
"Selamat datang di Istana, Nyonya Agnes." penjaga yang bertugas memberi salam saat mereka tiba. Para penjaga memeriksa dengan teliti, namun tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan. Mereka tidak terlalu banyak bertanya tentang kedua pria yang bersama dengan Tante Agnes, karena wanita itu terkenal dengan temperamen yang buruk dan di gosipkan banyak memiliki pria simpanan. Kali ini, Tante Agnes merasa di untungkan dengan gosip miring mengenai dirinya. Dengan sikap pura-pura arogan layaknya para wanita kaum elite, Tante Agnes mengibaskan rambutnya dan berjalan dengan anggun, sementara Fernando dan Steven merasa lega.
Mereka mengikuti pelayan yang melayani dan mengantar mereka dengan terampil serta cekatan. Tante Agnes menatap ke sekitar, ada banyak sekali orang yang datang. Ini benar-benar pesta yang sangat luar biasa, musik mengalun dengan merdu, meja-meja
dipenuhi dengan berbagai macam hidangan yang terlihat sedap dan memanjakan mata para pecinta makanan. Sepertinya Jeremy sangat ingin menunjukkan pada semua orang tentang cintanya pada Emily. Namun, setelah memandang ke sekeliling beberapa saat, mereka belum juga menemukan kedua orang itu.
"Ayo, kita duduk dulu." ajak Tante Agnes pada Fernando dan Steven yang segera mengikutinya dengan patuh.
*****
Sementara itu, di sisi lain, Della masih berada di kamar keponakannya. Clarissa tampak sudah lebih tenang dari sebelumnya, meskipun masih ada kesedihan dan kekecewaan yang terlihat, namun tidak ada lagi air mata di wajahnya. Saat ini, ia tengah mengenakan perhiasan untuk memperindah penampilannya.
Clarissa : Aku tidak akan menangis lagi, aku mau makan agar bayiku sehat..😊
"Clarissa, akan lebih baik jika kau tidak menghadiri pesta itu." kata Della tidak tahan melihatnya.
"Mengala tidak?" tanya Clarissa sambil tersenyum tipis.
"Kau hanya akan di permalukan olehnya (Jeremy)." kata Della yakin.
Clarissa memandangi permata-permata di gaunnya, ia merasa puas.
"Mengapa aku harus dipermalukan olehnya?" tanyanya masih fokus ke cermin. Gaunnya sangat kontras dengan kulit putihnya yang cerah, membuatnya nampak sangat cantik.
__ADS_1
"Istri Kedua. Hah,, sebesar apapun pesta yang diberikan Presiden untuknya, pada akhirnya dia hanya akan menjadi istri kedua. Itu hal yang biasa, bukan?" ujar Clarissa.
Della mengerutkan alisnya, ada yang aneh dengan kata-kata Clarissa, ada yang berbeda dari sikapnya. Biasanya dia akan marah dan histeris jika menyangkut Emily, tapi kali ini keponakannya terlihat tenang. Bahkan terlalu tenang, dan ini sedikit membuat Della takut.
"Apa kau tidak akan peduli dengan apa yang akan dikatakan orang-orang di pesta? Itu pasti akan membebani pikiranmu. Clarissa, Tante tidak ingin kau jatuh sakit lagi. Kau baru saja sembuh." kata Della khawatir. Clarissa berbalik dan tersenyum lebar.
"Tenanglah, jangan khawatir. Itu tidak akan terjadi. Karena aku rasa, Tante benar. Ini sudah waktunya bagiku untuk berhenti mengemis cinta orang itu, sebab pada akhirnya yang dia cintai bukan aku. Tidak peduli apapun yang aku lakukan dan korbankan untuk mendapatkan perhatiannya, di matanya hanya ada wanita bisu itu. Buat apa aku terus berjuang untuk mendapatkan sesuatu yang mustahil? Bukankah Tante bilang, lebih baik aku fokus pada kebahagiaanku dan anak-anakku?" kata Clarissa tenang sambil terus mengembangkan senyumannya.
Della terdiam mendengarnya, memang benar, ia ingin keponakannya menyerah pada cintanya dan fokus pada kebahagiaannya, tapi entah mengapa perasaan Della mengatakan kalau ada sesuatu yang salah di sini. Sesuatu itu seolah menolaknya untuk percaya pada kata-kata Clarissa. Terlebih saat Clarissa tiba-tiba memeluknya dengan erat.
"Tante, mencintainya adalah luka yang besar untukku. Rasa cinta yang aku miliki untuknya, membuatku merasakan sesak yang teramat di hatiku, seperti penderitaan tanpa ujung. Jadi, aku memutuskan untuk mendengarkanmu. Aku menyerah." kata Clarissa masih memeluk Della. Meskipun tak ingin percaya, namun yang bisa Della lakukan saat ini hanyalah membalas pelukan Clarissa dan mengelus punggungnya, tanpa menyadari ekspresi mengerikan yang ditunjukkan Clarissa di baliknya.
Clarissa dengan rencananya
*****
Della menuntun Clarissa melewati orang-orang yang membungkuk memberi salam padanya. Usia kandungannya hampir sembilan bulan, seharusnya perutnya sudah besar, tetapi gaun itu menyamarkannya, membuatnya terlihat seperti seorang gadis. Clarissa lalu duduk di tempat khusus untuknya, tampak tidak terlalu peduli pada pandangan semua orang.
"Gaun yang dipakai Clarissa sedikit tidak biasa." bisik Tante Agnes mengomentari. Ia kesulitan menyebut 'Ibu Negara' pada Clarissa.
"Oh ya? Tapi di mataku, dia masih tetap wanita cantik yang menikahi kakakku di saat kak Emily pergi." timpal Steven, membuat Tante Agnes mendengus.
__ADS_1
"Kalian para pria tidak tahu apa-apa." ketusnya. Steven menggaruk kepalanya.
"Apa maksud Tante?" tanya Fernando. Tante Agnes kembali memperhatikan Clarissa yang sedang mengobrol dengan Della.
"Dia tidak melakukan apapun. Apa ia sungguh tidak peduli dengan pesta ini?" gumam Tante Agnes yang masih bisa di dengar oleh kedua bersaudara itu. Fernando dan Steven saling memandang, mereka tidak memahami apa yang Tante Agnes katakan. Namun, tidak ingin bertanya lebih banyak, karena takut terdengar oleh orang lain.
*****
Di ruangan lain, terlihat Emily sudah siap. Lebih tepatnya, selesai disiapkan, karena sejak tadi Emily hanya diam dan para pelayan yang sibuk melayani dan melakukan semuanya.
"Nyonya, anda harus pergi sekarang." kata pelayan yang bertugas. Emily menatapnya lalu menghela nafasnya, sebelum akhirnya berjalan mengikutinya. Emily menghentikan langkahnya saat melihat Jeremy menunggunya di pintu masuk Aula Istana.
"Ada apa, Nyonya?" tanya pelayan yang mengantarnya.
Emily terdiam sesaat sebelum akhirnya melangkah kembali. Ia sadar, saat ini ia tidak bisa melakukan apapun selain mengikuti keinginan Jeremy. Ia tidak bisa membujuknya ataupun melarikan diri dari tempat ini. Sedangkan Jeremy menatap Emily dengan perasaan puas, para pelayan bekerja dengan baik. Wanita yang ada di depannya sungguh terlihat sangat cantik hingga ia tidak bisa menahan senyum di wajah tampannya.
Jeremy
Emily melihatnya. Ia sungguh berharap pria tampan dengan senyum menawan itu memiliki otak dan hati yang sama baiknya dengan penampilannya. Sayangnya, itu tidak terjadi, pria itu sangat keras kepala.
"Kau terlihat sangat cantik, Emily." puji Jeremy, dan ia hendak mengelus pipi Emily namun segera di tepis oleh Emily.
"Kau harus selalu ingat kesepakatan itu, Emily. Kau harus mau menjadi milikku dan anak itu akan kubiarkan hidup." ancam Jeremy dengan senyuman di wajahnya. Emily menatapnya dengan enggan. Kesepakatan apanya? Itu pemaksaan!! Jeremy puas saat Emily menjadi penurut. Ia mengulurkan tangannya ke hadapan Emily.
__ADS_1
"Sekarang, ayo kita masuk. Aku sudah tidak sabar untuk menunjukkanmu pada semua orang." kata Jeremy tak ingin di bantah. Dengan terpaksa Emily menerima uluran tangannya, lalu pintu itupun terbuka lebar.