Emily, Sang Gadis Bisu

Emily, Sang Gadis Bisu
Daging Kelinci


__ADS_3

Emily menggerakkan tangannya untuk menanyakan sesuatu. Namun, petani itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan menatap Jeremy.


"Maafkan aku. Aku sama sekali tidak mengerti apa yang istrimu katakan." ujarnya.


Jeremy menatap wajah Emily yang putus asa dan memilih menerjemahkan untuknya.


"Istriku bertanya, di mana kamar mandinya? Ian ingin berganti pakaian." kata Jeremy.


"Bukankah kalian ini suami istri? Mengapa harus mencari tempat lain untuk berganti pakaian?" tanya petani itu.


"Ah, apa kalian adalah pengantin baru? Jadi masih malu-malu untuk melihat satu sama lain?" tanyanya lagi. Kemudian, petani itu menyadari sesuatu.


"Hahahaha... ya ampun, maafkan aku yang tidak sopan ini. Aku akan pergi sekarang." lanjutnya kemudian segera keluar dan menutup pintu kamar.


Emily mengernyitkan dahinya. Tunggu dulu! Apa petani itu salah paham? Bukan keberadaan petani itu yang membuatnya merasa malu. Tapi Emily memang tidak bisa berganti pakaian di depan Jeremy sekalipun mereka berstatus suami istri.


Emily menatap Jeremy yang juga sedang melihat ke arahnya.


"Apa?" tanya Jeremy santai.


Emily menatapnya tak percaya.


'Kau masih bertanya? Sampai kapan kau akan terus menatapku?' tanya Emily.


Jeremy tersenyum miring.


"Petani tua itu berkata benar. Apa salahnya berganti pakaian di depan suamimu sendiri?" tanyanya.


Apa pria ini gila? pikir Emily.


'Aku akan menggunakan kedua jariku untuk menusuk matamu jika kau berani melihatku mengganti pakaian.' isyarat Emily kesal, seketika membuat Jeremy menjadi kaku.


Selesai berkata, Emily segera keluar dan mencari kamar mandi untuk mengganti pakaiannya. Kemudian ia pergi mencari sang petani yang ternyata sedang memasak sesuatu untuk menjamu mereka.


"Ah, kamu disini?" tanya sang petani saat menyadari Emily berada di sampingnya dan memperhatikan penampilannya.

__ADS_1


"Wahh.. Aku tak menyangka kalau baju itu akan cocok untukmu." ujarnya senang.


Emily mengatupkan kedua tangannya tangannya berusaha menyampaikan kalau ia berterima kasih dan untungnya kali ini sang petani paham.


"Jangan sungkan. Kami sudah lama tidak menerima tamu. Aku merasa senang bisa bertemu dengan kalian. Beristirahatlah, aku akan memasak sesuatu untuk kalian." katanya.


Emily lalu kembali melambaikan tangannya sambil menunjuk dirinya.


"Apa? Apa maksudmu kamu ingin kamu yang memasak?" tanya sang petani memastikan.


Emily mengangguk-angguk dengan cepat.


"Oh, tidak, tidak." pria tua itu menggeleng dengan sungkan.


"Kalian adalah tamu kami. Bagaimana mungkin aku membiarkan kamu yang memasak?"


Emily menggeleng dan mencoba menyampaikan kalau ia tidak masalah dengan hal itu. Lagipula tidak ada yang bisa ia lakukan di dalam kamar. Dia dan Jeremy sama-sama merasa tidak nyaman berada dalam satu kamar. Jadi lebih baik ia membantu pria petani itu menyiapkan makanan.


Setelah berusaha keras, akhirnya Emily berhasil membuat sang petani membiarkannya memasak.


Hanya ada daging kelinci dan sayuran untuk ditumis. Emily sedikit ragu apakah Jeremy bisa memakan makanan sederhana seperti ini. Tapi dalam kondisi seperti ini, seharusnya pria itu tidak boleh pilih-pilih makanan.


Emily yang mendengar pujian itu hanya tersenyum dan mencoba menyampaikan kalau ia ingin bertemu istrinya. Karena sejak mereka datang, tempat itu sangat sunyi. Suara istri sang petani sama sekali tidak terdengar.


"Maafkan aku. Kondisi istriku sangat tidak naik akhir-akhir ini. Aku takut ia kecapekan kalau harus keluar bertemu dengan kalian. Jadi, aku menyuruhnya untuk beristirahat saja di kamar. Mungkin kalau besok kesehatannya agak membaik, kau bisa menemuinya." kata petani itu pelan.


"Hei.. Kau meninggalkan suamimu terlalu lama. Ayo, bawa makanan ini padanya." lanjut sang petani. Emily mengangguk kemudian mengambil separuh masakannya.


Sementara itu, Jeremy merasa bosan berada di kamar sendirian. Ia bertanya-tanya mengapa Emily membutuhkan waktu yang terlalu lama untuk berganti pakaian. Dari dalam kamar, ia mendengar suara sang petani tertawa.


'Apakah ia tertawa bersama Emily?' pikirnya. Baru saja Jeremy ingin keluar untuk memeriksanya, Emily sudah muncul dari balik pintu dengan membawa nampan berisi makanan.


Jeremy memperhatikan Emily yang memakai pakaian biasa milik istri sang petani. Biasanya Emily selalu memakai pakaian bermerek dan membiarkan rambutnya tergerai, sehingga membuatnya tampak dewasa. Kali ini ia tampil dengan pakaian sederhana dengan rambut yang diikat ke atas menyerupai kuncir kuda, membuat penampilan Emily terlihat sangat segar seperti seorang remaja yang baru lulus sekolah.


"Apa kau membantu pria tua itu memasak?" tanya Jeremy ketika ia melihat makanan di atas nampan.

__ADS_1


Emily mengangguk. Jeremy tidak menyangka kalau tebakannya benar.


"Apa kamu yang memasak ini semua?" tanyanya lagi.


Emily meletakkan makanan yang dibawanya di atas meja di samping Jeremy kemudian menatapnya.


'Kenapa? Apa kamu tidak akan makan karena aku yang memasaknya? Tenang saja. Aku tidak menaruh racun di dalamnya.' isyarat Emily.


Ia kemudian menyendok makanannya untuk dirinya sendiri.


"Aku hanya bertanya, mengapa kamu sangat sinis padaku?" tanya Jeremy yang kemudian melakukan hal yang sama seperti Emily.


Rasa makanan itu tidak buruk, hanya saja daging kelincinya terasa kurang bumbu bagi Jeremy. Emily menatap Jeremy yang menikmati makanannya dengan tenang.


Ia sebenarnya tidak bermaksud untuk sinis, tapi sejak awal hubungan mereka memang tidak baik.


"Kenapa menatapku?" tanya Jeremy ketika menyadari Emily tidak melanjutkan makannya. Emily melambaikan tangannya.


'Tidak apa-apa. Aku hanya tidak menyangka kalau kamu bisa memakan makanan seperti ini.'


"Makanan ini tidak beracun, jadi mengapa aku tidak bisa makan? Apa menurutmu aku adalah orang yang paling pilih soal makanan?" tanya Jeremy. Emily memilih diam dan melanjutkan makan.


******


Selesai makan, Emily memutuskan untuk membantu petani itu mencuci piring. Saat kembali ke kamar, mereka berdua hanya saling diam satu sama lain.


Bagaimanapun, mereka berdua tidak benar-benar dekat. Mereka dekat hanya di depan umum saja. Jadi saat berdua seperti ini, mereka tidak tahu ingin membicarakan apa.


Emily kemudian memutuskan untuk tidur duluan. Di kamar itu hanya ada satu tempat tidur. Dan karena tahu bahwa mereka adalah suami istri, sang petani itu hanya menyiapkan satu selimut besar.


Melihat Emily yang ragu-ragu untuk tidur, Jeremy memahami keadaannya.


"Aku akan tidur di lantai." kata Jeremy.


Emily sedikit terkejut, ia tidak menyangka kalau Jeremy akan mengalah. Ternyata dibalik sifatnya yang dingin, pria ini juga memiliki sisi gentleman.

__ADS_1


Emily menghela napas kemudian menggeleng.


'Tidak apa-apa. Sementara kita bisa berbagi tempat tidur. Cuaca di sini sangat dingin. Kau akan semakin sakit jika tidur di lantai. Aku pun juga demikian.' isyaratnya.


__ADS_2