
Awalnya Jeremy pikir, dengan membawa Emily ke istana, itu akan menyulut api kemarahan Clarissa dan Della. Lalu mereka akan mencari cara untuk menyingkirkan Emily. Dengan begitu, Jeremy akan menemukan alasan untuk membuang mereka dengan mudah. Tapi, sepertinya semua tidak sesuai dengan harapannya. Sepertinya Emily justru menarik mereka ke kubunya. Apa mungkin istrinya yang bisu itu ingin meminta bantuan mereka untuk melarikan diri darinya?
"Apa kau senang karena mendapatkan kerabat baru?" tanya Jeremy menyindir.
"Ya, aku senang. Tapi sepertinya dia tidak bahagia di tempat ini." jawab Della. Jeremy mengembangkan senyumannya, Della benar. Emily tidak senang karena ia membawanya secara paksa. Tapi itu karena Jeremy tidak senang melihatnya bersama pria lain, dan Jeremy yakin lama kelamaan, Emily pasti akan senang dan betah berada di istana ini. Melihat senyum penuh percaya diri Jeremy, membuat Della ingin menghancurkannya saat ini juga, jadi ia berkata:
"Wanita bisu itu tidak ingin kembali, tapi Anda memaksanya untuk menjadi istri kedua. Dia bilang, kalian tidak saling mencintai di masa lalu. Karena itu, kalian membuat perjanjian untuk memalsukan kematiannya agar kalian bisa berpisah."
"Dia mengatakannya padamu?" tanya Jeremy tak percaya.
"Ya, dia mengatakannya." jawab Della.
"Dia juga mengatakan kalau ia tidak mencintaimu, tapi mencintai orang lain." tambahnya. Mendengar kata-kata Della barusan, senyum Jeremy yang mengembang seketika hilang, wajahnya nampak sangat terkejut. Sedangkan Della yang melihat ekspresi Jeremy yang terlihat hancur itu, terus berkata :
__ADS_1
"Dia mencintai seorang pria yang selalu datang di mimpinya. Anda berharap dia akan membalas perasaan Anda? Heh,, apa Anda tahu? Dia bilang, dia tidak mencintaimu bahkan tidak akan pernah mencintaimu, Bapak Presiden yang terhormat!"
"HENTIKAN OMONG KOSONGMU!!" teriak Jeremy sambil menampar Della hingga tersungkur ke lantai, sudut bibirnya mengeluarkan sedikit darah. Jiwa Jeremy serasa terbakar oleh amarah mendengar perkataan Della. Jeremy tidak bisa menahan dirinya lagi, ia menendang pintu kamar yang masih tertutup itu dengan kuat, membuat Emily terkejut dan menakuti Ferry serta peliharaannya yang langsung membatu di tempatnya.
Jeremy tidak memberi kesempatan pada Emily untuk bertanya, ia langsung menghampirinya dan menarik tangannya dengan kasar lalu menjatuhkannya ke atas tempat tidur. Emily tidak tahu apa yang membuat Jeremy seperti itu. Ia berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan dirinya, tetapi Jeremy menahannya di bawah tubuhnya. Ia mencengkram kuat tangan Emily di atas kepalanya, dan menatapnya dengan putus asa. Jeremy tidak bisa mengontrol pikirannya, dengan penuh amarah ia menjepit dagu Emily dan memaksa menciumnya. Emily mengatupkan mulutnya sekencang mungkin, tak memberikan celah bagi Jeremy. Kakinya menendang-nendang tapi tak ada artinya bagi Jeremy. Penolakan Emily membuat Jeremy semakin terbakar amarah, ia menatap Emily dengan penuh kekejaman di matanya.
"Kau tidak diijinkan untuk mencintai pria lain selain diriku. Jangan coba-coba meninggalkanku!!" bentaknya.
Jeremy kembali menurunkan wajahnya untuk mencium Emily, ia menggigit bibir Emily hingga terluka, ingin melihat sampai kapan wanita itu bertahan. Namun Emily dengan keras kepalanya terus menutup mulutnya dengan kuat, ia memejamkan matanya menahan rasa sakit yang di berikan Jeremy sambil terus menendang, berharap bisa terlepas.
"Bapak Presiden, saya mohon jangan lakukan ini pada Ibuku!!" serunya.
Bahkan Blacky pun sepertinya paham bahwa majikannya dalam bahaya, karena itu ia juga ikut menggonggong dan menggigit serta menarik ujung celana Jeremy. Hal ini membuat Jeremy semakin marah, ia melepaskan Emily, dan mendorong Ferry dengan seluruh kekuatannya, tanpa memperhitungkan akibatnya. Karena dorongannya, Ferry terjatuh ke belakang, kepalanya tepat mengenai sudut meja, membuatnya terluka dan mengeluarkan banyak darah. Ferry kehilangan kesadarannya di tempat. Emily yang melihat langsung kejadian itu menjadi terkejut dan sangat ketakutan, bagaimana kalau terjadi sesuatu yang buruk pada putra angkatnya? Dengan cepat ia bangun danberlari menuju Ferry.
__ADS_1
Jeremy yang melihat darah mengalir dari kepala anak itu, seketika tersadar. Kemarahan yang meletup tadi, langsung menghilang. Digantikan dengan kecemasan di hatinya, terutama saat melihat Emily memeriksa keadaan Ferry dengan putus asa. Bahkan Emily yang tidak pernah mengeluarkan suaranya, kali ini berusaha memanggil-manggil nama Ferry, meskipun yang terdengar hanyalah gumaman yang tak jelas. Hati Jeremy bagaikan tersayat, ia yang membuat Emily menjadi seperti ini. Dengan penuh perasaan bersalah, ia mendekati Emily dan menyentuhnya, namun segera di tepis oleh Emily. Dengan panik ia mengangkat Ferry dan hendak keluar mencari pertolongan. Jeremy tertegun melihatnya. Ia mencoba berbicara dengan Emily.
"Serahkan padaku, aku akan membawanya menemui dokter." katanya sambil menyodorkan tangan ingin menerima Ferry dari Emily. Tetapi Emily mendorongnya dengan kuat, bahkan ia menatap Jeremy dengan air mata yang berlinang dan pandangan menyalahkan. Matanya memancarkan kebencian yang teramat sangat. Tatapan Emily mengingatkan Jeremy saat malam itu, ketika Clea menatapnya dengan penuh kebencian. Sama persis. Hati Jeremy terasa di remas oleh rasa sakit, membuatnya membeku di tempatnya.
Sementara Emily tak ingin membuang waktunya, ia segera berlari keluar membawa Ferry di gendongannya dan bertemu dengan Della yang sejak tadi masih berada di luar kamar, menyaksikan semuanya dalam diam. Meskipun Emily telah menceritakan semuanya, hatinya masih saja meragu. Karena itu, ia membiarkan kejadian tadi begitu saja, ingin melihat apakah Emily bisa dipercaya atau tidak. Sekarang, ia tahu kalau Emily tidak menipunya. Wanita ini memang tidak mencintai Jeremy.
"Aku akan membantumu." ujarnya, lalu membantu Emily membawa Ferry menemui dokter Darren. Emily menunggu dengan cemas saat Ferry di periksa dan di obati.
'Bagaimana keadaannya? Apakah putraku baik-baik saja?' tanya Emily pada Dokter Darren saat pria itu keluar dari ruangan. Pria itu masih tetap menjadi dokter pribadi Jeremy hingga saat ini.
"Saat ini, pendarahannya sudah berhenti. Tidak ada retakan di tengkoraknya. Tetapi, untuk mengetahui apakah ada masalah lain atau tidak, kita masih harus menunggu sampai ia sadar." jawab Dokter Darren.
Mendengar ketidakpastian itu membuat Emily menjadi lemas dan terhuyung, beruntung Dokter Darren dengan sigap menangkapnya dan membantunya duduk.
__ADS_1
"Tenangkan dirimu, aku yakin tidak ada hal buruk yang terjadi padanya." kata Dokter Darren menenangkan.
Emily terdiam, ia menunjukkan kepalanya dan memandangi kedua tangannya yang masih berlumuran darah milik Ferry. Ia benar-benar merasa bersalah. Ia selalu membuat anak itu berada di sisinya agar tidak terjadi sesuatu padanya, namun tetap saja hal buruk menimpanya. Ia menyembunyikan kepalanya di kedua lututnya dan mulai terisak.