
*****Masih Flashback*****
Saat pulang sekolah, Jeremy menemukan Clea sedang menunggunya di taman. Gadis kecil itu ternyata bersekolah di kawasan yang sama dengan Jeremy. Gedung tempat Jeremy bersekolah memang terdiri dari Taman Kanak-kanak hingga Menengah Atas. Dan karena Clea Harold masih duduk di bangku TK, ia sudah pulang sejak tadi dan kini ia menunggu Jeremy di taman. Sebab ia belum punya teman di sekitar situ.
"Kak Jeremy, apa yang akan kau lakukan setelah pulang sekolah?" tanya Clea dengan penuh semangat.
"Apapun yang ingin aku lakukan, itu tidak ada urusannya denganmu." jawab Jeremy agak ketus.
"Hei.. Jangan seperti itu, aku sudah memberi kakak permen kemarin." kata Clea merajuk.
"Lalu?" tanya Jeremy.
"Aku sangat bosan. Bisakah kakak menemaniku mengelilingi taman ini?" ajak Clea.
"Mengapa kamu tidak berjalan-jalan dengan orang tuamu? Aku sibuk, ada banyak hal yang harus kulakukan." ucap Jeremy. Ia masih harus mengerjakan tugasnya dan berlatih bela diri.
"Ayahku masih bekerja dan ibu sedang merapikan rumah. Kakak tahu bukan, kalau kami baru saja pindah kemarin. Jadi banyak yang harus dibereskan. Ibu menyuruhku bermain di sini agar aku jangan ganggu pekerjaannya." kata Clea menjelaskan.
Melihat wajah kecewa gadis kecil itu, entah mengapa, Jeremy merasa ia tidak bisa menolaknya. Lagipula pamannya sedang di luar kota dan tidak akan pulang ke sini hari ini.
"Baiklah, aku akan menemanimu setelah berganti pakaian."
Mendengar itu, wajah Clea langsung menjadi cerah dan semangatnya kembali.
"Benarkah?"tanyanya dengan girang.
"Ya, tapi hanya sebentar saja." kata Jeremy.
"Tidak apa-apa. Yang penting aku tidak bosan lagi." kata Clea sambil bertepuk tangan.
"Apa yang ingin kau lihat di taman?" tanya Jeremy penasaran.
"Apakah di taman ini ada pohon Stroberi?" tanya Clea.
Jeremy menatap Clea dengan pandangan aneh.
__ADS_1
"Dari semua hal yang ada di taman ini, kau justru menanyakan pohon Stroberi?"
Clea tertawa renyah dan menepuk punggung Jeremy.
"Aku hanya bercanda karena wajah kakak terlalu kaku. Hahaha..." kata Clea masih sambil tertawa.
Kata orang, tawa anak kecil itu menular. Mungkin karena itulah, saat gadis kecil itu tertawa, Jeremy dengan mudah ikut tertawa. Dan mulai saat itu, dengan gampangnya hubungan mereka berdua menjadi dekat. Jeremy sangat senang melihat wajah Clea yang secerah bulan purnama. Begitu juga dengan senyum dan tawa Clea yang ceria, selalu mengisi hari-harinya dan membuatnya lebih berwarna.
Namun dalam semalam, Jeremy menghancurkan semuanya. Senyum gadis itu menghilang ketika Jeremy membiarkan pamannya membunuh kedua orang tua Clea karena menjadi saksi mata pembunuhan saudaranya. Matanya yang biasa berbinar ceria, kini menatap Jeremy dengan penuh kebencian.
'Jika suatu saat kamu masih hidup dan bertemu denganku lagi setelah apa yang kulakukan hari ini, aku bersumpah akan memperlakukanmu dengan sangat baik walaupun nantinya kau akan sangat membenciku.' itu adalah janji Jeremy saat itu.
*******
Flashback off
Jeremy memperhatikan wajah Emily yang nampak tertidur dengan sangat tenang.
"Namaku Clea.. Clea Harold."
Clea,
Clea,
Jeremy mengulang-ulang nama gadis itu di dalam kepalanya. Jeremy masih mengingat dengan baik wajah gadis kecil itu. Satu-satunya orang yang mau menjadi sahabatnya di saat yang lain mengejeknya. Kemudian membandingkan wajahnya dengan wajah Emily. Jeremy kembali tersenyum dan rasa sakit di dalam hatinya. Wajah mereka sebenarnya tidak terlalu jauh berbeda, hanya saja saat ini gadis kecilnya telah tumbuh menjadi seorang wanita yang dewasa dan penuh kecerdasan serta ketenangan seperti sekarang. Sehingga Jeremy sendiri tidak mengenalinya jika saja ia tidak melihat luka itu.
Tapi, apakah Emily juga tidak mengenalinya? Apa gadis ini juga tidak mengenalinya sebagai anak laki-laki yang sudah membunuh kedua orang tua kandungnya dan juga memotong lidahnya dengan tangannya sendiri? Apakah dia sudah melupakannya?
Tapi, kalau gadis ini mengingat dan mengenalinya, mengapa ia mau menikah dengannya? Mengapa ia tidak menatapnya dengan penuh kebencian seperti pada malam itu? Mengapa selama ini dia bersikap seolah tidak terjadi apa-apa dan mengapa juga namanya bisa berubah?
Jeremy juga mengingat dengan baik wajah orang tua Clea, karena mereka bertetangga hampir dua tahun. Wajahnya sama sekali tidak mirip dengan keluarga Hopkins, nama keluarga yang di sandang Emily saat ini. Sebenarnya apa hubungannya dengan keluarga Hopkins?
Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam benak Jeremy. Ia tidak mungkin salah mengenalinya begitu melihat kondisi lidahnya. Istri bisunya ini adalah gadis kecilnya di masa lalu yang selalu berada di sampingnya.
Sepanjang malam itu, Jeremy tidak tertidur. Ia menghabiskan malamnya sambil duduk dan memperhatikan wajah teduh Emily. Sementara Emily sendiri sebenarnya tadi belum benar-benar tertidur saat Jeremy masuk dan duduk di atas ranjang. Dan sekarang menjadi tidak bisa tidur begitu merasakan kalau Jeremy terus memperhatikannya. Emily tidak tahu apa yang dipikirkan oleh pria ini. Apa jangan-jangan pria ini mulai berpikir untuk membunuhnya sekarang? Memiliki pemikiran ini, Emily akhirnya menjadi khawatir dan memutuskan berpura-pura tidur.
__ADS_1
Pagi harinya Emily terbangun dengan wajah yang sangat lesu.
"Ada apa denganmu? Mengapa kamu terlihat tidak bersemangat? Apakah kau bermimpi buruk?" tanya Jeremy ketika melihat lingkaran hitam di bawah mata Emily.
Emily menatap Jeremy dengan jengah. Astaga!! Tidak bisakah ia berpikir? Bagaimana mungkin Emily bisa tidur sementara ada orang yang terus mengawasinya sepanjang malam, terlebih lagi orang itu pernah mencoba membunuhnya.
'Ya, aku bermimpi buruk.' kata Emily mengiyakan pertanyaan Jeremy.
"Benarkah? Mimpi seperti apa?" tanya Jeremy penasaran.
'Ak**u bermimpi tentang pembunuhan. Ada seseorang yang mencoba membunuhku.' isyarat Emily membuat Jeremy membeku mendengarnya.
Apa Emily bermimpi tentang bagaimana Jeremy berusaha membunuhnya? Emily tidak memperhatikan reaksi Jeremy dan ia segera keluar membantu sang petani.
*****
Tidak tahu apa yang terjadi dengan Jeremy, namun Emily merasa kalau kemarin dan hari ini Jeremy lebih banyak diam. Tepatnya semenjak malam ia memberitahu tentang lidahnya terpotong. Sejak saat itu, Jeremy tidak terlalu banyak berbicara.
"Mengapa kau terus menatapku?" tanya Jeremy ketika mereka makan siang berdua. Seperti biasa, sang petani selalu makan di dalam kamarnya.
'Aku hanya berpikir, bukankah kakimu sudah sembuh? Jadi, kapan kamu akan pergi dari sini?' isyarat Emily bertanya.
"Aku sudah memikirkan hal itu, dan tadi juga aku telah bertanya kepada kakek petani itu. Dia sudah memberitahukan jalan yang tercepat menuju desa di dekat sini. Dari sana kita akan menyewa sesuatu untuk kembali ke Mansion." kata Jeremy.
Emily meletakkan sendoknya kemudian menggeleng.
'Aku tidak akan ikut pulang.' isyaratnya.
Jeremy tentu saja sangat terkejut dengan apa yang dikatakan Emily.
"Apa maksudmu?"
Emily kembali menggelengkan kepalanya dengan mantap.
'Aku sudah memikirkan hal ini selama kita di sini. Ayo kita gunakan kecelakaan ini sebagai kesempatan untuk berpisah.'
__ADS_1