Emily, Sang Gadis Bisu

Emily, Sang Gadis Bisu
Di Obati Petani


__ADS_3

Jeremy yang melihat Emily pergi dengan kesal, tidak bisa untuk tidak tersenyum. Istrinya itu memang berbeda dengan wanita lain. Jika saja tadi yang jatuh dengannya adalah Clarissa, mungkin gadis itu tidak akan pernah berhenti merengek dan bertanya, 'Apa yang harus kita lakukan?'


Clarissa pasti tidak akan berhenti mengeluh. Tapi Emily, istrinya itu sama sekali tidak menangis dan tetap tenang walaupun tanpa suara. Sebentar!! Suara?? Jeremy ingat, waktu melompat dari tebing, Emily berteriak dengan nyaring. Jeremy yakin, ia tidak salah dengar. Emily benar-benar berteriak.


Jelas istrinya itu memiliki suara, lalu mengapa ia harus menjadi bisu selama ini? Apa ia sengaja berpura-pura bisu?


Jeremy duduk bersandar di salah satu pohon sambil berpikir. Dia merasa Emily sudah pergi terlalu lama.


"Mengapa dia belum kembali juga?" Jeremy merasa hutan itu sangat sunyi meskipun ada suara serangga di sekitarnya. Namun, ia mencemaskan keberadaan Emily. Bahkan, pikiran-pikiran buruk mulai muncul di otaknya, seperti bagaimana kalau istrinya itu benar-benar dimakan binatang buas.


Memikirkan hal itu, Jeremy segera bangkit meskipun tapinya sangat sakit untuk digerakkan. Saat ia sudah berdiri, tiba-tiba terlihat Emily datang sambil berlari dari arah pepohonan.


'Apa yang kau lakukan? Bukankah aku memintamu untuk beristirahat?'


Melihat gerakan tangan Emily, Jeremy merasa seperti sedang dimarahi. Ia mengerutkan dahinya dan balik bertanya dengan kesal,


"Seharusnya aku yang bertanya, kemana kamu pergi dan kenapa lama sekali?"


Emily menatapnya dengan bingung. Apa yang pria ini pikirkan? Ia tidak tahu kenapa pria ini justru berbalik memarahinya. Apa dia tidak tahu kalau sangat sulit mencari makanan di hutan ini. Sebagai seorang gadis yang dibesarkan di di kota, kemampuan Emily bertahan di hutan sangatlah nol.


Emily hanya bisa membuat berjalan ke sana kemari sambil membuat jejak dari ranting-ranting kayu agar ia tidak tersesat dan bisa kembali ke tempat Jeremy. Emily menghela nafasnya lalu memberikan buah berry yang ada di tangannya kepada Jeremy.


'Makan ini. Setelah itu, ayo kita pergi. Aku sudah menemukan tempat bagi kita untuk berteduh.' isyaratnya.


Jeremy menatap buah berry yang diberikan Emily kepadanya. Ia tertegun, Emily benar-benar memberinya buah berry yang manis meskipun dulu Jeremy selalu berusaha berbuat jahat kepadanya. Mengingatnya, Jeremy sangat merasa malu dengan dirinya sendiri. Selesai makan, dengan tertatih-tatih, Emily membantu Jeremy berjalan ke sebuah rumah sederhana yang ditempati oleh sepasang suami istri yang yang sudah lanjut usia.


Mereka adalah sepasang petani yang membuka lahan di pinggiran hutan. Emily awalnya sangat senang saat melihat rumah warga. Namun, ternyata ia salah. Rumah petani ini masih cukup jauh dari pemukiman penduduk.

__ADS_1


Hal baiknya adalah sepasang petani tua ini tidak keberatan memberi mereka tempat untuk berteduh. Awalnya sang suami ingin membantu Emily untuk membawa Jeremy ke tempatnya. Tapi, ia tidak bisa meninggalkan istrinya yang sedang sakit terlalu lama. Emily tidak keberatan dengan hal itu, karena dia sendiri bisa membawa Jeremy ke sana meskipun dirinya sampai terengah-engah.


"Astaga!! Apa yang telah terjadi pada kalian?" tanya pria tua itu kepada Jeremy dan Emily saat mereka sampai di rumahnya.


Kondisi kaki Jeremy sepertinya sangat parah, itu terlihat dari bengkaknya a yang sangat besar dan berwarna ungu kehitaman. Emily hanya bisa menggeleng lalu menatap Jeremy.


Petani tua ini tidak tahu bahasa isyarat, sebelumnya saja Emily agak kesulitan saat menyampaikan kalau dia butuh bantuan. Melihat tatapan istrinya, Jeremy paham. Lalu ia berkata,


"Kami tidak sengaja terpisah dari rombongan saat mendaki gunung dan tersesat, lalu tidak sengaja terjatuh ke sungai."


"Ya ampun! Malang sekali nasib kalian. Tapi, tidak apa-apa, setidaknya kalian masih selamat." kata pria tua itu dengan iba.


Dia lalu menyodorkan sepasang pakaian pria pada Jeremy dan pakaian wanita pada Emily.


"Maafkan aku. Aku tidak punya pakaian sebagus yang kalian pakai. Tapi, kurasa kalian harus mengganti pakaian kalian. Semoga ini muat. Ini adalah pakaianku dan istriku saat masih muda." ujar pria itu sambil tersenyum ramah.


Jeremy memandangi dirinya sendiri dan juga Emily. Benar apa yang dikatakan oleh petani ini, pakaian mereka sangat kotor terkena lumpur dan sobek di beberapa bagian. Sebelumnya bahkan pakaian mereka sangat basah dan kering dengan sendirinya saat mereka pingsan. Mereka harus berganti pakaian. Jeremy menerima pakaian yang diberikan oleh sang petani itu dan berkata,


Petani itu mengangguk.


"Aku sudah menyiapkan ruangan untuk kalian. Kalian yang bisa mengganti pakaian dan beristirahat di sana." ujar sang petani yang sontak membuat Jeremy dan Emily saling memandang satu sama lain.


Bahkan di Mansion, mereka tidak pernah tidur bersama meskipun status mereka adalah sebagai suami istri.


"Kenapa kalian di saja? Ayo masuk." kata petani itu lagi.


Emily menghela nafasnya. Ia kemudian membantu Jeremy masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


"Jangan sungkan. Anggaplah rumah kalian sendiri. Aku akan menyiapkan obat untuk kakimu dan makanan untuk kita makan." kata sang petani dengan ramah.


Emily hanya bisa tersenyum dan menganggukkan kepalanya sebagai tanda terima kasih, sementara Jeremy hanya diam.


"Kau bilang, kakek petani ini tinggal dengan istrinya. Tapi mengapa sedari tadi aku tidak melihat istrinya?" tanya Jeremy ketika sang petani keluar.


Sebenarnya ia bertanya hanya untuk mengusir rasa canggungnya karena berada satu ruangan dengan Emily.


'Sebelumnya aku sudah bilang padamu kalau istrinya itu sedang sakit. Jadi dia tidak bisa keluar dan hanya bisa berbaring di kamar.' isyarat Emily.


Mereka kemudian sama-sama saling terdiam sampai sang petani datang membawa ramuan herbal yang di buatnya sendiri.


Dengan hati-hati, petani itu membuka perban di kaki Jeremy yang di buat Emily dari sobekan bajunya.


"Astaga!" petani itu berseru melihat luka yang menganga itu. Sepertinya saat mereka terbawa arus sungai, ada sesuatu benda yang cukup tajam melukai kakinya.


"Ini sepertinya akan membutuhkan waktu yang lama untuk sembuh." kata pria petani itu.


"Tolong tahan rasa sakitmu sebentar. Aku akan mengobatinya."


Pria itu tiba-tiba langsung menyentuh lukanya, membuat Jeremy terkejut dan menjerit kesakitan. Jeremy yakin, petani ini sama sekali tidak paham bagaimana cara merawat orang yang terluka. Itu seperti penyiksaan untuknya.


Beruntung petani itu cepat menyelesaikan pengobatannya. Jeremy menarik nafas lega dengan wajah yang berkeringat dingin karena menahan rasa yang teramat sakit baginya.


Jeremy sangat tidak ingin mengucapkan terima kasih setelah di obati seperti itu. Namun tatapan tajam Emily yang penuh penekanan, membuat Jeremy mau tidak mau membuka mulutnya.


"Terima kasih, Kakek."

__ADS_1


Petani tua itu merasa tersentuh.


"Tidak apa-apa. Bukankah kita harus menolong orang yang membutuhkan bantuan?" ucapnya sambil tersenyum.


__ADS_2