
Ciko, pria yang mengaku sebagai Dokter legendaris itu berlari menuju ranjang Elora, lalu memeluk tubuh Elora yang terbaring di ranjang. Elora meronta, tangan kanannya yang sakit itu tertimpa bagian tubuh Ciko.
"Heh!"
Kenan yang melihat Elora kesakitan itu menarik baju bagian belakang Ciko, kemudian mendorongnya hingga terjatuh ke lantai.
"Cengeng!" ledek Kenan tatkala melihat Ciko menangis.
"Kenan, jangan seperti itu. Kasihan Kak Ciko," tegur Elora.
"Huwa ... Elora!"
Ciko bangun dan langsung memeluk Elora, kali ini ia pastikan lengan Elora tidak akan tertimpa barang sedikit saja.
"Ciko!" teriak Kenan.
"Elora ...," rengek Ciko.
"Udah, Kak. Kenan gak usah didengerin, soalnya hari ini dia agak-agak gila," ucap Elora pedas.
Kenan yang mendengar ucapan Elora itu hanya bisa menghela nafasnya.
"Gue ditinggal nikah sama pacar gue, El!" jerit Ciko diiringi isakan.
"Mampus!" celetuk Kenan.
"Diem lo iblis!" seru Ciko menunjuk wajah Kenan.
Ciko berkata sesuai isi hatinya, ia tak merasa takut mengata-ngatai Kenan. Dikarenakan saat ini dirinya berada di dalam perlindungan Elora.
"Ciko!" teriak Kenan murka.
"Gendang telinga saya bisa pecah kalau kamu terus-menerus berteriak," ujar Elora sinis.
Wajah Kenan seketika menjadi muram, perkataan Elora kepadanya semakin pedas. Dan penyebabnya adalah Ciko, si pria yang suka mengacaukan kebahagiannya.
Sorot mata Kenan tertuju pada undangan yang tergeletak di lantai, itu adalah undangan pernikahan yang dibawa Ciko. Ia yang merasa penasaran pun mengambil undangan tersebut, sudut bibirnya tertarik ke atas saat melihat nama mempelai pria yang tertulis apik di kertas undangan.
"Lepas dari dekapan Ciko, masuk ke dalam pelukan Vito," gumam Kenan diakhiri dengan kekehan.
Mata Ciko menajam saat telinganya samar-samar mendengar Kenan menyebutkan nama Vito.
"Kak Ciko," panggil Elora karena melihat perubahan yang jelas pada ekspresi Kakak angkatnya.
Alih-alih menyahuti panggilan Elora, Ciko bergegas merebut undangan mantannya yang berada di tangan Kenan.
Kilatan amarah terpancar dari mata Ciko seusai melihat nama musuhnya bersanding dengan nama mantan kekasihnya yang masih mengisi separuh ruang hatinya. Ciko meremas undangan itu hingga menjadi sebuah bulatan, kemudian ia menjatuhkan bulatan undangan itu dan menginjaknya.
Bruk!
__ADS_1
Ciko terduduk lemas di lantai dengan kepala yang menunduk, sampai kapan pun ia tidak akan bisa ikhlas bila kekasihnya itu harus menjadi milik musuhnya.
Suara isak tangis memenuhi ruangan, yang mana tangisan itu membuat Elora dan Kenan saling lirik melirik karena bingung harus melakukan apa terhadap Ciko.
"Saya harus apa?"
Kenan bertanya tanpa bersuara, hanya dengan gerakan mulutnya saja, dan itu bisa dicerna dengan baik oleh Elora.
Elora mengedikkan bahunya, ia tidak pandai menghibur orang.
"Aish!" Kenan mengusap wajahnya kasar.
"Ciko, lo ikhlasin aja si Vito nikah sama mantan lo. Nanti, setelah seminggu pernikahan mereka, lo bunuh si Vito. Terus ambil balik mantan tersayang lo itu," ujar Kenan enteng.
"Tapi, kalau lo gak mau ada bekas si Vito ditubuh mantan lo. Bunuh dia sebelum mereka resmi menikah," sambungnya lagi.
Elora yang mendengar ujaran Kenan itu diam mematung, ia tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan. Kenan melontarkan mata 'Bunuh' itu dengan sangat ringan, seolah-olah itu adalah kata yang biasa ia pakai dalam kesehariannya.
Tiba-tiba saja Elora teringat cerita Kenan mengenai dirinya yang pernah menghilangkan nyawa banyak orang. Pantas saja Kenan bisa dengan ringannya menyarankan Ciko untuk menghilangkan nyawa seorang manusia.
Lamunan Elora buyar karena suara orang yang membuka pintu, ternyata itu adalah Ciko yang sudah bersiap untuk pergi.
"Kak---"
Brak!
Belum sempat ia memanggil, pintu telah ditutup Ciko dari luar.
Psikopat!
Satu kata itu yang paling cocok untuk mendeskripsikan Kenan sekarang. Ia masih bisa tersenyum setelah menghasut Ciko untuk membunuh, Elora juga tak bisa melihat rasa bersalah dari wajah Kenan. Benar, orang yang tersenyum kepadanya adalah seorang psikopat.
"Kenapa kamu menatap saya seperti itu? Kamu baru sadar kalau saya itu tampan?" goda Kenan yang reflek membuat Elora memalingkan wajahnya.
'Selain tak punya perasaan, dia juga sangat narsis.'
"Cepat susul Kak Ciko!" perintah Elora tanpa melihat lawan bicaranya.
"Untuk apa?" tanya Kenan.
Sontak, Elora menoleh.
"Ya tentu saja untuk melarangnya membunuh orang," sungut Elora.
"Dia tidak akan melakukan itu," sahut Kenan yakin.
"Kenapa kamu bisa se-yakin itu?" tanya Elora tak mengerti.
"Dia adalah seorang Dokter, dan satu nyawa itu sangat berharga untuknya.
__ADS_1
"Jangankan membunuh manusia, membunuh ayam pun dia tidak berani," lanjut Kenan dengan nada yang terdengar meledek.
"Kalau dia nekat bagaimana?" tanya Elora lagi.
"Saya tinggal mengkambing hitamkan orang lain, agar Ciko tidak dipenjara," jawab Kenan tersenyum miring.
Sekeras apapun Kenan pada Ciko, ia tidak akan membiarkan sahabatnya mendekam dipenjara.
"Psikopat!" Elora mengatakannya dengan lantang.
"Terimakasih atas pujiannya, Nyonya Elora Anderson," ungkap Kenan kemudian bergegas pergi.
"Nama saya Elora Fazia," seru Elora tak terima namanya diubah seenaknya oleh Kenan.
***
"Tunggu, Kak!" teriak Elora yang tertinggal oleh Ciko.
"Jangan berlari, Nona!" peringat Diky mempercepat langkahnya.
Elora berjalan dengan sangat cepat dengan sepatu high heels berwarna abu-abu, serta dress berwarna senada yang di mana bagian belakangnya menjuntai sampai bagian mata kaki, sedangkan bagian depannya hanya sebatas betis.
Rambut panjangnya yang biasanya berwarna hitam legam itu, kini berubah menjadi warna kecoklatan. Ia sengaja merubahnya sebagai tanda bahwa dirinya telah melupakan semua masa lalu kelamnya.
Bugh!
Tubuh Elora membentur punggung Ciko.
"Ack!" pekik Elora tertahan.
Tangan kanannya yang terbungkus ARM SLING (Gendongan untuk tangan patah) itu ikut terbentur punggung Ciko.
"Nona!" panggil Diky panik.
Saking paniknya melihat Elora memekik kesakitan, dia sampai tidak sengaja melemparkan tas Elora yang dibawanya.
Ciko berbalik.
"Sakit banget gak, El?"
"Nggak, Kak. Aku kaget aja, sih, karena Kakak berhenti tiba-tiba."
"Brengs*k kamu Ciko, kalau Nona Elora kenapa-napa saya yang akan kena semprot Presdir Kenan," kata Diky gusar.
"Si Kenan lagi di luar negeri, jadi lo gak usah khawatir," balas Ciko ketus.
Jadi, hari ini Diky dan Elora menemani Ciko untuk menghadiri pernikahan mantannya. Sebelumnya Ciko meminta Kenan yang menemaninya, berharap musuhnya akan segan kepadanya dikarenakan datang bersama satu-satunya orang yang berdarah Anderson.
Namun, permintaannya itu ditolak mentah-mentah oleh Kenan. Pria bermarga Anderson itu tidak mau menemani Ciko lantaran dirinya malas bila harus dikerumuni orang-orang yang tak penting.
__ADS_1
Dan karena tak tega kepada Ciko, Kenan menyuruh Elora untuk menemani Ciko sebagai Elora Anderson, sepupu kesayangan dari Kenan Anderson. Sementara itu Diky ditugaskan Kenan untuk meyakinkan status Elora juga sebagai bodyguard pelindung Elora.