Emily, Sang Gadis Bisu

Emily, Sang Gadis Bisu
Kisah sang Petani 2


__ADS_3

Jeremy dan Emily mendengarkan cerita sang petani sambil terdiam. Sementara sang petani terus melanjutkan ceritanya. Pada saat sang petani berusia 18 tahun, ia memutuskan untuk menikahi ibu tirinya.


Walaupun ibu tirinya selalu menolak karena merasa kalau hubungan mereka itu salah, petani itu tetap memutuskan menikahinya.


Akan tetapi, hal itu justru mendatangkan malapetaka bagi ibu tirinya. Karena semua orang menganggapnya sebagai wanita murahan yang tidak tau diri sebab bukan hanya menikahi kepala desa tapi juga merayu putranya.


Petani itu mencoba menjelaskan kepada semua orang bahwa ibu tirinya menolak dirinya, tetapi mereka tidak ingin mendengarkannya dan terus mencemooh ibu tirinya bahkan memperlakukannya secara tidak adil.


Jika ibu tirinya keluar rumah, ia selalu di maki-maki bahkan terkadang ia dilempari dengan air got dan telur serta sayuran busuk. Gosip menyebar dengan cepat. Mereka mengatakan kalau wanita itu pasti menggunakan tubuhnya untuk merayu putra dari kepala desa dan melakukan perzinahan. Melihat wanita yang dicintainya selalu di cela siapa hari, petani tua itu memutuskan untuk meninggalkan desa. Mereka memilih membangun rumah di hutan, tinggal jauh dari orang-orang yang tidak menyukai mereka. Awal kehidupan mereka tidaklah baik. Mereka sering bertengkar karena sang ibu tiri sering merasa bersalah dan selalu menyuruhnya untuk kembali ke desanya. Wanita itu memaksanya untuk meninggalkan dirinya sendirian di hutan.


Tentu saja petani itu tidak mau. Pada akhirnya wanita itu menyerah dan berhenti memaksanya kembali.


"Jadi kakek memutuskan untuk melepaskan masa depan kakek dan tinggal di sini bersama ibu tiri kakek?" tanya Jeremy yang merasa kalau ceritanya itu tidak masuk akal. Bagaimana bisa dia membiarkan masa depannya yang cerah sebagai seorang kepala desa dan memilih tinggal dengan seorang wanita tua? Jadi ternyata yang selama ini dia sebut sebagai istrinya itu ternyata adalah ibu tirinya.


Petani itu tersenyum dan mengangguk.


"Aku memilih jalan itu buktinya aku ada di sini." jawabnya.


Jeremy masih tidak yakin. Ia menghela nafas. "Lalu, apakah kakek tidak pernah berpikir untuk kembali? Kenapa kakek memilih untuk bertahan di tempat ini? Walau bagaimanapun, hutan bukanlah tempat yang bagus untuk ditinggali." kata Jeremy.


Petani itu tertawa pelan kemudian menggeleng. Ia menepuk bahu Jeremy.


"Kau masih sangat muda, Nak. Bagiku dimana pun aku tinggal, asalkan aku bisa bersama dengan orang yang aku cintai, itu sudah sangat cukup. Lagipula, di sini kami memiliki semuanya yang kami butuhkan. Rumah untuk ditinggali, sayuran dan juga ternak untuk dimakan. Kami tidak kekurangan apapun. Bukankah itu disebut kebahagiaan?"


Selesai berkata, petani itu menatap sejenak ke arah Emily yang sejak tadi diam. Kemudian berjalan masuk meninggalkan mereka.

__ADS_1


"Bagaimana menurutmu?" tanya Jeremy sambil menatap Emily.


Kisah cinta petani tua itu terdengar romantis. Dia rela meninggalkan masa depannya yang cerah untuk hidup dengan wanita yang dicintainya dan juga melindunginya dari orang-orang yang membencinya.


'J**ika ibu tirinya tidak mencintainya, petani itu hanya mengurungnya dalam penjara cintanya. Tapi katanya, ibu tirinya juga mencintainya. Jadi kurasa, apa yang dilakukan petani itu adalah sesuatu yang luar biasa. Itu yang disebut cinta sejati.' isyarat Emily.


Melihat jawabannya, Jeremy terdiam. Dia tidak mengatakan apa-apa lagi. Tapi menurutnya, petani tua itu gila sekaligus bodoh. Bagi Jeremy, cinta itu sama sekali tidak penting. Melepaskan masa depan demi mencintai seorang wanita, baginya adalah sebuah kesia-siaan.


*****


Sudah empat hari, Emily dan Jeremy berada di tempat ini, dan belum ada tanda-tanda seorang pun mencari mereka sampai ke sana.


Kaki jeremy mulai terlihat membaik. Lukanya sudah mulai mengering sehingga tidak perlu di perban lagi. Kakinya juga sudah berkurang bengkaknya. Ternyata ia hanya terkilir, tidak sampai patah tulang.


Namun ada satu hal yang selalu mengganggu pikiran Emily. Itu adalah mengenai istri sang petani yang tidak pernah menampakkan diri sejak mereka tiba di sana. Setiap kali Emily meminta ingin bertemu, petani itu selalu mengatakan kalau istrinya butuh istirahat. Hanya itu.


Emily menoleh menatap Jeremy.


'Ak**u hanya ingin melihat kondisinya dan mengucapkan terima kasih.' isyaratnya.


"Percuma saja. Aku rasa istrinya itu sudah mati." ujar Jeremy yang sontak membuat Emily melebarkan matanya.


'Apa katamu?'


Jeremy menatap wajah Emily yang terkejut.

__ADS_1


"Kalau istrinya masih hidup, kamarnya pasti tidak akan sesunyi itu. Aku tidak pernah mendengar suara lain dari dalam kamar itu selain suara petani itu yang berbicara sendiri...."


Kali ini Jeremy yang melebarkan matanya saat mengatakan hal itu. Apa yang ia katakan mirip dengan dirinya. Emily bisu, setiap kali mereka berbincang yang terdengar hanya suara Jeremy saja. Apakah kondisi istri petani itu juga sama seperti Emily?


Emily masih terkejut dengan pemikiran Jeremy. Ia memikirkan sesuatu sejenak lalu melambaikan tangannya.


'Jadi, bukankah seharusnya kita memeriksanya?'


Jeremy menggeleng.


"Kurasa sebaiknya kita jangan ikut campur urusan mereka. Kau harus ingat siapa yang sudah menolong kita sampai sekarang. Jadi sebaiknya jangan membuat perasaannya terganggu. Aku yakin kakek petani itu tahu apa yang ia lakukan."


Emily menggigit bibirnya dan menunduk. Dia sadar apa yang dikatakan Jeremy adalah benar. Mereka seharusnya tidak ikut campur dengan urusan rumah tangga orang lain. Namun ia masih berpikir kalau ini semua tidak benar tapi tidak ada yang bisa dilakukannya.


Hening. Tidak ada lagi yang berbicara setelah itu. Jeremy menatap bulan purnama yang bersinar cerah di langit. Hembusan angin malam menerpa tubuh mereka. suara gemericik dedaunan berpadu dengan suara jangkrik dan hewan kecil lainnya, khas malam hari di hutan.


Jeremy mengalihkan pandangannya kepada Emily yang ternyata juga sedang menatap bulan. Cahaya bulan purnama menyinari wajah cantiknya yang membuatnya tampak terlihat berkilau. Sesaat pemandangan itu terlihat memabukkan dan membuat jeremy tertegun. Namun ia segera sadar dan bertanya,


"Bagaimana kau bisa menjadi bisu?"


Emily menatapnya.


"Mengapa kau tidak berbicara? Aku masih ingat dengan jelas saat kita terjatuh hari itu. Kau berteriak dengan kencang." lanjutnya bertanya.


"Katakan padaku, Emily. Apakah kamu pura-pura bisu di depanku?" cecarnya menuduh.

__ADS_1


Emily menatap Jeremy dengan takjub. Ia tidak menyangka kalau Jeremy akan menanyakan hal seperti ini. Mengapa baru hari ini suaminya ini menanyakan penyebab ia bisu? Biasanya ia tidak pernah bertanya dan tidak pernah mencari tahu dengan apa yang dilakukan oleh istrinya.


Apakah karena ia merasa bosan atau karena tidak ada lagi yang bisa mereka bicarakan?


__ADS_2