
"Kenapa wanita yang aku inginkan sudah mempunyai suami!?" teriak Kenan frustasi.
"Si*lan!" umpat Kenan seraya meninju keras sebuah meja.
Marah, kesal, dan sedih bercampur di dalam diri Kenan. Dan ia menjadi seperti sekarang ini hanya karena seorang wanita, jika ... jika saja ada orang yang mengetahui kondisi Kenan saat ini, sudah pasti orang itu akan mengolok-olok Kenan.
"Argh ...!" Kenan menendang sebuah meja sampai membuat meja itu jatuh.
Kenan membanting, melempar, dan menendang benda-benda yang ada di ruangan itu. Ini adalah caranya untuk mengungkapkan perasaannya yang hancur berantakan.
Merasa sudah cukup, Kenan mendudukkan dirinya di sebuah sofa yang selamat dari amukannya. Ia menyandarkan punggungnya, dan memejamkan matanya.
"Bunda ...," Satu kata itu lolos dari mulut Kenan.
Tiba-tiba saja Kenan teringat akan kata-kata bundanya.
'Kenan, kalau kamu ingin mendapatkan hati seorang wanita. Kamu tidak boleh memaksanya, kamu harus mengejarnya secara perlahan-lahan, serta bersikap baiklah kamu kepadanya. Kalau dia tetap tidak menyukaimu, mungkin dia bukan jodohmu, dan kamu harus mencari wanita yang lain,' seperti itulah perkataan Bunda Kenan yang terpatri di dalam memorinya.
Kenan membuka matanya.
"Baiklah, begitu saja. Akan tetapi, kalau Elora terus menolak ... aku tidak akan mencari wanita lain, tapi aku akan memilikinya dengan menggunakan sedikit paksaan," monolog Kenan sembari tersenyum devil.
'Bunda, maafkan aku yang telah melenceng dari apa yang sudah Bunda ajarkan,' batin Kenan.
Tekad Kenan sudah bulat untuk mendapatkan Elora yang sudah bersuami, ia tidak peduli meskipun Elora sudah tidak perawan lagi, karena yang paling penting baginya adalah Elora bisa berada di sampingnya dengan menyandang gelar nyonya Anderson.
Toh, tidak akan ada seorang pun yang berani menentang keinginannya untuk menikahi seorang wanita yang telah bersuami. Kalaupun ada, Kenan akan langsung menyingkirkan orang tersebut demi menjaga perasaan Elora.
Emosi Kenan mendadak tersulut kala teringat akan perbuatannya tadi kepada Elora. Langkah awalnya sudah salah, sepertinya tidak ada cara mendapatkan Elora dengan jalan yang baik.
Apa mungkin aku langsung memaksanya untuk bercerai dan menikah denganku? Pikir Kenan.
"Tidak, bisa-bisa Elora bunuh diri kalau aku langsung memaksanya," ucap Kenan menyangkal pikirannya sendiri.
Kenan kembali menyandarkan punggungnya, memikirkan solusi untuk masalahnya.
"Ciko!"
"Ya, Ciko pasti bisa nyelesain masalah ini. Secara, anak itu pintar berbohong," gumam Kenan.
***
"Seharusnya ... Mas Gavin ada di depan sana," gumam Cantika seraya memperhatikan sekitarnya, mencari keberadaan Gavin.
__ADS_1
Namun, ketika ia akan melangkah sayup-sayup ia mendengar suara seorang wanita yang memanggil-manggil namanya.
Cantika mencari asal suara tersebut, dan ternyata wanita yang memanggilnya itu adalah temannya yang tadi memberitahu keberadaan Gavin kepadanya.
Cantika pun menghampirinya.
"Mily, Gavin mana?" tanya Cantika begitu sudah berhadapan dengan temannya yang bernama Mily itu.
"Itu!" Mily menunjuk Gavin yang tengah duduk di depan bar sembari meneguk minuman beralkohol yang ia pesan.
"Eits, tunggu dulu!" Mily menahan tangan Cantika.
"Apalagi, sih, Mil!?" ketus Cantika yang sudah tak sabar untuk melakukan sesuatu bersama dengan Gavin yang dalam kondisi mabuk.
"Gak ada yang gratis di dunia ini," ucap Mily tersenyum tipis.
Rupanya Mily menginginkan imbalan atas informasi yang ia berikan.
Cantika mendesis, ia tahu apa yang dimaksud oleh Mily.
"Berapa?" tanya Cantika kesal.
"20 juta," jawab Mily enteng.
"Ck, oke. Nanti gue transfer," ketus Cantika.
"Ada apalagi!?" geram Cantika ketika Mily kembali menahan tangannya.
"Dp!" pinta Mily tersenyum lebar.
Dengan perasaan kesal Cantika mengambil uang dari tasnya dan memberikan uang itu kepada Mily.
"2 juta," ujar Cantika kemudian melengos pergi menghampiri Gavin.
Mily yang sudah mendapatkan keinginannya kembali duduk ke tempatnya semula dengan senyuman lebar yang tak luntur di wajahnya.
'Orang kaya bego,' batin Mily.
Cantika, wanita itu tak henti-hentinya mengumbar senyuman. Gavin yang telah kehilangan separuh kesadarannya kini berada di depannya, dan ... rencananya akan segera dimulai.
"Mas Gavin!" panggil Cantika untuk memastikan kondisi Gavin.
"Hm ...," jawab Gavin lemah.
__ADS_1
"Kita pulang ya, Mas!" ajak Cantika.
"Hm ...," lagi, Gavin hanya menjawabnya dengan deheman.
'Aish, gimana cara bawa Mas Gavin?' batin Cantika bingung akan caranya membawa Gavin yang memiliki bobot tubuh jauh lebih berat darinya.
Mau tak mau, Cantika kembali meminta bantuan kepada Mily. Mily yang mengerti akan apa yang diinginkan Cantika pun mendatangi Cantika dengan ditemani oleh seorang pria yang tak lain adalah pacarnya.
"Mau minta tolong apa lagi, Cantik?" tanya Mily.
"Bawa Mas Gavin ke kamar yang udah gue pesen!" jawab Cantika ketus.
"Ok, biayanya 10 juta," ujar Mily yang langsung diangguki oleh Cantika.
Sebenarnya Cantika sangat ingin sekali memperdebatkan harga yang dibandrol oleh Mily. Akan tetapi ia sudah terlalu tidak sabar untuk melakukan rencananya untuk mendapatkan Gavin.
Soal uang, sepertinya ia akan meminta uang 28 juta itu kepada kakaknya, Elora. Pasalnya, uang yang Cantika punya sudah digunakan untuk shopping dan juga untuk membayar sewa salah satu kamar di club ini.
Tak membuang waktu lagi, pacar dari Mily membopong tubuh Gavin dan membawanya ke sebuah kamar yang cukup jauh dari depan bar tadi. Setibanya di kamar, tubuh Gavin langsung saja di baringkan di ranjang, Mily dan pacarnya pun bergegas pergi meninggalkan kamar itu. Sepeninggal mereka, Cantika bergerak cepat mengunci pintu lalu melepas pakaiannya hingga menyisakan pakaian dalamnya saja.
Selepas itu Cantika mengambil tas miliknya lalu mengeluarkan sebotol minuman yang telah ia siapkan sebelum datang dan pastinya sudah ia campurkan dengan obat perangsang.
Cantika berjalan mendekati Gavin, ia duduk di samping kepalanya Gavin. Kemudian ia meminumkan air yang dicampur obat perangsang itu kepada Gavin. Gavin yang tak sadar seratus persen pun tidak menolak air itu, akan tetapi lebih banyak minuman yang terbuang sia-sia daripada masuk ke tenggorokannya.
Rencana Cantika benar-benar berjalan dengan sempurna, kini ia tinggal menunggu reaksi obat itu pada tubuh Gavin.
"Mas, malam ini akan jadi yang pertama untuk kita berdua," gumam Cantika seraya melepaskan pakaian yang melekat pada tubuh Gavin.
Cantika menc*um, dan meraba-raba tubuh Gavin yang sangat ia damba-dambakan sejak lama.
Gavin mulai bergerak gelisah, keringat dingin pun mulai keluar membasahi kulitnya, obat perangsang itu mulai bereaksi. Melihat hal itu, Cantika langsung menindih tubuh Gavin.
Gavin juga mulai membuka matanya perlahan-lahan.
"Elora ...," lirih Gavin.
Deg!
Hati Cantika terasa nyeri kala Gavin memanggil nama Elora bukan nama Cantika. Rupanya Gavin berhalusinasi kalau Cantika itu adalah Elora.
Gavin menggulingkan tubuh Cantika dari atasnya, lalu ia menindih Cantika yang di matanya adalah Elora. Kedua insan itu bercum*u mesra, memberikan kenikmatan kepada masing-masing, sampai akhirnya ... mereka sampai pada hal 'inti'
"Akhirnya kamu menjadi milikku Elora," bisik Gavin kala melakukan pelepasan.
__ADS_1