan menghabisi nyawa anda," ucap Kenan dengan aura yang mengancam.
Selepas mengatakan itu, Kenan mendekati Elora yang kembali murung. Kebenciannya terhadap keluarga Aryasatya semakin menumpuk.
"3 minggu ke depan, Elora akan tinggal bersama saya," kata Kenan seraya mengusap air mata Elora.
"Kenan ...," lirih Elora.
"Baiklah," sahut Ayah Gavin.
"Kalau begitu, silahkan anda tinggalkan kami. Dan saya minta jangan ada seorangpun dari keluarga anda yang datang menjenguk Elora," peringat Kenan.
Ayah Gavin itu mengangguk, lalu keluar meninggalkan Elora dan Kenan yang saling berpegangan tangan.
Bruk!
Setelah menutup pintu, pria tua itu terduduk lemas.
'Elora, maafkan Ayah karena telah berbohong kepada kamu ....'
__ADS_1
"Ayah tidak ingin kehilangan menantu sebaik kamu," gumamnya pelan.