Elora

Elora
Bab_21 (Kegilaan Kenan)


__ADS_3

"Tidak bisa begitu, dong, Kenan!" bantah Mamah Ciko.


"Tentu saja bisa." Kenan melirik Ciko.


'Mampus gue!'


Ciko meraih tangan mamahnya.


"Mah, lebih baik Mamah ngalah dulu," ucap Ciko pelan.


Elora yang menjadi bahan rebutan benar-benar tak tahu harus melakukan apa. Ia akan merasa tak enak bila memilih salah satu dari antara dua orang yang baik padanya.


"Tapi Ciko ---"


"Ini demi keselamatan keluarga kita, Mah," sela Ciko dengan suara yang pelan.


Mamah Ciko menekuk wajahnya, sampai kapan pun keluarganya tidak akan berani membantah keinginan Kenan. Papah Ciko juga tidak hanya diam, ia meraih tangan istrinya untuk sekadar membuatnya tenang.


Ciko menampilkan ekspresi mengejek pada mamahnya Ciko.


"Ayo, El!" ajak Kenan.


"Maksudnya?" tanya Elora tak mengerti.


"Saya bantu kamu jalan ke toilet," jawab Kenan tersenyum.


Papah dan Mamah Ciko membelalakkan matanya saat melihat senyuman Kenan. Tak aneh bila respon mereka seperti itu, pasalnya Kenan sangat jarang tersenyum. Hal itu membuat mereka percaya pada Ciko yang menyebutkan bahwa Kenan mencintai Elora.


"Tidak usah, saya bisa sendiri," tolak Elora halus.


Senyuman Kenan mendadak luntur, ia tidak bisa menerima penolakan dari siapa saja, termasuk Elora.


'Semoga saja kamu jatuh, El.' Dalam hatinya Kenan menyumpahi Elora.


Elora perlahan-lahan menuruni ranjangnya, dan bodohnya ia malah menapakkan kakinya yang sakit ke lantai terlebih dahulu.


"Ack!" Elora memekik, tubuhnya oleng karena kakinya tak lagi kuat menumpu berat badannya.


Reflek, Kenan menahan tubuh Elora. Dalam hatinya ia bersorak karena perkataan buruknya itu menjadi kenyataan sehingga memberikan keuntungan yang besar untuknya.


"Sudahlah, El. Kamu jangan menolak untuk saya bantu," ucap Kenan tegas.


"Terimakasih, tapi tidak usah!" Elora kembali menolak.


Elora tidak mau terus bergantung pada Kenan, Pria yang tidak memiliki hubungan apapun dengannya. Ketika dekat dengan Kenan ia merasa seperti tengah membenarkan tuduhan perselingkuhan yang ditujukan oleh Gavin pada dirinya.


Kenan menggertakan giginya saat melihat Elora berjalan tertatih-tatih menuju toilet.


"Sial*n!" Kenan menendang sebuah kursi.


"Pah, mendingan Papah cepet-cepet bawa Mamah pulang," bisik Ciko.


"Soalnya si Kenan lagi begitu, takutnya Mamah malah gak sengaja ngebikin si Kenan makin emosi," lanjut Ciko.


Papahnya menganggukkan kepalanya.


"Mah, kita pulang, yuk!?" ajak sang Papah.


"Gak mau! Mamah mau nemenin Elora," tolaknya tegas.

__ADS_1


"Besok aja ya nemenin Elora-nya. Soalnya Papah udah capek banget, Mah. Pengen istirahat di rumah," alibi Papah Ciko.


Mamahnya tak menyangkal ataupun menolak, pertanda bahwa ia setuju untuk pulang bersama suaminya.


"Ayo, Mah!" Papah Ciko meraih tangan istrinya dan membawanya ke luar ruangan.


Ciko dan Kenan enggan untuk mengobrol, dan malah sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.


Sedangkan, di dalam toilet ....


"Kira-kira baju seperti apa yang dibelikan oleh Kenan?" gumam Elora.


Disertai rasa penasaran, Elora membuka kantong berisi pakaian tersebut. Mata Elora langsung berbinar melihat pakaian berwarna pink.


"Imut ...."


Elora mengeluarkan pakaian itu, lebih tepatnya adalah sebuah dress berwarna pink berlengan pendek dengan panjang sampai bagian betisnya. Elora girang tak terkira, ia sangat menyukai dress yang dibelikan oleh Kenan tersebut.


Namun, kegirangan Elora itu mendadak sirna kala dirinya sadar bahwa masih ada sesuatu di dalam kantong.


"Pakaian dalam?" Elora mengangkat pakaian dalam itu sejajar dengan wajahnya.


Blush!


Wajahnya memerah.


"Aaaaa ..." Elora berteriak dengan lantangnya.


"Bisa-bisanya dia membeli pakaian dalam untukku? Dan kenapa juga ukurannya bisa pas?" Elora bertanya-tanya akan keberanian Kenan membelikannya pakaian dalam.


"El, kamu kenapa?" tanya Kenan dari luar.


"Jangan berbohong Elora!" kilah Kenan.


"Saya tidak berbohong!" sangkal Elora.


"Elora---"


"Saya tidak akan menjawab," potong Elora.


Di dalam toilet sana Elora tampak gelisah.


'Mendingan aku gak usah ganti pakaian dalam.' Elora melemparkan pakaian dalam yang dibelikan Kenan itu ke dalam kantong.


'Masa iya aku pake pakaian dalam yang dibeliin oleh laki-laki asing. Dan lagi model pakaian dalam itu terlihat menyebalkan, jika memakainya aku merasa seperti akan menggoda seorang untuk segera mengawini aku,' gerutu Elora dalam hatinya.


***


"Kapan Ayah bangun?" lirih Elora melihat ayahnya yang terbaring tak sadarkan diri melalui kaca yang terdapat di pintu.


"Ack!" pekikan Ciko tertahan.


Ciko melirik Kenan yang terlihat biasa saja meski sedang menginjak kakinya.


"Lo mau apa, Ken?" tanya Ciko pelan.


"Hibur Elora," jawab Kenan tak kalah pelan.


Ciko mengerlingkan matanya, jika bisa melakukan kekerasan kenapa harus bicara baik-baik, pikir Ciko.

__ADS_1


"El, lo jangan lemes gitu. Kondisi Ayah lo oke-oke aja, kemungkinan 95% Ayah lo sadar besok,"


'3% sadar minggu depan, dan 2% gak bangun lagi' lanjut Ciko dalam hatinya.


"Kamu dengar itu, El. Kemungkinannya sangat besar, maka dari itu kamu jangan terlalu risau," timpal Kenan.


"Hm ...."


"Kalau begitu, lebih baik sekarang kita pulang. Saya akan mengantarkan kamu terlebih dahulu," ajak Kenan.


Elora menoleh.


"Tidak usah repot-repot mengantar saya, nanti juga akan ada supir yang datang menjemput." Lagi dan lagi, Elora menolak niat baik Kenan.


Semenjak tadi, sikap Elora menjadi dingin kepada Kenan. Sikap Elora itu tak pelak memancing kemarahan Kenan.


"Sabar, Ken!" Ciko menepuk punggung Kenan.


Kenan berbalik memelototi Ciko.


"Elora sayang, dengerin Kakak Ciko! Kondisi kamu itu belum terlalu baik, gak bagus buat kamu lama-lama di ruangan terbuka. So ... lebih baik kamu pulang sekarang, dianterin sama Kenan," bujuk Ciko dengan dibumbui kebohongan.


"Kakak mohon," lanjut Ciko saat melihat Elora sudah bersiap untuk mengeluarkan sangkalan.


Elora dibuat tak tahan dengan eskpresi memelas Ciko, ia tak tega bila harus menolak Ciko serta keimutannya.


"Ok," ucap Elora singkat.


Elora mulai bergerak mendahului Kenan.


Baru saja akan menyusul Elora, tubuh Ciko dihalau oleh Kenan.


"Lo gak boleh ikut!" ujar Kenan penuh penekanan.


Seusai mengatakan itu, Kenan menyusul Elora, bahkan Kenan sampai memaksa Elora untuk mau dipapah oleh dirinya.


"Makin lama makin rese tu anak, si Elora bakalan menderita banget, sih, kalau dinikahin si Kenan." Ciko bergumam.


"Kalau diliat dari stamina si Kenan, nantinya si Elora gak bakalan bisa tidur nyenyak tiap malemnya."


***


Saat ditengah-tengah perjalanan Elora tertidur pulas dipelukan Kenan. Rupanya sebelum mengantar Elora pulang, ia sudah menyiapkan siasat licik.


Tadi, Kenan memberikan Elora air minum yang sudah Kenan tambahkan obat bius yang dosisnya cukup untuk membuat Elora tidak terbangun saat Kenan melakukan aksi gilanya.


Tanpa mempedulikan Diky yang menyetir mobil, Kenan dengan nakalnya mempermainkan tubuh Elora. Mulai dari memberikan ciuman, sampai menyentuh bagian-bagian tubuh Elora yang tak sepatutnya ia sentuh.


"Diky, hentikan mobilnya dan keluarlah!" perintah Kenan yang dilaksanakan oleh Diky.


Sepeninggal Diky, Kenan menurunkan sandaran kursi yang diduduki Elora sampai nyaris sejajar dengan dudukan kursi.


Kenan menyibakkan dress yang digunakan Elora sebatas dada sehingga membuat tubuh Elora terekspos.


"Ternyata kamu tidak menggunakan pakaian dalam yang sudah ku siapkan, tapi tidak masalah." Kenan membenarkan dress Elora seperti sedia kala.


"Aku akan memastikan kamu memakainya di malam pertama kita, Elora."


.

__ADS_1


__ADS_2