
Mendengar pertanyaan putranya dan mengingat bagaimana ia terus bersikap baik sejak tadi, membuat Jeremy tersenyum menatapnya.
"Apakah sejak tadi kau menahan rasa penasaranmu?" tanyanya.
Jordan mengangguk pelan. Jeremy mengusap rambutnya dengan lembut, sebelum kembali menatap Emily.
"Kau bisa memanggilnya 'Bunda'. Karena mulai sekarang ia adalah ibumu." katanya yang sontak membuat Emily melotot menatapnya.
Apa pria ini sungguhan gila? Apa yang ia katakan, menjadi ibunya? Anak itu memiliki ibunya sendiri dan itu adalah Clarissa! Lagi pula, ia tidak memiliki niat untuk mengambil alih posisi Clarissa. Entah itu sebagai istrinya atau ibu dari putranya, Emily tidak menginginkannya sama sekali!!
'Aku menolaknya!' isyarat Emily menatap Jeremy tegas.
"Kenapa?" tanya Jeremy mengerutkan alisnya.
'Kau masih bertanya? Dia memiliki Clarissa sebagai ibunya!' jawab Emily. Ia tak bisa membayangkan apa yang Clarissa rasakan jika mengetahui hal ini, hatinya pasti akan semakin terluka.
"Tapi, dia adalah anakku dan kau adalah istriku. Bukankah wajar baginya untuk memanggilmu Bunda?" ucap Jeremy.
__ADS_1
"Lagi pula..." Jeremy berhenti sesaat. Ia menatap putranya lalu menggerakkan tangannya agar Jordan tidak mengetahui apa yang ia katakan.
"Aku tidak pernah menganggap Clarissa ada. Aku sangat membencinya tapi aku tidak bisa membenci putraku sendiri." isyarat Jeremy.
Emily memandangi Jeremy dengan tidak senang. Apa yang salah dengan otak pria ini? Apa ia hanya menjadikan Clarissa sebagai mesin untuk memproduksi anak? Keterlaluan sekali! Pria brengsek ini melakukan segala cara demi kekuasaan, bahkan dengan mudahnya ia mengabaikan perasaan seorang wanita. Apa Jeremy pikir ia bisa meluluhkan hati Emily dengan semua kebusukan yang dimilikinya?
Jeremy menghela nafas frustasi melihat tatapan tak bersahabat Emily. Ia pun mengakui semuanya lewat bahasa isyarat. Ya, ia mengakui bahwa ia menjadi binatang di bawah pengaruh obat perangsang yang diberikan Clarissa padannya, hingga ia menidurinya dan membuatnya mengandung anaknya. Jeremy sangat membenci wanita itu, tetapi apakah ia harus ikut membenci anak yang di kandungannya?
Tidak, anak itu adalah darah dagingnya, dan juga ia tidak ingin menjadi pria bajingan seperti ayahnya dulu. Ayahnya membuatnya ada di dunia ini, tetapi mengabaikannya begitu saja. Jeremy tidak ingin anaknya merasakan hal yang sama seperti dirinya dulu, Diabaikan, dikucilkan dan merasakan ketidakadilan hanya karena terlahir dari rahim wanita yang tidak dicintai.
"Aku harus memanggilnya Bunda?" Jordan mengulang pertanyaannya untuk memastikan.
"Sekarang beri salam padanya dan cium tangannya."
Jordan terlihat ragu-ragu, tetapi ini adalah permintaan ayahnya dan dia tidak ingin mengecewakannya. Jadi, dengan kaki kecilnya ia berjalan mendekati Emily dan akan meraih tangannya.
"Bunda."
__ADS_1
Kata itu keluar dari bibirnya dengan malu-malu dan ia ingin meraih tangan Emily untuk menciumnya, tetapi Emily tidak ingin hal itu terjadi. Ia segera mundur dan menyembunyikan tangannya di belakang punggungnya. Emily tahu apa yang Jeremy rencanakan. Pria itu tahu kalau dirinya sangat suka dengan anak-anak, jadi dia sengaja mengirimkan anaknya agar bisa dekat dengan Emily. Namun, seberapapun dekatnya Emily dengan anak-anak, ia tidak mungkin mengambilnya dari ibunya. Clarissa pasti tidak akan senang sekaligus sedih jika putranya dekat dengan Emily.
Akan tetapi, Emily lupa bahwa tindakannya membuat Jordan terluka karena merasa diabaikan olehnya. Emily bisa melihat anak itu membeku di tempat saat menatapnya, dan itu membuat Emily merasa bersalah. Ia ingin memeluknya dan meminta maaf, tapi ia segera sadar jika ia melakukannya maka rencana Jeremy akan berhasil. Jadi, Emily berusaha mengeraskan hatinya untuk melakukan apa yang sebenarnya tidak ingin ia lakukan. Melihat wajah putranya yang terkejut karena diabaikan oleh Emily, bahkan Emily terlihat menghindari putranya, membuat hati Jeremy terasa sakit. Hal itu mengingatkannya pada dirinya sendiri saat dulu ia memberi salam pada ayahnya, tetapi ayahnya dengan dingin mengabaikannya seolah ia tidak pernah ada. Perasaan itu membuatnya berteriak dengan emosi.
"EMILY!!" suara tegas Jeremy mengagetkan Emily dan juga Jordan serta Ferry. Itu segera menyadarkan Jeremy bahwa ia telah berbuat salah. Ia segera menurunkan nada bicaranya dan berkata,
"Dia hanya ingin memberi salam padamu. Haruskah kamu menghindarinya?"
'Aku tidak memerlukannya. Bawa ia pergi dari sini.' isyarat Emily.
Hati Jeremy terasa di sayat pisau. Apa Emily tidak menyukai putranya? Tapi mengapa? Jeremy ingat, Emily sangat menyukai anak-anak. Bahkan sejak dulu saat masih tinggal di Mansion, ia bisa melihat bahwa Emily suka berada di antara anak-anak dan bahkan terlihat akrab dengan mereka. Tapi mengapa pada putranya ia justru bersikap dingin dan memintanya untuk membawanya pergi? Apa karena Jordan adalah anaknya? Emily membencinya, jadi ia juga membenci putranya? Jeremy mengepalkan kedua tangannya kemudian melangkah mendekati putranya dan membawanya kembali ke gendongannya.
"Jordan adalah anak yang lucu dan pintar. Kau pasti akan menyukainya cepat atau lambat. Kau hanya perlu berinteraksi lebih banyak lagi dengannya." Jeremy mengatakannya dengan penuh keyakinan dalam hatinya. Ya, ia percaya Emily bukanlah orang seperti itu. Semua hanya masalah waktu, mencintainya dan menerima putranya. Jeremy yakin ia masih memiliki banyak waktu untuk mendapatkan semua itu.
'Itu tidak akan pernah terjadi. Aku tidak akan pernah menyukainya ataupun menerimanya sebagai putraku. Dia bukan anakku.' isyarat Emily menolak.
Jeremy menggertakkan giginya dengan geram.
__ADS_1
"Kenapa?" tanyanya. Emily menatapnya dengan tegas.
'Kau masih menanyakannya lagi? Berapa kali aku harus mengatakannya padamu agar kamu bisa mengerti? Apapun yang kau lakukan untukku, itu tidak akan ada artinya. Karena aku tidak akan mencintaimu dan tidak akan pernah jatuh cinta pada pria sepertimu. Jeremy, kau bilang kau tidak mencintai Clarissa tetapi saat ini kau telah memiliki keturunan darinya, tidak bisakah kau menghormatinya sebagai ibu dari anak-anakmu? Jeremy, hidupmu sudah lengkap. Kau sudah menjadi orang nomor satu di negeri ini, memiliki seorang istri yang sangat cantik dan seorang putra yang kau katakan dari mulutmu sendiri kalau dia sangat lucu dan pintar, dan sebentar lagi anakmu yang kedua akan lahir di dunia. Kau bisa menyukai dan mencintai anakmu. Sepatutnya, kau juga harus mencoba untuk menerima dan mencintai Clarissa daripada berusaha membuatku untuk menerimamu. Apa kau pikir, aku masih mau hidup dengan pria yang telah berhubungan dengan wanita lain? Pikirkan apa yang aku katakan dan jika kau tidak memiliki hal lain untuk dikatakan, maka pergilah. Aku ingin beristirahat.' isyarat Emily panjang lebar.