
"Haduh, Elora pergi ke mana, yah?" ucap Kenan yang kehilangan jejak Elora.
Ia sudah menyusuri dan membuka ruangan-ruangan yang di lewatinya. Akan tetapi, ia tidak dapat menemukan keberadaan Elora.
Di tengah kebingungannya itu, tanpa sengaja matanya menangkap sosok pria yang tadi mengobrol manis bersama wanita pujaannya. Demi bisa menemukan Elora, Kenan mau tak mau bertanya kepada pria yang dibencinya.
"Mana Elora?" tanya Kenan langsung ke intinya.
Pria yang diberi pertanyaan oleh Kenan itu terdiam dengan mata yang menyipit, sepertinya ia tengah berusaha mengingat Kenan.
"Anda---"
"Saya Kenan Anderson," potong Kenan tak sabaran.
"Elora ada di ruangan Presdir, mari ... saya antar." Riki berkata dengan ramah, ia tahu betul siapa pria yang berada di hadapannya. Sedikit saja ia melakukan kesalahan, ia yakin akan mendapatkan dampak yang fatal atas kesalahannya.
Tanpa berkata-kata, Kenan mengekori Riki. Walaupun aslinya ia gengsi diantarkan oleh saingan cintanya, tetapi ... untuk berjumpa dengan Elora ia ikhlas menurunkan gengsinya.
Beberapa menit berjalan, Riki menghentikan langkahnya lantaran ada telepon masuk ke handphonenya.
"Maaf Presdir, bisa menunggu sebentar? Istri saya menelepon," kata Riki.
Kenan menghela nafas lega, pria ini bukanlah saingannya dalam mendapatkan cinta Elora.
"Presdir," tegur Riki.
"Ya, apa ruangannya masih jauh?" tanya Kenan yang sudah tersadar dari lamunannya.
"Itu ruangannya." Riki menunjuk sebuah pintu yang tidak berada jauh dari tempat mereka berdiri.
"Baik, angkat saja teleponnya. Tidak usah mengantar saya," ujar Kenan yang dibalas anggukan oleh Riki.
'Aku masih hidup,' batin Riki bersyukur.
"Tunggu!"
Riki tercekat, ia bersyukur terlalu cepat.
"Jangan selingkuhi istrimu, jaga dan sayangi dia dengan sebaik-baiknya," tutur Kenan kemudian berlalu pergi.
Riki tampak cengo mendengar penuturan Kenan barusan, ia kira Kenan akan memarahi atau mengancamnya. Akan tetapi, tanpa terduga Presdir kejam itu memberikan nasihat kepadanya.
Begitu sampai di depan pintu ruangan, Kenan langsung nyelonong masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Toh, saat ini ia masuk ke ruangan calon mertuanya, mana mungkin ada orang yang menegur apalagi sampai memarahi.
Plak!
"Elora!" pekik Kenan kencang.
__ADS_1
Kenan buru-buru berlari menghampiri Elora, lalu bergegas melihat tangan Elora yang baru digunakan untuk menampar pipi Diana, Ibu tiri Elora.
"Sakit tidak?" tanya Kenan memerhatikan telapak tangan Elora yang memerah.
Elora tidak menyahut sama sekali, ia tengah dalam kondisi yang tidak bisa diajak bicara lantaran emosinya telah terpancing oleh sang Ibu tiri.
"Semua ini pasti palsu, kamu pasti memalsukan tanda tangan Ayah," tuduh Elora menggebu-gebu.
"Mana mungkin saya memalsukan tanda tangan," sanggah Diana tak mau kalah.
"Ayahmu telah membuat surat ini sejak lama, sebagai antisipasi kalau-kalau ada sesuatu yang tak diinginkan terjadi," jelas Diana lantang.
Kenan yang penasaran dengan bahasan panas itu langsung merebut map dari tangan Diana. Ia membaca dengan teliti setiap kata yang terdapat dalam kertas tersebut.
Mata Kenan memicing.
"Seluruh harta kekayaan sementara akan diserahkan kepada nyonya Dania, dan harta akan dialihkan kepada Nona Elora Fazia dengan syarat Nona Elora telah melahirkan seorang anak laki-laki." Kenan membacakan inti dari isi surat yang dibacanya dengan kening yang mengkerut.
Tidak masuk akal, pikirnya.
"Semua ini hanyalah rekayasa," sergah Kenan melemparkan map itu secara asal.
"Saya tidak berbohong, kalau kalian tidak percaya silahkan tanyakan kepada ayahnya Elora," ucap Diana dengan entengnya.
Sungguh luar biasa, mereka disuruh bertanya kepada seseorang yang masih belum ada tanda-tanda sadar dari koma.
"Siapa kau berani mengusir kami dari sini?" tantang Elora.
Diana tertawa hambar.
"Aku adalah penguasa perusahaan ini, dan ya ... kalau kamu masih butuh barang rongsokan itu ambillah sebelum aku menyuruh orang untuk membuangnya," ujar Diana tajam.
Elora mengepalkan kedua tangannya, ia yakin bahwa semua yang dikatakan oleh Diana hanyalah omong kosong belaka. Sayangnya, ia tidak bisa menentang karena semuanya berada di bawah pengawasan pengacara ayahnya.
Plak!
Seusai menampar Diana, Elora bergegas pergi meninggalkan ruangan, disusul oleh Kenan yang sudah menyiapkan rencana matang untuk menghancurkan Ibu tiri Elora.
***
Kenan yang tak mau melihat Elora terlarut dalam masalah, berinisiatif untuk mengajak Elora makan siang. Sebetulnya Elora tidak selera makan, tapi bujuk rayu Kenan yang bertabur ancaman berhasil menaikkan selera makannya, hingga mereka berdua berakhir di sebuah restoran mewah.
"Makan atau---"
"Iya," potong Elora lalu memasukkan sesendok nasi ke mulutnya.
"El, bagaimana kalau aku menekan perusahaan itu sampai bangkrut?" tanya Kenan santai.
__ADS_1
Elora membelalakkan matanya, sepertinya Kenan sudah terbiasa mengatakan hal barusan.
"Jangan! Ayah sudah bersusah payah membesarkan perusahaan itu," tolak Elora halus.
"Iya, juga. Lagian ... aku sukanya menekan kamu di ranjang, bukan menekan keuangan perusahaan," gumam Kenan yang bisa terdengar oleh Elora.
"Jaga mulutmu!" Elora mengacungkan sebuah garpu.
"Memangnya aku mengatakan apa, El?" Kenan mulai memancing Elora.
"Kamu mengatakan kalau kamu suka menekan aku di ra---" Elora menggantungkan perkataannya, mudah sekali ia dipancing oleh Kenan.
"Menekan di mana, El?" goda Kenan.
Elora mengabaikan godaan Kenan, lebih baik ia fokus mengisi perutnya.
"Kalau begitu...."
Elora melirik sinis Kenan, kalimat sia!an apa lagi yang akan ke luar dari mulut pria brengsek ini?
"Kita membuat anak laki-laki saja!"
Benar saja, kalimat yang tak berfaedah meluncur mulus dari mulut Kenan, yang benar saja... mengajak membuat anak secara terang-terangan. Otak Kenan pasti bermasalah karena terlalu banyak mengatakan kata-kata yang tak layak diucapkan.
"Kamu tidak usah khawatir, gen keluarga Anderson sangat bagus."
"Misalkan, anak pertama yang jadi adalah anak perempuan kita tinggal membuat lagi, kalau hasilnya masih perempuan ... kita bisa terus membuat anak lagi sampai bisa mendapatkan anak laki-laki. Aku pasti sanggup membiayai kamu dan anak-anak kita yang banyak," tutur Kenan bersemangat.
Elora menganga mendengar penuturan Kenan, mengajak membuat anak secara terus terang? Elora benar-benar tidak habis pikir dengan isi otak pria bermarga Anderson ini.
Kenan memasukkan sebuah sosis ke mulut Elora yang terbuka cukup lebar, dan tanpa sengaja Kenan mendorong sosis itu terlalu dalam sehingga membuat Elora tersedak.
"Ah, maaf, El!" ucap Kenan merasa bersalah.
"A--aku tidak sengaja," lanjut Kenan lirih.
Elora menganggukkan kepalanya, ia memaklumi perbuatan Kenan barusan. Namun, ada sesuatu yang mengganjal di hatinya begitupun di hati Kenan.
'Sangat ambigu,' batin mereka bersamaan.
Hening, tak ada lagi obrolan yang ada hanyalah suara dentingan sendok yang beradu dengan piring. Sampai mereka selesai makan dan bersiap untuk pulang pun mereka terlihat sangat canggung hanya gara-gara sebuah sosis.
"El, aku minta maaf soal sosis tadi," ujar Kenan membuka percakapan.
Kenan tampak kebingungan karena tak ada sahutan dari Elora, begitu ia menengok ia melihat Elora sudah terlelap sambil bersandar ke bagian kaca mobil dengan mulut yang tidak tertutup rapat yang langsung membuat otak Kenan traveling.
'Kalau milikku yang masuk, apa Elora akan tersedak juga?' batin Kenan.
__ADS_1