
Kenan menghampiri Elora yang menatapnya dengan ekspresi wajah seperti sedang menahan rasa sakit.
"El, kamu ...."
Kenan dengan cekatan membuka mulut Elora, mencegah Elora menggigit lidahnya. Untungnya Elora belum menggigit terlalu lama sehingga lidahnya tidak terluka parah.
"Jangan bersikap bodoh Elora!" Kenan mengapit kedua pipi Elora.
Elora menepis lengan Kenan.
"Ini adalah hidup saya, dan saya yang menjalaninya. Maka dari itu alangkah baiknya kalau anda tidak ikut campur dengan kehidupan pribadi saya," ucap Elora tajam.
Kenan tersenyum meledek.
"Bodoh sekali dirimu, El!" hina Kenan.
Mata Elora menyipit, kenapa Kenan tiba-tiba menghinanya?
"Apa semua IQ mu itu hilang karena kegagalan pernikahanmu?" ujar Kenan yang langsung mendapat tatapan tajam dari Elora.
"Kalau kehadiran anda di sini hanya untuk menghina saya, sebaiknya anda segera pergi!" usir Elora.
Bukannya pergi, Kenan malah duduk di dekat Elora. Ia merengkuh pinggang Elora seraya tersenyum miring. Elora yang merasa takut berusaha untuk melepaskan dirinya dari Kenan, akan tetapi kondisi tubuhnya menghalangi keinginannya untuk lepas dari rengkuhan Kenan.
"El, kenapa kamu sangat ingin mati?" tanya Kenan.
"Saya tidak kuat lagi menahan rasa sakit," jawab Elora dengan tatapan yang kosong.
"Kamu egois, El! Kamu tidak memikirkan bagaimana perasaan ayahmu ketika tahu bahwa Putri kesayangannya meregang nyawa dengan cara yang tragis," papar Kenan dengan tangan yang masih berada di pinggang Elora.
Tangis Elora pecah, semua hinaan yang dilontarkan Kenan layak ia dapatkan. Ia terlalu terlarut dalam kesedihan sampai-sampai melupakan orang tersayangnya.
Sebenarnya Kenan tidak tega untuk berkata kasar kepada Elora. Namun, ia tidak punya pilihan selain membuat Elora tersadar dengan perkataannya yang menyakiti hati.
"Elora, di dunia ini banyak sekali orang yang mengalami penderitaan lebih dari yang kamu alami," ucap Kenan menggenggam tangan Elora.
"Contohnya adalah saya," lanjut Kenan yang membuat Elora menoleh ke arahnya.
"Sedari kecil saya sudah dididik oleh Ayah saya untuk menjadi seorang yang tidak berperasaan, ketika berusia 9 tahun saya melihat Ayah membunuh Bunda sambil tersenyum. Ketika saya berusia 14 tahun saya pernah menembak orang atas desakan Ayah, dan di usia 17 tahun saya sudah menghilangkan lebih dari 20 nyawa manusia," tutur Kenan menerawang jauh ke masa-masa terkelam dalam hidupnya.
"A--anda---" Elora berusaha menjauhi Kenan.
"Saya belum selesai, dan hal paling menjijikkan dalam hidup saya terjadi saat saya berusia 18 tahun. Waktu itu Ayah saya sudah sakit-sakitan, Ibu tiri saya yang kehausan belaian itu memaksa berhubungan intim dengan saya---"
"Apa!?" pekik Elora.
"La--lantas bagaimana?" tanya Elora yang terlanjur penasaran akan kisah hidup Kenan.
__ADS_1
"Tentu saja membunuhnya, karena terlanjur bernafsu saya sekalian membunuh Ayah dan juga kerabat-kerabat yang sering memperlakukan saya dengan buruk," papar Kenan dengan seringaian di wajahnya.
Elora menutup mulutnya, kehidupan Kenan sangat jauh dari yang namanya kebahagiaan. Elora tidak bisa membayangkan perihnya kehidupan yang dijalani Kenan, bila dibandingkan dengannya itu sungguh tidak ada apa-apanya.
"Kenapa kamu tidak dipenjara?"
"Karena saya mempunyai uang dan kekuasaan," kata Kenan angkuh.
Ya, uang dan kekuasaan bisa melakukan apa saja, sekalipun itu berhubungan dengan nyawa seorang manusia.
"Kamu tahu, El. Gara-gara perbuatan Ibu tiri biadab itu, saya tidak bisa dekat-dekat dengan wanita. Setiap kali dekat wanita saya seringkali muntah lantaran jijik, dan yang paling parah saya ingin menghabisi nyawa wanita itu."
Elora menelan ludahnya kala mendengar penuturan Kenan, saat ini ia nyaris berdempetan dengan Kenan. Apa ia akan menjadi korban Kenan yang selanjutnya?
"Kamu tenang saja, El. Kamu tidak menjijikkan," ucap Kenan mengelus rambut Elora.
"Tidurlah, Elora ...." Kenan bangun dari ranjang Elora.
"Saya akan tidur di sofa, kalau kamu membutuhkan sesuatu berteriak saja, ok?"
Kenan merebahkan tubuhnya di sofa, ia perlu mengisi kembali tenaganya yang telah terkuras habis untuk menyelamatkan Elora. Kenan juga sudah tidak merasa yakin bahwa Elora sudah tidak memiliki niatan untuk bunuh diri.
'Setiap orang mempunyai penderitaannya masing-masing, yang membedakan adalah cara menghadapi penderitaan itu,' ucap Elora dalam hatinya.
'Terimakasih Kenan.'
Matahari telah menampakkan sinarnya, hari pertama ia mendapatkan istri baru dan kehilangan istri yang lama. Dan di hari ini Gavin bertekad untuk menemukan istri pertamanya yang menghilang.
Jauh sebelum matahari terbit, Gavin telah bangun untuk bersiap memulai pencariannya.
"Aku akan membawamu pulang, El."
Gavin mengambil sebuah jam tangan, ia termenung ketika memasangkan jam tangan itu di pergelangan tangannya. Rupanya, jam tangan itu adalah hadiah dari Elora saat anniversary mereka yang kedua.
"Maafkan aku, El ...."
Sementara itu, di ruang makan ....
"Mas Gavin kenapa belum datang?" gumam Cantika.
"Ini 'kan sudah waktunya untuk sarapan," sambungnya lagi masih bergumam.
"Coba kamu datangi kamarnya, mungkin Gavin belum bangun," usul Ibunya yang ikut menginap di rumah Gavin.
"Baik---"
"Jangan ganggu anak saya!" sela Ayah Gavin mendorong kursi roda yang diduduki oleh istrinya.
__ADS_1
"Dia sudah dewasa, jika sudah lapar ia pasti akan datang untuk mengisi perutnya," lanjutnya sinis.
Cantika dan ibunya saling melirik.
"Iya, Ayah," sahut Cantika lembut.
Mereka berempat mulai menyantap sarapan tanpa kehadiran Gavin. Seperti biasanya, Ayah Gavin menyuapi istrinya dengan telaten.
Bunda dari Gavin sudah mengalami stroke selama hampir 3 tahun, dan di 3 tahun itu Ayah Gavin tetap setia merawat istrinya yang sakit tanpa ada sedikit pun niatan untuk menikahi wanita sehat yang bisa melayaninya.
"Mas Gavin!" seru Cantika.
"Sini, Mas! Kita sarapan bersama-sama," ajak Cantika menyunggingkan senyumnya.
"Ayah, Gavin pamit pergi." Gavin mengabaikan ajakan Cantika dengan berpamitan kepada ayahnya.
"Kamu mau ke mana pagi-pagi seperti ini?" tanya Ayahnya sekadar berbasa-basi.
"Gavin mau jenguk ayahnya Elora, mungkin di sana Gavin bisa nemuin Elora," jawab Gavin tampak murung.
"Bagus, segera kabari Ayah jika kamu telah menemukan Elora," pesan ayahnya.
"Pasti, Pah!"
"Kalau begitu Gavin pergi sekarang." Gavin kembali berpamitan.
"Aku ikut, Mas!" seru Cantika penuh harap.
"Tid---"
"Tolong izinin aku, Mas. Aku juga mau ngejenguk Ayah," sela Cantika.
"Iya," sahut Gavin singkat.
Sepasang suami-istri itu meninggalkan ruang makan. Gavin seperti tak melihat keberadaan Cantika, pria beristri dua itu berjalan mendahului Cantika.
"Tunggu aku, Mas!" kata Cantika berusaha menyamakan langkahnya dengan langkah panjang Gavin.
Grep!
Cantika meraih tangan Gavin dan menggenggamnya erat.
Gavin menghentikan langkah kakinya, ia melirik sinis Cantika.
"Jangan sentuh saya!" Gavin menghempas kasar tangan Cantika.
Selepas itu, Gavin mempercepat langkah kakinya, meninggalkan Cantika yang tampak kesal.
__ADS_1
'Ku harap kau sudah mati, Elora.'