Elora

Elora
Bab_16 (Ciko Marah?)


__ADS_3

"Minggir lo, anj*ng!" Ciko mendorong tubuh Gavin sampai membuat baj*ngan itu terjungkal.


Ciko berlutut di hadapan Elora, ia menyingkap rambut yang menutupi wajah Elora. Di lihatnya kedua pipi Elora yang memerah akibat bekas tamparan, bahkan sudut bibir Elora sampai mengeluarkan darah.


"El ...."


Pandangan Ciko dan Elora beradu, sorot kesedihan yang mendalam bisa Ciko lihat di mata Elora. Elora mengedipkan matanya yang sontak membuat air matanya menetes.


Darah Ciko bergejolak seketika itu pula, beberapa saat yang lalu ia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk membuat Elora tersenyum. Lalu kini ... usaha kerasnya itu dihancurkan dengan mudahnya oleh si baj*ngan yang tak punya harga diri.


"Bagus, sekarang kamu udah berani terang-terangan selingkuh di depan aku," kata Gavin tajam.


Ciko berdiri, Dokter yang senantiasa santai itu menatap nyalang ke arah Gavin. Tangan Ciko sudah terkepal kuat, siap untuk melayangkan pukulan balasan kepada Gavin. Namun, tiba-tiba saja tangannya diraih dari belakang oleh Elora.


"Jangan menggunakan kekerasan," larang Elora memegang erat tangan Ciko.


"Tapi, El ---"


"Saya mohon ...."


"Aish, lu gak asik," keluh Ciko.


"Ha ... dunia serasa milik berdua," celetuk Gavin yang geram kepada Ciko dan Elora.


"Gak tahu malu," timpal Cantika.


Mata Elora menajam saat mendengar Cantika menyebutnya tidak tahu malu. Ayolah, siapa yang tidak tahu malu di sini? Sudah jelas itu bukan Elora.


"Gak usah banyak Bac*t lo!" bentak Ciko.


"Mas Gavin bilang aku selingkuh?" Elora mulai angkat suara.


Ciko menggeser tubuhnya yang menghalangi Elora, lalu ia memilih untuk berdiri di samping Elora. Menggenggam erat tangan Elora, memberi dukungan pada Elora untuk melawan dua orang yang menurutnya teramat menyebalkan.


"Lalu bagaimana dengan kamu, Mas? Kamu pikir aku gak tau kalau semalam kamu melakukan hubungan intim dengan Cantika, adik tiriku tersayang," tutur Elora yang membuat Ciko melongo.


"Elora, kam ---"


"Diem, Mas! Ini bukan waktu kamu untuk berbicara!" potong Elora ketus.


"Lalu kamu Cantika, tadi kamu bilang kalau aku gak tau malu? Sepertinya perkataan kamu itu lebih cocok ditujukan untuk diri kamu sendiri," kata Elora tertawa hambar.


"Kamu bersedia menjadi istri ke-dua suami aku, dan di saat kalian berdua belum sah pun kalian sudah berani melakukan hubungan intim. Sekarang kalian berdua dengan tidak tahu malunya datang hanya untuk menghina aku, sepertinya urat malu kalian sudah putus," sambung Elora santai tapi menusuk.


Cantika dan Gavin diam membisu, setiap kata yang diucapkan Elora menancap dalam hati mereka. Sedikit pun mereka tidak menyangka jika Elora yang lemah bisa mengatakan kata-kata tajam.


"Kak, Kakak punya obat buat nyambungin urat malu, gak?" tanya Elora yang ditanggapi kekehan oleh Ciko.


"Keknya gak ada, El," jawab Ciko diakhiri kekehan.


Ciko memasukkan kembali handphonenya ke dalam saku, rupanya Ciko diam-diam merekam video kejadian barusan.

__ADS_1


'Lumayan, buat tambahan,' batin Ciko.


Selang beberapa saat, Ciko merasa tangan Elora mendingin.


"El, lo kenapa, njir?" seru Ciko memecah keheningan.


"Saya gak apa-apa." Elora mendongakkan kepalanya.


Wajah Elora memucat, keringat dingin pun membasahi wajah Elora.


Uhuk! Uhuk! Uhuk!


Elora terbatuk-batuk, ia menggunakan telapak tangan kanannya untuk menutup mulutnya demi menghalangi cairan yang akan keluar dari mulutnya.


Selesai dengan batuknya, Elora melihat telapak tangannya yang basah oleh cairan yang keluar dari mulutnya. Nafas Elora memburu begitu melihat telapak tangannya terdapat darah yang agak berwarna kebiru-biruan. Hanya dalam hitungan detik, Elora kehilangan kesadaran sepenuhnya.


"Elora!" pekik Ciko panik.


Ciko bergerak cepat memeriksa kondisi Elora. Tangan Ciko bergetar hebat saat memeriksa Elora, pemeriksaan yang sebelum ia lakukan kepada Elora tidak akurat, dan ia baru menyadarinya setelah sehari berlalu.


"El, lo harus hidup," gumam Ciko.


Tanpa pikir panjang lagi Ciko mengangkat tubuh Elora dari kursi roda, karena tidak mungkin baginya untuk membawa Elora menggunakan kursi roda.


"Hey! Elora kenapa?" tanya Gavin yang ikut-ikutan panik.


"Bacot!" Dalam kondisi panik pun Ciko masih sempat berkata kasar kepada Gavin.


Argh!


Gavin memegangi tulang keringnya yang ditendang Ciko. Di saat Gavin meringis, di situlah Ciko berlari membawa Elora menuju ke dalam rumah sakit untuk segera melakukan penanganan medis.


"Dasar gila!" umpat Gavin.


"Mas, kaki kamu sakit banget, ya? Gimana kalau kita periksa aja," ajak Cantika.


"Gak usah! Lebih baik kita ikuti Elora," sergah Gavin.


"Mas, Kak Elora pasti cuman pura-pura biar bisa dapet simpati dari kamu." Cantika mulai melakukan siasat busuknya.


Kening Gavin mengkerut.


"Pura-pura?"


"Ya, Mas. Jadi, lebih baik kita mengurus pernikahan kita."


"Elora ---"


"Kak Elora gak akan kenapa-napa, ayo kita pergi, mas!" Cantika menarik-narik tangan Gavin.


Gavin melirik Cantika malas.

__ADS_1


"Ok, kita pergi sekarang," pasrah Gavin.


Senyum kemenangan terukir di wajah Cantika, Gavin ini sangat mudah untuk dipengaruhi, pikirnya.


Mereka berdua beranjak pergi dari taman rumah sakit, niat awal Gavin memperbaiki hubungan dengan Elora sirna ketika memergoki istrinya itu tengah bermesraan bersama Ciko. Hasutan-hasutan dari Cantika semakin memupuk kemarahan Gavin pada Elora. Gavin sampai berani menampar Elora pun adalah buah dari hasutan Cantika.


Rubah betina.


Sepertinya julukan itu cocok disematkan pada Cantika.


Sedangkan di tempat lain ....


Ciko, pria itu berlarian sambil membawa Elora di gendongannya. Perasaan takut, khawatir, panik bercampur menjadi satu pada diri Ciko.


'Ciko bodoh! Bisa-bisanya lo salah meriksa, apa yang harus gue lakuin kalau Elora gak ketolong?' batin Ciko panik bukan main.


"Ciko!" panggil seseorang.


Ciko menghentikan larinya.


"Papah," gumam Ciko.


"Aaa ... Papah ... tolongin Ciko!" Ciko berbalik kemudian berlari menghampiri pria paruh baya yang ia panggil Papah.


Ciko mendapat geplakan di kepala begitu berada di hadapan Papahnya.


"Dasar anak bengal! Sekarang kita lagi di rumah sakit bukan di rumah," bentaknya.


"Ciko juga tau ini di rumah sakit," sahut Ciko nyolot.


"Kalau kamu tau ini di rumah sakit, kenapa kamu teriak-teriak seperti orang gila?" sinis Papahnya.


"Kok Papah galak banget sama Ciko?"


"Diam kamu!" kata Papahnya yang membuat Ciko cemberut.


Pandangan Papah Ciko tertuju pada Elora yang berada di gendongan Ciko.


"Ciko ... kamu apain anak gadis orang?" tanyanya serius.


"Ya, ampun! Gara-gara Papah, Ciko sampe lupa sama pasien Ciko," ucap Ciko menyalahkan Papahnya.


Papahnya yang tak terima disalahkan oleh putranya pun menepuk jidat Ciko.


"Jangan bohong kamu! Gadis ini pasti pacar kamu 'kan? Dan dengan tampang kamu yang pas-pasan itu kamu pasti maksa gadis ini buat jadi pacar kamu?" tutur Papahnya sesuai dengan apa yang ada di pikirannya.


"Dan sekarang ... kamu pasti mau gugurin anak yang ada di kandungannya?" sambungnya yang tak pelak membuat Ciko melotot.


Sebegitu buruknya Ciko di pandangan Papahnya? Sampai-sampai Papahnya berpikir bahwa Ciko adalah bajingan yang tak punya akal.


"Ya tuhan ... malang sekali nasibku. Aku hanya mempunyai satu anak, dan anakku malah besar menjadi seorang anak bengal yang berani menyakiti perempuan," ujar Papahnya dramatis.

__ADS_1


Ciko hanya bisa melongo mendengar ujaran Papahnya itu.


__ADS_2