Emily, Sang Gadis Bisu

Emily, Sang Gadis Bisu
Awal Bertemu


__ADS_3

flashback


Lima belas tahun lalu, di sebuah sekolah internasional di kota S, nampak seorang anak laki-laki terdiam sambil menundukkan wajahnya dengan gelisah. Ia tidak berani mengangkat wajahnya. Di sekitarnya, beberapa anak lelaki dan perempuan dengan memakai seragam sekolah dasar, mengelilingi sambil mengejeknya dan memanggilnya 'anak haram'. Dan ada juga yang menyiraminya dengan air dari botol mineral yang dipegang mereka. Anak lelaki itu tidak mengerti mengapa sejak dulu ia masuk ke sekolah itu, tidak ada satu pun teman-temannya yang menyukainya apalagi berteman dengannya. Mereka semua selalu melakukan perundungan padanya bahkan para guru pun terkesan diam dengan apa yang dialaminya. Sepertinya hampir semua orang di kota itu tahu kalau dia anak hasil hubungan Antonio Charlos dan seorang pelayan, namun tidak di akui oleh Antonio. Karena itu para orang tua tidak mengijinkan anak-anaknya untuk berteman dengannya.


Anak laki-laki itu tidak tahu kalau semua yang dialaminya di sekolah, terjadi karena campur tangan Alex, pamannya sendiri. Alex sengaja berbuat seperti itu agar anak lelaki itu berpikir bahwa ia tidak punya tempat lain selain di samping Alex.


Beberapa saat kemudian, anak-anak sekolah itu sudah bosan mengerjainya. Mereka pun meninggalkannya begitu saja dalam keadaan basah. Ketika semua anak itu sudah pergi barulah anak lelaki itu berani beranjak dari tempatnya. Ia segera berlari keluar dari sekolah itu menuju taman di sampingnya. Anak lelaki itu berlari dengan membawa sejuta rasa sakit di dadanya mendengar ejekan yang di lontarkan teman-temannya. Tanpa sengaja, ia terjatuh dan terguling ketika ia berjalan menuruni tangga yang ada di taman. Beruntung tangga itu tidak terlalu tinggi sehingga ia hanya mengalami sedikit lecet di dahinya. Sambil menahan rasa sakit, anak lelaki itu mencoba untuk tidak menangis. Hingga tiba-tiba seorang gadis kecil berusia sekitar 6 tahun menghampirinya.


"Hai, Kakak.. Apa kamu baik-baik saja?" suara kecilnya terdengar begitu nyaring.


Anak lelaki itu mengangkat wajahnya untuk melihat gadis kecil yang sudah berlutut di depannya. Gadis kecil itu menyibak rambut anak lelaki itu lalu meniup-niup lukanya. Anak laki-laki itu tidak terlalu mempedulikan tindakan gadis kecil itu. Namun pertanyaannya kembali terngiang di kepalanya.


'Apa kamu baik-baik saja?'


Tidak!! Anak lelaki itu tidak baik-baik saja. Rasa sakit dan sesak di dadanya yang ditahan sejak tadi, akhirnya keluar juga. Ia menangis dengan kencang. Melihat anak yang di tolongnya menangis, gadis kecil itu menjadi bingung dan terkejut. Namun ia segera memeluknya dan mengusap-usap punggungnya. Gadis kecil itu berpikir kalau anak laki-laki yang ada di pelukannya itu menangis sebab terjatuh. Karena itu dia menepuk bahu anak lelaki itu dan berkata, "Tidak apa-apa. Cuma luka kecil. Kakak akan segera sembuh. Aku akan membantu kakak mengobatinya. Jadi, kakak jangan sedih lagi. Semua akan baik-baik saja."


Gadis kecil itu tidak tahu kalau anak laki-laki itu menangis karena hatinya sangat terluka.


"Apa kakak merasa lebih baik sekarang?" tanya si gadis kecil ketika anak laki-laki itu mulai berhenti menangis.


Anak lelaki itu hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawabannya. Dia merasa malu karena sudah menangis di depan seorang gadis.

__ADS_1


"Kening kakak berdarah. Ayo, kita ke sebelah sana. Di situ ada ayahku, aku akan memintanya mengobati luka kakak." ajak gadis kecil itu.


Namun sang anak laki-laki itu menggeleng. "Aku tidak apa-apa. Kamu pergilah. Aku bisa mengurus lukaku sendiri." katanya.


Gadis kecil itu terdiam sesaat.


"Apa benar kakak baik-baik saja?" tanyanya ragu.


Anak lelaki itu sekali lagi kembali mengangguk. Gadis kecil itu kemudian mengeluarkan sesuatu dari balik kantung jaketnya.


"Ini untuk kakak. Nanti di makan ya. Kakak pasti akan merasa lebih baik." katanya dengan ceria.


Anak itu ingin menolaknya namun si gadis kecil sudah meletakkannya pada telapak tangannya.


Setelah mengatakan hal itu, si gadis kecil segera berlari meninggalkan anak laki-laki itu sendiri, kemudian membuka telapak tangannya. Di sana terdapat beberapa permen berwarna-warni. Ia lalu mengambil satu dan memakannya. Rasa manis dari permen menyeruak di dalam mulutnya. Dia terdiam sejenak, lalu bangkit dan kembali berjalan pulang.


Keesokan harinya, anak laki-laki itu berjalan dengan gontai menuju sekolahnya. Jarak dari rumahnya ke sekolah memang tidak jauh, hanya melewati dua buah rumah dan taman kota saja. Jadi setiap hari ia selalu berjalan kaki baik pergi maupun pulang sekolah. Dia sebenarnya tidak ingin bersekolah hari ini, namun pamannya itu pasti akan menghukumnya jika tahu ia tidak masuk sekolah. Anak laki-laki itu berjalan sendiri hingga tiba-tiba ia bertemu dengan si gadis kecil yang kemarin menolongnya.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya anak laki-laki itu ketika si gadis kecil berjalan menghampirinya sambil tersenyum.


"Kakak, aku dan orang tuaku baru saja pindah ke sini." ujar si gadis kecil sambil menunjuk rumah yang berada tepat di samping taman.

__ADS_1


Rumah itu memang sudah lama kosong tak berpenghuni. Ternyata sekarang di tempati oleh si gadis kecil ini dan keluarganya.


"Oh iya, kak. Bagaimana dengan lukamu? Apakah sudah membaik? Kakak sudah mengobatinya kan?" tanya gadis kecil itu mencecar.


Pertanyaannya membuat si anak laki-laki tertegun. Selama ini, tidak ada satu orang pun yang peduli dengannya. Apakah ia terluka atau tidak baik-baik saja. Selain pamannya, Alexander Charlos, yang selalu menghukumnya bahkan memukulnya hingga terluka jika ia melakukan kesalahan, tidak akan ada orang yang memeluknya dan menanyakan apakah dia baik-baik saja. Para pelayan di tempat itu pun hanya melihat dan tidak berani mengatakan apa-apa untuk membelanya. Hanya gadis kecil ini satu-satunya yang bertanya...


Anak laki-laki itu menatap si gadis kecil yang sedang menunggu jawabannya.


"Aku sudah mengobatinya. Kau bisa lihat aku sudah baik-baik saja sekarang." kata si anak laki-laki itu sambil mengangguk.


Gadis kecil itu mengulurkan tangannya menyibak rambut di dahi anak laki-laki itu untuk memeriksanya. Ia tidak sadar jika tindakannya itu membuat anak lelaki itu terkejut dan merasa gugup. Pipinya bahkan sampai memerah.


"A..Apa yang kamu lakukan?" tanya si anak laki-laki sambil menepis tangan si gadis kecil.


"Aku hanya ingin memeriksa lukanya. Itu bagus sekarang. Kakak sudah mengobatinya. Lain kali berhati-hatilah, jangan berlarian seperti kemarin atau kakak akan terjatuh lagi." kata si gadis kecil.


Anak laki-laki itu merasa seperti sedang di nasehati dan ia tidak senang mendengarnya. Jadi ia memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya ke sekolah. Tapi si gadis kecil itu segera menarik tangannya.


"Kakak, kita belum berkenalan. Siapa nama kakak?" tanyanya.


Anak laki-laki itu mengerutkan alisnya, namun ia menjawab juga.

__ADS_1


"Namaku Jeremy."


Ia sengaja tidak menyebutkan nama belakangnya, karena gara-gara nama belakangnya itu ia selalu dibully di sekolah. "Kakak Jeremy, namaku Clea.. Clea Harold.."


__ADS_2