
Orang banyak seketika berhenti berbicara saat pintu Aula terbuka lebar. Suasana mendadak hening saat pembawa acara memberitahukan kehadiran Presiden dan calon Istri Keduanya. Nampak jelas keterkejutan di raut wajah mereka semua, Presiden benar-benar membawa masuk Emily yang telah mati bertahun-tahun yang lalu. Kebahagiaan tercetak jelas di wajah Jeremy, sedangkan wajah cantik Emily terlihat tanpa ekspresi.
Semua orang di sana termasuk Tante Agnes serta Fernando dan Steven tidak bisa melepaskan pandangan mereka dari pasangan yang tengah menaiki tangga menuju altar.
"Kak Emily benar-benar masih hidup." gumam Steven tak percaya.
Saat Jeremy dan Emily sudah di atas, pandangan Jeremy bertemu dengan Clarissa, namun Jeremy tidak terlalu mempedulikannya. Jeremy berbalik dan menatap semua orang yang juga tengah melihat ke arahnya dengan pandangan bertanya-tanya. Jeremy tersenyum tipis.
"Aku yakin, semua orang yang ada di sini pasti ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi." Jeremy mulai berbicara.
"Karena itu, aku mengundang kalian semua termasuk para wartawan untuk mendengarkan sedikit kisahku." Jeremy berhenti sejenak menatap Emily dengan lembut.
"Seperti yang kalian semua tahu, selama ini Istriku tercinta meninggal karena alergi kacang. Memang benar, saat itu Istriku hampir kehilangan nyawanya karena alergi, tetapi seperti yang kalian lihat sekarang, Kesayanganku masih hidup dan berdiri bersama denganku di sini."
Kata-kata ini membuat semua orang kembali saling memandang dan mulai berkomentar satu sama lain. Presiden menggunakan kata 'tercinta' dan 'kesayangan', menunjukkan betapa Presiden sangat menghargai wanita bisu itu. Tapi, bagaimana dengan Ibu Negara? Jeremy tidak peduli dengan bisik-bisik yang terdengar, ia melanjutkan apa yang ingin dia katakan.
"Seperti yang kalian ketahui, ayahku yang kuhormati, Antonio Charlos, ternyata adalah seorang mafia kejam yang suka bermain wanita. Kekayaannya berasal dari hasil jual beli organ tubuh manusia secara ilegal dan banyak transaksi obat-obatan terlarang. Terjadi penculikan anak dan korupsi
di mana-mana, tetapi Presiden yang sebelumnya tidak bisa melakukan sesuatu dengan baik untuk menghentikannya. Kita membutuhkan perubahan, dan aku sudah sejak lama ingin membereskan masalah yang diperbuat oleh ayahku. Tetapi, jika aku ingin menjatuhkan kekuasaan ayahku, aku harus lebih kuat darinya. Karena itu, aku berusaha mencalonkan diri menjadi Presiden. Namun, saat itu aku memiliki seorang istri yang bisu. Itu membuatku tidak bisa di calonkan karena peraturan kita mengatakan bahwa seorang pemimpin tidak bisa memiliki pendamping yang cacat. Jika dia masih menjadi istriku, aku tidak akan mendapatkan dukungan dan kekuatan dari kalian semua. Ada banyak orang yang menentang kehadirannya. Tapi, aku sangat mencintainya dan aku bahkan berpikir untuk melepaskan semuanya demi hidup bersamanya. Tetapi, apa kalian tahu apa Istriku katakan?" Jeremy berhenti sebentar dan kembali menatap Emily dengan tersenyum.
__ADS_1
"Dia bilang, negeri ini butuh perubahan dan keadilan. Dia bilang, aku harus melakukan sesuatu demi kebaikan tanah air kita. Dia bahkan rela mati demi negeri ini."
Emily membelalakkan matanya, Jeremy tentu saja mengarang semua yang baru saja ia katakan. Emily tidak pernah mengatakan hal seperti itu. Sayangnya, wajah terkejut Emily menarik minta Jeremy dan membuatnya semakin bersemangat untuk mengatakan kebohongan lebih banyak lagi.
"Kami menikah dalam perjanjian hidup dan mati, artinya kami hanya bisa dipisahkan oleh kematian. Karena itu, Istriku tercinta ini rela mati agar aku bisa terpilih. Tetapi, tentu saja aku tidak setuju. Aku sangat mencintainya, jadi bagaimana aku sanggup melihatnya mati? Karena jika dia mati, aku juga akan mati."
Kata-katanya di bagian akhir membuat mereka semua yang di Aula terkejut, dan beberapa dari mereka berteriak,
"Tolong jangan katakan itu. Bapak Presiden harus hidup seratus tahun lagi!!"
Jeremy tersenyum mendengar seruan itu, sementara Emily berharap ada pesulap yang bisa menghilangkan dirinya dari sana sekarang juga. Jeremy kemudian melanjutkan kata-katanya,
"Jadi, angkat tangan kalian jika ada yang tidak setuju kalau aku menjadikannya sebagai Istri Keduaku."
Meskipun sudah peraturan di negeri itu jika seorang pemimpin tidak boleh memiliki pendamping yang cacat, tetapi dengan kata-kata Jeremy yang membolak-balikkan kebenaran, membuat Emily terlihat seperti seorang pahlawan di balik layar, mereka tidak bisa mengatakan apa-apa untuk menentangnya.
"Benarkah itu?" kata Steven dengan rasa kecewa di dalam hatinya.
"Kakak Emily sejak awal sudah tahu tentang rencana Kak Jeremy untuk melenyapkan Paman Antonio, bahkan dia juga terlibat di dalamnya?" kali ini Fernando yang bersuara dengan nada pahit.
__ADS_1
"Mengorbankan dirinya demi negeri ini dia bilang?" Fernando menahan emosi di dadanya.
Paman mereka, Antonio Charlos, memang bukan orang yang sempurna, tetapi ia tidak seburuk apa yang Jeremy katakan. Paman Antonio hanya satu kali meniduri wanita selain istrinya, dan itu adalah Margaretha, Ibu kandung Jeremy. Melakukan transaksi ilegal, itu hanya karangan Jeremy dan terlalu di lebih-lebihkan. Bukankah sebenarnya Jeremy pelaku utamanya? Fernando dan Steven hampir tidak bisa menahan emosinya. Mereka berniat maju dan menyerang Jeremy sekarang, tetapi suara Tante Agnes menghentikan mereka.
"Kalau kalian sudah bosan hidup dan ingin mati hari ini juga, silahkan saja. Aku tidak akan menghalangi kalian." Ucapan ini membuat mereka terdiam, tentu saja tindakan impulsif mereka hanya akan merugikan diri sendiri.
"Bersabarlah sebentar. Kita tidak bisa mempercayai begitu saja apa yang dia katakan." kata Tante Agnes pelan.
"Apa Tante tidak percaya padanya?" tanya Fernando.
"Apa menurutmu Emily akan melakukan semua itu? Apa kau tidak bisa melihat dari sini, ekspresi wajahnya yang sangat tertekan?" Tante Agnes balik bertanya, membuat keduanya terdiam dan menyadari raut wajah Emily yang tampak tidak tenang.
Sedangkan semua orang masih mempertanyakan hal lain, jika Emily mengorbankan dirinya agar Jeremy bisa menjadi Presiden, lalu bagaimana dengan Ibu Negara? Bukankan Presiden juga menikahinya dan telah memiliki seorang putra? Bahkan kini Ibu Negara tengah mengandung lagi. Apakah itu pernikahan politik? Jeremy bisa mendapatkan dukungan dan kekuatan dari keluarga Clarissa, tetapi apa yang Clarissa dapatkan?
Hal ini menjadi perbincangan mereka, dan membuat Jeremy seperti pria brengsek di depan semua orang. Della menatap Jeremy dari tempat duduknya dan diam-diam tersenyum mengejeknya. Jeremy membuat pesta yang besar dan megah untuk Emily, dan membuat wanita itu tampak seperti pahlawan, tetapi pria itu secara tidak langsung mempermalukan dirinya sendiri. Namun, Jeremy justru tersenyum sinis mendengar pembicaraan orang-orang yang ada di sana.
"Mengenai hubunganku dengan Clarissa.." Jeremy sengaja menjeda ucapannya, membuat Aula sekali lagi menjadi sunyi. Semua orang menunggu dengan penasaran, ingin tahu hubungan seperti apa antara Presiden dan Ibu Negara.
"Itu tidak lebih dari kecelakaan yang aku lakukan saat mabuk dan di pengaruhi alkohol. Tapi, bukankah sebagai seorang pria, aku harus bertanggung jawab?" kata Jeremy sambil sengaja menatap Clarissa yang duduk tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
__ADS_1