
"Menurut laporan dari laboratorium, racun itu asalnya dari minuman," ujar Ciko seraya melihat kertas laporan.
Kenan memijat pangkal hidungnya.
"Terus, kenapa minuman itu bisa jadi beracun?" tanya Kenan memasang ekspresi seriusnya.
Ciko menaruh kertas laporan itu ke meja yang berada di depannya, lalu ia beralih memainkan pulpen yang ia ambil dari saku bajunya.
"Ada orang yang pengen liat Elora mati," jawab Ciko yang lantas membuat Kenan tercekat.
"Jadi ---"
"Iya, Ken. Orang itu sengaja naruh racun di minuman Elora," potong Ciko.
Brak!
Suara gebrakan meja itu menggema di ruangan milik Ciko, orang yang menggebrak meja itu tak lain adalah Kenan yang emosi karena ada orang yang ingin menyelakai Elora, penyelamatnya.
"Lo tau, Ken. Racun yang ada di minuman itu tergolong racun yang cukup mematikan," ucap Ciko yang mana langsung memperbesar emosi Kenan.
"Dan beruntungnya gue bisa cepat ng-deteksi racun itu, jadi racun itu gak sampe bikin nyawa Elora melayang," sambung Ciko.
Kenan menghela nafas panjang, sebelum-sebelumnya ia selalu berpikir kalau Ciko itu dokter yang tidak berguna. Akan tetapi kali ini pikiran buruknya mengenai Ciko itu mendadak sirna setelah Ciko berhasil menyelamatkan Elora.
"Makasih, Ko. Sebagai imbalannya lo bisa pilih satu mobil di garasi gue," kata Kenan dengan tatapan yang tertuju pada layar handphonenya.
Mulut Ciko ternganga mendengar perkataan yang pertama kali ia dengar dari mulut Kenan. Secara ... Kenan itu sangat pelit kepadanya, bahkan untuk sekadar tumpangan pun ia harus membujuk Kenan habis-habisan, dan kini ... Kenan berinisiatif memberikannya mobil, apa Kenan kerasukan setan? Pikir Ciko.
"L--lo serius, Ken?" tanya Ciko memastikan.
"Iya," jawab Kenan singkat.
Ciko berdiri dengan perasaan riang, saking riangnya ia sampai membuat kursi yang ia duduki terjungkal ke belakang. Baru saja kakinya tiga kali melangkah, tiba-tiba saja Kenan angkat bicara.
"Stop! Selangkah lagi lo maju, mobil itu batal jadi milik lo," ancam Kenan seraya menunjuk wajah Ciko.
Ciko kembali berjalan ke asalnya, dengan lesu ia membenarkan kembali kursinya dan mendudukinya seperti sedia kala. Niatnya untuk memeluk Kenan harus ia urungkan karena Kenan yang tak menginginkan kehangatan pelukannya.
Melihat Ciko yang murung, Kenan tak memiliki niatan untuk membuat Ciko menjadi lebih baik. Bagi Kenan, Ciko itu terlalu lebay untuk tingkatan seorang pria.
"Ciko! Gue minta lo terus pantau kondisi Elora, kalau sampai Elora kenapa-napa ... lo harus nanggung akibatnya," tutur Kenan sebelum ia meninggalkan ruangan Ciko.
"Dasar psikopat!" maki Ciko.
***
__ADS_1
"Elora, sepertinya saya sudah jatuh cinta denganmu. Walaupun kita baru saling mengenal, tapi saya yakin bahwa perasaan saya ke kamu itu adalah perasaan cinta." Kenan berkata kepada Elora yang masih belum sadarkan diri.
Kenan meraih tangan kanan Elora, kemudian ia mengecup punggung tangan Elora dengan penuh kelembutan.
Tok!Tok!Tok!
Suara ketukan pintu terdengar nyaring di telinga Kenan.
"Masuk!" teriak Kenan.
Ceklek!
Pintu itu terbuka dan menampakkan seorang pria yang tengah berdiri di ambang pintu. Pria itu bergegas masuk tatkala Kenan mengisyaratkannya untuk segera memasuki ruangan rawat Elora.
"Maaf, jika saya mengganggu anda Pak Presdir," ucap pria itu sopan.
Mata Pria itu melirik ke arah Elora, sehingga membuat Kenan mendesis.
"Diky, jaga mata kamu!" peringat Kenan.
Diky yang notabenenya adalah orang kepercayaan Kenan itu tersentak kaget begitu mendapat peringatan dari Kenan.
"Maaf Presdir, saya hanya merasa tidak asing dengan wanita itu," ujar Pria bernama Diky itu sambil menundukkan kepalanya tak berani menatap wajah Kenan yang menurutnya tampak menyeramkan.
"Baik, Presdir. Saya akan segera melakukan pemeriksaan," sahut Diky.
"Kalau begitu silahkan pergi!" perintah Kenan.
Setelah sedikit berbasa-basi, Diky langsung meninggalkan ruangan itu hingga kembali menyisakan Elora dan Kenan.
'Saya akan membalas orang yang telah meracuni kamu, dengan pembalasan yang berkali-kali lipat,' batin Kenan.
"Cepatlah sadar, Elora ... sayang."
***
Sementara itu di lain tempat ....
"Mas Gavin, kamu kenapa, kok, lesu begitu?" tanya Cantika yang bingung akan sikap Gavin yang senantiasa berubah-ubah.
"Gak papa, aku cuman lagi mikirin pekerjaan," jawab Gavin mengalihkan perhatiannya dari Cantika.
Cantika berdecak sebal, ia tahu kalau Gavin itu bukan sedang memikirkan perkataan melainkan memikirkan Elora.
"Cantika, kita pilih baju untuk acara pernikahannya besok aja, ya. Sekarang aku harus ke kantor lagi, soalnya sebentar lagi aku ada meeting," ucap Gavin.
__ADS_1
Saat ini Cantika dan Gavin sedang berada di butik, awalnya mereka berniat untuk membeli baju yang sekiranya akan mereka gunakan di acara pernikahan. Mereka berdua hanya sibuk mengurus pernikahan tanpa mempedulikan Elora dan ayahnya yang terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit
Cantika menghela nafas panjang.
"Yaudah, Mas. Gak papa," balas Cantika tersenyum lebar.
"Aku juga gak bisa nganterin kamu pulang soalnya aku takut terlambat kalau harus nganterin kamu dulu."
"Gak papa, Mas. Aku bisa naik taksi, Kok."
Gavin, Pria itu berlalu pergi tanpa berpamitan kepada adik iparnya yang tak lama lagi akan menjadi istri keduanya.
"Khusus untuk hari ini aku akan biarin kamu ketemu sama Elora ---"
"Ups!" Cantika menutup mulutnya menggunakan jemari tangan kanannya.
"Maksudnya mayat Elora," sambung Cantika tersenyum jahat.
***
"Hah ... ke mana perginya Elora?" gumam Gavin yang tak kunjung menemukan keberadaan Elora di rumah sakit.
"Kenapa perasaan aku gak enak?" Gavin mengelus bagian dadanya.
Gavin tersentak kaget di saat pintu yang berada di belakangnya terbuka dari dalam.
"Anda!" seru Gavin menunjuk wajah orang yang baru saja keluar dari ruangan perawatan, dan ... orang yang ia tunjuk itu adalah Kenan.
"Berani sekali anda menunjuk wajah saya, apakah anda sudah bosan hidup?" geram Kenan.
Bukannya takut, Gavin malah merasa tertantang oleh sikap Kenan. Ia masih menyimpan kekesalan kepada Kenan yang tadi menabrak Cantika. Jadi, kesempatan ini Gavin gunakan sebagai ajang balas dendam.
"Seharusnya saya tidak menunjuk wajah anda, tetapi ... seharusnya saya menusuk mata anda menggunakan jari telunjuk saya," tutur Gavin dengan nada sinisnya.
"Ck, sampah," gumam Kenan yang masih bisa didengar oleh telinga Gavin.
"Anda bilang apa?" tanya Gavin memastikan.
"Sampah!" ucap Kenan.
"Lebih tepatnya sampah busuk, ah tidak! Sampah busuk masih terlalu bagus untuk mendeskripsikan anda. Tunggu, bisakah anda memberitahu saya apa yang lebih buruk dari sampah busuk?" ujar Kenan santai tapi menusuk.
"Yang lebih buruk dari sampah busuk adalah anda," jawab Gavin tersenyum miring.
***
__ADS_1