Emily, Sang Gadis Bisu

Emily, Sang Gadis Bisu
Aku tak Ingin Mencobanya


__ADS_3

Sementara itu di Aula, Emily masih terdiam di tempatnya. Kata-kata Clarissa masih terngiang-ngiang di telinganya, Emily bahkan bisa merasakan sakit hati yang di tahan Clarissa. Emily memandang ke sekitar, ia benar-benar merasa tidak nyaman di bawah tatapan orang-orang yang menganggapnya penipu. Ia ingin pergi meninggalkan tempat itu, tetapi dua orang penjaga menghentikannya.


"Maaf, Nyonya. Nyonya harus tetap di sini sampai Bapak Presiden kembali." kata mereka. Emily merasa kesal, Jeremy sepertinya ingin menjadikannya sebagai pajangan di pesta malam ini.


'Aku harus ke toilet, haruskah aku menunggu sampai Presiden kembali?' tulis Emily pada jurnal mini yang telah di siapkan untuknya agar bisa berinteraksi dengan orang lain.


Kedua penjaga itu saling menatap sebelum akhirnya mengangguk memberinya ijin, dengan catatan mereka ikut mengantarnya. Emily tidak mempunyai pilihan lain. Beberapa penjaga mengikutinya dan berjaga di depan pintu kamar kecil. Tak lama setelah mereka pergi, Tante Agnes pun menyusul, namun ia di tahan oleh mereka.


"Anda tidak boleh masuk, Nyonya."


Tante Agnes berhenti dan menatap mereka dengan tidak senang.


"Kenapa? Bukankah ini toilet untuk umum?" tanyanya.


"Maafkan kami, tapi Nyonya Besar sedang berada di dalam. Silahkan Nyonya ke toilet lain." ujar penjaga tadi dengan sopan. Tante Agnes mengerutkan alisnya, sekarang Emily memiliki panggilan lain?


"Jadi aku tidak bisa menggunakannya karena Nyonya Besar ada di dalam?" tanya Tante Agnes lagi. Tetapi para penjaga itu tak menjawab dan hanya memasang wajah datar mereka.


"Tsk.. Kalau begitu, di mana aku bisa mendapatkan toilet yang lain?" tanyanya.


"Ada di ujung lorong ini, Anda hanya perlu berbelok ke kiri setelah ini." jawab mereka mengarahkan. Tante Agnes berterima kasih sebelum akhirnya pergi Para penjaga yang di tugaskan Jeremy benar-benar patuh.


Di sisi lain, Emily sedang mencuci tangannya dan menatap bayangan dirinya di cermin, ketika ia mendengar suara ketukan di jendela toilet. Emily terkejut, tempat ini dijaga ketat, siapa yang mencoba menemuinya?


Dengan memberanikan dirinya, Emily perlahan mendekati jendela dan membukanya. Seorang pria paruh baya masuk dari sana, membuat Emily sedikit khawatir.

__ADS_1


"Jangan takut." kata pria itu menenangkannya. Emily merasa mengenali suara itu.


'Fernando?' Pria paruh mengangguk.


'Apa yang kau lakukan di sini?' Isyarat Emily bertanya.


'Ah, tidak! Bagaimana kabarmu? Bagaimana juga kabar Steven dan Kembar? Apa mereka baik-baik saja?' ulang Emily.


Fernando awalnya ingin memberondong Emily dengan puluhan pertanyaan yang ada di kepalanya, namun saat melihat Emily bertanya dengan khawatir membuatnya merasakan kehangatan di dalam hatinya. Mungkin Tante Agnes benar, Emily tidak seburuk yang dipikirkan orang banyak.


"Mereka ada di sini, tunggu sebentar." katanya setengah berbisik. Ia kembali mengintip ke luar jendela, dan tak lama kemudian Tante Agnes juga masuk dari jendela diikuti seorang pria paruh baya lainnya.


"Dia Steven." kata Fernando menunjuk pria itu.



Emily menatap mereka dengan perasaan bersalah. Ia ingin meminta maaf tetapi tiba-tiba Tante Agnes memeluknya dengan erat.


"Aku senang kau baik-baik saja, Emily. Kau sungguh membuatku sedih ketika mendengarmu meninggal karena alergi kacang." bisiknya. Ia lalu melepaskan pelukannya dan memegang kedua bahu Emily dengan lembut.


"Sekarang, katakan padaku. Apa yang sebenarnya terjadi?" tanyanya menuntut. Semua terdiam menatap Emily, menunggu jawaban darinya.


Emily tidak ingin menyembunyikan apapun dari mereka lagi, jadi dengan cepat ia menceritakan semuanya dari awal perjanjian itu di buat, hingga akhirnya ia dibawa dengan paksa kemari.


"Jadi orang gila itu ingin membunuhmu dan menikah dengan Clarissa demi mendapatkan dukungan kekuatan?" tanya Tante Agnes, ia benar-benar tidak tahan untuk menyebut Jeremy sebagai orang gila.

__ADS_1


"Aku tidak mengira Kak Jeremy akan menjadi orang seperti itu. Ia rel melakukan segalanya hanya untuk mencapai tujuannya." Steven berkata dengan emosi yang tertahan di dalam dadanya.


"Perjanjian itu, apa kau menyetujuinya begitu saja?" tanya Tante Agnes. Emily mengangguk.


'Kalian tahu sendiri, aku dan Jeremy menikah karena perjodohan. Aku dan dia tidak saling mencintai dan hanya ingin hidup di jalan masing-masing. Sementara kami terikat dalam pernikahan seumur hidup, jadi kami melakukannya agar bisa terlepas dari pernikahan itu.' isyarat Emiky menjelaskan.


"Kalau kalian tidak saling mencintai, lalu mengapa sekarang dia sepertinya sangat tergila-gila padamu?" tanya Tante Agnes lagi tidak mengerti. Emily tidak tahu harus bagaimana atau darimana menjawabnya, karena ia sendiri pun tidak mengerti mengapa hati pria itu bisa berubah.


"Simpan itu untuk nanti." kata Fernando menyela.


"Aku lebih ingin tahu, mengapa Kak Emily diam saja saat Kakak tahu kalau Kak Jeremy merencanakan melawan Paman Antonio sejak awal? Mengapa Kakak tidak memberitahu kami tentang hal ini? Apa di hati Kakak, kami ini sama sekali tidak ada artinya? Apa menyenangkan melihat kami bersenang-senang sebelum kehancuran?" tanyanya dengan suara tertahan, ia ingat kalau masih ada pengawal yang berjaga di depan pintu. Emily menatap mereka berdua dengan perasaan bersalah yang teramat sangat.


'Maafkan aku, karena telah menjadi orang yang egois. Tapi, aku sungguh tidak tahu kalau Jeremy akan membunuh ayah kandungnya sendiri.' Emily menunduk dan mengigit bibirnya dengan cemas.


Fernando dan Steven terdiam melihat apa yang Emily katakan. Emosi bergejolak dalam hati keduanya. Terkadang, mereka membuka mulutnya untuk mengajukan pertanyaan lain karena merasa masih membutuhkan penjelasan. Tetapi, setiap kali mereka membuka mulut tidak ada kata-kata yang keluar, seolah tertahan di tenggorokan. Dan akhirnya mereka hanya bisa menyerah lalu melompat keluar dari jendela meninggalkan tempat itu.


Emily menatap kepergian keduanya, ia tidak tahu harus memberikan penjelasan apa lagi. Mereka berhak dan pantas membencinya. Tante Agnes memperhatikan ekspresi di wajah Emily.


"Menurutku, semua orang memiliki alasan untuk semua tindakan yang mereka ambil. Kau juga pasti memilikinya." kata Tante Agnes. Kata-kata ini justru membuat Emily semakin merasa bersalah.


"Yah,, yang berlalu biarkanlah berlalu. Tapi, jika dipikirkan lagi, pria itu sepertinya tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu. Dia tidak ingin kehilanganmu jadi dia hanya bisa melepaskanmu untuk mencapai tujuannya, memuaskan keinginan para pendukungnya. Dan setelah ia berhasil mewujudkan impian mereka, ia kembali membawamu ke sisinya. Jadi sekarang, bagaimana perasaanmu? Apa kau tidak memiliki perasaan apapun padanya?" tanya Tante Agnes memastikan.


Emily menatapnya, dan dengan tegas menggelengkan kepalanya.


'Aku masih ingin pergi darinya. Lagipula, aku tidak ingin menjadi luka untuk Clarissa.' isyaratnya yakin.

__ADS_1


"Tapi, sepertinya Jeremy tidak mencintainya, dan sebaliknya sangat terobsesi padamu. Apa kau tidak ingin memberinya kesempatan? Siapa tau cinta muncul di hatimu." kata Tante Agnes.


'Aku tidak akan mencobanya. Sekarang ia telah memiliki Clarissa sebagai istrinya, dan Clarissa sangat mencintainya. Tante, kau juga pernah menjadi seorang istri dan tahu bagaimana tersiksanya ketika melihat suamimu bersama wanita lain.'


__ADS_2