
'Itu tidak lebih dari kecelakaan yang aku lakukan saat mabuk dan di pengaruhi alkohol. Tapi, bukankah sebagai seorang pria, aku harus bertanggung jawab?'
Saat Jeremy selesai mengatakan hal tersebut, seluruh ruangan menjadi sangat riuh. Della dan Clarissa merasa waktu seakan berhenti berputar. Tapi Della merasa jiwanya terbakar oleh amarah, tangannya mengepal dengan erat. Apa yang baru saja pria bajingan itu katakan? Apa ia ingin mengatakan kepada semua orang kalau Clarissa adalah wanita murahan?
Di sisi lain, Emily juga sama kagetnya seperti yang lainnya. Sedangkan Jeremy sangat menyukai wajah terkejut Emily, hingga tanpa sadar ia tersenyum padanya.
Della berbalik ingin bertanya pada Clarissa, namun ia mendapati wajah keponakannya menjadi pucat pasi dan berkeringat, membuat Della mengkhawatirkan kondisi kesehatannya.
"Clarissa, apa kau baik-baik saja? Ayo, kita pergi dari sini dan berisitirahat di kamarmu." ajak Della. Inilah sebabnya, Della tidak ingin Clarissa hadir di pesta ini, karena ia tahu, Clarissa pasti akan mendapat tekanan di sini. Siapa sangka, yang memberi tekanan paling berat bagi Clarissa adalah suaminya sendiri. Apa pria itu tidak memikirkan kondisi Clarissa yang sedang hamil tua? Sayangnya, Clarissa menggelengkan kepalanya.
"Tidak, sebagai seorang Ibu Negara, aku harus tetap di sini untuk menghormati para tamu undangan." kata Clarissa lirih. Della menatapnya dengan tidak percaya.
"Menghormati tamu undangan? Hah,, Clarissa, apa kau...."
Clarissa menggenggam tangan Della dengan lembut sambil tersenyum. Ini membuat Della ikut merasa sakit di hatinya, jelas Clarissa mencoba terlihat tegar di hadapannya.
"Aku baik-baik saja. Jangan khawatir." ucap Clarissa, sementara Della hanya terdiam menatapnya. Clarissa kembali berusaha meyakinkannya.
"Sungguh, aku baik-baik saja. Jadi jangan khawatir. Aku..."
Apanya yang baik-baik saja, kedua matanya mulai berlinang air mata. Della tidak tahan lagi. Ia melepaskan genggaman tangan Clarissa dan melangkah mendekati Jeremy dan Emily yang masih berdiri di tempatnya. Jeremy menaikkan satu alisnya.
"Aku ingin bicara denganmu sebentar." kata Della setengah berbisik tanpa embel-embel 'Presiden'. Menurutnya, Jeremy tidak pantas dihormati. Sedangkan Jeremy yang sedang dalam suasana hati yang baik, segera menyetujui tanpa banyak bertanya.
"Baiklah." Jeremy lalu berbalik menatap Emily.
"Aku akan pergi sebentar, bersikap baiklah. Dan kau tidak diijinkan untuk mendekati pria manapun, ingat kata-kataku dengan baik." kata Jeremy memperingati sambil mengusap telinga Emily dengan jarinya. Emily hanya bisa menahan dirinya dengan kesal.
__ADS_1
Jeremy kemudian pergi diikuti Della di belakangnya. Emily diam-diam menoleh untuk melihat Clarissa yang tampak begitu tenang di tempat duduknya dengan gaun merahnya. Kebetulan Clarissa juga tengah melihat ke arahnya, dengan kesedihan yang nampak di wajahnya, membuat Emily semakin merasa bersalah. Emily memutuskan untuk mendekatinya dan sedikit terkejut karena Clarissa tersenyum dan tidak menolak kehadirannya. Dengan temperamen Clarissa yang pemarah, entah kenapa senyuman itu membuat Emily merasa tidak nyaman, seolah ada sesuatu yang salah.
'Clarisa.' Emily mencoba memulai pembicaraan.
"Ya? Apa kau ingin mengatakan sesuatu padaku? Katakan saja, aku akan mendengarkan." kata Clarissa dengan tenang. Ketenangannya sungguh mengusik hati Emily, ada yang aneh.
'Aku hanya ingin mengatakan padamu, bahwa kau tidak perlu khawatir tentang hubunganku dengan Jeremy. Aku sungguh tidak memiliki perasaan seperti itu padanya. Cepat atau lambat, aku pasti akan menemukan cara untuk pergi dari tempat ini. Dan saat itu terjadi, aku janji, aku tidak akan kembali dan mengganggu hubungan kalian.' isyarat Emily tulus mencoba menghibur Clarissa. Melihatnya, Clarissa semakin tersenyum.
"Aku tidak ingin mendengar kalimat itu lagi darimu, Emily." katanya.
'Apa?' Emily terdiam, Clarissa tak percaya padanya. Sementara Clarissa membuang pandangannya ke arah orang-orang yang tengah menatap mereka berdua.
"Dulu, kau juga mengatakan hal yang sama, Emily. Kala itu, kau juga memintaku untuk tidak khawatir. Kau tidak mencintainya dan kau akan pergi dari hidupnya. Saat kau benar-benar pergi, aku pikir aku sudah memilikinya. Tapi, aku salah. Di matanya dan hatinya cuma ada dirimu." Clarissa menjeda perkataannya dan kembali menatap Emily.
"Jadi, kau tidak perlu menghiburku dengan kata-kata itu lagi. Karena aku sadar, meskipun kau pergi, dia akan tetap mencarimu dan membawamu lagi ke sisinya. Sebab di hatinya hanya ada kamu." lanjut Clarissa. Emily terkejut mendengarnya, apa Clarissa menyerah? Tapi...
"Ingin membunuhmu?" potong Clarissa cepat. Emily mengangguk.
"Yah,, awalnya dia tidak menyukaimu. Tapi, setelah kalian membuat perjanjian bodoh itu, dia tiba-tiba jatuh cinta padamu dan mengabaikanku begitu saja. Aku sempat berpikir, mungkin satu-satunya cara agar dia kembali menatapku adalah menyingkirkanmu dari dunia ini selamanya, supaya dia tidak mencarimu lagi atau membawamu lagi ke sisinya. Emily, mengapa kau tidak lenyap saja?" tanya Clarissa dengan senyumannya. Emily seketika melebarkan matanya, tersentak kaget.
'Kalau aku lenyap dan dia tidak melakukan apapun pada orang-orang yang kukasihi, aku bersedia.' isyarat Emily tegas. Clarissa tertawa pahit.
"Kau benar.." Meskipun tidak menyukainya, tapi Clarissa mengakui kata-kata Emily itu benar. Jika Emily tiada, bukan tidak mungkin Jeremy akan melenyapkan orang-orang terdekatnya. Seperti yang terjadi pada keluarga Hopkins. Bahkan, bisa saja Clarissa juga akan terkena imbasnya.
Sementara itu, semu orang mulai bergosip sambil memperhatikan keduanya yang tengah mengobrol.
'Kira-kira, apa yang mereka bicarakan?'
__ADS_1
'Mana kutahu, mungkin persaingan untuk memenangkan hati Presiden.'
'Tetapi, dari kata-kata dan sikap Presiden tadi, jelas wanita bisu itu yang paling disukai.'
'Ssstt, pelankan suaramu. Dia orang spesial bagi Presiden.'
'Kira-kira, apa yang akan dilakukan Ibu Negara? Dia dipermalukan di depan umum.'
Tante Agnes merasa muak mendengar bisikan-bisikan itu.
"Ayo cari kesempatan untuk mendekati Emily." bisiknya memberi perintah pada Steven dan Fernando yang segera mengangguk mengerti.
*****
Di tempat lain, Jeremy membawa Della ke ruangan yang jauh dari kerumunan.
"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Jeremy.
"Aku yang seharusnya bertanya, apa yang kau lakukan?" tanya Della dengan kebencian di matanya. Jeremy tersenyum tipis sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Apa ini tentang pernyataanku tadi? Kenapa? Apa kau memiliki masalah dengan itu?" tanya Jeremy dengan nada mengejek.
"Haruskah kau mempermalukan keponakanku seperti itu? Tidakkah kau memikirkan perasaan Clarissa ketika mengatakan itu?" cecar Della. Jeremy tersenyum sinis.
"Aku masih berbaik hati dengan mengatakan kalau itu adalah kecelakaan, dan membuat diriku terlihat sebagai seorang bajingan di depan semua orang. Bukankah itu terdengar seperti aku memperk*sanya di bawaha pengaruh alkohol?" kata-kata Jeremy membuat Della terdiam.
"Kalau kau tidak memiliki pertanyaan lain, aku akan pergi." kata Jeremy lalu berjalan meninggalkan Della yang tidak mengatakan apa-apa lagi.
__ADS_1
Jeremy berjalan melewati lorong, ia akan kembali ke Aula Istana saat melihat Clarissa berjalan seorang diri menaiki anak tangga menuju Halaman Istana Berlian.