
Selesai mengatakan semuanya, Emily membalikkan badannya.
"Jadi begitu? Apa di matamu aku sangat kotor?" tanya Jeremy tiba-tiba.
Emily menoleh dan melihat Jeremy menatapnya dengan amarah di wajahnya.
"Di matamu aku sangat kotor, bukan? Lalu, apa yang harus aku lakukan untuk membersihkan diriku? Katakan padaku, Emily. Apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku membunuhnya?" tanya Jeremy bertubi-tubi. Emily membelalakkan matanya. Apa?
"Haruskah aku membunuhnya?" ulang Jeremy bertanya.
'Apa maksudmu?' isyarat Emily tak mengerti.
Jeremy mengusap rambut bagian belakang putranya, sambil menatap Emily dengan tatapan tajam.
"Kau tidak menyukainya, bukan? Jadi, haruskah aku membunuhnya?"
Tubuh Jordan menjadi kaku, pelukannya pada ayahnya menjadi erat. Ia terkejut mendengar perkataan ayahnya barusan. Apakah ayahnya akan membunuhnya hanya karena wanita ini tidak menyukainya?
Emily lebih terkejut lagi dari pada Jordan. Ia mengepalkan tangannya dengan kuat. Apa pria ini serius dengan apa yang ia katakan?
"Emily, mengapa kau hanya diam saja? Jawab aku, haruskah aku membunuhnya karena kau tidak menyukainya?" Jeremy terus mengulang-ulang pertanyaannya.Ia lalu mendekat ke arah Emily dan menyodorkan Jordan padanya. Emily berjalan mundur dan Jeremy terus mengikutinya hingga punggungnya terbentur tembok. Jeremy tersenyum miring.
"Nasibnya ada di tanganmu. Apa kau akan membiarkannya dibunuh olehku?"
Emily merasa bingung tentang keputusan apa yang harus diambilnya. Sebelumnya ia melihat Jeremy melakukan anaknya dengan penuh kasih sayang, tapi sekarang ia mengancamnya akan mengambil nyawa anak itu. Emily tidak ingin mengambil anak itu dari ibunya, tetapi ia juga takut pada kemungkinan Jeremy akan bertindak tidak waras. Akhirnya ia memutuskan untuk mengambil Jordan dari tangan Jeremy dan membawanya ke pelukannya. Tubuh anak itu gemetar ketakutan, membuat Emily merasa bersalah karena anak itu harus mengalami situasi seperti itu.
__ADS_1
"Keputusan yang sangat bagus, Emily. Kau hampir saja membuat seorang ayah menjadi penjahat." kata Jeremy sambil tersenyum puas.
Emily memilih mengabaikan kata-kata pria itu. Jeremy sendiri merasa sakit melihat putranya ketakutan, ia tadi tidak benar-benar serius dengan ucapannya dan hanya ingin menggertak Emily saja. Ia harus membuat putranya dekat dengan Emily.
"Kau tahu, Emily. Hari ini aku sangat bahagia." ucapnya. Lagi-lagi Emily mengacuhkannya tapi Jeremy tak peduli.
"Baiklah, aku akan pergi jadi kau bisa beristirahat. Dan kau Jordan, bersikap baiklah." pesan Jeremy sebelum melangkah keluar setelah melihat putranya mengangguk.
Haaahh.. Setelah Jeremy pergi, Emily segera duduk di pinggiran tempat tidurnya sambil membuang nafas lega. Ia menatap anak laki-laki yang sekarang sedang duduk di pangkuannya. Anak itu terus menunduk ketakutan. Meskipun ia masih sangat kecil, tetapi ia sangat mengerti apa yang ayahnya katakan. Membunuhnya... Emily menyesal, ia tak menyangka Jeremy akan mengatakan hal gila seperti itu. Seandainya saja ia tadi langsung menerima Jordan, anak itu pasti tidak akan ketakutan seperti ini.
Emily kembali menarik dan membuang nafasnya. Lalu menangkup kedua pipi Jordan untuk menatap ke arahnya. Ia ingin meminta maaf tapi sadar kalau anak itu tidak paham bahasa isyarat. Akhirnya ia pun meminta pertolongan Ferry yang sejak tadi berdiri diam di tempat menyaksikan semuanya.
"Ibuku bilang, ia minta maaf karena sudah membuatmu takut. Jadi, jangan takut lagi." kata Ferry menerjemahkan.
"Ibuku juga bilang, ayahmu tidak benar-benar ingin membunuhmu. Ayahmu hanya bercanda dengan kata-katanya, jadi jangan menganggapnya serius." lanjut Ferry.
Emily menggerakkan tangannya meminta Jordan untuk jangan menangis, namun yang ada air mata anak itu justru mengalir deras.
"Kata ayahku, hiks...dia hiks...akan membunuhku hiks...jika kau tidak menyukaiku hiks...hiks..." ujarnya terisak.
Emily merasa hatinya sakit mendengarnya. Ia menggeleng dan mengusap wajah anak itu sembari tersenyum lembut.
"Ibuku bilang, ayahmu tidak akan melakukannya. Ayahmu hanya berbohong. Lagi pula, sejak awal ibuku sudah menyukaimu." kata Ferry menerjemahkan isyarat Emily.
"Benarkah? Kau menyukaiku jadi ayahku tidak akan membunuhku?" tanya Jordan dengan senang saat mendengarnya. Ia mulai berhenti menangis. Emily mengangguk dengan cepat.
__ADS_1
"Tentu saja. Siapa yang tidak akan menyukai anak selucu dirimu?" ujar Ferry sebagai penerjemah.
"Aku juga menyukaimu." tambahnya.
*****
Di saat yang bersamaan, di sebuah hutan, seorang pria paruh baya pergi bersama putranya untuk mencari sarang lebah. Ini sudah siang hari tetapi pria itu sepertinya masih bersemangat sedangkan putranya sudah lelah. Ia menatap ayahnya dengan tidak bahagia. Ayahnya adalah satu-satunya seorang penjual madu asli di desanya, dan ingin ia meneruskan usaha ayahnya. Tetapi sebenarnya ia tidak ingin melakukannya. Ia benci harus repot-repot mencari sarang lebah di hutan, belum lagi susahnya menurunkan sarang lebah yang biasanya berada di tempat yang sangat tinggi. Anak itu dengan kesal menendang bebatuan kecil yang ada di depannya. Batu itu terlempar ke arah sungai di samping mereka, dan membuatnya berteriak karena sangat terkejut dan ketakutan.
"AAAAAAAAH!!!"
Batu yang di tendangnya tadi tak sengaja mengenai tubuh seseorang yang tersangkut di bebatuan sungai. Entah sudah mati atau masih hidup. Mereka bergegas menghampirinya untuk memeriksa.
"Dia masih hidup!" seru pria paruh baya itu.
"Apa kau bisa berlari pulang dengan cepat dan memanggil orang-orang untuk datang kemari? Ayah tidak bisa membawanya sendirian." kata pria itu pada putranya.
"Aku bisa, Ayah." jawab anak itu yakin. Ia pun segera berlari dengan cepat ke desanya, dan tak lama kemudian kembali bersama dengan sejumlah warga dan aparat keamanan. Mereka bersama-sama mengangkat tubuh orang yang terluka itu. Rupanya orang itu adalah Alvin, si pria pengantar bunga. Saat melawan Reno sang ajudan presiden, Alvin sadar ia tidak bisa menang, karena itu ia bergegas melarikan diri menuju sungai dan melompat ke dalamnya hingga terbawa arus.
Reno pikir dengan kondisinya, Alvin tidak mungkin selamat. Siapa sangka, Tuhan masih melindunginya. Kini, Alvin terbaring kritis di brangkas puskesmas desa. Beberapa peluru yang bersarang di tubuhnya telah di keluarkan. Keluarganya tidak memiliki cukup uang untuk membawanya ke rumah sakit di kota. Mereka hanya berharap pada mukjizat Yang Maha Kuasa untuk kesembuhan Alvin, agar ia bisa menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.
"Nasib malang apa yang telah menimpanya? Luka-lukanya terlihat mengerikan. Apakah ia bisa selamat?" tanya pria yang tadi menemukan Alvin pada dokter yang mengobatinya.
"Aku tidak tahu." jawab dokter itu.
"Bagaimana kau tidak tahu. Kau kan seorang dokter."
__ADS_1
"Aku dokter, bukan Tuhan. Aku hanya melakukan apa yang aku bisa, selanjutnya kembali kepada kehendak Tuhan."