Elora

Elora
Bab_39 (Pembalasan)


__ADS_3

Kilatan amarah terpancar dari mata Kenan, tangannya bahkan telah terkepal kuat. Ya, saat ini Kenan sangat marah lantaran rencana terbaiknya digagalkan begitu saja oleh seorang wanita.


"Tunggu, Ken!" Elora meraih lengan Kenan dari belakang.


"Kamu lagi emosi?" tebak Elora enggan membiarkan Kenan pergi.


"Gara-gara aku, yah?" lanjut Elora.


"Maaf ...," cicit Elora.


Kenan yang mendengar Elora seperti merasa bersalah pun urung untuk pergi memarahi wanita yang telah merusak rencananya. Tatapan tajam Kenan menjadi teduh saat melihat Elora yang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan olehnya.


Kenan duduk di samping Elora.


"Ya, aku sedang emosi, El!" ucap Kenan yang membuat Elora tersentak.


"Kenapa?" Dengan ragu-ragu Elora bertanya.


Bukannya menjawab, Kenan malah memeluk Elora yang memunculkan keterkejutan terhadap Elora.


"Kamu mirip dengan Bunda," kata Kenan mengeratkan pelukannya.


Perkataan Kenan itu sangat berdasar, mendiang bundanya memiliki sifat yang mirip dengan Elora. Terutama sifat penakut yang sangat besar pada diri keduanya.


Ingin sekali Elora mendorong Kenan yang membuatnya tak nyaman karena tak berhenti mengusap punggungnya, ditambah deru nafas Kenan pada bagian telinganya membuat tubuhnya menjadi panas dingin.


"Ke--kenan, tolong lepas---!" pinta Elora tergagap.


Senyuman Kenan mengembang, ia suka Elora yang sampai tergagap karena ulahnya.


"Tidak mau!" tolak Kenan tegas.


Wajah Elora bersemu merah, ia merasakan gelenyar aneh pada tubuhnya kala Kenan menggigit telinganya.


"Lepaskan aku, Kenan!" Elora mendorong Kenan sekuat-kuatnya hingga pelukan erat Kenan itu terlepas.


"Dasar mesum!" maki Elora beranjak dari kursi tempat ia duduk.


Kenan tertawa lepas, emosinya yang meledak-ledak sudah mereda karena reaksi Elora yang menggemaskan.


"Tunggu aku, Nona Elora Anderson!" seru Kenan yang diacungi jari tengah oleh Elora yang berada tak jauh di depannya.


***


Mata Kenan memicing saat Elora yang sudah berada di depan pintu ruangan tempat berlangsungnya acara, mendadak berbalik arah dan bersembunyi di belakang tubuhnya.


"Kamu duluan!" Elora mendorong pelan punggung Kenan.


"Jujur padaku, El!" ujar Kenan yang menyadari ada sesuatu yang janggal pada Elora.


"Orang jahat itu pasti ada di dalam," sahut Elora meremas ujung jas bagian belakang Kenan.


"Katakan padaku, siapa orang jahat itu!?"


Hening, Elora tak menyahuti ucapan Kenan.


"Baiklah, kamu tidak perlu mengatakan namanya. Nanti, kalau kamu melihat orang jahat itu ... kamu tunjuk saja, ok?" tutur Kenan.

__ADS_1


"Ayo!" ajak Kenan sambil menarik tangan Elora.


Elora menggeleng pelan.


"Gimana kalau kamu kalah sama orang jahat itu? Terus, kalau orang itu lebih kaya dari kamu gimana?"


Kenan berdecak sebal, wanita penakut nan lugu ini ternyata memiliki nyali untuk meremehkan seorang Kenan Anderson.


"Yasudah! Kalau kamu tidak percaya kepadaku, lebih baik kamu cari saja suamimu dan minta perlindungan kepadanya!" rutuk Kenan.


"Ok, aku akan meminta bantuan suamiku," rajuk Elora.


'Ais ... wanita ini sungguhan ingin meminta bantuan suaminya,' batin Kenan begitu melihat Elora pergi.


Kenan menyusul Elora dengan langkah lebar dan bertenaga, ia tidak menyangka jikalau Elora bisa menjadi se-menyebalkan ini.


"Akh ... Kenan!" Elora memekik tatkala Kenan menggendongnya secara tiba-tiba dari belakang.


"Turunkan aku!" perintah Elora seraya memelototi Kenan.


"Aku tidak mendengarnya ....," acuh Kenan sembari terus berjalan menuju ruangan acara.


"Tuan Kenan Anderson! Turunkan aku, sekarang juga!" teriak Elora penuh penekanan.


"Tolong ... aku diculik pria mesum yang ingin memperkosa ku...!"


"Jika kamu berbicara barang satu kata saja, aku akan dengan senang hati mengabulkan ucapanmu yang barusan itu," ancam kenan tersenyum miring.


Elora refleks menutup mulutnya menggunakan telapak tangan.


***


'Ada apa ini?' batin Kenan bingung akan kondisi acara yang benar-benar kacau dengan keriuhan di mana-mana.


Para tamu undangan yang berkerumun itu menyingkir, memberi jalan kepada polisi yang membawa dua orang tersangka dan dibelakangnya diikuti oleh beberapa orang lainnya.


"Ciko!" pekik Kenan kala melihat Ciko dan Diky yang babak belur digiring oleh polisi.


Refleks, Kenan melepaskan gandengan tangan Elora. Ekspresi khawatir tercetak jelas di wajah Kenan karena harus melihat kondisi memilukan orang-orang yang berharga baginya. Tanpa basa-basi, Kenan menghadang langkah para polisi.


"Tolong menyingkir, Tuan! Jangan mengganggu pekerjaan kami," peringat salah seorang polisi.


"Diam! Saya hanya ingin berbicara dengan sahabat saya," ujar Kenan tak kalah sangar dari polisi yang memperingatinya.


"Jelasin, Ciko!" perintah Kenan kepada Ciko yang tampak begitu terpukul.


"Dania meninggal ...," lirih Ciko.


"Tapi itu bukan perbuatan gue," lanjut Ciko berderai air mata.


"Gue percaya sama lo, Ciko," ucap Kenan memberikan secercah harapan untuk Ciko.


Seorang pria dari belakang Ciko berjalan mendekat ke arah Kenan.


"Presdir Kenan, sahabat anda memberi istri saya minuman beracun," ucap si pria yang tak lain adalah Vito, dalang di balik semua kejadian penderitaan Ciko.


Suasana menjadi hening meskipun di sana masih terdapat puluhan tamu undangan yang menolak untuk pulang sebelum puas menonton kejadian yang jarang bisa terjadi.

__ADS_1


"Kenan!" panggil Elora yang sontak membuat atensi orang-orang tertuju kepadanya.


Mata Vito melotot begitu melihat Elora yang tampak sehat.


'Sia! Wanita itu tidak mati.'


"Bersiaplah, El ... malam ini aku akan memperkosa mu sampai kamu tidak bisa berjalan," bisik Kenan sensual.


Plak!


Elora menepuk wajah Kenan.


"Terserah kau saja," murka Elora.


"Dia!" Elora menunjuk Vito.


"Dia orang jahat itu, Kenan!"


Vito mundur beberapa langkah, habislah ... ia tak tahu kalau Elora mempunyai hubungan dekat dengan Kenan, si pria berbahaya yang bisa menghancurkannya dalam hitungan detik.


"Ma---"


"Tunggu, Vito ... dari mana lo tau kalau Dania meninggal karena keracunan?" sela Ciko.


"Y--ya gue cuman nebak aj--a."


"Ken, tolong ambil gelas yang isinya minuman warna oranye dan minumannya masih ada setengah gelas lagi," tutur Ciko yang disanggupi oleh Kenan.


"Di mana?" tanya Kenan.


"Pelaminan."


Vito yang takut kebusukannya terbongkar, berusaha menghadang Kenan.


"Menyingkir, bodoh!" Kenan menendang tulang kering Vito.


Di kondisi tulang kering yang sakit, Vito masih mengejar Kenan seraya tertatih-tatih. Kali ini Elora yang bertindak, ia mendorong Vito dari belakang hingga membuat Vito tersungkur.


Elora mengambil sebuah gelas, lalu melemparkannya ke bagian punggung Vito.


"Ack!" Vito memekik kesakitan.


"Saya hanya melempar gelas, tetapi anda sudah menjerit sekeras itu. Lantas akan seperti apa bila saya menyuruh orang berbadan besar memukul punggung anda?" gerutu Elora yang menyimpan dendam besar kepada Vito.


"Tentu saja mati," bukan Vito yang menjawab, melainkan Kenan yang sudah siap dengan segelas minuman yang dideskripsikan oleh Ciko tadi.


Vito panik bukan kepalang, ia ingin lari tetapi Elora mengancamnya menggunakan gelas yang lainnya.


"Pak polisi, tolong pegangi orang ini," pinta Kenan.


"Ti--tidak---" teriak Vito begitu kedua lengannya di pegang oleh polisi.


"Mari kita mencoba kekuatan racun ini." Kenan menggoyang-goyangkan gelasnya.


"Ti--ukh---"


Minuman beracun itu masuk ke kerongkongan Vito dengan lancarnya.

__ADS_1


"Dengar itu, malaikat pencabut nyawa sedang memanggil-manggil namamu ...."


__ADS_2