Elora

Elora
Bab_7 (Elora Keracunan?)


__ADS_3

"Ayah ...," lirih Elora.


"Yang sabar Non El, Pak Idan yakin kalau operasi tuan akan berhasil," ucap Pak Idan bermaksud untuk menghibur Elora.


Elora menganggukkan kepalanya, ia mengerti dengan maksud Pak Idan.


"Pak Idan pulang aja," ucap Elora pelan.


Pak Idan mengernyitkan keningnya tatkala diberi perintah pulang oleh Elora. Masa iya harus meninggalkan Elora sendirian di rumah sakit, pikir Pak Idan.


"Pak Idan gak usah khawatir, sebentar lagi mereka akan datang," kata Elora seolah-olah tahu isi pikiran Pak Idan.


"Mereka siapa, Non?" tanya Pak Idan tak mengerti.


Elora mengalihkan pandangannya dari Pak Idan. Lalu Elora mengangkat jari telunjuknya dan mengarahkannya kepada dua orang wanita dan satu pria yang sedang berjalan ke arahnya.


Pak Idan melihat ke arah yang ditunjuk oleh Elora, di sana ia dapat melihat Diana, Cantika, dan juga Gavin.


'Non Elora tidak mau menyebutkan nama mereka, pasti hati Non Elora sangat sakit,' batin Pak Idan prihatin.


Memang, sangat wajar jika Pak Idan prihatin kepada Elora. Secara, Pak Idan sudah bekerja di keluarga Elora selama lebih dari 10 tahun, yang mana Pak Idan telah mengetahui kehidupan Elora. Dan menurut pengamatannya selama ia bekerja, ini adalah kondisi terburuk Elora setelah mendiang ibunya meninggal 8 tahu yang lalu.


"Non, biar Pak Idan temani, ya?" tawar Pak Idan.


Elora menggelengkan kepalanya.


"Pak Idan pulang aja, terus Pak Idan bilang ke Bibi buat nyiapin pakaian El. Dan El juga minta tolong sama Pak Idan buat nganterin pakaiannya ke sini," perintah Elora sopan.


"Kalau begitu perintah Non Elora, Pak Idan of pamit pulang. Kalau ada apa-apa langsung telepon Pak Idan, ya, Non," pamit Pak Idan kepada Elora.


"Iya," sahut Elora singkat.


Setelah mendapat sahutan dari Elora, Pak Idan langsung bergegas pergi. Pak Idan juga menyempatkan diri untuk menyapa ketiga orang yang telah membuat Elora berada dalam kondisi buruk nan memprihatinkan.


Elora berusaha meneguhkan hatinya agar ia tidak sampai menangis dihadapan mereka, sebab ... ia tak mau terlihat lemah di hadapan mereka, terutama di hadapan Gavin.


Sementara itu, kedua mata gavin membelalak ketika melihat Elora duduk di kursi roda. Ingin rasanya ia berlari menghampiri Elora, menanyakan apa yang membuatnya terluka, dan pastinya menemani Elora. Sayangnya ia tidak bisa melakukan itu, lantaran rasa marahnya atas pengkhianatan Elora yang masih menumpuk di hatinya.


Cantika menggeram marah begitu melihat Gavin yang terdiam sambil menatap Elora.


"Kak El, kenapa?" tanya Cantika lembut.


Elora menengok ke arah Cantika, Elora tersenyum kecut tatkala melihat Cantika menggandeng tangan Gavin yang notabenenya adalah suaminya yang sah.


'Bagus Elora ... lihatlah kemesraan kami,' batin Cantika saat sadar akan tatapan Elora yang tertuju pada tangannya yang menggandeng tangan Gavin


"Iya, El. Kamu kenapa?" timpal si Ibu tiri.

__ADS_1


"Tidak sengaja tertabrak mobil," jawab Elora enteng.


Gavin tercekat mendengar jawaban dari Elora, bagaimana bisa Elora menjawabnya dengan enteng? Apakah Elora menjadi mati rasa karena luka hati yang ia torehkan? Pikir Gavin.


"Mas, lebih baik kita ke kantin beli makanan untuk Kak Elora!" ajak Cantika bersemangat.


"Mas ...," panggil Cantika seraya mengguncangkan lengan Gavin.


"Ah, iya. Kenapa?" Rupanya Gavin terlarut dalam pikirannya sampai-sampai ia tidak mendengar ajakan Cantika.


"Kita ke kantin beliin ka Elora makanan," ulang Cantika yang mendapat anggukan kepala dari Gavin.


"Mami ikut!" seru maminya yang sedari tadi diam.


Elora benar-benar tak mengerti dengan isi pikiran mereka bertiga. Mereka bertiga datang ke sini karena ayahnya yang mengalami kecelakaan, tetapi tidak ada satu pun dari mereka yang menanyakan kondisi ayahnya.


"Kak El, kita ke kantin dulu, ya," pamit Cantika yang tak sedikit pun dihiraukan oleh Elora.


Elora menghela nafas panjang, tak disangka Gavin-nya yang dulu selalu perhatian padanya berubah menjadi dingin hanya dalam waktu kurang dari satu hari. Ternyata, hubungan 2 tahun yang telah mereka jalani tidak membangun rasa percaya satu sama lain.


"Semangat, El. Mungkin ini saatnya kamu untuk berjuang!" gumam Elora dengan air mata yang mulai membasahi pipinya.


***


Sudah 1 jam lamanya Elora menunggu di depan ruangan operasi, dan satu jam itu pula Elora terus-menerus berdoa untuk kelancaran operasi yang di jalani ayahnya.


Saat ini Elora merasakan sedih bukan kepalang, pasalnya di saat ia bersedih dengan kondisi ayahnya tak ada satu orang pun yang menemaninya. Ibu tirinya, Cantika, dan Gavin sudah pergi sekitar 45 menit yang lalu, meninggalkan Elora yang tengah dirundung kesedihan.


"Kamu ... kenapa bisa ada di sini?" tanya Elora dengan rasa keterkejutan yang masih ada.


"Saya 'kan sudah bilang akan ke sini setelah pekerjaan saya selesai, dan sekarang pekerjaan saya sudah selesai, jadi saya langsung bergegas ke sini untuk menemani kamu," jawab Kenan panjang lebar


"Elora, kamu harus yakin bahwa operasi Ayah kamu akan berhasil," ucap Kenan berusaha membangkitkan pikiran positif Elora.


"Tapi ---"


"Syuut ...!" Kenan menaruh telunjuknya di bibir Elora.


"Berpikir positif-lah Elora," lanjut Kenan.


Kenan menelan salivanya dengan susah saat telunjuknya merasakan kelembutan bibir Elora. Sia*! hanya dengan menyentuh bibirnya saja membuat hasrat Kenan meningkat.


Tangan kanan Kenan bergerak ke bagian punggung Elora, dan jangan lupakan tatapan Kenan yang seperti ingin menerkam mangsa.


"P--Pak!" panggil Elora yang merasa takut dengan tindakan Kenan.


Kenan pun tersadar di detik itu juga, ia langsung menjauhkan diri dari Elora.

__ADS_1


"Ah, Maaf! Saya sedang pusing karena masalah pekerjaan," alibi Kenan.


Elora hanya manggut-manggut saja, karena baginya alibi Kenan itu masih masuk akal.


"Nama saya Kenan Anderson, kamu bisa panggil saya Kenan," ujar Kenan memperkenalkan dirinya.


"Hm, iya," sahut Elora acuh.


"Elora, saya ingin mengucapkan terimakasih karena kamu telah ---"


"Elora!" potong Ciko yang baru saja keluar dari ruangan operasi.


Lagi, lagi, dan lagi ucapan terimakasih Kenan kepada Elora harus kembali terhalang oleh Ciko.


"Operasinya sukses, dan ayah kamu berhasil melewati masa kritis," sambung Ciko yang lantas membuat wajah Elora berseri.


"Lo kenapa, Ken?" tanya Ciko kepada Kenan yang memelototinya.


"Dasar pengacau!" desis Kenan.


Ciko hanya menggaruk-garuk tengkuknya, ia baru saja menyelesaikan operasi dan langsung dibuat bingung oleh tingkah Kenan.


"Ah!"


"Elora kamu kenapa?" tanya Kenan panik.


"Perut saya sakit," jawab Elora diiringi ringisan.


"Bentar, biar gue cek!" Ciko mendekati elora dan berjongkok di hadapannya lalu mulai mengecek denyut nadi Elora.


"Pusing gak?" tanya Ciko.


"Iya, sedikit."


"Sesak nafas? Lemes? Mual?"


"Iya."


"Tadi makan apa?"


"Itu!" Elora menunjuk sisa makanan serta minuman yang tadi diberikan Cantika.


"Elora kenapa, Ko?" tanya Kenan penasaran.


"Kemungkinan besar keracunan," jawab Ciko serius.


Semakin paniklah Kenan saat tahu Elora keracunan. Lalu kepanikannya bertambah berkali-kali lipat begitu menyadari Elora sudah tidak sadarkan diri.

__ADS_1


"Ken, lo cepet bawa Elora!" seru Ciko.


Dengan sigap Kenan menggendong Elora untuk dibawa ke ruangan pengobatan. Sedangkan Ciko terlebih dahulu memberikan makanan dan minuman itu kepada perawat yang lewat untuk di periksa di laboratorium.


__ADS_2