Emily, Sang Gadis Bisu

Emily, Sang Gadis Bisu
Aku akan Tetap Terluka


__ADS_3

"Tante.. Apa yang harus aku lakukan? Dia akan membuangku. Katakan, Tante. Apa yang harus aku lakukan?" tanya Clarissa dengan putus asa. Ia bahkan sampai mengulang-ulang pertanyaannya.


Selama ini, tanpa di ketahui orang-orang, Tantenya inilah yang selalu membantunya diam-diam. Bahkan ide untuk mengandung anak Jeremy pun berasal darinya. Della memeluk keponakannya yang menangis, dan mengusap punggungnya dengan lembut.


"Itu tidak akan pernah terjadi. Tante di sini untuk mendukungmu. Jadi, kau tidak perlu mengkhawatirkan hal-hal seperti itu." kata Della.


Mendengar itu, suara tangisan Clarissa terhenti. Ia melepaskan pelukannya dan mendongak menatap Tantenya.


"Benarkah? Tante akan melindungiku?" tanyanya sesenggukan. Della mengangguk.


"Ya, Tante akan selalu di sisimu, mendukungmu." jawabnya sambil mengusap air mata di wajah Clarissa.


"Jadi, berhenti menangis dan jangan sedih lagi. Berhenti juga memikirkan hal-hal seperti ini, kau hanya harus memikirkan kandunganmu. Lagipula, kau bukan hanya memilikiku, tapi juga memiliki seorang anak laki-laki bersama Jeremy. Jadi, berhentilah khawatir." kata Della menenangkannya.


"Tapi, bagaimana jika wanita bisu itu juga mengandung dan melahirkan seorang anak nantinya?" tanya Clarissa cemas setelah terdiam beberapa saat.


"Tenang saja, itu tidak akan terjadi. Aku berjanji padamu." kata Della yakin.


Suasana menjadi hening kemudian, sampai akhirnya Clarissa menangis lagi. Ia meremas baju Tantenya dengan kuat, seiring dengan rasa sakit yang teramat dalam di hatinya.


"Tante... Tante tetap tidak bisa mempertahankan hati pria itu untukku..." ujarnya lirih.


Mendengar itu, Della tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Karena ia tahu yang di katakan Clarissa adalah kebenaran. Bagaimana bisa ia mempertahankan hati Jeremy untuk keponakannya sedangkan ia tahu jelas, sejak awal hati pria itu bukanlah untuk Clarissa. Jadi, hari itu, Della hanya bisa menemani Clarissa hingga ia puas menangis dan akhirnya tertidur karena lelah. Bahkan dalam tertidur pun Clarissa sama sekali tidak tenang. Della kemudian meminta bantuan para pelayan yang lainnya untuk memindahkan Clarissa ke tempat tidur, lalu meminta mereka merapikan kamar yang berantakan dengan sangat hati-hati agar tidak menggangu tidur Clarissa.

__ADS_1


Della menghela nafas, ia mengingat-ingat lagi wajah Emily. Meskipun tidak pernah bertemu dengannya, tetapi berita Emily dan Jeremy sering menghiasi surat kabar. Terlebih saat wanita itu meninggal, banyak orang yang menangis dan tidak berhenti membicarakan tentang kebaikannya. Tetapi, siapa yang akan menyangka kalau itu semua hanyalah pura-pura?


Wanita bisu itu memalsukan kematiannya demi memuluskan jalan suaminya menjadi orang nomor satu di negeri ini, dan sekarang, setelah sekian lama, ia kembali untuk mengambil alih posisi keponakannya yang telah berkorban begitu banyak untuk presiden. Apa wanita itu pikir ia akan diam saja?


*****


Sementara itu, orang yang sedang dipikirkan oleh Della, saat ini telah memasuki gerbang ibukota. Melalui jendela mobil, ia melihat sudah banyak perubahan yang terjadi sejak terakhir kali ia melihat kota ini. Emily menghela nafasnya dengan berat, sekali lagi ia kembali ke kota ini.


Sedangkan Ferry nampak sangat senang dengan apa yang ia lihat, karena baru pertama kali ia datang ke Ibukota. Ia memandangi kota itu dengan kagum, namun saat melihat ibu angkatnya yang terlihat lesu, ia tidak berani menunjukkan kesenangannya. Ferry masih belum terlalu mengerti dengan apa yang terjadi. Ia selalu ingin bertanya tentang presiden pada ibunya, tetapi ia sadar ia tak memiliki hak untuk menanyakan itu. Setiap kali ia menyebut nama presiden, ibunya selalu terlihat tidak bahagia. Jadi ia tidak pernah menanyakan hal yang berhubungan dengan presiden lagi.


Tapi, saat ini mereka tidak satu mobil dengan presiden, karena itu Ferry memberanikan diri untuk bertanya,


"Apa ibu tidak ingin pergi ke tempat ini?"


Emily menoleh menatapnya. Ia tahu anak ini sedang menahan banyak pertanyaan di kepalanya. Emily kembali menghela nafasnya, menatap keramaian ibukota, sebelum kembali menatap Ferry yang masih menunggu jawabannya.


"Kenapa?" tanya Ferry dengan ragu-ragu.


'Sebab ibu hanya akan menjadi sumber derita bagi orang lain, dan ibu tidak ingin menjadi seperti itu.' isyarat Emily.


Emily tahu dengan jelas, Clarissa sangat mencintai Jeremy. Hati dan perasaan wanita itu pasti akan hancur berkeping-keping saat melihat pria yang ia cintai bersama dengan wanita lain. Kala itu, ia bisa meyakinkan Clarissa agar tidak khawatir dengan keberadaannya karena ia akan segera pergi lewat kematian palsunya. Sekarang apa yang harus ia lakukan untuk menenangkan hati Clarissa saat Jeremy sendiri yang tidak mau melepaskannya?


*****

__ADS_1


Seorang pelayan tergesa-gesa berjalan menuju kamar Clarissa. Saat melihat pintu yang tertutup rapat, ia ragu-ragu untuk mengetuknya. Tetapi istri presiden itu sudah memerintahkan untuk melaporkan apapun yang terjadi. Jadi, ia memberanikan diri untuk mengetuk pintu dan ketika terdengar suara mengijinkan dari dalam, barulah pengawal yang berjaga membukakan pintu untuknya.


Terlihat Della sedang duduk di samping tempat tidur, sedangkan Clarissa sendiri masih berbaring di ranjangnya. Sejak menerima kabar bahwa Presiden telah menemukan mantan istrinya, kondisi kesehatan Clarissa menurun. Bahkan semua yang di sana merasa takut pada kemungkinan ia bisa keguguran.


Della menyipitkan matanya melihat pelayan itu. Tidak tahukah ia, kalau Clarissa butuh istirahat dan sebaiknya tidak mendengarkan apapun yang bisa menambah beban pikirannya?


"Apapun yang ingin kau katakan, katakan itu nanti saja. Kau bisa pergi sekarang." kata Della kemudian melanjutkan aktivitasnya menyuapi Clarissa bubur.


"Makan lagi, kau makan terlalu sedikit belakangan ini." kata Della pada Clarissa.


Namun, Clarissa tidak ingin makan lagi. Semuanya terasa pahit di lidahnya. Selain itu, ia juga ingin tahu apa yang ingin di sampaikan oleh pelayan suruhannya itu. Jadi ia mendorong tangan Tantenya dengan pelan dan bertanya pada pelayan itu,


"Ada apa? Apa yang ingin kau katakan?"


Della tidak senang mendengarnya. Ia menatap pelayan itu dengan tajam, membuat si pelayan tidak nyaman dan hanya bisa menundukkan kepalanya. Melihat sikap pelayannya, Clarissa kembali bertanya,


"Apakah Bapak Presiden sudah kembali?"


Pelayan itu mengangguk pelan. Melihatnya, wajah Clarissa menjadi cerah dan ia tersenyum tipis. Ia bergegas turun dari ranjangnya, tetapi di tahan oleh Della yang segalera menangkap pergelangan tangannya.


"Apa yang Tante lakukan? Lepaskan aku. Aku harus pergi menemuinya." kata Clarissa.


"Untuk apa kau menemuinya? Itu hanya akan membuat hatimu semakin terluka. Lebih baik jangan pergi." kata Della mencegahnya.

__ADS_1


Clarissa tahu apa yang Tantenya pikirkan. Jadi ia berkata,


"Pergi atau tidak pergi, hatiku akan tetap terluka. Tapi aku akan menyesal jika aku tidak menyambutnya saat ia pulang. Bagaimanapun, aku ini adalah istrinya, seorang Ibu Negara. Bagaimana mungkin aku bisa tidak menyambutnya saat ia kembali?"


__ADS_2