
"Dok ---"
"Panggil Ciko aja, risih tau gak denger lo panggil gue pake embel-embel Dokter," potong Ciko ketus.
"Tapi saya gak nyaman kalau langsung panggil nama, secara ... Dokter lebih tua 5 tahun dari saya," tutur Elora apa adanya.
Ciko menggaruk kepalanya kasar, jarak 5 tahun itu tidak terlalu jauh. Akan tetapi mengapa Elora mengatakan jarak 5 tahun itu seperti jarak yang sangat jauh?
"Kalau begitu panggil aja Kak Ciko, puas lo!?" ujar Ciko dengan nada meninggi.
Elora terkekeh, mudah sekali membuat Ciko kesal, pikirnya.
"Kak Ciko!" panggil Elora tanpa ada keraguan.
Ciko tersentak, ia menghentikan langkahnya tiba-tiba. Elora yang bingung kenapa kursi rodanya berhenti pun menengok sekilas ke arah belakang.
"Kak Ciko kenapa?" tanya Elora khawatir.
"Ah ... nggak! Gue tiba-tiba keinget adik gue yang udah meninggal," jawab Ciko dengan mata yang sudah berkaca-kaca, mungkin hanya dengan satu kedipan air matanya itu akan keluar.
Elora tertegun, ia telah membuat Ciko teringat adiknya yang sudah meninggal. Sedikit pun Elora tidak menyangka kalau Ciko mempunyai luka yang begitu mendalam karena ditinggalkan seseorang.
"Maaf ...," lirih Elora menundukkan kepalanya.
Satu tangan Ciko mendarat di kepala Elora, tangannya itu mengelus-elus pelan rambut Elora yang lembut.
"Lo gak usah minta maaf, karena lo gak salah apa-apa," ujar Ciko berusaha untuk menahan air matanya.
"Hm ...."
Ciko melanjutkan perjalannya menuju taman sembari mendorong kursi roda yang diduduki Elora.
"El, gue boleh gak minta sesuatu sama lo?"
"Boleh, asal jangan yang aneh-aneh."
"Gue mau lo terus panggil gue Kakak, terus nanti pas lo sembuh gue minta lo buat dateng ke rumah gue," pinta Ciko penuh harap.
"Alasannya apa coba?" tanya Elora yang ingin mengetahui segalanya secara rinci.
"Gue suka dipanggil Kakak sama lo, kalau soal dateng ke rumah ... gue mau nemuin lo sama Nyokap gue yang kena gangguan kejiwaan sepeninggal adik perempuan gue. Mungkin, dengan ketemu sama lo kondisinya bisa jadi lebih baik," papar Ciko.
"Kenapa harus saya?" Elora menunjuk dirinya sendiri.
"Karena ... mana gue tau anj*r!" celetuk Ciko.
Elora mendelik, rasa simpatinya kepada Ciko langsung menghilang tatkala mendengar celetukan ciko yang tak layak untuk diucapkan.
"Oh, iya ... kondisi Ayah saya bagaimana?"
__ADS_1
"Kondisinya baik, udah ya Elora lo jangan kebanyakan nanya!" larang Ciko.
"Kenapa?"
Ciko menutup mulutnya rapat-rapat, jika tidak ... Elora pasti akan menanyakan kondisi ayahnya lebih dalam lagi. Sedangkan, ia dilarang oleh Kenan untuk memberitahu kondisi ayahnya yang tidak baik dan kemungkinan besar akan mengalami stroke.
***
Ciko dan Elora, kedua insan itu sudah tiba di taman rumah sakit. Mereka berdiam di bawah pohon yang rindang, demi untuk menghindari sinar matahari yang masih cukup terik.
"Kak!" panggil Elora.
"Apaan," sahut Ciko sinis.
"Bantu saya belajar jalan," ucap Elora memelas.
"Ogah! Nanti kalau jatuh lo pasti bakalan nangis," tolak Ciko kasar.
"Dasar laki-laki tidak bertanggung jawab!" maki Elora.
Ciko mencebikkan bibirnya, semua wanita sama saja, suka menyangkut pautkan kejadian yang sudah berlalu dengan kejadian yang sedang terjadi.
"Yaudah sini!"
Ciko mengulurkan kedua tangannya, dengan senang hati Elora pun meraih uluran tangan Ciko. Elora perlahan berdiri dengan bantuan Ciko, meskipun demikian Elora enggan untuk menjejakkan kaki kanannya yang sakit.
"Woy! Kalau begini caranya lo gak bakalan bisa jalan Elora," bentak Ciko tatkala melihat kaki kanan Elora yang tidak menjejak ke bumi.
"Ya kalau lo udah tau kagak bisa jalan, kenapa lo mau belajar jalan?" geram Ciko.
"Saya belajar karena saya ingin bisa berjalan normal," balas Elora sengit.
"Au, ah gelap," ujar Ciko melepaskan tangan Elora.
Elora yang hanya berdiri menggunakan kaki kirinya itu mulai kehilangan keseimbangan, tubuhnya pun sudah oleng ke berbagai arah.
"Ah, Kakak!" pekik Elora saat tubuhnya akan terjungkal ke belakang.
Grep!
Ciko menangkap tubuh Elora yang sudah akan terjungkal, pria yang mengaku ketampanannya sebelas dua belas dengan Kenan itu mendekap Elora, menenangkan Elora yang agak terkejut akibat hampir terjungkal.
"Sorry, El," ucap Ciko tulus.
"Jadi laki-laki, kok, jahat banget," ucap Elora mendramatisir setiap kata yang ia ucapkan.
"Ih, sorry-lah. Mending lo duduk dulu, handphone gue geter." Ciko mendudukkan kembali Elora di kursi roda.
Lantas, Ciko mengambil handphonenya yang terus-menerus bergetar di saku celananya. Alangkah kagetnya Ciko saat melihat nama Kenan tertera di layar handphonenya. Bukannya lebay, tapi Ciko memang benar kaget karena tidak biasanya Kenan melakukan panggilan video kepadanya.
__ADS_1
"Ada apaan, Ken?" tanya Ciko setelah mengangkat panggilan video dari Kenan.
"Mana Elora?" Kenan balik bertanya.
"Noh!" Ciko mengarahkan kamera handphonenya kepada Elora.
Senyuman Kenan mengembang saat melihat Elora yang menurutnya sangat cantik. Ciko memberikan handphonenya kepada Elora. Elora yang tak mengerti pun menatap cengo kepada Ciko.
"Si Kenan mo ngomong," jelas Ciko.
Elora mengangkat handphone Ciko sejajar dengan wajahnya, ia bisa melihat wajah Kenan di layar handphone itu, sejenak Elora terpesona dengan ketampanan Kenan.
"Elora, bagaimana kondisi kamu?" tanya Kenan menyadarkan Elora dari lamunannya.
"Kondisi saya sudah membaik," jawab Elora tersenyum tipis.
"Syukurlah ...."
"Sudah sampai?" tanya Elora singkat.
"Belum, jadwalnya berubah. Jadi, saya memilih untuk terlebih dahulu menyelesaikan pekerjaan saya di Jepang," jawab Kenan yang membuat mata Elora berbinar.
"El, tolong berikan handphonenya kepada Ciko. Ada sesuatu yang harus saya sampaikan langsung ke Ciko," perintah Kenan yang dengan cepatnya dituruti Elora.
Ciko yang mengerti dengan maksud Kenan mulai berjalan menjauhi Elora. Sementara itu, Elora yang ditinggal sendirian memilih untuk menikmati angin yang menerpa kulitnya. Rambut panjangnya yang tergerai bebas pun tak luput dari terpaan angin.
Posisi Ciko berada cukup jauh dari Elora, meskipun begitu Elora masih berada di jangkauan pandangan Ciko.
"Arahin kameranya ke Elora!" perintah Kenan.
Ciko melakukan apa yang diperintahkan Kenan, ya melakukannya dengan penuh rasa keterpaksaan.
"Ko, tolong video-in Elora. Kalau udah, kirimin langsung ke gue. Imbalannya nanti kalau gue udah balik." Setelah mengatakan itu Kenan mematikan secara sepihak panggilan video tersebut.
"Elora ... andai lo munculnya dari dulu, mungkin sekarang kekayaan gue udah gak keitung," monolog Ciko sembari memulai aksinya.
Elora mengedarkan pandangannya, entah mengapa ia merasa bahwa akan ada sesuatu hal buruk yang akan kembali menimpanya.
Prok! Prok! Prok!
Suara tepukan tangan terdengar nyaring di telinga Elora. Alangkah terkejutnya Elora saat tahu kalau Gavin-lah orang yang bertepuk tangan itu.
"Mas Gavin ...," lirih Elora kala Gavin dan Cantika sudah berdiri di hadapannya.
Plak! Plak!
Dua tamparan kerasa dilayangkan Gavin pada kedua pipi Elora.
Elora mendongakkan kepalanya, meminta Gavin memberikan penjelasan atas perbuatan kasarnya.
__ADS_1
Ciko yang tengah merekam video Elora, langsung menghentikan kegiatannya dan dengan cepatnya berlari menghampiri Elora.
"Woy, bangs*t!" teriak Ciko saat berada dalam posisi yang tak jauh dari lokasi penamparan Elora.