
Jeremy masih setia berdiri di sana menonton Emily. Selama menikah, ia belum pernah melihat Emily menari. Ia bertanya-tanya, pada malam resepsi pernikahan mereka, istrinya itu berdansa atau tidak. Dan selama ini jika ada pesta, hanya Emily yang pergi sendiri. Apakah di sana Emily menerima ajakan dari pria lain untuk berdansa? Memikirkannya membuat hati Jeremy merasa kesal dan hatinya dipenuhi oleh rasa cemburu. Ia lalu menggertakkan giginya.
Begitu Emily menyelesaikan tariannya, ia segera berjalan maju menemuinya, membuat Emily terkejut.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Jeremy.
Emily menatapnya dengan enggan. Sebenarnya dia juga ingin bertanya apa yang dilakukan Jeremy di tempat ini. Apakah pria ini melihatnya menari sebelumnya? Melihat tatapan Emily, Jeremy seolah mengerti.
"Ya, tarianmu cukup bagus." katanya sambil tersenyum.
Emily mengerutkan keningnya. Apa Jeremy baru saja tersenyum padanya?
"Mengapa kau menari sendirian di sini? Apa kau sering melakukannya?"
Emily berusaha bersikap tenang.
'Aku biasa melakukannya di saat merasa bosan.' isyaratnya.
"Lalu mengapa kamu menari seorang diri?" tanya Jeremy lagi.
'Memangnya dengan siapa aku harus menari?' tanya Emily lewat isyaratnya.
"Kau bisa menari denganku." sahut Jeremy.
Emily tertegun. Otaknya terasa rusak sesaat. Jeremy ingin berdansa dengannya? Emily memang mulai merasa kalau sikap Jeremy berubah, lebih tepatnya Jeremy nampak seperti tertarik padanya sejak mereka kembali dari rumah petani tua itu. Namun Emily berusaha menekan perasaannya.
__ADS_1
'Bukankah kau sendiri yang bilang kalau satu-satunya yang pantas denganmu hanyalah Clarissa? Itu termasuk berdansa bukan? Lagipula, aku yakin jika dia melihatnya, dia pasti tidak akan senang.' isyarat Emily dengan sikap setenang yang ia bisa, meskipun hatinya sedikit bergejolak.
Melihat apa yang Emily katakan, Jeremy merasa sesak di dadanya.
"Apa kau percaya kalau aku benar-benar mencintainya?" tanya Jeremy.
Emily mengedipkan matanya dan menghembuskan nafasnya pelan.
'Apakah kamu mencintainya atau tidak, itu bukanlah urusanku. Yang jelas, wanita yang kau pilih adalah Clarissa, dan dengan perjanjian itu, cepat atau lambat, kita akan tetap berpisah.' isyarat Emily.
Jeremy merasa hatinya tersengat listrik. Ingin sekali ia menarik istrinya itu ke dalam pelukannya dan mengatakan yang sebenarnya. Namun, ia tahu, jika ia mengatakan yang sebenarnya, bukannya memilih bersamanya, Emily justru akan semakin membencinya.
"Emily.."
'Jika tidak ada lagi yang mau di bicarakan, aku permisi dulu. Bibi Liana mungkin sedang mencariku.' isyarat Emily memotong perkataan Jeremy.
Jeremy sadar, sikap Emily semuanya karena kesalahannya, baik di masa sekarang maupun di masa lalu. Di masa lalu dia telah membuat gadis ini kehilangan lidahnya dan di masa sekarang, hanya karena istrinya bisu, ia mencoba menyingkirkannya dan membawa Clarissa dalam kehidupan pernikahan mereka. Jika saja dia tahu kalau Emily adalah Clea, dia tidak mungkin melakukan hal bodoh seperti itu, dan mungkin saat ini Emily tidak akan menatapnya sebagai pria asing. Seandainya ia tidak memiliki keinginan untuk menggantikan posisi istrinya dengan wanita lain. Jika saja ia menerima istrinya sejak awal, mungkin mereka sekarang akan menjadi keluarga yang bahagia. Jeremy menelan ludahnya sendiri memikirkan banyak kata 'seandainya dan jika saja' dalam kepalanya. Ia memejamkan matanya sebentar lalu kembali menatap Emily.
"Kalau begitu, kita pergi bersama." ujarnya tak ingin di bantah.
Emily tidak bisa menolaknya. Ia pun pergi bersama Jeremy tanpa sadar kalau Gerald sedang memperhatikan mereka sejak tadi. Dia sejak tadi melihat Emily menari dan juga interaksinya dengan Jeremy. Dari situ ia paham kalau hubungan kedua orang itu tidak baik-baik saja. Dari bahasa isyarat yang dilakukan Emily, ia tahu wanita itu menolak menari dengan Jeremy. Namun, meskipun dari kejauhan, ia bisa melihat kalau tatapan mata Jeremy kepada Emily penuh dengan kasih dan kelembutan. Sebagai seorang suami, Jeremy terlihat seperti sangat menyayangi istrinya. Itu artinya, ia tidak memiliki kesempatan untuk memiliki Emily, bukan? Gerald lalu mengacak-acak rambutnya dengan frustasi. Selama ini, ia belum pernah tertarik ataupun jatuh cinta pada seorang wanita. Tapi saat ini ketika ia merasakannya, mengapa wanita itu harus sudah menjadi milik orang lain? Dia tidak mungkin menjadi orang ketiga dan merebut istri orang lain bukan?
*****
Di kamarnya, Emily terdiam sambil menatap keluar jendela. Ia merenung memikirkan sikap Jeremy yang berubah dan kemungkinan suaminya, yang tak lama lagi akan menjadi mantan suaminya itu, mulai menyukainya. Emily tidak mengerti mengapa Jeremy tiba-tiba tertarik padanya. Bisakah kebencian seseorang dihapus dalam waktu singkat? Tidak, ini sedikit tidak masuk akal. Dia tidak melakukan hal yang luar biasa seperti menyelamatkan Jeremy dari kematian, jadi mengapa Jeremy tiba-tiba saja dalam sekejap langsung berubah? Atau, ada sesuatu yang pria itu rencanakan? Emily menggelengkan kepalanya berulang kali. Ia mencoba untuk tidak terlalu memikirkannya.
__ADS_1
"Nona Muda.." panggil Bibi Liana yang tiba-tiba saja sudah ada di samping Emily, membuatnya terlonjak kaget. Ia mengelus dadanya.
"Maafkan bibi, Nona. Tapi dari tadi bibi sudah mengetuk pintu, namun Nona sepertinya tidak mendengar.Jadi bibi memutuskan untuk masuk, karena takut terjadi sesuatu pada Nona." kata Bibi Liana meminta maaf, ia menyesal telah membuat majikannya terkejut.
'Tidak apa-apa, Bibi.' isyarat Emily maklum.
"Ada apa, Nona? Tadi bibi melihat Nona terus menggelengkan kepala. Apakah Nona merasa pusing?" tanya Bibi Liana dengan nada khawatir.
Emily tersenyum dan menggeleng.
'Tidak, Bibi. Aku tidak apa-apa. Tadi aku hanya sedikit memikirkan masa lalu.' isyaratnya.
'Ada apa Bibi mencariku?' tanya Emily.
"Itu, Nona. Ada Nona Kembar bersama Tuan Steven dan Tuan Fernando serta Tante Agnes di depan. Katanya mereka datang untuk menjenguk Nona." kata Bibi Liana memberitahu.
'Baiklah, Bibi. Aku akan keluar sebentar lagi.'
Bibi Liana kemudian menunggu Emily merapikan pakaiannya. Emily menatap wajahnya sebentar di cermin meja riasnya, dan menghembuskan nafas perlahan. Ia benci harus berpura-pura sakit seperti ini namun ia tak memiliki pilihan lain. Bibi Liana kemudian membantu Emily berjalan keluar, layaknya orang sakit yang harus di bantu.
"Kakak Emily!" seru Indriana dan Adriana dengan semangat sambil berlari membantu Emily.
"Bibi, biar kami yang membantu kak Emily." kata Indriana pada Bibi Liana.
"Baiklah, Nona. Bibi akan membawakan teh dan camilan." kata Bibi Liana lalu berbalik ke dapur.
__ADS_1
Emily merasa bersalah karena harus membohongi semua orang. Mereka pikir ia benar-benar sakit sehingga untuk berjalan pun harus dibantu. Tante Agnes memeluk Emily dengan erat begitu Emily duduk.