
Jeremy menggertakkan giginya melihat isyarat Emily, namun ia membiarkannya terus melambai.
'Kau bisa mengatakan kepada semua orang bahwa aku hanyut di sungai. Dengan begitu, kau dan Clarissa bisa bersama lebih cepat.' "Aku tidak bisa melakukan hal itu." kata Jeremy.
'Kenapa?' isyarat Emily bertanya.
"Jika aku mengatakan kepada mereka kalau kamu hanyut di sungai, mereka akan berpikir kalau kamu pasti masih hidup dan akan memaksa aku untuk mencari dirimu." kata Jeremy lagi.
'Dengan berjalannya waktu, jika aku tidak muncul kembali dan mereka tidak menemukan diriku, mereka pasti akan melupakanku.' isyarat Emily lagi.
"Aku bilang aku tidak bisa." kata Jeremy dengan tegas.
Emily menatapnya dengan tatapan bertanya. Jeremy terdiam sejenak memikirkan alasan yang tepat. Ia tidak ingin melepaskan Emily pergi sebelum ia memastikan beberapa hal tentang Emily.
"Bibi Liana."
Hah!? Apa maksudnya?
"Aku bilang, kau akan membuat Bibi Liana menjadi sedih. Apa kau tidak memikirkan perasaannya? Dia pasti akan menangis. Dan lagi, apa dia tidak memberi tahumu, kalau dia sudah berkata padaku bahwa dia akan ikut denganmu jika kita berpisah nanti?" kata Jeremy memberi alasan.
Sejujurnya, Jeremy sendiri tidak yakin apakah ia bisa melepaskan Emily jika istrinya itu benar-benar Clea. Emily terlihat merenung sejenak. Jeremy benar, dia tidak bisa membiarkan Bibi Liana sedih, tapi ini adalah kesempatan yang sangat bagus. Lagi pula, dia tidak ingin kembali ke Mansion dan kembali berpura-pura menjadi orang sakit.
'Sama seperti yang lainnya, Bibi Liana juga pasti akan menerima kematianku.' isyarat Emily masih tetap pada pendiriannya.
Jeremy menatap Emily dengan sedikit frustasi. Mengapa gadis ini sangat ingin berpisah dengannya? Jeremy mencoba untuk bersikap tenang.
"Jika kita berpisah sekarang, di mana kamu akan tinggal?" tanya Jeremy.
Emily agak ragu-ragu ketika menjawab. 'Sepertinya aku akan tinggal di sini saja. Aku akan membantu kakek petani menanam sayuran dan mengurus ternaknya.' isyaratnya.
__ADS_1
"Apa kamu tidak tahu malu? Ini adalah rumah cinta yang dibangun kakek petani itu untuk istrinya. Lagi pula dengan rahasia tentang istrinya yang sudah kita ketahui, apakah menurutmu ia tidak akan merasa terganggu dengan kehadiranmu?" tanya Jeremy menggoyahkan pendirian Emily.
Emily berpikir, benar apa yang dikatakan oleh Jeremy. Dia tidak mungkin tinggal di sini. Kemarin setelah Jeremy asal mengatakan kalau istrinya sang petani sudah meninggal, mereka berdua memutuskan untuk memeriksanya diam-diam dan ternyata dugaan Jeremy seratus persen benar. Ternyata istri petani itu sudah meninggal dunia, entah berapa lama. Dan sang petani meletakkannya dalam sebuah peti jenazah dengan ukiran yang sangat indah, tutupnya terbuat dari kaca transparan. Sehingga orang bisa melihat jasad istri sekaligus mantan ibu tirinya itu dengan jelas. Entah rempah-rempah apa yang di berikan sang petani padanya, sehingga jasadnya sangat awet dan membuat mayat itu terlihat seperti seorang ratu yang tertidur dengan tenang.
Jika petani itu tahu kalau mereka sudah mengetahui rahasianya, tidak tahu apakah ia masih akan tetap bersikap baik pada mereka atau tidak. Jeremy tersenyum diam-diam melihat reaksi Emily yang nampak mulai ragu dengan keputusannya.
"Lagipula, apakah kamu sudah memikirkan caranya bagaimana menghasilkan uang? Tolong jangan tersinggung, tapi kau tahu bukan, akan sangat sulit mencari pekerjaan dengan kondisi kamu yang tidak bisa berbicara seperti ini. Jika kita berpisah di sini, kamu sama tidak akan mendapatkan apapun dariku karena aku tidak mungkin mengirimkan uang atau sesuatu ke daerah ini tanpa diketahui oleh orang lain." kata Jeremy semakin menggoyahkan niat Emily.
Kini Emily yang merasa frustasi memikirkannya. Benar! Tanpa uang, bagaimana bisa ia bertahan hidup di di bumi ini? Emily bisa saja bekerja sebagai pelayan atau pembantu, tetapi tempat mana yang akan langsung mau menerimanya bekerja Apalagi, tidak semua orang bisa mengerti bahasa isyarat.
******
"Kakek, terima kasih banyak atas bantuannya selama ini. Kami pamit pulang sekarang." kata Jeremy dengan sopan keesokan paginya ketika mereka berpamitan kepada sang petani.
"Bukan masalah besar. Hati-hati dalam perjalanan kalian. Semoga kalian sampai dengan selamat. Tuhan pasti selalu melindungi kalian." kata petani tua itu dengan ramah.
Meskipun hari ini sangat panas, namun karena di hutan banyak pepohonan yang rindang, mereka tidak terlalu kepanasan dalam perjalanan. Ketika mereka sudah agak jauh dari rumah sang petani, Jeremy menghentikan langkah kakinya.
"Apakah kamu lelah?" tanyanya pada Emily yang berjalan di sampingnya.
Emily menggeleng
'Bagaimana dengan kakimu? Apakah sakit jika di pakai berjalan?' isyarat Emily bertanya karena kaki Jeremy belum benar-benar sembuh.
"Aku baik-baik saja. Kalau kamu lelah, kita bisa beristirahat sebentar dan melanjutkan perjalanannya nanti." kata Jeremy.
Emily menatap Jeremy sesaat. Ia tidak tahu ini hanya perasaannya atau tidak tapi ia merasa Jeremy menjadi lebih perhatian. Ataukah pria ini hanya terlalu gengsi mengakui bahwa dia capek, sehingga ia bertanya pada Emily hanya demi mempertahankan harga dirinya? Emily menghela nafas dan menatap ke sekitar hutan yang sangat sepi.
'Baiklah. Kita istirahat sebentar.' isyarat Emily lalu duduk di sekumpulan rumput hijau.
__ADS_1
Jeremy yang melihat Emily beristirahat lalu mengulurkan botol air padanya namun Emily menolak.
'Aku tidak haus.' isyaratnya menggeleng.
Jeremy kemudian menyimpannya kembali. mereka berdua lalu saling terdiam, tiyada yang berbicara. Jeremy mencuri-curi pandang ke arah Emily. Ia masih sibuk memikirkan masa lalu. Dari luka itu, Jeremy sangat yakin kalau Emily adalah Clea. Akan tetapi, ada beberapa hal yang membuatnya menjadi ragu. Misalnya nama Clea Harold yang berubah menjadi Emily Hopkins. Jeremy kemudian memberanikan diri untuk bertanya,
"Bagaimana kamu kehilangan lidahmu?"
Emily memandang Jeremy dengan heran. Mengapa ia ingin tahu tentang ini?
'Aku tidak tahu.' isyarat Emily menjawab dengan jujur, membuat Jeremy terperanjat.
"Bagaimana kamu bisa tidak tahu? Apa kamu tidak ingat bagaimana hal itu bisa terjadi?" tanya Jeremy tidak puas.
Emily mengernyit sesaat lalu melambaikan tangannya.
'Kata kedua orang tuaku, aku sudah begini sejak aku lahir.'
Saat mengisyaratkan ini, sebenarnya Emily sendiri tidak begitu yakin, apakah benar demikian? Mengingat perlakuan orang tuanya, Thomas Hopkins dan Diana, yang tidak pernah baik padanya. Setiap hari, ada saja hal yang menurut mereka salah dan membuat mereka menghukum serta memukul Emily. Gadis itu bahkan pernah berpikir jangan-jangan mereka yang memotong lidahnya, namun ia menepisnya karena menurutnya tidak ada orang tua yang akan tega pada anak kandungnya.
'Itu tidak mungkin!' pikir Jeremy.
"Lalu bagaimana dengan masa kecilmu?" tanya Jeremy lagi.
Kali ini, Emily sungguh merasa Jeremy sangat aneh. Pria ini terlihat seperti sangat ingin tahu tentang dirinya. Caranya bertanya seperti menuntut sebuah jawaban. Emily kemudian berpikir mungkin saja Jeremy merasa bosan dengan perjalanan mereka sehingga ia mencari topik untuk dibicarakan.
Emily menatap Jeremy lagi sejenak, kemudian menunduk lalu menggeleng pelan. 'Aku tidak ingat apapun tentang masa kecilku. Kata para pelayan yang bekerja di rumah orang tuaku, aku pernah mengalami kecelakaan. Mungkin itu sebabnya aku tidak ingat apapun.' isyaratnya dengan wajah sendu.
Jeremy terdiam karena terlalu terkejut. Ia merasa dadanya sedikit sesak. Lalu ia menengadah ke langit yang tidak terlihat jelas karena terhalang oleh rimbunnya dedaunan, berusaha menahan air matanya agar tidak tumpah. Jeremy tidak menyangka jika Emily benar-benar kehilangan ingatannya.
__ADS_1