Elora

Elora
Bab_49 (Pertengkaran Hebat)


__ADS_3

"Gue beneran gak habis thinking sama si kepala sekolah botak itu, gue itu 'kan siswi berprestasi, tapi kenapa dia sampe ngeluarin gue dari sekolah. Ini pasti gara-gara anaknya yang iri dengki sama gue, kalau si Arvin mah udah jelas dikeluarin gara-gara ikut tawuran. Dahlah, daripada pusing mikirin sekolah, mendingan gue beli cemilan yang banyak," gerutu Lisa yang saat ini berada di sebuah supermarket.


Lisa mengambil cemilan secara acak, ia tak peduli dengan harga ukuran camilan ataupun itu. Yang jelas, ia mau memenuhi dua keranjang yang ia jinjing. Toh, ia memiliki sumber keuangan yang berlimpah, dan setiap sumber daya itu harus dimanfaatkan dengan baik. Maka dari itu, Lisa akan meluapkan kekesalannya dengan menguras sumber keuangannya.


Dua keranjang yang dijinjing Lisa sudah penuh oleh berbagai macam camilan, meskipun demikian Lisa belum puas menghamburkan uangnya. Namun, terlalu banyak belanja akan membuatnya kesusahan untuk membawanya pulang. Lisa berjalan menuju kasir untuk membayar semua belanjaannya.


Lisa mengangkat satu keranjangnya ke meja kasir dengan mulus, akan tetapi ... ketika ia akan menaruh keranjang ke dua tiba-tiba saja ada seseorang yang menyeruduknya dari belakang, akibat serudukan yang kuat dan tak terduga itu akhirnya keranjang yang berada di tangan Lisa terjatuh, isi keranjang itu pun berhamburan.


"Argh ... setan!" teriak Lisa murka.


Wanita yang menyeruduk Lisa meletakkan keranjangnya di meja kasir tanpa meminta maaf terlebih dahulu kepadanya.


"Mbak, tolong hitung belanjaan saya!"


Selain tidak meminta maaf, wanita itu juga mendahului Lisa untuk membayar belanjaan.


Tangan lisa terkepal kuat, giginya berderit menahan amarah yang sebentar lagi akan segera meledak.


Lisa menarik rambut panjang si wanita yang tergerai bebas, wanita itu pun memekik kesakitan.


"Hey, lepasin rambut gue!" teriak si wanita yang sengaja tak didengar Lisa.


Lisa semakin menguatkan tarikannya, sehingga membuat si wanita menjerit kesakitan. Wanita itu ingin membalas menarik rambut Lisa, akan tetapi ia kesulitan karena posisinya yang membelakangi Lisa.


Pertengkaran, atau lebih tepatnya penyerangan itu berhasil dihentikan oleh orang-orang yang berada di sana. Wanita itu mengusap-usap kepalanya yang perih akibat tarikan brutal yang dilakukan Lisa.


"Itu, Cantika!" seru Elora yang baru saja tiba di supermarket tersebut.


Ternyata oh, ternyata. Wanita yang diserang oleh Lisa itu adalah Cantika, adik tiri Elora sekaligus madunya.


"A--aku harus lerai mereka," kata Elora.


"Jangan, lebih baik kita jadi penonton saja," saran Kenan.


"Tapi, aku takut anak SMA itu kenapa-napa," ucap Elora risau.


"Dia gak akan kenapa-napa, El!" balas Kenan yakin.


"Ta---"


Kenan membekap mulut Elora.

__ADS_1


"Diam atau aku akan melakukan sesuatu yang mengerikan," ancam Kenan yang dijawab anggukan kepala oleh Elora.


"Dasar bocah gak punya sopan santun!" maki Cantika.


"Eh, tante jelek! Yang gak punya sopan santun itu Tante, nyerobot antrian, dasar gak berpendidikan!" balas lisa tajam.


"Kamu manggil saya Tante!?"


"Iya, Tante girang kurang belaian, gak punya duit, sampe-sampe make baju bayi," sungut Lisa menggebu-gebu.


Kenan tersenyum lebar, ia benar-benar menyukai kata-kata yang terlontar dari mulut gadis yang mengenakan seragam putih abu tersebut.


'Pedas, tajam, dan menusuk!' batin Kenan.


"Ngomong lagi dong, Tante. Kehabisan kata-kata, ya? Hahahaha ...." ledek Lisa diakhiri tawa renyahnya.


"Tutup mulut lo, bocah!" Dengan cekatan Cantika mengambil minuman kaleng dari keranjangnya.


Buk!


Prang!


Suasana hening seketika, Cantika melempar minuman kaleng tepat ke kening Lisa. Semua orang meringis akan kejadian yang berlangsung cepat, sedangkan Lisa memejamkan matanya, merasakan darah yang mulai mengalir pada bagian pipi kirinya.


Dengan wajah tanpa eskpresi Lisa mendekati Cantika, ia memojokkan Cantika ke meja kasir. Cantika yang tadi berteriak lantang, kini terlihat pucat.


Lisa mencengkeram lengan lisa dan memelintirnya ke belakang. Lisa pun mendorong Cantika ke meja kasir, sehingga posisi tubuh bagian atas Lisa berada di atas meja dalam posisi membelakangi Lisa. Tangan kiri Lisa menekan kepala Cantika, dan ...


Brak!


Nafas Cantika berhenti sejenak, Lisa meninju meja yang tepat berada di depan mata Cantika. Tinjuan yang keras itu hampir mematahkan meja yang kokoh, itu menunjukkan seberapa kuat gadis SMA dengan rambut yang selalu dikepang rapih tiap harinya.


Merasa belum puas mengancam pengganggunya, Lisa kembali menarik rambut Cantika, lalu ia membuat Cantika yang masih syok itu berhadapan dengannya.


Plak! Plak! Plak!


Cantika mendapatkan dua tamparan keras pada pipi kanannya, serta satu tamparan paling keras pada pipi kirinya. Orang-orang di sana terperangah, mungkin ini kali pertamanya mereka menyaksikan kesadisan seorang siswi SMA.


Tubuh Cantika luruh, penampilannya sangat kacau. Rambut yang tadi tergerai indah kini berantakan bak seorang yang tidak menyisir rambut selama berminggu-minggu , pipinya yang sebelumnya memerah oleh blush on sekarang bertambah merah berkat tamparan keras dari Lisa, bahkan sudut bibirnya sampai mengeluarkan darah.


"Pertarungan yang menyenangkan," gumam Kenan yang tertangkap telinga Elora.

__ADS_1


"Dasar aneh!" celetuk Elora.


"Abaikan mereka, lalu ... segeralah berbelanja!" titah Kenan mendorong pelan Elora supaya cepat bergerak.


Kenan dan lisa beradu pandangan, senyuman keduanya merekah. Amarah Lisa sudah padam sepenuhnya, ia kembali memasang tampang lugunya.


"Sayang, bantu aku mengurus kekacauan ini!" ujar Lisa lantang.


Seusai mengatakan kalimat yang entah kepada siapa ditujukan, Lisa melenggang pergi, mengabaikan teriakan dari pegawai supermarket.


"Aku menunggu penjelasan darimu, Sayang!?" kata Lisa saat berada di hadapan Kenan.


"Kamu belanja juga, Kenan?" tanya Elora kala melihat Kenan menjinjing dua keresek besar berisikan camilan.


"Tidak usah banyak bicara, El!"


Elora mendelik tajam, tumben Kenan melarangnya berbicara. Biasanya, Kenan lah yang berusaha mengajaknya berbicara. Tak berselang lama, mobil yang dikendarai Kenan mulai melaju dengan kecepatan sedang.


"Itu anak yang tadi ribut sama Cantika 'kan?" Elora menunjuk wanita yang tengah dihadang oleh gerombolan geng motor beranggotakan 7 orang siswa yang mengenakan seragam putih abu khas sekolah SMA.


Kenan menghentikan laju mobilnya, matanya menyipit memperhatikan Lisa dan beberapa pria yang menghalangi langkahnya.


"Turun, El. Kita harus melihat lebih dekat," kata Kenan melepaskan sabuk pengaman yang terpasang apik.


Begitu keluar dari mobil, Kenan menggenggam lengan Elora kuat.


"Jangan menjauh dariku, El!" ucap Kenan meningkatkan.


Salah seorang pria yang berada di belakang Lisa sudah siap dengan sebuah balok berada di tangannya, memanfaatkan kelengahan Lisa yang nampaknya tengah mengobrol bersama ketua geng tersebut.


"Lindungi punggungmu!" Kenan meneriaki Lisa.


Buk!


Peringatan dari Kenan terlambat, balok kayu itu telah menghantam keras punggung Lisa. Lisa yang mengalami hantaman keras itu terhuyung ke depan, si ketua geng itu pun buru-buru mendekap Lisa yang kehilangan keseimbangan.


"S!alan!" umpat Kenan.


Kenan melepaskan genggamannya pada lengan Elora.


"Masuk ke mobil, El!" perintah Kenan tegas.

__ADS_1


Elora yang penakut itu menuruti perintah Kenan dengan cepat.


"Berani sekali mereka menyakiti orang yang aku sayangi ...."


__ADS_2