Emily, Sang Gadis Bisu

Emily, Sang Gadis Bisu
Ditampar Emily


__ADS_3

Dokter Darren menghela nafas panjang melihat Emily. Ia sama sekali tidak menyangka akan bertemu dengan wanita ini lagi. Ia ingin bertanya apa yang sebenarnya terjadi, namun belum sempat ia bicara, Jeremy datang dengan terburu-buru. Saat melihat kedatangan Jeremy, Della memutuskan untuk pergi. Tetapi Jeremy segera menahannya, lalu menamparnya dengan kuat hingga ia tersungkur. Darah kembali mengalir dari sudut bibir Della, namun dengan tenang ia mengusapnya dengan ibu jarinya. Jeremy menarik lengannya untuk berdiri dan menatapnya dengan tatapan marah.


"Mengapa kau tidak menghentikanku?!" tanyanya.


"Jelas-jelas kau ada di sana dan melihat semuanya! Tapi mengapa kau tidak menghentikanku?? Apa kau adalah jenis orang yang suka menonton orang lain berhubungan di tempat tidur?!" lanjut Jeremy marah. Menurutnya, jika Della menghentikannya, ia tidak mungkin membuat anak yang berharga bagi Emily menjadi terluka. Ia tak ingin Emily menatapnya seperti di masa lalu, ia tak ingin di tatap sebagai seorang pembunuh. Della terkekeh mengejeknya.


"Heh.. Jadi Bapak Presiden yang terhormat sebenarnya seperti ini?? Setelah melakukan kesalahan, Bapak menyalahkanku sebagai alasan untuk membenarkan diri sendiri. Bapak Presiden yang Terhormat, apa menurut Bapak, aku adalah wanita yang sangat bodoh yanag dengan mudah memasuki jebakan yang di buat oleh Bapak??" tanya Della membuat Jeremy mengerutkan alisnya.


"Aku tidaklah sedungu itu, Bapak Presiden. Jika aku mencoba menolong wanita ini dan mencegah Bapak melakukan pelecehan padanya, sudah tentu Bapak akan menggunakan itu sebagai alasan untuk menuduhku sebagai seorang pengkhianat karena melawan kehendak Bapak, lalu menjebloskanku ke dalam penjara. Lagi pula, mengapa aku harus ikut campur? Itu urusan Bapak dan MANTAN ISTRI Bapak! Terserah Bapak mau melakukan apa saja padanya!!" kata Della panjang lebar.


Jeremy benar-benar tidak bisa menahan dirinya lagi, ia kembali menampar Della berulang kali. Dokter Darren segera menghentikannya sebelum situasinya bertambah parah.


"Bapak Presiden, tolong berhenti. Nona Emily ada di sini!" ujar Dokter Darren. Ia tetap memanggil Emily dengan sebutan saat di Mansion dulu. Mendengarnya, tangan Jeremy yang terangkat menjadi terhenti, lalu turun dengan perlahan. Ia berbalik dan melihat Emily terus menatapnya dengan penuh kebencian di matanya, membuatnya diselimuti oleh perasaan bersalah. Hatinya terluka melihat pandangan itu, dengan hati-hati ia memanggilnya.


"Emily..."


Jeremy ingin mengatakan ia tidak sengaja melakukannya. Ia ingin memberitahu bahwa ia sama sekali tak berniat melecehkannya, ataupun melukai Ferry. Ia ingin memohon pada Emily untuk tidak membencinya. Tetapi Emily sama sekali tidak memberinya kesempatan untuk mengatakan semuanya, karena begitu Jeremy selesai memanggil namanya, Emily bergegas bangun dari duduknya dan menampar Jeremy dengan sangat keras. Jeremy merasa telinganya berdengung dan hatinya hancur berkeping-keping. Selama ini, meskipun Emily tidak menyukainya, tidak sekalipun ia menamparnya tapi kali ini ia melakukannya. Jeremy sangat terkejut hingga hampir kehilangan jiwanya. Apa yang harus ia lakukan? Emily benar-benar membencinya saat ini.

__ADS_1


Semua yang ada di tempat itu juga sangat terkejut melihat kejadian barusan. Menampar seorang Presiden? Astaga! Entah hukuman apa yang akan diterimanya! Tempat itu seketika menjadi sunyi senyap untuk beberapa saat. Emily melambaikan tangannya untuk bertanya.


'Mengapa kau melakukan ini? Memaksaku ke sini, mengurungku, lalu melukai putraku! Harus berapa kali aku memberitahumu, aku tidak mencintaimu dan tidak ingin bersama denganmu! Mengapa kau tidak mau mengerti??'


Jeremy mengepalkan kedua tangannya, sesaat perkataan Della tadi melintas di ingatannya.


"Dia mencintai pria lain."


Mengingat ini, Jeremy tersenyum pahit. Amarahnya kembali muncul.


"JIKA KAU BERANI MELANGKAHKAN KAKIMU MELEWATI PINTU, AKU AKAN MEMBUNUHNYA!!"


Tubuh Emily seketika membeku, ia menatap Jeremy dengan tidak percaya.


"Aku benar-benar akan membunuhnya jika kau berani keluar dari ruangan ini!" ulang Jeremy. Emily menghentakkan kakinya.


'Mengala kau melakukan semua ini? Dia tidak ada hubungannya dengan kita. Lepaskan di dan biarkan dia pergi!' isyaratnya memohon.

__ADS_1


"Lalu membiarkanmu pergi begitu saja?" Jeremy balik bertanya. Ia sungguh merasa bersalah, kecelakaan itu benar-benar tidak di sengaja. Namun, jika ia mengatakan kalau ia tak berniat melukai Ferry, sepertinya Emily tidak akan mempercayainya. Saat Emily menamparnya dengan penuh kebencian, Jeremy sadar ia tidak akan pernah benar di mata Emily. Dia akan selalu di salahkan, jadi untuk apa repot-repot menjelaskan?


"Aku peringatkan padamu, mulai saat ini, nyawa anak itu ada dalam genggamanku. Kau harus mendengarkan semua perkataanku, dan jika tidak, aku akan membunuhnya. Jadi, berpikirlah sebelum melakukan sesuatu, Emily!!" kata Jeremy lagi sebelum akhirnya keluar dan mengunci pintu dari luar, lalu memerintahkan empat pengawal untuk berjaga di depan kamar.


Sementara Emily terdiam di tempatnya, i tidak ingin berada di tempat ini, tetapi ia juga tidak ingin Ferry terluka. Sekarang, apa yang harus ia lakukan? Pada siapa ia harus meminta tolong?


*****


Della menatap dari jauh pintu kamar yang di jag oleh empat orang pengawal. Ia yakin, pasti ada beberapa orang lagi yang di tugaskan untuk diam-diam mengawasi Emily dari tempat yang tidak terlihat. Ia pun memutuskan untuk melangkah menuju kamar keponakannya dan mendengar suara tidak puas Clarissa dari balik pintu.


"Mengapa kau tidak datang dengan ayahmu? Apa kau tidak memberitahunya bahwa aku sakit? Bagaimana jika terjadi sesuatu pada adikmu?" tanya Clarissa dengan suara melengking pada Jordan.


Anak kecil itu hanya bisa menundukkan kepalanya. Ia tidak tahu harus menjawab apa, setiap kali menemui Ibunya, ia selalu saja mendapat penolakan. Dan tatapan tajam yang diberikan Clarissa, membuatnya takut hingga tak berani berbicara. Clarissa meraih kedua bahu Jordan dan mencengkeramnya dengan kuat.


"Mengapa kau sangat tidak bisa di andalkan?" tanyanya frustasi.


Ia melahirkan anak laki-laki ini agar Jeremy bisa menerima dan mencintai dirinya. Namun, saat ia melahirkan, Jeremy tidak menatapnya sama sekali, padahal saat itu ia terbaring dengan sangat lemah di tempat tidur, antara hidup dan mati. Jeremy hanya mau melihat putranya saja. Ini membuat Clarissa menjadi tidak senang dan dengan semua perhatian yang diberikan Jeremy pada putranya, membuat Clarissa cemburu dan perlahan tidak menyukai anaknya sendiri. Seharusnya Jeremy bisa memberi perhatian itu padanya meskipun sedikit. Mengapa anak ini yang mendapatkan semuanya? Perhatian dan kasih sayang Jeremy, tidak bisakah pria itu berikan pada orang yang berjuang untuk memberinya seorang putra? Sedikit saja?

__ADS_1


__ADS_2