Elora

Elora
Bab_53 (Tekad Kenan?)


__ADS_3

"Sini, El!" Kenan menarik Elora supaya duduk di sampingnya.


"Obatin kening aku dong, El ...," pinta Kenan meletakkan tangan Elora pada luka di keningnya.


"Gak mau!" Elora menolaknya mentah-mentah.


"Jangan begitulah, El. Luka ini juga gara-gara kamu, masa kamu gak mau tanggung jawab," bujuk Kenan disertai ekspresi yang dibuat-buat.


"Biar aku aja yang ngobatin luka, Om!" Lisa mengajukan diri.


Sekilas Kenan melirik sinis ke arah Lisa, kini benda yang berada di dalam jangkauannya adalah remote televisi. Ya, Kenan tidak bisa menahan hobinya dalam melemparkan berbagai macam benda.


"Kenan ...!" geram Elora yang mengetahui siasat busuk pria bermarga Anderson tersebut.


"Kenapa kamu suka ngelempar-lempar barang?" sungut Elora.


Kenan memalingkan wajahnya dari Elora, ia merasa tak nyaman lantaran Elora yang tidak mendukung hobinya dalam melemparkan barang. Sementara itu, Cantika baru saja tiba di rumah dengan kondisi yang jauh lebih baik dibandingkan kondisinya di supermarket tadi.


"Weh, Tante gila! Ngapain lo di sini?" seru Lisa begitu melihat sesosok wanita yang membuat darahnya panas kembali.


"Heh, ini rumah saya!" balas Cantika dengan nada yang terkesan sinis.


Dengan wajah yang penuh tanda tanya, Lisa menatap Elora dalam, seolah-olah meminta penjelasan yang jelas dari Elora.


"Dia adik Kakak," jawab Elora yang tak ayal membuat sebelah alis Lisa terangkat.


Lisa menelisik tubuh serta wajah Cantika dan Elora secara bergantian, mencari di mana letak kesamaan antara kedua saudara tersebut. Dan hasilnya nihil, ia tak menemukan sedikitpun kesamaan pada diri Elora dan Cantika. Apalagi, mengingat attitude buruk Cantika yang berbanding terbalik dengan Elora yang baik nan ramah.


"Dia adik tirinya," celetuk Kenan yang membuat Lisa melonjak dari duduknya.


Matanya melirik malas ke arah Cantika.


"Pantesan beda banget! Kak Elora itu cantik, baik. Sedangkan dia ---" Lisa menggantungkan perkataannya.


"Jaga mulut kamu!" peringat Cantika yang emosinya mulai tersulut.


"Ada apa ini?" ujar Gavin yang penasaran akan keributan yang terjadi di ruang tamu.


"Mas Gavin!" seru Cantika berhambur ke pelukan Gavin.


Gavin mau tak mau menyambut pelukan Cantika yang sontak memunculkan tanda tanya besar di benak Lisa.


"Ini maksudnya apaan!?" ucap Lisa lantang.


"Kak El---" Lisa tak melanjutkan ucapannya saat melihat Elora yang menundukkan pandangannya.

__ADS_1


"Om Kenan, tolong jelasin semuanya!" pinta Lisa tak terbantahkan.


"Dia adik tiri sekaligus madu Elora," ungkap Kenan yang membuat Lisa diam membeku.


Lisa mengepalkan tangan kanannya kuat-kuat, sorot penuh kebencian terpancar dari mata gadis SMA tersebut. Kenan yang sudah tahu mengenai kejadian selanjutnya, memilih untuk merengkuh Elora yang nampak sedih dan tak berdaya.


Dengan langkah yang pasti Lisa mendekat ke arah Gavin yang tengah berpelukan bersama Cantika. Begitu berada di hadapan mereka, Lisa menghempaskan tubuh Lisa dari pelukan Gavin.


"Aw!" pekik Cantika saat tubuhnya berbenturan dengan lantai.


Perhatian Gavin tercurah kepada Cantika, kesempatan itu tak disia-siakan Lisa, ia meninju bagian wajah Gavin sekuatnya-kuatnya sampai membuat Gavin terhuyung ke belakang.


"Eh, bangs4t! Lo gila atau apa, hah?" teriak Lisa dengan kedua tangan mencengkeram kuat kerah baju Gavin.


"Lo udah punya istri se-baik Kak Elora, tapi kenapa lo malah nge-khianatin dia? Terus, kenapa harus dia yang jadi selingkuhan, lo!?"


"Akh, ******! Lo cowok paling s!al di seluruh dunia karena lo udah nyakitin Kak Elora demi cewek burik macem dia!"


Lisa melupakan amarahnya dengan kata-kata kasar nan menusuk yang sengaja ia tujukan pada Gavin.


"Sudah cukup, Lisa!" lerai Elora berusaha menghentikan kebrutalan Lisa.


Lisa yang sudah kesetanan itu tak menghiraukan Elora, ia terus mencaci Gavin disertai beberapa pukulan yang keras. Di tengah kebrutalannya itu, secara tak sengaja ia menyikut perut Elora dan langsung memunculkan ringisan dari mulut Elora.


Lisa terlihat sangat bersalah begitu ia melihat Elora yang duduk di kursi sembari menahan sakit akibat sikutannya yang tepat mengenai perut Elora.


"Kak---" Lisa tak melanjutkan ucapannya, ia meraih tasnya lalu dengan pergi tergesa-gesa pergi ke luar dari rumah keluarga Aryasatya.


"Lisa, jangan pergi!" larang Elora yang hanya dianggap angin lalu oleh Lisa.


"Lisa!" panggil Elora beranjak dari posisinya.


"Akh!" Elora meringis, merasakan sakit di perutnya yang semakin kerasa begitu ia berdiri secara tiba-tiba.


"Duduk, El. Kamu tidak usah khawatir mengenai Lisa," nasihat Kenan.


"Tidak, Kenan!" tolak Elora.


"A--aku takut Lisa kenapa-napa," lanjutnya risau.


"Dia adalah gadis yang kasar, tidak akan ada satupun orang yang berani melukainya," ucap Kenan memaksa Elora untuk duduk.


"Justru itu, karena kekasaran Lisa ... aku takut kalau dia bertengkar dengan orang lain," sergah Elora.


Kenan membungkam mulut Elora menggunakan telapak tangannya, lalu ia mendekatkan mulutnya ke telinga Elora.

__ADS_1


"Jangan memancingku, El ...."


"Mas, kita harus ke rumah sakit!" ajak Cantika.


Perhatian Gavin yang sebelumnya terarah pada Elora, kini teralihkan pada Cantika yang membantunya berdiri.


"Mas, ayo ....!" Cantika membopong tubuh Gavin yang lemah.


Dengan perasaan tak karuan, ia menyetujui ajakan Cantika. Tidak bisa dipungkiri bahwa saat ini Gavin merasa hubungan sepupu antara Elora dan Kenan itu adalah kebohongan semata dalam rangka menutupi perselingkuhan mereka.


"Berbaringlah, El ...." Kenan mendorong kedua bahu Elora, dan tanpa penolakan Elora berbaring di sofa.


***


"Singkapkan bajumu!" perintah Kenan membawa sebuah baskom kecil berisikan es batu yang baru dia ambilnya.


Elora mendelik tajam.


"Aku tidak akan macam-macam," Kenan duduk di lantai, sejajar dengan perut Elora.


"Aku tidak percaya kalau kamu tidak akan berbuat macam-macam," sinis Elora menggenggam erat bajunya supaya tidak disingkap Kenan.


Kenan menghela nafasnya, di raihnya kedua tangan Elora lalu dibaliknya tubuh Elora dalam sekali hentakan. Ringisan kesakitan mengalun dari mulut Elora tatkala perutnya yang sakit itu beradu dengan sofa.


Kini, Elora berada dalam kondisi telungkup. Kedua tangannya di tarik ke belakang oleh Kenan, kemudian diikatnya kedua tangan Elora itu menggunakan seutas dasi. Walaupun Elora terus meronta-ronta, Kenan tidak mengalami kesulitan yang berarti kala mengikat lengannya.


"Kenan! Apa lagi yang ingin kamu lakukan, hah?" teriak Elora tak sabaran.


"Aku akan sangat membencimu kalau kamu sampai bertindak yang tidak-tidak," ancam Elora.


"Aku hanya ingin mengompres luka di perutmu, tidak lebih!" Kenan menelentangkan tubuh Elora.


"Aku bisa melakukannya sendiri, kamu tidak usah membantuku!" kata Elora saat bajunya disingkap oleh Kenan.


Perut Elora terpampang jelas di depan wajah Kenan, sebagai seorang pria tulen, Kenan memperhatikan tubuh bagian atas Elora tanpa berkedip. Ia berdecak kagum melihat tubuh lembut seorang wanita tersaji di hadapannya.


Plak!


Elora melongo disaat Kenan menampar pipinya sendiri.


"Tahan, Kenan!" Kenan berteriak keras.


"Kenan ...," lirih Elora.


"Tenang saja, El! Aku akan berusaha untuk mengendalikan diri," sahut Kenan tersenyum lebar.

__ADS_1


__ADS_2