Emily, Sang Gadis Bisu

Emily, Sang Gadis Bisu
Mencoba Membujuk


__ADS_3

'Aku mohon, pikirkanlah ulang keputusanmu sebelum terlambat. Jangan membuat kesalahan yang akan membawamu pada kehancuran.' isyarat Emily, mencoba berbicara pada Jeremy saat mereka hendak menaiki kapal yang akan membawa mereka keluar dari pulau itu.


"Apakah kamu tidak memiliki bahan pembicaraan yang bagus? Seperti, bagaimana kau hidup selama tiga tahun ini?" tanya Jeremy sambil berbalik menatap Emily yang juga tengah menatapnya dengan tenang.


Sejak dulu, Jeremy menyukai sikap tenang Emily saat menghadapinya. Bahkan saat Jeremy mencoba membunuhnya, Emily tetap tenang dan tidak pernah menangis atau pun membuat keributan lainnnya. Wanita di depannya ini selalu menemukan cara untukl berdiskusi dengannya dan mengatakan beberapa hal yang akan mempengaruhi keputusannya.


Tetapi, saat ini, tidak akan ada yang bisa


mempengaruhi pikirannya, walaupun itu adalah Emily. Karena sampai kapanpun, ia tidak akan pernah melepaskannya. Bahkan jika harus, ia bersedia untuk mati bersama dengan Emily.


"Kau tahu, aku lebih senang mendengarkan kisahmu daripada pertanyaanmu tentang keputusanku yang sudah pasti tidak akan berubah. Jadi, ceritakan padaku kehidupanmu ketika di desa ini. Aku akan mendengarkan walaupun sambil berdiri." ujar Jeremy.


'Aku tidak akan mengatakannya, karena apapun yang terjadi dalam kehidupanku selama di desa tidak ada hubungannya denganmu. Selain itu, aku ingin mengingatkanmu bahwa aku bukanlah Clarissa. Aku tidak memiliki dukungan keluarga yang kuat dan tidak akan berguna untukmu. Jadi...'


"Apa aku menyamakan dirimu dengan wanita murahan itu?" tanya Jeremy memotong perkataan Emily dengan cepat. Ia bahkan tak peduli jika para bawahannya mendengarkan kata-katanya.


Sementara Emily mengerutkan keningnya mendengar Jeremy mengatakan Clarissa sebagai wanita murahan. Apa yang terjadi?


"Apa menurutmu perasaanku padamu adalah palsu? Apa kau pikir aku hanya menginginkan hubungan yang saling menguntungkan satu sama lain denganmu? Semacam simbiosis mutualisme begitu?" tanya Jeremy lagi pada Emily yang terus diam.


"Aku tidak pernah menganggapmu seperti itu. Aku tidak pernah menginginkan keuntungan apapun darimu. Aku tidak peduli, kau memiliki latar belakang keluarga yang kuat atau tidak. Yang aku butuhkan di dunia ini hanyalah KAMU. Bukankah aku sudah pernah mengatakannya padamu? AKU MENCINTAIMU. Aku tidak mau melepaskanmu dan tidak akan pernah melepaskanmu. Jadi, berhenti mencoba membujukku karena aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi dari hidupku lagi." lanjut Jeremy panjang lebar.


'Dan sudah berapa kali aku mengatakan padamu bahwa aku tidak mencintaimu dan tidak akan pernah mencintaimu?' isyarat Emily bertanya.


"Tidak masalah. Saat ini, kau tidak mencintaiku, tapi siapa tahu suatu hari nanti, kau mungkin akan jatuh cinta padaku. Itu hanya masalah waktu untuk membuatmu jatuh cinta padaku. Bukankah orang bilang, waktu akan mengubah segalanya?" kata Jeremy dengan percaya diri. Dia lupa, bahwa cinta tak bisa di paksakan, bahkan setelah sekian banyak waktu dan banyaknya hal yang terjadi, ia sendiri tidak bisa mencintai Clarissa.

__ADS_1


Emily tetap mendengarkan Jeremy dengan tenang, dan setelah pria itu selesai bicara, Emily mengembalikan kata-katanya.


'Dan itu juga hanya masalah waktu bagimu untuk melupakan perasaan cintamu padaku. Aku juga yakin, suatu hari nanti, kau tidak akan mencintaiku lagi saat akhirnya kau bosan menunggu.'


Jeremy ternganga mendengar Emily mengembalikan perkataannya. Wanita ini memang selalu tahu bagaimana melawannya.


"Cintaku tidak akan pernah berubah. Kau hanya perlu percaya padaku dan aku akan membuktikan seberapa tulus aku mencintaimu." ucap Jeremy.


Emily terdiam beberapa saat, lalu kembali menggerakkan tangannya.


'Cinta seharusnya tidak seperti ini, Jeremy.'


"Lalu cinta itu harus seperti apa? Apakah cinta itu artinya aku harus merelakanmu bahagia bersama orang lain, sementara aku terluka? Bukankah itu sama sekali tidak adil? Bagiku, cinta seharusnya seperti ini, mendapatkanmu, mempertahankanmu dan tidak pernah melepaskanmu." kata Jeremy tegas.


'Ini tidak akan berhasil, Jeremy.' isyarat Emily.


Emily memilih untuk tidak mengatakan apapun lagi karena ia tahu percuma saja bicara dengannya, Jeremy sangat keras kepala dan tidak ingin mendengarkannya. Ia harus membuang jauh-jauh pikiran untuk membujuk Jeremy, dan sebaiknya mulai merencanakan untuk melarikan diri. Tetapi Jeremy sepertinya mengetahui apa yang Emily pikirkan karena itu ia berkata,


"Jangan berpikir untuk kabur dariku jika kau tidak ingin ada sesuatu yang buruk terjadi pada anak laki-laki itu." Jeremy mengatakannya sambil menatap Ferry.


'Kau mengancamku?' isyarat Emily tertegun.


Jeremy mengangkat kedua bahunya.


"Kau bisa menganggapnya begitu."

__ADS_1


'Jeremy, kau tahu, yang kau lakukan membuatku semakin tidak menyukaimu.' isyarat Emily membuat Jeremy terdiam beberapa saat.


"Aku tahu... Tapi, aku membutuhkan jaminan untuk mengikatmu di sisiku selamanya." ucapnya.


Mendengar itu, Emily merasa tidak ada gunanya lagi berbicara dengan Jeremy. Jadi ia pun berjalan ke kapal meninggalkan pria itu, menyusul Ferry yang sudah lebih dahulu di bawa naik oleh para pengawal. Sejak itu, selama perjalanan, Emily tidak menanggapi apapun yang di katakan oleh Jeremy. Meskipun Jeremy berulang kali datang menemuinya di kabinnya, Emily memilih untuk mengabaikannya. Namun, tingkahnya tidak membuat Jeremy marah tetapi tertawa.


"Meskipun seumur hidup kau tidak menanggapiku, aku tidak akan berubah pikiran. Emily, saat ini kau terlihat seperti seorang istri yang sedang marah dan merajuk pada suaminya yang berbuat salah. Maafkan aku, tapi aku melakukan semua ini untukmu."


*****


Sementara itu, di kediaman Presiden, Clarissa meremas telepon genggamnya dengan kuat setelah membaca sebuah berita yang ada di dalamnya.


Jeremy sudah menemukan Emily dan sekarang suaminya sedang membawa wanita itu ke Istana. Tidak hanya itu, Jeremy bahkan sudah memutuskan untuk menjadikannya sebagai istri kedua. Clarissa tahu, Jeremy tidak bisa menceraikannya. Kalau bisa, Jeremy pasti sudah memberi gelar ibu negara pada wanita bisu itu.


"AAAAHHH!!!"


Clarissa melempar vas yang ada di dekatnya ke tembok hingga hancur berkeping-keping. Hal ini membuat para pelayan ketakutan sekaligus khawatir dengan kondisi kandungannya. Terlebih saat Clarissa membabi buta menghancurkan benda-benda yang ada di sekitarnya. Rasa sedih dan marah membuatnya tidak bisa mengontrol emosinya.


Tidak ada yang berani menghentikan Clarissa, karena jika ada yang mencoba menghentikannya, maka ia akan menjadi sasaran amukan sang ibu negara. Jadi, para pelayan hanya bisa terdiam di sudut ruangan.


Teriakan frustasi Clarissa terdengar keluar ruangan, tetapi para penjaga dan pengawal hanya bisa terdiam di tempat mereka. Kecuali saru orang yang buru-buru berjalan dari dapur ke ruangan Clarissa.


Dia adalah Della Eden, adik perempuan mendiang ayah Clarissa. Dia di bawa ke istana negara dan menjadi pelayan pribadi Clarissa sesuai keinginannya sendiri. Ketika ia masuk, ia melihat keponakannya sudah berhenti berteriak, dan sedang berdiri di tengah-tengah kekacauan yang ia buat sendiri. Clarissa terengah-engah, tenaganya terkuras karena emosinya tadi.


"Clarissa." panggil Della pelan.

__ADS_1


"Tante..." Clarissa menoleh dan menjawab dengan sedih.


"Hati-hati! Tetap di sana, tante yang akan ke situ." kata Della ketika Clarissa hendak berjalan ke arahnya. Terlalu banyak pecahan keramik yang bisa melukai kakinya. Della berjalan menghampiri Clarissa dan segera memeluknya begitu berada di dekatnya.


__ADS_2