
Seminggu telah berlalu, Elora pun mulai bisa menggerakkan lengannya dengan bebas, luka di lehernya pun sudah mengering dan bekasnya pun sudah hampir menghilang. Namun ... selama seminggu itu pula ia tidak pernah bertemu dengan Kenan.
"Kenan meninggal?" celetuk Elora di tengah keheningan yang menyelimuti ia dan juga Ciko.
"Gila lo!" sahut Ciko sewot.
Ayolah, walaupun Ciko tidak suka terhadap sikap Kenan yang semena-mena kepadanya, tapi ia tidak terima bila Kenan yang masih bernafas disebut mati oleh adik angkatnya.
"Kalau si Kenan denger omongan lo barusan... abis lo, El," ucap Ciko yang terkesan seperti tengah menakuti Elora.
"Aku gak takut," jawab Elora ringan.
"Benarkah?" bisik seseorang dari belakang Elora.
Mata Elora membola, suara itu.... suara orang yang dianggapnya telah mati lantaran tidak ada kabar selama seminggu terakhir.
"Aaa... Kak Ciko!" Elora meloncat dari tempat duduknya, dan menghambur ke pelukan Ciko.
"Katanya gak takut," ledek Ciko seraya terkekeh geli.
Kenan tersenyum tipis, ia benar-benar merindukan segala tindak tanduk Elora yang selalu menggelitik hatinya. Lalu, seminggu terakhir... ia tidak bisa melihat segala tingkah Elora karena perbuatan seorang gadis lain yang senantiasa memberinya gangguan.
"Ambil!" Kenan menyodorkan sebuah kartu kepada Ciko.
Ciko menerima kartu yang disodorkan Kenan dengan senang hati.
"Di rumah gak ada siapa-siapa, kok," ujar Ciko yang memantik rasa curiga Elora.
"Lo sama si Kenan dulu, yah ... gue mau belanja." Ciko melepaskan pelukan Elora pada dirinya, kemudian berlari ke luar rumah.
Elora tak tinggal diam, ia buru-buru berdiri untuk mengejar Ciko. Namun, Kenan menarik dan menjatuhkannya ke sofa panjang.
"Siapa yang meninggal?" tanya Kenan mulai mendekat.
"Ke--kenan... kita bisa bicarakan dengan baik-baik," bujuk Elora berusaha menjauh dari Kenan.
"Mau ke mana, hm...." Kenan menarik sebelah kaki Elora hingga membuat Elora terlentang.
Perasaan was-was menyerbu Elora, jarak antara ia dan Kenan sudah hampir terkikis habis.
"Aku tanya sekali lagi, siapa yang meninggal?" tanya Kenan yang berada tepat di atas tubuh Elora dengan kedua lutut dan tangan yang dijadikan tumpuan.
"Kenan, cepat menyingkir dari tubuhku!" teriak Elora lantang.
Kenan menggeleng pelan, lalu ia meraih kedua tangan Elora dan menahannya demi untuk menghalau pergerakan dari Elora.
"A--apa yang kamu lakukan?" ujar Elora panik.
"Lepaskan aku!" lanjut Elora memberontak.
Sementara Elora memberontak, Kenan mulai menurunkan tubuhnya supaya lebih dekat dengan tubuh Elora yang senantiasa membuat hasratnya menggelora.
__ADS_1
"Kenan!" pekik Elora kencang.
"Apa, El?" tanya Kenan tersenyum miring.
"Ada yang menelepon," jawab Elora serius.
"Aish ...." Kenan yang telah berkuasa atas tubuh Elora itu terpaksa menyingkir, moodnya untuk mengerjai Elora sirna secara tiba-tiba.
Elora mengambil handphonenya yang berada di atas meja. Mata Kenan menyipit melihat siapa orang yang menelepon Elora.
"Kak Riki," gumam Kenan pelan.
'Memangnya Elora punya Kakak?' Dalam batinnya Kenan bertanya-tanya.
"Loud speaker, El!" perintah Kenan.
"Gak mau!" ketus Elora beranjak dari tempat duduknya.
"Aku gak bakalan sudi bantuin kamu lagi, El" ujar Kenan kesal.
"Aku juga ogah minta bantuan sama kamu," balas Elora.
Kenan menggeram marah, ia pastikan suatu hari nanti Elora akan menangis-nangis meminta bantuan darinya. Lalu, di saat itu ... ia akan membantunya dengan imbalan yang bisa memuaskan gejolak hasratnya.
***
"Mau ke mana kamu, El?" Kenan bertanya pada Elora yang sudah bersiap pergi dengan menjinjing sebuah tas.
"Perlu aku temani?" tawar Kenan.
"Tidak usah!" Elora menolak mentah-mentah tawaran Kenan.
Kenan menghadang Elora, mana bisa ia membiarkan Elora pergi sendirian.
"Minggir, Kenan!" tekan Elora.
"Aku ingin ikut," seru Kenan mengambil alih tas yang berada di tangan ekor.
"Ya sudah, kalau mau ikut ya ikut. Tidak usah banyak basa-basi," sungut Elora berjalan mendahului Kenan yang senyam-senyum sendiri.
***
"Kamu mau melamar pekerjaan?" tanya Kenan begitu mereka tiba di sebuah perusahaan.
Elora melayangkan pukulannya pada bagian punggung Kenan, mulut pria ini sangat berbisa, pikirnya.
"Kenapa kamu harus melamar di perusahaan sekecil ini? Gajinya pasti sangat kecil, bagaimana kalau kamu melamar di perusahaanku saja? Aku jamin kamu akan puas dengan gaji yang kuberikan per bulannya," tutur Kenan yang membuat Elora mencebikkan bibirnya.
"Ini perusahaan ayahku, Kenan ...!" geram Elora.
Kenan terperangah, di awal masa pendekatan, ia sudah menghina perusahaan milik calon mertuanya.
__ADS_1
"Ah... walaupun perusahaannya kecil, tapi... keuangannya---"
"Syut ...!"
Elora menempelkan telunjuknya tepat di bibir Kenan, ia sungguhan kesal mendengar segala ocehan yang keluar dari mulut Kenan. Pandangan mereka berdua beradu di tengah lalu lalang para pegawai perusahaan.
"Elora!" Suara panggilan memutus pandangan yang mendalam antara Elora dan Kenan.
"Kak Riki!" seru Elora menghampiri seorang pria berkacamata yang tadi memangilnya.
Kenan merasakan panas di sekujur tubuhnya, ia cemburu melihat kedekatan Elora bersama pria asing. Supaya tidak menimbulkan masalah, Kenan pun duduk lalu membuka dasi juga jas yang membuat dirinya kepanasan.
'Kenapa bicaranya sangat lama,' batin Kenan kesal, padahal obrolan Elora bersama pria bernama Riki itu baru berlangsung sekitar 2 menit.
"Sial! Kenapa di sini terasa sangat panas? Apa AC-nya mati?" gerutu Kenan melepaskan dua kancing bagian atas kemejanya.
Tingkah Kenan itu menjadi pusat perhatian para pegawai perempuan yang lewat, bahkan sampai ada beberapa orang yang memotretnya. Hal itu pun tak luput dari perhatian Elora yang sudah gagal fokus melihat tubuh berotot Kenan.
"Nyonya Diana ada di ruangan Presdir," perkataan dari Riki itu menjadi penutup obrolan yang berlangsung secara singkat.
"Tukang pamer," celetuk Elora.
Kenan celingak-celinguk, mencari tukang pamer yang disebut Elora.
"Kamu, Kenan!" ketusnya.
"Aku pamer apa, El?" tanya Kenan keheranan.
"Pura-pura tak tahu," gumam Elora pelan.
"Perhatikan tubuhmu baik-baik!" lanjutnya dengan suara yang meninggi.
Kenan memperhatikan tubuhnya, lalu tersenyum tipis kala menyadari apa yang sedari tadi Elora lihat.
"Kamu tidak rela kalau ada orang lain yang melihat tubuhku?" tanya Kenan menaik-turunkan kedua alisnya.
"Kalau begitu ... pulang dari sini aku akan menunjukkan seluruh tubuhku ke padamu. Aku yakin, kamu akan ternganga," sambungnya penuh percaya diri.
Elora bergidik, tingkatan narsis Kenan sudah di luar batas.
Kenan menyunggingkan senyum nakalnya, ia pun meraih lengan Elora lalu menaruh telapak tangan Elora tepat di bagian dadanya yang tidak tertutup sehelai benangpun.
"Ken---" Elora memekik tertahan.
"Bagaimana rasanya?"
"Akh, dasar gila!" Elora menarik lengannya lalu pergi dengan wajah yang bersemu merah.
Setelah Elora pergi, Kenan tertawa lepas. Ia sangat puas mengerjai Elora, apalagi kali ini Elora terlihat sangat syok dan malu secara bersamaan.
Kenan kembali merapihkan pakaiannya, tubuhnya yang kepanasan sekarang sudah mulai adem seperti ketika ia pertama kali masuk ke perusahaan.
__ADS_1
"Sepertinya aku harus menyuruh orang untuk membenarkan AC di perusahaan ini."