Elora

Elora
Bab_22 (Siasat Buruk Elora)


__ADS_3

Mobil yang ditumpangi oleh Kenan sudah tiba di halaman rumah Elora dengan kondisi Elora yang belum sadarkan diri. Kenan turun terlebih dahulu dari mobil, ia memandangi rumah Elora yang menurutnya cukup sederhana.


"Sepertinya kehidupan Elora cukup baik, tetapi karena menikahi laki-laki bodoh itu kehidupan baiknya berubah menjadi buruk. Walaupun begitu, aku akan pastikan kehidupan burukmu itu akan segera berakhir, El," monolog Kenan melirik Elora dari kaca mobil yang terbuka.


Seorang pria dan seorang wanita paruh baya menghampiri Kenan, sudah dapat dipastikan bahwa mereka berdua adalah orang yang bekerja di rumah Elora.


"Bapak mau cari siapa, ya?" tanya pria yang tak lain adalah Pak Idan, supir keluarga Elora.


"Saya hanya mengantar Elora," jawab Kenan santai.


"Non Elora?" ulang si wanita paruh baya.


"Ya!" Kenan membuka pintu mobil.


Kedua orang itu terperanjat melihat anak majikannya bersandar lemah dengan mata yang terpejam. Pikiran-pikiran negatif pun merasuki otak mereka.


Kenan menyunggingkan senyumnya.


"Saya tidak melakukan hal buruk terhadap Elora," ungkap Kenan.


Tidak melakukan hal buruk? Lantas, perbuatannya tadi di dalam mobil itu adalah perbuatan baik?


Kenan meraih tubuh Elora, ia menggendong Elora dengan mudahnya, seolah-olah tubuh Elora seringan kapas.


"Tunjukkan kamar Elora!" perintah Kenan.


Pak Idan dan ART itu langsung bergegas menunjukkan jalan menuju kamar Elora. Walaupun mereka tidak kenal Kenan, namun mereka sadar jikalau Kenan itu bukan orang sembarangan yang bisa saja membuat mereka berdua berpamitan pada pekerjaan yang mereka lakoni.


Setelah berjalan cukup jauh, kini Kenan sudah berada di lantai dua, di depan kamar Elora.


"Ah, ya. Hari ini suami Elora akan menikah, dan saya harap kalian tidak membocorkan hal itu pada Elora," ucap Kenan dengan nada mengancam.


"Kalau begitu silakan pergi, saya membutuhkan sedikit waktu berdua bersama Elora," usir Kenan yang tak ditanggapi oleh kedua pekerja itu.


Kenan mengerti kenapa mereka berdua menolak untuk pergi meninggalkan Elora bersamanya. Itu dikarenakan rasa khawatir mereka yang besar terhadap Elora.


"Saya berjanji tidak akan menyakiti Elora."


Setelah mendengar perkataan itu, mereka langsung pergi. Sedangkan Kenan memasuki kamar Elora yang didominasi oleh warna putih, lalu dengan perlahan Kenan merebahkan Elora di ranjang yang ditutupi seprai berwarna putih.


"Tadinya aku ingin melakukan sesuatu kepada kamu, El. Namun, aku sudah terlanjur berjanji untuk tidak menyakiti kamu," ucap Kenan dengan raut wajah penuh penyesalan.


Cup!


Kenan mengecup kening Elora singkat.


"Semoga kamu bisa cepat bercerai dengan suami mu itu," bisik Kenan kemudian berlalu pergi.

__ADS_1


***


"Selanjutnya kita pergi ke mana, Presdir?" tanya Diky.


"Ke acara pernikahan bajing*n dan jal*ng," jawab Kenan tajam.


"Nanti di perjalanan kamu belikan saya kaos lengan panjang, topi dan masker," sambung Kenan.


"Baik Presdir!" sahut Diky.


Perjalanan yang ditempuh Kenan menuju hotel tempat berlangsungnya acara pernikahan terbilang sangat jauh, jalanan yang padat pun menambah waktu tempuh yang dibutuhkan. Akhirnya, setelah 45 menit Kenan bisa tiba dengan selamat di hotel.


'Jam setengah 4, berarti setengah jam lagi Elora akan mendapat status istri tua.' Kenan membatin.


"Sangat memuakkan!" dengus Kenan.


"Apa saya melakukan kesalahan, Presdir?" Diky bertanya lantaran takut makian Kenan itu ditujukan padanya.


"Tidak!"


Kenan melepaskan kemeja yang dipakainya hingga hanya menyisakan kaos putih tipis yang membentuk tubuhnya. Setelah itu ia mengenakan kaos hitam berlengan panjang, topi, juga masker yang dibelikan Diky.


"Seperti biasa, kamu jadi juru bicara saya," ujar Kenan yang diangguki oleh Diky.


Perhatian semua orang tiba-tiba tertuju pada Diky yang keluar dari mobil Ferrari mahal. Hingga, beberapa pria dan wanita menghampirinya.


"Apa Presdir Kenan juga ikut datang ke sini?" Seorang wanita angkat bicara.


Ternyata ... Diky sangat dikenal dikalangan para keluarga pengusaha terutama para wanita sebagai orang kepercayaan Kenan.


Saat perhatian orang-orang tertuju pada Diky, disitulah Kenan keluar diam-diam dari mobil. Beruntungnya tidak ada seorang pun yang melihat Kenan, sehingga Kenan bisa bergerak leluasa tanpa takut dikerumuni orang-orang yang memujanya.


Dengan santainya Kenan memberikan undangannya sebagai syarat untuk bisa memasuki hotel. Kenan mengisi buku tamu itu dengan identitas aslinya, setelah itu ia memberikan uang sekitar 5 juta kepada orang yang menerima tamu.


"Tutup mulutmu!" ujar Kenan penuh penekanan.


Orang itu menganggukkan kepalanya sebagai tanda bahwa dirinya mengerti maksud Kenan.


***


"Kasihan sekali Non Elora," ucap ART uang yang kerap dipanggil Bi Nop.


"Iya, padahal Non Elora itu orang yang baik," sahut Pak Idan.


"Tega banget Pak Gavin duain Neng Elora," timpal Mang Ipal selaku tukang bersih-bersih.


"Ya, di duainnya juga sama adik tirinya."

__ADS_1


"Parahnya lagi mereka majuin acara pernikahannya jadi hari ini, sad---"


"Apa!?" pekik Elora memotong perkataan Pak Idan.


Rupanya Elora sudah bangun dan menyimak obrolan Pak Idan, Bi nop, dan Mang Ipal.


Bi Nop dengan sigapnya membantu Elora menuruni tangga.


"Jadi, Mas Gavin nikah hari ini," ucap Elora berkaca-kaca.


"Pak Idan, tolong anterin saya!" Suara Elora bergetar.


"Jangan Non!" larang Mang Ipal dan Bi Nop bersamaan.


"Iya Non. Lebih baik Non istirahat aja," timpal Pak Idan.


"Jangan larang, El! Karena El akan lebih sakit kalau tidak menghadiri pernikahan Mas Gavin," teriak El histeris.


Tak tega melihat Elora, Pak Idan akhirnya bersedia untuk mengantarkan Elora.


***


Elora mengedarkan pandangannya, suasana di depan hotel itu sangat ramai, bukti pernikahan megah yang diadakan Gavin.


"Ayah ...!" panggil Elora ketika melihat Ayah mertuanya.


Sambil tertatih-tatih Elora menghampiri Ayah dari suaminya itu.


"Ayah minta maaf, El." ucapnya tak kuasa melihat wajah Elora.


Elora menyentuh tangan Ayah mertuanya.


"Ini bukan salah Ayah." Elora berusaha tersenyum meski air matanya sudah mulai membasahi pipinya.


"Mungkin ini takdir yang harus Elora terima," ucap Elora sendu.


"El, masuk ke dalam, Ayah!" pamit Elora.


"El, kamu yakin?" tanya ayahnya ragu.


"El yakin, El pasti bisa melewati cobaan ini," jawab Elora mantap, toh ia juga sudah tahu fakta Gavin dan Cantika pernah berhubungan intim.


Dengan penuh keteguhan, Elora menapakkan kakinya di ruangan luas yang menjadi tempat bersatunya dua hati yang menghancurkan hatinya yang rapuh.


Tangis Elora pecah melihat suaminya yang duduk berdampingan dengan adik tirinya. Senyuman keduanya merekah, menunjukkan kebahagiaan atas resminya mereka sebagai sepasang suami-istri.


Kenan menyentuh dadanya, ia merasakan sesak yang teramat karena melihat Elora yang menangis. Ia ingin memeluk Elora, tetapi kondisinya tidak memungkinkan.

__ADS_1


Secara tidak terduga, tiba-tiba saja terbersit ide jahat di benak Elora.


"Aku tidak merasakan kebahagiaan dari pernikahanku, yang ada malah penderitaan yang berkepanjangan. Segala sesuatu itu harus adil, pernikahanku hancur maka pernikahan adik tiriku juga harus hancur," kata Elora menyeringai.


__ADS_2