
Sementara Emily dan Ferry bercakap-cakap, seorang pelayan datang mengetuk pintu.
"Nyonya, Tuan Muda Jordan ada di sini untuk menemui Nyonya." kata pelayan.
Haah... Anak itu datang lagi menemuinya. Sejak hari itu, anak itu mulai menyukainya. Emily membiarkan Ferry membuka pintu untuk Jordan.
"Bunda!" Jordan berseru dan berlari penuh semangat menuju Emily begitu pintu terbuka. Ia segera naik ke pangkuannya. Emily selalu meminta Jordan memanggilnya dengan sebutan "Tante", namun anak itu menolaknya.
"Apa kau sudah selesai belajar hari ini?" Ferry bertanya menerjemahkan pertanyaan Emily, karena Jordan belum terlalu paham bahasa isyarat.
"Iya, aku sudah selesai belajar dan aku secepatnya kemari. Aku merindukanmu, Bunda." ujar Jordan sambil memeluk Emily dengan erat. Ferry mengernyitkan dahinya, mereka bertemu setiap hari tapi anak ini selalu mengatakan bahwa dia merindukan Emily.
"Bunda, ayo kita bermain di luar." ajak Jordan. Dulu, ia sering meminta Clarissa untuk bermain di taman, tetapi sang Ibu Negara menolaknya dan memintanya untuk tidak melakukan hal-hal yang menurutnya tidak berguna. Padahal, Jordan ingin sekali bermain seperti yang dilakukan anak-anak pelayan bersama orang tua mereka. Sebenarnya, Clarissa tidak ingin bermain dengannya. Jangankan bermain, untuk memeluknya saja sangat sulit karena Clarissa tidak suka anak yang manja. Tetapi Jordan sangat menyukai pelukan yang hangat. Ia sering merasa sedih saat Ibunya menolaknya. Tetapi, sekarang tidak lagi. Sekarang ia memiliki seorang Bunda yang selalu tersenyum manis padanya, membalas pelukannya bahkan senang menggendongnya. Sesuatu yang tidak bisa ia dapatkan dari Ibu Negara. Jordan senang ayahnya membawa seorang Bunda untuknya.
Sementara Emily yang mendengar pertanyaan itu, teringat bahwa sejak ia datang ke tempat ini, dirinya tidak pernah keluar. Ferry juga pasti merasa bosan, sepertinya keluar sebentar tidaklah masalah. Emily kemudian mengangguk membuat Jordan bersorak gembira.
"Ibu bilang, gunakan jaketmu dengan benar. Di luar anginnya sangat kencang." kata Ferry menasehati sesuai yang diisyaratkan Emily. Ia membantu Jordan memakai jaketnya dengan baik, agar anak itu tidak kedinginan. Emily menggandeng tangan anak-anak itu di kedua sisinya, kemudian berjalan keluar diikuti beberapa pelayan di belakangnya. Mereka bermain-main di taman yang ada di belakang Istana Negara.
__ADS_1
Jeremy baru saja mengambil waktu istirahat dari rutinitas kepresidenannya dan hendak menemui Emily, ketika ia melihat mereka bermain dengan ceria di taman. Setelah beberapa hari mengurung diri di kamar, akhirnya Emily keluar juga untuk bermain dengan putranya. Sepertinya keputusan untuk membuat Emily menyukai putranya lebih dulu adalah keputusan yang tepat. Pemandangan itu membuat Jeremy ingin menemui mereka, namun ia segera menghentikan langkah kakinya ketika teringat kemungkinan suasana hati Emily akan berubah dan wanita itu akan masuk lagi ke kamarnya. Akhirnya ia pun hanya memandangi mereka dari kejauhan, lalu kembali untuk melanjutkan tugas-tugasnya.
***
Di sisi lain, kondisi kesehatan Clarissa sedikit menurun sejak kedatangan Emily ke Istana Negaranya. Rasa marah, kecewa dan sedih bercampur menjadi satu membuatnya jatuh sakit dan mengharuskannya untuk beristirahat total.
Clarissa, sang Ibu Negara sakit, namun baik Presiden maupun putranya sama sekali tidak datang melihatnya di kamar. Hal ini membuat Della bertanya-tanya apa yang terjadi. Ia tidak terlalu peduli dengan Presiden, namun ia mempertanyakan Jordan yang sejak Emily datang, tidak pernah menunjukkan batang hidungnya di kamar Ibunya lagi. Dan kini pertanyaannya terjawab saat melihat Jordan dan Emily sedang asyik bermain di taman. Bahkan Jordan terlihat sangat bahagia hingga suara tawanya terdengar sangat ceria. Anak itu,, Ibunya sedang terbaring sakit tetapi ia justru bersenang-senang dengan orang lain. Della mengepalkan tangannya dengan kuat saat menatap Emily dari jauh, wanita itu sangat licik, ia tahu bagaimana cara merebut dan mengalihkan perhatian seseorang dari Clarissa.
"Bunda, lihat! Aku berhasil melakukannya!" sorak Jordan dengan gembira ketika berhasil membuat kolase dedaunan berbentuk serangga. Namun, saat melihat dan membandingkan hasil karyanya dengan milik Ferry, ia menjadi cemberut dan merasa miliknya terlalu jelek.
Kolase buatan Jordan
Jordan ingin mengeluh pada Emily, namun belum sempat ia mengeluarkan kata-katanya, ia melihat Neneknya, Della, mendekati mereka.
"Nenek Della!"
Emily menoleh ke arah Della saat Jordan berlari menghampiri wanita yang di panggilnya Nenek itu. Emily tidak mengenal keluarga Clarissa, karena itu, ia hanya terdiam di tempatnya.
__ADS_1
"Nenek, lihat apa yang aku lakukan bersama Bunda dan kak Ferry. Kolase!! Nenek harus melihatnya!" kata Jordan sedikit berteriak karena senang. Selain ayahnya, ia juga dekat dengan Neneknya, tapi Neneknya itu lebih sering mengurusi Ibu Clarissa. Della mengerutkan alisnya mendengar panggilan Jordan.
"Kau memanggilnya apa?" tanyanya.
"Bunda. Ayah yang membawanya dan menyuruhku memanggil dengan sebutan itu. Kata ayah, dia itu Ibuku." jawab Jordan dengan polos, ia tak menyadari perubahan pada wajah Neneknya.
Della menggertakkan giginya. Jeremy sangat tega melakukan hal ini pada keponakannya. Apa ia tidak pernah memikirkan perasaan Clarissa, ibu kandung Jordan? Bagaimana bisa ia menjadikan wanita lain sebagai ibu dari anak yang dikandung dan dilahirkan oleh Clarissa? Della berbalik menatap Emily dengan tatapan marah. Mengapa wanita bisu ini menerima panggilan itu begitu saja? Apa ia sama sekali tidak merasa bersalah?
"Nenek.. Ada apa?" tanya Jordan ketika merasa ada yang salah dengan Della, membuat Della berhenti menatap Emily dan menoleh pada Jordan, lalu berjongkok di depannya.
"Tuan Muda Kecil.. Nenek ingin bertanya padamu, mengapa beberapa hari terakhir ini, kau tidak datang menemui Ibu Negara? Dia adalah Ibumu, apakah Tuan Muda Kecil tidak tahu kalau Ibumu saat ini sedang sakit?" tanya Della berusaha menormalkan nada suaranya.
Jordan terdiam mendengarnya. Dulu, sebelum Emily datang ke Istana Negara, setiap kali ia selesai belajar, ia akan mengunjungi Ibunya untuk menyapanya dan berharap bisa bermain dengannya, tetapi Ibunya hanya akan menyuruhnya kembali belajar. Bahkan, jika ia sedikit rewel dan merengek, Ibunya akan menyuruh pelayan untuk membawanya keluar. Jordan benar-benar ingin bersama dengan Ibunya, tetapi penolakan sang Ibu membuatnya merasa tidak nyaman sekaligus sedih dalam hatinya. Karena itu, sejak Bunda Emily-nya datang dan mau bermain dengannya, ia mulai berhenti mengunjungi Ibu Clarissa. Tetapi, saat ini ketika ia mendengar Ibu Negara sakit, ia menjadi khawatir.
"Ibu Negara sakit?" tanyanya dengan nada tidak tahu apa-apa. Mendengar pertanyaannya, kening Della mengerut.
"Apa kau sungguh tidak tahu?" tanyanya. Jordan mengangguk dengan tatapan cemas.
__ADS_1
"Apa tidak ada satu orang pun yang memberitahukan padamu bahwa Ibu Negara sedang sakit?" Della kembali bertanya. Kali ini Jordan menggeleng. Itu benar, tidak ada seorangpun yang memberitahunya. Della menatap ke sekitar, para pelayan menunduk cemas. Merek tidak bisa melakukan apapun, karena Presiden sendiri yang melarang mereka untuk memberitahu Jordan tentang kondisi Ibu Negara.