Elora

Elora
Bab_48 (Kesempatan Dalam Kesempitan)


__ADS_3

"Lo ngapain ke sini, Ken? Pake gendong-gendong si Elora lagi," tanya Ciko sinis.


"Pergi lo!" Bukannya menjawab pertanyaan Ciko, Kenan malah mengusir Ciko, si empu pemilik ruangan.


"Gak sopan, lo! Ini ruangan gue," ketus Ciko.


Kenan menurunkan Elora perlahan, tangannya pun dengan gesitnya menahan Elora supaya tidak menjauh darinya. Elora tak berkutik di pelukan Kenan, karena seberapa kuat pun Elora memberontak ia tidak akan bisa lepas dari dekapan Kenan.


"Pergi, Ciko!" tekan Kenan dengan tatapan yang mengintimidasi.


"Iya, gue pergi," ucap Ciko dengan ekspresi kekesalan yang tampak jelas di wajahnya.


"Kak, aku ikut ...!" seru Elora.


Ciko melirik Kenan sekejap, niatnya untuk meminta izin untuk membawa Elora. Namun, sorot Kenan yang tajam itu mengungkapkan niatnya.


"Si Kenan bakalan nonjok gue kalau lo ikut sama gue," kata Ciko terus terang.


"Jaga diri lo baik-baik, El!"


Setelah mengatakan kalimat tersebut, Ciko keluar dari ruangan tanpa tujuan yang jelas. Bagi Ciko, yang terpenting adalah menjauh dari jangkauan Kenan yang bisa memukulnya kapanpun ia ingin.


Kenan melepaskan dekapannya, memberikan kebebasan sementara untuk Elora.


"Kamu mau apa, sih, Ken!?" kata Elora cemberut.


Cup!


Kenan mencuri sebuah ciuman dari bibir Elora.


"Kenan ...!" teriak Elora murka.


"Aku tanya sekali lagi, kamu itu mau ngapain bawa aku ke sini?" tanya Elora sambil menghentakkan kakinya kesal.


Kenan tak langsung menjawab pertanyaan yang bertumpuk-tumpuk di kepala Elora, ia menarik Elora untuk mengikuti langkahnya. Sampai di dekat meja, Kenan mengangkat tubuh Elora dan mendudukkannya di meja, sementara ia duduk di sebuah kursi yang berada tepat di depan Elora.


Elora berusaha turun, tetapi Kenan mencegahnya dengan cara memegang erat kaki kiri Elora.


"Aku tahu kamu kekurangan uang," ungkap Kenan menarik atensi Elora.


"Lalu?" sahut Elora mengernyitkan keningnya.


"Aku akan menanggung semua biaya rumah sakit ayahmu," kata Kenan dengan tangan yang sudah berada di bagian lutut Elora.


Nampaknya Elora tak sadar bahwa tangan Kenan terus bergerak ke atas, itu bisa terjadi karena Elora yang masih terkejut oleh perkataan Kenan.

__ADS_1


"Tapi ... biayanya sangat mahal," keluh Elora.


Kenan menyunggingkan senyumnya, tidak ada sesuatu yang mahal bagi Kenan Anderson. Apalagi, ia merupakan salah satu pemegang saham terbesar di rumah sakit tempat calon mertuanya dirawat sekarang.


"El, apa kamu tahu kalau apa yang aku kenakan hari ini bisa membayar lunas biaya berobat ayahmu?"


Elora melihat pakaian, sepatu, serta jam tangan yang dikenakan Kenan. Setelah melihat secara saksama, Elora tertawa terbahak-bahak.


"Jangan bercanda denganku, Kenan! Kamu pikir aku tidak tahu harga pakaian yang kamu pakai?" tutur Elora diselingi dengan tawa renyahnya.


Kenan menggaruk tengkuknya yang tak gatal, Elora tidak mudah juga untuk dibohongi, pikir Kenan.


"Dari mana kamu tahu harga pakaianku?" tanya Kenan yang saat ini menanggung malu karena kegagalannya dalam membohongi Elora.


"Kamu tidak perlu tahu," sinis Elora menepis tangan Kenan yang sudah hampir sampai di bagian pahanya.


"Dan tolong, jaga tanganmu dengan baik!" peringat Elora tegas.


"Walaupun aku berbohong mengenai pakaianku, akan tetapi aku benar-benar sanggup membayar biaya pengobatan ayahmu, El," tutur Kenan mantap.


"Biayanya ratusan juta, Kenan. Bagaimana cara aku mengembalikan uang itu?"


Elora membaca gelagat mencurigakan dari Kenan, pasti! Sebentar lagi pria itu akan mengatakan sesuatu yang tidak bisa diterima oleh akalnya.


"Bayar dengan tubuhmu, El. Satu malam saja sudah cukup," ucap Kenan mengedipkan sebelah matanya.


"Aku bercanda, El!" elak Kenan.


Elora menghela nafas panjang.


"Bercandamu itu tidak lucu, Presdir Kenan Anderson!" Elora mengatakannya dengan nada kebencian yang terdengar jelas di setiap katanya.


"Sebagai bayarannya, kamu harus bekerja di perusahaanku. Bagaimana, Nona Elora Fazia?" tawar Kenan seraya mengulurkan tangan kanannya.


Elora berpikir sejenak, dan tak lama ia pun menerima uluran tangan Kenan, ekspresi keduanya terlihat serius kali ini.


"Sebelumnya ...."


Kenan berdiri dengan tahan yang masih dalam posisi berjabat tangan dengan Elora, secara tiba-tiba Kenan menarik tangan Elora dalam sekali hentakan. Elora yang bersiap mendapat tarikan dari Kenan pun jatuh ke pangkuan Kenan.


Elora memukul dada Kenan cukup keras, ia tak marah hanya saja ia terlalu jengah dengan sikap dan sifat Kenan yang tak terduga dan pastinya selalu membuat ia tertekan.


"Dasar gila!" maki Elora beranjak dari pangkuan Kenan.


Elora berjalan menuju pintu keluar yang akan menyuguhkan kebebasan indah untuknya.

__ADS_1


"Besok, kamu mulai bekerja!" seru Kenan kepada Elora yang sudah membuka pintu ruangan.


"Iya, Presdir!" sahut Elora tanpa melihat lawan bicaranya.


Kenan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, ia menutup matanya menggunakan kedua telapak tangan yang saling tumpang tindih. Pikirannya sudah melayang jauh ke awang-awang, bisa dibilang kalau Kenan ini sudah tergila-gila berat kepada wanita bersuami yang bernama lengkap Elora Fazia.


"Hah ...!"


Kenan membetulkan posisi duduknya yang tadinya bersandar menjadi tegak.


"Elora bekerja untukku, berada di ruangan yang sama seharian, ah! Aku sungguh tak sabar untuk hari esok," monolog Kenan dengan senyuman yang tersungging.


Semenjak bertemu Elora, Kenan yang jarang tersenyum kini senantiasa menampilkan senyumannya ketika bersama Elora, ataupun ketika membayangkan hal-hal yang berhubungan dengan Elora.


"Ayah …!" panggil Elora begitu tiba di ruang rawat ayahnya.


Bisa Elora lihat ayahnya yang terbaring disertai dada yang turun naik secara teratur, ayahnya ternyata sudah tidur karena terlalu lama menunggu kedatangan Elora.


"Sebaiknya aku pulang dulu untuk mengisi perut," gumam Elora.


Begitu berbalik badan ia dikejutkan oleh Kenan yang berdiri tegak menghadang Elora yang tak terlalu tinggi, Elora pun mendongakkan kepalanya.


"Apa aku boleh ikut?" tanya Kenan dengan ekspresi yang dibuat se-menggemaskan mungkin.


Elora mencebikkan bibirnya, ekspresi Kenan itu membuat Elora tidak berdaya untuk menolak keinginan Kenan. Ia akan merasa sangat bersalah bila menolak pria se-menggemaskan Kenan.


"Baiklah, tapi masakanku tidak seenak masakan yang biasa kamu makan." Setelah bergelut dengan pikiran dan hatinya akhirnya Elora menyetujui Kenan untuk ikut serta pulang ke rumah mertuanya.


"Tidak masalah," sahut Kenan dengan mata yang berbinar-binar.


***


"Arpin s!alan! Gara-gara lo gue dikeluarin dari sekolah," maki Lisa.


"Ya, terima ajalah. Gue juga dikeluarin dari sekolah," balas Arvin santai.


Lisa menghentikan langkahnya, ia menarik tas yang digendong Arvin.


"Tapi ada bagusnya juga, sih. Gue gak bakalan liat muka jelek lo lagi."


Pasca mengatakan penghinaan pedasnya pada Arvin, Lisa berlari mendahului Arvin yang menggeram tertahan lantaran amarah yang bergejolak.


"An7ing, lo Lisa!" teriak Arvin lepas.


"Akh! Sakit, Bu!" keluh Arvin tatakala telinga

__ADS_1


nya ditarik Ibu Ayu. S!al bagi Arvin karena meneriakkan kata kasar ketika masih berada di sekitar ruang BK.


'Lisa ... awas, lo!'


__ADS_2