
'Apakah kau sudah terbiasa melakukannya?' isyarat Emily bertanya pada Alvin yang sedang membakar ikan untuk Blacky. Anjing itu tak diijinkan Emily untuk memakan ikan mentah.
"Haah?" tanya Alvin tidak mengerti maksud pertanyaan Emily.
'Kau terlihat sangat ahli menangkap ikan dengan tangan kosong dan juga membuat api menggunakan batu. Itu adalah sesuatu yang tidak bisa di lakukan oleh semua orang. Dan itu memerlukan keahlian, bukan?' isyarat Emily lagi.
Alvin tersenyum senang. Ia merasa bahagia sebab Emily memperhatikannya tadi.
"Mmm... Dulu, saat aku masih kecil, aku sering mengikuti ayahku mencari kayu bakar. Kau tahu, dulu hidupku tidak sebaik sekarang. Terkadang, dalam perjalanan pulang, ayahku akan menangkap ikan untuk lauk nanti. Jadi, aku mempelajari semua itu dari ayahku." jawab Alvin menjelaskan.
Emily bertepuk tangan membuat wajah Alvin bersemu.
'Itu luar biasa. Apakah kalian sering pergi ke hutan saat itu?' tanya Emily.
Alvin mengangguk. Mereka kemudian menikmati ikan bakar yang lezat itu sambil mendengarkan Alvin yang bercerita tentang masa lalunya. Ferry yang telah selesai makan, mengelus-elus kepala Blacky yang mulai tidak tenang. Sesekali anjing itu mengonggong dan melolong. Ferry menatap ke arah Blacky menggonggong, dan melihat ada seseorang, ah tidak, segerombolan orang yang sedang berjalan ke arah mereka. Beberapa saat ketika orang itu mulai mendekat, Ferry bisa mengenalinya dengan baik. Wajahnya menjadi pucat karena terkejut dan ia segera berteriak pada Emily dan Alvin yang masih sibuk menanyakan alasan Emily ingin pindah dan di mana ia akan tinggal.
"IBU!!! BAPAK PRESIDEN DI SINI!!"
__ADS_1
Mendengar apa yang di teriakkan Ferry, Emily sangat terkejut hingga tubuhnya membeku. Apa yang di lakukan pria itu di sini? Jeremy tidak mungkin benar-benar mengejarnya, bukan? Pertanyaannya segera terjawab ketika Jeremy berhasil tiba dan berdiri tepat di depannya. Sementara Alvin mempunyai pertanyaan besar di kepalanya, mengapa Presiden Jeremy mengikuti mereka ke sini?
Alvin bertanya-tanya dalam hatinya sambil terus menatap Jeremy. Sebagai seorang warga biasa, ia sangat mengagumi presiden mereka. Tapi semakin lama ia perhatikan, ia merasa presiden sangat mirip dengan pria yang semalam datang dengan istrinya ke rumah Emily. Tunggu dulu!! Itu memang presiden. Alvin membelalakkan matanya sebab terkejut. Jika itu memang presiden, apa hubungannya dengan Emily? Memikirkan pertanyaan itu sontak membuat Alvin menatap Emily yang juga sedang menatap presiden dengan wajah pucat.
Jeremy benar-benar tidak senang dengan apa yang dia lihat saat ini. Lagi, ia menemukan Emily bersama pria muda ini. Apa hubungan mereka benar-benar hanya sebatas pengantar dan pembeli bunga? Sebab mereka terlihat terlalu dekat untuk itu. Jeremy menatap bekas pembakaran yang baranya masih menyala merah. Tumpukan tulang ikan yang terlihat masih segar menandakan mereka baru saja memakannya. Ekspresi Jeremy menjadi tidak enak dilihat sama sekali. Hanya demi menghindarinya, Emily rela hanya makan ikan di tengah hutan seperti ini.
Tak lama setelah Jeremy tiba di sana, ajudannya serta yang lainnya berhasil menyusul dan segera mengepung mereka bertiga. Hal ini membuat Ferry takut dan tidak berani berkata apa-apa. Ia terduduk diam sambil memeluk Blacky yang terus mengonggong dengan perasaan tidak nyaman.
"Setelah bertemu denganku semalam, kau langsung membuat keputusan untuk pergi malam itu juga. Emily, apa kau benar-benar tidak ingin berhubungan denganku lagi?" tanya Jeremy dengan nada suara tak bersahabat.
"Kenapa? Kau tidak ingin menjawab pertanyaanku?" tanya Jeremy lagi sambil mengerucutkan alisnya ketika Emily tidak segera menjawab.
'Kau sendiri, apa yang kau lakukan di sini? Menyusulku? Dengar, hubungan kita sudah lama berakhir. Jadi aku bebas dan berhak memutuskan pergi kemanapun aku yang mau.'
Jeremy menggerakkan giginya.
"Hubungan kita tidak pernah berakhir, Emily." katanya dingin. Emily menatapnya dengan pandangan bertanya.
__ADS_1
'Apa maksudmu? Hubungan kita sudah berakhir ketika sumpah dan perjanjian itu dipenuhi!' isyarat Emily tegas.
"Perjanjian dan sumpah?" Jeremy tersenyum mengejek. Emily mengepalkan tangannya dengan kuat. Ia yak menyangka akan berada di posisi seperti ini.
"Baiklah. Anggap sumpah dan perjanjian itu ada dan sudah terpenuhi. Tapi, pernikahan hidup dan mati kita tetap berlaku selama kau masih hidup, Emily!" kata Jeremy dengan lantang.
Perkataan Jeremy membuat Emily, Alvin dan Ferry melebarkan mata mereka. Saat Emily memikirkan berapa liciknya pria yang ada di depannya, Alvin dan Ferry fokus pada kata 'pernikahan hidup dan mati'. Apa maksudnya? Apa Emily adalah istri presiden? Tapi, bukankah ibu negara adalah wanita lain? Alvin ingin sekali bertanya tapi Emily sepertinya tidak bisa ditanyai. Ibu angkat Ferry itu sedang sibuk memikirkan bagaimana caranya agar bisa lepas dari Jeremy saat ini.
'Jeremy, kau tahu. Aku tidak mencintaimu.' isyarat Emily. Jeremy memejamkan matanya sejenak lalu kembali menatap Emily.
"Itu hanya masalah waktu." ucapnya.
'Bagaiman jika aku tetap tidak bisa mencintaimu bahkan setelah semua waktu berlalu? Jeremy, kau tahu hubungan ini tidak akan pernah berhasil. Kau sudah memiliki Clarissa. Keinginanmu tidak akan pernah menjadi nyata karena aku tidak akan pernah mencintaimu.' isyarat Emily lagi.
Jeremy tidak menjawab perkataan Emily, bahkan ia berpura-pura tidak melihat apa yang di sampaikan oleh Emily. Ia justru memberi isyarat pada ajudannya untuk membaca sebuah surat. Reni cepat-cepat berlari dan berdiri di antara Emily dan Jeremy, lalu membuka surat yang di telah di tanda tangani oleh Jeremy sendiri.
"Ini adalah Surat Keputusan Presiden! Saat ini, Nona Emily Hopkins, istri dari Tuan Jeremy Charlos, yang telah memalsukan kematiannya berhasil di temukan! Dia akan dibawa ke Istana Negara dan di angkat menjadi istri muda Presiden, dan harus melaksanakan kewajibannya sebagai istri yang telah terikat pernikahan hidup dan mati dengan Presiden!" baca Reno dengan lantang.
__ADS_1
Apa pria ini gila? Menjadi istri muda presiden?? Jangan bercanda!! Emily merasa ia sedang bermimpi buruk. Ia menatap Jeremy dengan tidak percaya. Bukankah dia yang menyetujui kematian palsu itu? Tapi apa ini? Pria ini bahkan membuat Surat Keppres demi membawanya kembali! Sepertinya dia benar-benar kehilangan kewarasannya. Jeremy bahkan mengungkapkan kematian palsunya, apa pria ini tidak peduli pada pandangan orang nantinya?
Hufft.. Emily menghembuskan nafasnya dengan kasar. Inilah sifat asli pria ini. Dia akan melakukan apa saja untuk mendapatkan keinginannya. Namun, yang membuat Emily tak habis pikir, mengapa Jeremy harus tertarik padanya di saat ia sudah menjadi milik wanita lain? Bahkan mereka sudah memiliki anak! Pria ini seharusnya tidak memiliki minat pada wanita lain. Mengapa ia tidak terus membencinya seperti saat awal pernikahan mereka dulu?