
Clarissa merasa puas. Namun, kepuasannya tidak bertahan lama, saat Jeremy berpaling darinya dan kembali mendekati Emily sambil membawa putranya. Istri mana yang rela melihat suaminya mengabaikannya dan sebaliknya memberikan perhatian pada wanita lain. Emily memejamkan matanya sesaat. Mengapa Jeremy masih menginginkannya padahal ia sudah memiliki Clarissa dan juga seorang putra? Bahkan saat ini istrinya sedang hamil besar. Pria ini mengaku tidak mencintai istrinya tetapi ia membuatnya hamil hingga dua kali? Apakah ia binatang?
Emily membuka matanya dan menatap Jeremy dengan tatapan tidak suka, membuat Jeremy menaikkan alisnya.
"Ada apa?" tanyanya. Emily menggerakkan tangannya.
'Kau tidak perlu mengantarku. Aku bisa pergi dengan para pelayan, dan kau bisa mengurus yang lainnya.'
"Tidak. Aku yang akan mengantarmu. Sudah kewajiban seorang suami untuk mengantarkan istrinya ke tempat di mana ia akan tinggal." kata Jeremy.
Emily merasa kesal karena Jeremy selalu menyebut kata suami istri.
'Tidak perlu. Aku tidak ingin pergi denganmu.' tolak Emily lagi.
Jeremy terdiam melihatnya, membuat orang-orang yang ada di situ merasa cemas dan menundukkan kepala mereka. Meskipun kebanyakan dari mereka tidak mengerti apa yang Emily sampaikan lewat isyarat, tapi mereka bisa merasakan kemarahan dalam tatapan Jeremy. Ferry sendiri yang tangannya di genggam oleh Emily, merasa tidak nyaman. Ia merasa takut pada orang yang ada di depannya. Mungkin inilah juga alasan ibunya tidak ingin ikut dengan Presiden. Keheningan terjadi selama beberapa saat, sampai suara Jeremy terdengar.
"Kalau begitu, kari kita lihat, sampai kapan kau akan menolakku. TIDAK ADA SATUPUN ORANG YANG DI IZINKAN PERGI DARI TEMPAT INI!!"
Genggaman Emily pada tangan Ferry kian erat mendengar hal itu. Jeremy benar-benar keras kepala, dan ia sungguh tahu bagaimana mengendalikan semua orang dengan kekuasaannya. Emily menggertakkan giginya, dan tanpa mengatakan apa-apa, ia pun melangkah sambil terus memegang tangan Ferry yang mengikutinya dengan cemas. Semua orang di tempat itu menahan nafas mereka, Presiden telah mengatakan bahwa tidak ada satupun yang boleh meninggalkan tempat itu, tetapi wanita itu mengabaikan perintah itu bahkan berjalan melewatinya. Apa wanita bisu itu tidak takut mati?
Sementara itu, Jeremy merasa puas saat melihat Emily mengambil langkah duluan. Ia bergegas mengikutinya.
"Kau berjalan seolah-olah kau terbiasa di sini." komentarnya saat berjalan di samping Emily, tetapi Emily tak menjawab apapun.
__ADS_1
Mereka berjalan mengikuti pelayan di depannya, melewati Clarissa yang terdiam dalam amarah dan kesedihannya, melewati lorong istana negara yang megah, sebuah taman yang indah, hingga akhirnya sampai di sebuah bangunan yang akan ditempati oleh Emily.
Istana Kristal, Jeremy yang memberi nama itu, tampak sangat megah. Emily berdiri di depan bangunan itu dengan perasaan yang bingung. Ia tidak mengerti entah mengapa, bentuk bangunan itu terasa tidak asing untuknya. Tetapi itu tidak masuk akal baginya, karena ia belum pernah datang ke tempat ini sebelumnya. Atau mungkin ia pernah melihatnya di foto-foto yang bertebaran di internet?
Jeremy merasa gugup melihat Emily terdiam di tempatnya. Ia bertanya-tanya dalam hatinya, mengapa Emily tiba-tiba berhenti melangkah. Apakah ia sudah mendapatkan kembali ingatannya? Jeremy sangat ingat dengan jelas bentuk bangunan rumah Clea di samping taman, dan Istana Kristal sengaja di rancang mengikuti arsitektur rumah lama Clea dan orang tuanya. Hanya saja di buat dengan versi lebih besar dan megah.
Apa ia membuat keputusan yang salah? Bagaimana kalau ini memicu ingatan Emily kembali? Apa yang akan terjadi jika Emily mendapatkan kembali ingatannya?
'Mengapa aku baru sadar sekarang!' pikir Jeremy memijit pelipisnya.
Jeremy
Tidak, Jeremy belum siap menghadapinya. Hati Jeremy terasa diremas saat mengingat tatapan penuh kebencian dari Clea malam itu.
Ia tak tahu harus memanggil Emily dengan sebutan apa, yang ia tahu, wanita ini adalah mantan istri sang Presiden dan kemudian akan kembali menjadi istri kedua beliau, karena itu ia memanggilnya Nyonya. Emily mengabaikan perasaan aneh di hatinya dan hendak melangkah masuk, tetapi tiba-tiba Jeremy menarik tangannya membuat Emily menoleh ke arahnya.
"Jangan masuk." kata Jeremy pelan.
Emily mengernyitkan keningnya, terutama saat melihat ekspresi kekhawatiran Jeremy. Sekarang apa lagi?
"Jangan masuk. Istana ini belum selesai di siapkan. Jadi, kau akan tinggal di tempat lain." kata Jeremy sekali lagi.
__ADS_1
Para pelayan yang ada di sana melongo tak mengerti, jelas-jelas Istana Kristal sudah selesai dibersihkan, jadi apa maksudnya belum selesai di siapkan? Emily sendiri tidak peduli di mana ia akan tinggal, selama itu adalah tempat yang tenang sehingga bisa di gunakannya untuk memikirkan cara melarikan diri. Ia pun tidak ingin berurusan dengan Jeremy lebih lama lagi, jadi ia hanya mengikuti apa yang Jeremy katakan dan tidak membantahnya. Pada akhirnya, Emily di tempatkan di sayap kiri Istana Negara.
"Bagaimana, apa kau menyukainya?" tanya Jeremy ketika Emily memasuki kamarnya.
Emily sama sekali tidak menjawab. Sudah ia bilang, ia tak peduli di mana ia tinggal. Hanya Ferry yang sangat terpesona dengan keindahan tempat itu, ia tak berhenti menatap ke sekitar. Jeremy tak ambil pusing dengan sikap acuh Emily, tetapi keberadaan anak angkat Emily itu sedikit mengganggunya.
"Anak laki-laki itu akan tinggal di..."
'Ferry akan tinggal denganku.' isyarat Emily tegas memotong perkataan Jeremy.
'Juga, bawakan hewan peliharaanku kembali. Aku akan tinggal dengan mereka.' lanjutnya.
Blacky tadi di bawa oleh pelayan untuk di bersihkan. Melihat permintaan Emily, Jeremy tersenyum.
"Bisakah kau memintanya dengan baik? Aku mungkin akan mendengarkanmu jika kau melakukannya." ucap Jeremy lembut. Emily menatapnya.
'Apa aku harus berlutut dan memohon kepadamu?' isyarat Emily bertanya.
Jeremy terdiam, tentu saja hal itu tidak akan baik untuk di lihat. Tujuannya membawa Emily kembali bukan untuk diperlakukan dengan rendah, apalagi oleh dirinya sendiri.
"Tentu saja tidak. Kau akan mendapatkan semua yang kau inginkan." kata Jeremy membuat keputusan.
Sementara itu, bocah kecil dalam gendongan Jeremy terus terdiam sejak tadi. Ia melihat ayahnya kembali dengan seorang wanita yang agak aneh, wanita itu tidak berbicara dan hanya menggerak-gerakkan tangannya. Tetapi ayahnya terus berbicara pada wanita itu. Bocah iyu ingin bertanya tetapi ia tak punya kesempatan sama sekali. Meskipun masih sangat kecil, tapi ia sangat paham peraturan penting, yaitu jangan mengganggu ayahnya saat sedang sibuk. Jadi, ketika ia melihat ayahnya sudah selesai mengantarkan tamunya ke kamar, Jordan memberanikan dirinya untuk berbisik ke telinga ayahnya dan bertanya,
__ADS_1
"Ayah, siapa wanita itu?"
Ia tidak berani bertanya dengan suara keras sebab Jeremy sepertinya belum ingin beranjak dari kamar Emily.