
Elora menceburkan dirinya ke sungai.
Sepatu yang dipegangnya jatuh begitu saja, kaki Kenan melangkah dengan cepatnya ke tempat Elora menceburkan dirinya ke sungai.
Tanpa rasa takut, Kenan menaiki pagar jembatan, dan meloncat dari jembatan tinggi itu ke sungai yang arus air nya tidak terlalu deras dikarenakan hujan yang jarang turun belakangan ini.
"Presdir Ken!?" Diky membelalakkan matanya.
"Itu Presdir Ken kenapa terjun ke sungai? Jangan-jangan ... Presdir Ken menyelamatkan Nona Elora?" Diky bergulat dengan pikirannya.
"Benar, pasti seperti itu. Kalau begitu aku harus ke pinggir sungai itu untuk nantinya menolong mereka," kata Diky yakin dengan apa yang dipikirkannya.
Kenapa Diky tidak histeris ketika melihat Kenan meloncat? Ya, tentu saja karena Diky yakin dengan kemampuan berenang Kenan yang sangat baik
'Di mana kamu, El?' batin Kenan yang saat ini berada di dalam air.
Beruntungnya sungai besar itu airnya tidak terlalu keruh, arusnya pun cukup bersahabat dengan Kenan. Bagi Kenan sungai itu pun tidak terlalu dalam, tidak baginya belum tentu tidak juga bagi Elora.
Kenan naik ke permukaan untuk mengambil nafas. Cukup dengan oksigen yang dihirupnya, Kenan kembali menyelam mencari keberadaan pujaan hatinya.
Samar-samar, Kenan melihat tubuh Elora dan itu hampir mendekati dasar sungai. Namun, kadar oksigen dalam tubuhnya sudah menipis dan mustahil baginya untuk mendekati Elora dengan kadar oksigen yang tersisa itu.
Kenan cepat-cepat naik ke permukaan, kalia ini ia tidak langsung menyelam melainkan berenang di permukaan sampai jarak yang ia yakini menjadi tempat tenggelamnya Elora.
'Tuhan, tolong berikan pertolongan kepadaku,' batin Kenan penuh keyakinan.
Deg!
Tiba-tiba saja Kenan mendapatkan sesuatu rasa yang membuatnya yakin bahwa dirinya akan bisa menyelamatkan Elora.
Ia kembali menyelam, perhitungannya tepat, Elora berada di dalam jangkauannya.
Grep!
Kenan meraih tubuh Elora, membawa tubuh yang lemas itu ke permukaan. Sesampainya di permukaan Kenan menjadi panik karena melihat wajah Elora yang pucat pasi.
Diky, pria yang berdiri dipinggiran sungai itu menceburkan tubuhnya kala melihat bos-nya yang berhasil menemukan Elora. Setibanya di dekat Kenan, Diky bergegas membantu Kenan membawa Elora ke pinggir sungai.
"Bangun, El!" Kenan menepuk-nepuk pipi Elora, Kenan terlupa satu hal penting, yaitu ... mengecek apakah Elora masih bernafas atau tidak.
"Presdir! Cek nafasnya terlebih dahulu," celetuk Diky.
Kenan menurut, ia mendekatkan pipinya ke hidung Elora untuk merasakan hembusan nafas Elora. Dan hasilnya ... Kenan tidak dapat merasakan hembusan nafas Elora.
"Tidak!"
Dengan kepanikan yang meliputi, Kenan melakukan CPR. Seraya menangis ia menekan bagian dada Elora menggunakan kedua telapak tangannya yang saling tumpang tindih.
'Tuhan ... jika memang benar engkau ada, tolong tunjukkan kuasa-mu,' batin Kenan yakin.
Setelah kepergian ibunya, Kenan merasakan kekecewaan yang luar biasa besarnya sampai-sampai dirinya tidak mempercayai tuhan.
'Ku mohon ....'
Uhuk! Uhuk!
__ADS_1
Elora terbatuk yang membuat Kenan menghentikan tindakan CPR yang dilakukannya. Kenan juga bisa merasakan hembusan nafas Elora, walaupun pelan.
Kenang merengkuh tubuh Elora, ia mengecup kening Elora.
'Terimakasih tuhan ....'
***
Acara pernikahan Gavin dan Cantika berakhir kacau. Para tamu undangan membubarkan diri setelah kepergian Diky.
Gavin serta keluarganya terduduk lesu di pelaminan dengan wajah yang muram.
"Ini semua gara-gara anak tak tahu malu itu," dengus Ibu tiri Elora.
"Iya, pernikahan yang seharusnya indah menjadi kacau karena Kak Elora," sahut Cantika.
"Andai saja dia tidak datang, pasti pernikahan ini tidak akan kacau seperti ini."
"Tutup mulut kalian!" bentak Gavin yang stress dengan kejadian yang baru saja berlalu.
Cantika dan ibunya tercekat karena bentakan Gavin.
'Aku menyesal karena telah menikahi Cantika,' batin Gavin.
'Tapi kenapa penyesalan itu harus datang di saat Cantika sudah resmi menjadi istriku,' lanjutnya.
"Sia*l!" Gavin mengacak rambutnya kasar.
Cantika menekuk wajahnya, ia takut nasibnya akan sama seperti Elora. Sedangkan Gavin berjalan menjauh untuk mengangkat telepon yang masuk ke handphonenya.
Ayah Gavin juga sama seperti tamu yang lainnya, pergi sebelum acara berakhir.
"A--apa?"
Prang!
Handphone Gavin terlepas dari genggamannya.
"Ada apa, Mas?" tanya Cantika.
"Elora ...." Gavin menggantikan perkataannya yang memancing rasa penasaran Ibu dan anak itu.
"Elora kecelakaan dan mobil yang dikendarainya terbakar," lanjut Gavin.
Cantika dan ibunya melotot, setiap kejadian pasti ada hikmahnya, begitulah sekiranya isi otak mereka.
"Kamu mau ke mana, Mas?" tanya Cantika saat melihat Gavin bersiap pergi.
"Melihat Elora," jawab Gavin singkat.
"Kita ikut!" seru Cantika.
"Tidak usah!" tolak Gavin.
"Apa maksudmu, Mas?" Cantika tak terima.
__ADS_1
"Lihat gaunmu! Kalau aku membawamu sama saja aku membuat diriku kerepotan," ucap Gavin ketus.
Gavin berjalan pergi, menghiraukan Cantika yang merengek memanggil namanya.
"Sudah Cantika!"
"Tapi, Mi---"
"Anggap saja ini sebagai perpisahan Gavin dan Elora," potong sang Mami.
"Betul juga, Kak Elora pasti mati terbakar," balas Cantika tersenyum miring.
"Itu sudah pasti, tapi ... Mami agak heran kenapa tiba-tiba saja Elora diakui sebagai sepupu Presdir Kenan."
"Mi, memangnya Presdir Kenan itu siapa?" tanya Cantika bingung.
"Kamu kudet banget!" ledek maminya menepuk lengan Cantika.
"Asal kamu tahu, ya. Presdir Kenan itu konglomerat, keluarga Gavin yang bagi kita sangat kaya itu tak ada apa-apanya dibandingkan dia," jelasnya.
"Terus, kalau Mami tau kalau dia lebih kaya, kenapa Mami gak minta aku buat deketin dia?"
"Kamu gak akan bisa, menurut rumor Presdir itu sangat membenci perempuan. Dia juga dirumorkan menjadi dalang atas kematian Ibu tirinya dan juga kerabat-kerabatnya."
"Masa, sih, Mi?"
"Mami juga gak tau."
***
Gavin menepikan mobilnya, tempat yang biasanya sepi kini terlihat begitu ramai oleh kerumunan orang-orang. Gavin keluar dari mobil untuk mencari keberadaan ayahnya.
"Ayah!" panggil Gavin.
Ayahnya menoleh, raut wajah kesedihan terlukis jelas di wajahnya. Pipinya juga terlihat basah oleh air mata.
"Elora ...," lirih Gavin melihat mobil yang sudah hangus terbakar.
"Itu pasti bukan Elora, mana mungkin Elora meninggal dengan cara se-tragis ini. Orang yang terbakar itu pasti orang yang mencuri mobil Elora, benar 'kan Ayah," ucap Gavin berusaha meneguhkan hatinya.
"Sekarang Elora pasti sedang tidur di rumahnya, a--aku akan ke rumahnya untuk memastikan keadaannya. A--aku---"
Plak!
Satu tamparan keras didapatkan Gavin dari sang Ayah.
"Sadar Gavin! Elora sudah meninggal, dan kamulah penyebab utama meninggalnya Elora. Maka dari itu berhentilah merasa paling tersakiti!" Ayahnya memaki Gavin disertai luruhan air mata.
"Andai kamu mau menerima Elora apa adanya, saat ini Elora pasti masih hidup!"
Bruk!
Tubuh Gavin ambruk, kenangan-kenangan manis bersama Elora berputar di kepalanya, menambah rasa penyesalannya atas keputusan yang ia pilih.
"Elora ...."
__ADS_1