
"Sudah lama sekali kita tidak bertemu," ucap Ayah Elora.
"Memangnya Om mengenal saya? Terus, kapan kita bertemu?" cecar Kenan.
Ayah Elora menanggapi cecaran Kenan dengan senyuman, rupanya Kenan sudah melupakannya. Ah, maklum saja karena pertemuan terakhirnya ketika Kenan masih berusia 9 tahun.
"Om adalah sahabat Ibu kamu," ungkapnya.
"Coba kamu ingat-ingat dengan baik," lanjut Ayah Elora.
Kenan termenung, ia berusaha mengingat siapa-siapa saja sahabat ibunya. Seingatnya, sahabat laki-laki ibunya itu tidaklah banyak ... mungkin ia bisa segera mengenal Ayah Elora bila berusaha mengingatnya lebih lama.
"Di mana terkahir kita bertemu, Om?" tanya Kenan yang ingatannya sudah buntu.
"Di rumah sakit ini," jawab Ayah Elora.
Tunggu! Bertemu di rumah sakit ini? Sepertinya Kenan mulai bisa mengingatnya.
"Om Dion?" gumam Kenan tanpa sadar.
"Benar, baguslah kalau kamu masih mengingat, Om," ucap Ayah Elora yang akrab disapa Dion.
Kenan terheran-heran, Ayah Elora adalah sahabat ibunya? Namun di sisi lain Kenan merasa senang karena Ayah Elora itu adalah sahabat baik sang Bunda, itu berarti tidak akan terlalu sulit untuk mendapatkan restu dari Ayah Elora, tuhan sangat baik kepada Kenan.
"Waktu itu Om ke rumah sakit untuk memeriksa kesehatan anak, Om 'kan?" tanya Kenan memastikan.
"Iya, memeriksa Putri kesayangan Om, Elora ...."
"Kamu tahu Kenan, sebelumnya kami ingin menjodohkan kamu dan Elora."
Kenan tercengang, sewaktu kecil ia pernah akan dijodohkan dengan Elora. Ah, andai waktu bisa diulang ... ia pasti akan menerima perjodohan itu dengan senang hati.
"Akan tetapi, semuanya tidak bisa tersampaikan lantaran Ibu kamu pergi mendahului kita. Setelah ibumu meninggal, Om tidak bisa menemui kamu. Jangankan menemui untuk membahas urusan pribadi, urusan bisnis pun perusahaan keluarga kamu selalu menolaknya," papar Dion dengan tatapan menerawang ke masa-masa yang telah berlalu.
Fakta ia menolak tawaran kerjasama dari perusahaan Dion, menghapus semua harapan Kenan untuk mendapatkan restu dengan mudah.
"Maafkan saya, Om," celetuk Kenan yang membuat Dion menautkan kedua alisnya.
"Kalau saya tahu kalau itu Om Dion, saya pasti tidak akan menolak ajakan kerja sama itu," sambung Kenan merasa sangat bersalah.
"Tidak usah meminta maaf, Kenan. Om tahu semua kesulitan kamu dalam menyambung hidup," kata Dion yang ditanggapi anggukan kepala oleh Kenan.
Semenjak ibunya meninggal, kehidupan Kenan berbah drastis ditambah lagi kehadiran Ibu tirinya yang semakin menekan kehidupan Kenan.
Perihal kematian ibunya, Kenan sudah tahu alasan mengapa sang Ayah membunuh ibunya. Itu dikarenakan kesalahpahaman besar antara keduanya, selama belasan tahun Kenan menyalahkan takdir dari tuhan, baru ketika Elora tenggelam di sungai ia bisa menerima semua takdir tuhan dengan lapang dada. Ia pun mulai memaafkan segala perbuatan buruk ayahnya semasa hidup.
"Terimakasih karena kamu sudah menjaga Elora selagi Om kehilangan kesadaran," ujar Dion tulus.
'Rupanya Elora sudah menceritakan kebaikanku kepada ayahnya.'
Obrolan di antara keduanya berhenti sejenak, Kenan menghela nafas lega, obrolannya bersama calon Ayah mertuanya berjalan dengan mulus.
"Apa kamu mencintai Elora?" tiba-tiba Dion menanyakan pertanyaan yang memacu detak jantung Kenan menjadi lebih cepat dari biasanya.
__ADS_1
"Saya mencintai Elora, Om!" jawab Kenan mantap, ia tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan emas ini.
"Elora sudah bersama dengan pria lain, apa tidak masalah?"
"Tentu saja tidak, Om!"
"Apakah status janda Elora tidak masalah untuk status kamu yang tinggi? Bagaimana kalau ada orang yang menghina atau meremehkan Elora?"
"Saya tidak peduli dengan status Elora, kalaupun ada orang yang meremehkan Elora, saya akan menindak mereka dengan tegas."
"Kalau begitu ... kejarlah Elora! Buat dia bercerai dari ba7ingan itu!" perintah Dion tak terbantahkan.
"Jadi ...."
"Saya merestui hubungan kamu dan Elora."
Mata Kenan membola, ia sangat bahagia. Saking bahagianya ia sampai melompat kegirangan, restu sudah didapat ... tinggal ia meningkatkan intensitas godaannya ke Elora. Semakin dekatlah ia membawa Elora ke rumahnya, menjadikannya wanita yang paling bahagia di dunia.
Ayah Elora menggelengkan kepalanya melihat tingkah Kenan yang cenderung aneh untuk seorang Presdir.
"Tolong panggilkan Elora," pinta Dion.
Permintaan Dion langsung dikerjakan oleh Kenan, meski sudah direstui Kenan tetap berusaha memberikan kesan baik kepada calon mertuanya.
Kenan membuka sedikit pintu ruangan.
"El, ayo masuk!"
"Maaf, Om. Elora tidak ada di luar." adu Kenan kepada Dion, Ayah Elora.
"Kalau begitu bisa tolong bantu carikan," sahut Dion.
"Oke, Om!" Kenan menyanggupi perintah Dion tanpa pikir panjang.
***
"Ini rincian biaya pengobatan Tuan Dion," kata seorang suster memberikan rincian biaya yang harus segera dilunasi.
Dengan tangan yang bergetar dan jantung yang berdegup kencang Elora mengamati setiap angka yang tertera di kertas tersebut. Tubuhnya terhuyung ke belakang kala melihat total biaya yang harus ia bayar atas pengobatan ayahnya selama sebulan terakhir.
"Dari mana aku bisa mendapatkan uang sebanyak ini?" ucap Elora sambil memijat-mijat keningnya.
"Apa ini?"
Kenan merebut kertas yang dipegang oleh Elora, Elora yang terkejut pun terdiam sejenak, kemudian ia berusaha mengambil kembali kertas yang direbut oleh Kenan.
"Kembalikan, Kenan!"
Kenan mengangkat kertas itu tinggi-tinggi, sehingga Elora yang tubuhnya lebih pendek dari Kenan itu kesulitan untuk menjangkau kertasnya.
Elora tak menyerah, sambil mengangkat kedua tangannya ia melompat-lompat.
"Pendek!" ledek Kenan meraup wajah Elora menggunakan tangan kirinya.
__ADS_1
Elora menepis tangan Kenan yang jemarinya hampir menutup seluruh wajahnya.
"Kembalikan kertas itu, Kenan!"
"Cium dulu!" Kenan menunjuk bibirnya sendiri.
Plak!
Elora menepuk pelan bibir Kenan yang membuat Kenan meringis. Ia menginginkan sebuah ciuman, bukan tepukan.
"Cepat kembalikan!" kata Elora gusar.
Kenan kekeh untuk tidak memberikan kertas itu kepada Elora sebelum ia mendapatkan ciuman.
"Tidak akan aku berikan kalau tidak ada ciuman," ucap Kenan penuh penekanan.
Elora berbalik badan, ia jengah dengan tingkah Kenan yang selalu ingin mendapatkan keuntungan darinya dalam berbagai situasi.
"Ambil saja! Mau ditelan juga silahkan," ucap Elora ketus.
"Akh!"
Ketika baru berjalan beberapa langkah, tubuh Elora diangkat oleh Kenan dari belakang. Pria itu tidak akan berhenti bila keinginannya belum terpenuhi.
"Apa yang kamu lakukan, Kenan!?" teriak Elora mengabaikan tatapan orang-orang yang tertuju ke padanya.
"Jangan berisik, El. Ini rumah sakit." Kenan mengingatkan Elora yang berada digendongnya.
"Turunkan aku!" Elora memberontak.
"Oke," sahut Kenan.
Mata Elora memicing, semudah itu Kenan menuruti keinginannya? Tidak, pasti ada sesuatu yang tidak beres dengan Kenan, duga Elora.
Elora mengalungkan tangannya ke leher Kenan, antisipasi bila Kenan tiba-tiba menjatuhkannya.
"Kamu tahu apa yang akan aku lakukan." Kenan terkekeh geli.
"Semuanya terlihat jelas di wajahmu, Kenan!" balas Elora mencubit leher Kenan hingga menimbulkan bekas kemerahan di leher Kenan.
"Ke mana kamu akan membawaku?" tanya Elora was-was.
"Hotel," jawab Kenan asal.
Mata Elora melotot, jikalau ia tidak bisa lepas dari gendongan Kenan ... ia yakin hidupnya akan hancur di tangan Kenan.
"Tidak usah melotot begitu, aku hanya bercanda," kata Kenan yang kembali menambah bekas cubitan di lehernya. Ya, Elora mencubit leher Kenan akibat kesal dengan gurauan Kenan yang membuatnya takut.
"Tapi kalau kamu mau, aku tidak keberatan membawamu ke hotel," gurau Kenan yang tak ditanggapi oleh Elora.
'Elora ku sangat menggemaskan ....' Dalam batinnya Kenan berteriak.
***
__ADS_1