
Marah. Hanya itu yang Jeremy rasakan sekarang. Ia tidak terima Emily pergi meninggalkannya begitu saja. Ia harus membawa Emily kembali ke pelukannya lagi. Bergegas ia keluar dari rumah Emiky dan menaiki mobilnya, dan menyetir sendiri ingin mengejar Emily. Jeremy tak peduli dengan teriakan orang-orang ataupun keselamatannya, ia mengendarai mobil dengan laju kencang. Reno, sang ajudan, yang melihatnya, tidak membiarkannya begitu saja. Cepat-cepat ia mengendarai mobil yang lain dan mengikuti Jeremy, setelah berseru pada para pengawal agar menyusul mereka.
*****
Sementara itu, Emily, Alvin dan Ferry serta peliharaan mereka, Blacky, saat ini sedang berada di sisi sebuah sungai. Mereka telah melewati Desa Satar, desa yang bertetangga dengan desa tempat mereka tinggal. Dan kini mereka harus melewati jalan yang membelah hutan untuk sampai di desa berikutnya. Pulau itu hanya memiliki empat desa, dan desa W yang saat ini di kunjungi Jeremy adalah satu-satunya akses untuk masuk ke pulau itu karena hanya di desa W yang mempunyai pelabuhan. Desa W juga merupakan desa yang paling besar serta paling banyak warganya di bandingkan dengan tiga desa lainnya.
Rencananya, Emily ingin pergi bersembunyi sementara di desa Dangin, desa yang berada di paling ujung timur pulau ini. Menghindari pertemuan dengan Jeremy sampai pria itu kembali ke kota. Tetapi, beberapa jam lalu saat mereka melewati jalanan di tengah hutan itu, Emily merasa deja vu. Ia merasa pernah melewati jalan seperti ini sebelumnya tapi entah kapan, dan itu membuat kepalanya menjadi pusing dan berputar. Jadi ia meminta Alvin untuk menghentikan laju motornya. Lagi pula, anak muda itu terus mengendarai motornya sejak mereka dari rumah Emily, dan ini sudah hampir pukul lima pagi. Emily tahu sudah jam berapa karena melihat telepon genggamnya. Beruntung di desa Satar tadi mereka menemukan penjual bensin yang masih buka di tengah malam, sehingga mereka tidak perlu khawatir akan kehabisan bahan bakar saat melewati hutan.
Emily meminta mereka untuk beristirahat sejenak, karena ia juga ingin meredakan sakit kepala yang tiba-tiba menyerang. Ferry dan Blacky yang tertidur sepanjang perjalanan, segera terbangun ketika merasakan Emily turun dari motor. Alvin memandang ke sekeliling. Ia pernah melewati hutan ini, karena dulu sebelum menjadi pengantar tetap di toko bunga milik Emily, ia sering mengantar ke pelanggan di desa yang berada tepat di seberang hutan ini.
"Kita tidak mungkin beristirahat di tepi jalan ini. Ayo, kita masuk ke dalam sana." kata Alvin sambil menunjuk ke dalam hutan.
Alvin kemudian mendorong motornya melewati sebuah jalan kecil yang tertutup rumput dan dedaunan, sedangkan Emily dan Ferry hanya mengikuti dari belakang sembari menuntun Blacky yang terus menggoyang-goyangkan ekornya. Emily kembali merasakan pusing dan rasa sakit di kepalanya, saat sekelebat bayangan tentang jalanan dan hutan rindang muncul di pikirannya.
'Tempat apa itu? Jalanannya seperti di sini, tetapi pepohonannya berbeda. Bayangan tadi juga berbeda dengan hutan yang kulewati bersama Jeremy ketika pulang dari rumah kakek petani itu. Jadi, itu di mana? Mengapa bisa muncul dalam ingatanku dan membuat kepalaku menjadi sakit?' pikir Emily dengan heran.
__ADS_1
"Kita akan beristirahat di sini." kata Alvin saat mereka tiba di tepi sungai. Di tepian sungai itu terhampar rumput hijau yang segar, menyejukkan mata yang melihatnya.
"Emily, kau tidak apa-apa?" tanya Alvin ketika melihat Emily memegang kepalanya.
'Aku tidak apa-apa. Mungkin karena tidak tidur saja.' isyarat Emily.
Alvin memandang ke sekeliling. Lalu berjalan ke sebuah pohon dan memetik daun-daunnya yang cukup lebar. Ia lalu meletakkan dedaunan itu di atas rumput.
"Kita pakai ini saja sebagai alas." ucapnya.
"Aku tidak apa-apa, Ibu. Aku anak yang kuat." kata Ferry menghibur Emily ketika ia meminta maaf.
"Aku juga tidak masalah. Jangan khawatir, lebih baik kita beristirahat sekarang karena perjalanan kita masih jauh." kata Alvin.
Mereka bertiga pun berbaring di atas dedaunan yang diletakkan Alvin dan menutupi tubuh mereka dengan pakaian yang di bawa Emily dan Ferry. Untungnya mereka masih sempat memakai jaket tebal sebelum berangkat tadi, sehingga mereka tidak terlalu kedinginan. Ketiganya segera tertidur karena merasa lelah dengan perjalanan mereka. Blacky pun ikut tertidur di samping Ferry.
__ADS_1
Emily yang terbangun pertama kali. Bagaimanapun, ia sudah terbiasa bangun pagi. Meskipun hanya tidur sedikit, sulit baginya untuk tertidur melewati pukul tujuh pagi. Alvin ikut terbangun ketika mendengar bunyi gemericik air. Ia melihat Emily sedang sibuk di dalam air sungai yang tingginya hanya mencapai lutut orang dewasa.
"Emily, apa yang kau lakukan?" tanya Alvin.
'Oh.. Kau sudah bangun?' tanya Emily yang diangguki oleh Alvin.
"Kau sedang apa?" Alvin kembali bertanya.
'Aku sedang mencoba menangkap ikan.' kata Emily.
Tadi saat terbangun, Emily ingin menyiapkan sesuatu untuk mereka makan, tetapi ia kemudian tersadar bahwa ia tak membawa makanan apapun, dan membuat Emily kembali merutuki kebodohannya. Kalimat uang bukan segalanya mungkin sangat cocok dengan kondisi Emily saat ini. Ia membawa sejumlah uang, tetapi memangnya apa yang bisa ia beli atau lakukan dengan uangnya di tengah hutan? Maka ketika melihat air sungai yang jernih dan dangkal, Emily pun memutuskan untuk mencoba menangkap ikan menggunakan salah satu baju yang di bawanya. Namun, sejak tadi belum satupun ikan yang berhasil di tangkapnya.
"Aku akan membantumu." kata Alvin kemudian berjalan masuk ke sungai.
Alvin berdiri di dalam sungai dengan tenang, memperhatikan ikan-ikan. Lalu ketika ada satu yang mendekatinya, ia langsung menangkapnya dengan sangat cepat menggunakan tangan kosong. Emily menatapnya dengan takjub, karena ia sebelumnya belum pernah melihat orang menangkap ikan tanpa alat apapun. Blacky yang melihat Alvin mendapatkan ikan, menggonggong dengan gembira, membuat Ferry tersadar dari tidurnya.
__ADS_1
Bocah itu kemudian membantu ibunya yang ingin mencoba membuat api untuk membakar ikan-ikan yang ti tangkap Alvin. Namun, dengan pengetahuan Emily yang sangat nol tentang hidup di alam liar, membuat mereka terpaksa harus menunggu Alvin lagi untuk membuat api. Dan benar saja, Alvin menyalakan api dengan sangat cepat. Menggunakan dua buah batu seperti yang hanya pernah di lihat Emily di televisi. Entah bagaimana ia bisa tahu kalau kedua batu itu bisa menghasilkan api. Emily hanya melihat pria muda itu berjalan-jalan di sekitar sungai dan memungut dua buah batu lalu menggesek-gesekkan kedua batu itu dengan sangat keras hingga mengeluarkan api. Emily ingin membuat sarapan untuk mereka, tetapi pada akhirnya ia menjadi orang yang hanya tinggal menikmati apa yang sudah tersedia.