
Sementara Emily sibuk dengan orderan tokonya yang melonjak, di Istana Negara, seorang pria tersenyum sambil memandangi sebuah foto. Ia sangat senang karena bisa menemukan orang yang dia cari selama ini.
*****Flashback On*****
Dua Minggu sebelum berita kedatangan Presiden ke Desa W, Jeremy sedang berada di kediamannya memandangi seorang mata-matanya dengan wajah suram.
"Masih tidak ada berita tentangnya?" tanyanya lesu.
"Maafkan saya, Presiden." jawab mata-mata itu sembari menunduk hormat.
Jeremy meremas kertas yang ada di depannya hingga tak berbentuk sama sekali. Ia sangat marah dan kecewa, namun orang yang ada di depannya ini tidak bisa di salahkan, karena negara ini sangat luas dan memiliki banyak pulau kecil. Dan Jeremy tidak punya petunjuk apapun. Ia masih ingat apa yang di katakan Pak Wawan hari itu.
"Nona Muda dan Liana tidak mengatakan kemana mereka akan pergi. Aku sudah bertanya, dan Nona Muda hanya berkata, dia akan meninggalkan ibukota dan menjelajahi negeri ini. Tapi di mana dia akan tinggal menetap, Nona Muda tidak memberi tahukannya."
Jeremy benar-benar merasa frustasi. Apa Emily sungguh-sungguh menjelajahi negeri ini dan tinggal berpindah-pindah tempat agar dia tidak bisa di temukan? Atau jangan-jangan Emily telah melakukan operasi dan mengubah bentuk wajahnya sehingga tidak di kenali oleh orang suruhannya? ****Dengan marah****, kecewa dan penuh emosi, Jeremy melemparkan gelas berisi air di depannya ke arah tembok hingga pecah berkeping-keping.
Jeremy tidak sadar kelakuannya di lihat oleh seorang wanita yang sedang perutnya yang besar dengan hati yang hancur. Clarissa menggigit bibirnya dengan kuat, Ia berkedip-kedip saat air mata turun begitu saja melewati pipinya. Hatinya sangat sakit saat melihat pria yang sangat dia cintai justru merasa frustasi memikirkan wanita lain di saat dirinya ada di sini.
"Pergi." kata Jeremy pada pria yang masih ada di depannya.
Pria itu memberi hormat lalu bergegas pergi, tidak ingin mengganggu Presiden yang sedang kesal karena lagi-lagi ia gagal menemukan orang yang dicari Presiden. Ketika keluar, ia bertemu dengan ibu negara yang ada di depan pintu sambil berlinangan air mata. Mata-mata itu terpaku sesaat lalu memberi salam dan meninggalkannya.
Clarissa melihat mata-mata suruhan Jeremy itu pergi, lalu ia kembali melihat ke dalam ruangan. Jeremy terlihat mengamuk lagi. Ia menghancurkan dan melemparkan apapun yang ada di sekitarnya. Mungkin dengan begitu, rasa kesalnya akan hilang.
__ADS_1
"Jeremy.." panggil Clarissa.
Jeremy berhenti melempar dan menoleh, menatap Clarissa yang berdiri di depan pintu sambil memegang perut besarnya yang membulat.
"Apa kau sama sekali tidak peduli dengan citramu sebagai seorang presiden di depan para bawahanmu? Hanya karena kau tidak bisa menemukannya, bagaimana bisa kau mengamuk seperti ini?" tanya Clarissa dengan wajah nanar dan emosi yang bergejolak di dalam dadanya.
Jeremy balik menatap Clarissa dengan penuh kemarahan. Dulu, ia pikir, gadis ini adalah gadis polos yang gila cinta dan gampang terbuai dengan kata-kata manis. Itu sebabnya Jeremy ingin memanfaatkannya. Namun, siapa sangka kalau ternyata gadis ini lebih licik dari yang ia duga.
Saat itu genap dua bulan kepergian Emily, Jeremy merasa kekuatannya sudah lebih dari cukup dan tanpa Clarissa di sampingnya, ia masih bisa menang. Kala itu, ia memutuskan untuk mengantarkan Clarissa kembali ke rumahnya, dan memutuskan hubungan dengannya. Tetapi Clarissa justru menjebaknya dengan memberinya obat dan mengambil kesempatan saat ia dipengaruhi obat itu.
Tiga minggu kemudian, Clarissa dikabarkan hamil dan Jeremy harus menikahinya, karena semua orang sudah mengetahuinya dari Clarissa, termasuk pamannya, Alexander Charlos. Alex menjadi orang yang sangat mendukung pernikahan keduanya saat itu. Dan karena hal itu, Clarissa pun sah menjadi istri Jeremy.
Tidak hanya itu, setelah Jeremy terpilih menjadi Presiden, Clarissa kembali melakukan trik yang sama agar bisa berhubungan dengannya. Ketika Jeremy mengetahui kalau Clarissa hamil untuk yang kedua kalinya, ia sangat marah dan hampir membunuhnya. Tetapi tatapan putranya yang berusia dua tahun, mengurungkan niatnya.
"Memangnya kenapa jika aku tidak peduli?" tanya Jeremy.
Clarissa menggigit bibirnya sebelum berkata,
"Kau adalah seorang Presiden, dan...."
"Dan apa?" tanya Jeremy memotong perkataan Clarissa.
"Sudah aku katakan, aku tidak peduli! Sekarang pergi dari sini! Aku sangat muak melihat wajahmu!" usir Jeremy kemudian berbalik memunggungi Clarissa.
__ADS_1
Melihatnya membuat Clarissa tidak bisa menahan emosinya.
"Mengapa kau menjadi seperti ini? Bukankah ini yang kau inginkan? Menjadi Presiden dan memiliki kedudukan lebih tinggi dari ayahmu? Lalu mengapa kau masih memedulikan orang itu?" tanya Clarissa. Ia terdiam sesaat menahan rasa sakit di dadanya, lalu kembali bertanya,
"Mengapa kau terlihat seperti orang depresi hanya karena dia tidak ada di sini? Mengapa kau sangat ingin dia di temukan saat kau sudah memiliki segalanya? Kedudukan, Status, Keturunan dan...."
"Karena aku menginginkannya!!" potong Jeremy dengan cepat. Ia berbalik menatap Clarissa dengan wajah marahnya.
"Karena aku menginginkannya!! Siang dan malam aku selalu memikirkannya!" ulang Jeremy setengah berteriak.
Clarissa terpaku sejenak.
"Lalu bagaimana denganku? Apa kau tidak peduli padaku?" tanyanya dengan berlinang air mata.
"Aku tidak pernah peduli padamu!! Kau tahu itu dengan baik, Clarissa. Sejak awal, aku hanya memanfaatkanmu." kata Jeremy membuat Clarissa tanpa sadar mundur selangkah mendengarnya.
"Kau tahu, aku selalu bertanya-tanya, mengapa bukan kamu yang menghilang? Mengapa bukan kamu saja yang ingin pergi dari kehidupanku? Mengapa bukan kamu yang sulit di temukan?" tanya Jeremy tanpa mempedulikan perubahan di wajah Clarissa. Ia terus mengeluarkan uneg-unegnya.
"Kau sangat tahu kalau aku hanya memanfaatkan dirimu, kau juga tahu kalau semua kata-kata manis yang kuucapkan padamu adalah palsu. Dan kau tahu AKU TIDAK PERNAH MENCINTAIMU!! Jadi mengapa kau memaksakan diri untuk bersamaku? Apa yang kau harapkan saat menjebakku dengan trik kotormu itu? Apa menurutmu, kau akan mendapatkan hati dan cintaku karena sudah memberikan keturunan padaku?" tanya Jeremy sarkas.
Clarissa mendengarkan semua kata-kata Jeremy sambil menutup mulutnya, menahan isak tangisnya agar tak di dengar orang. Ia tidak membantah karena ia tahu semua yang di katakan Jeremy ini adalah benar adanya. Dia sangat mencintai Jeremy dan ingin memilikinya serta tak ingin berpisah dengannya. Jadi ketika Jeremy berkata kalau pria itu ingin mengantarnya pulang ke rumah orang tuanya yang kosong, ia menyiapkan siasat untuk menjebak Jeremy. Ia pikir dengan anak yang mereka miliki dan ketulusan hatinya, Jeremy akan luluh hatinya. Namun ternyata ia salah, pria itu sama sekali tidak bisa melupakan wanita yang telah pergi meninggalkannya.
"Mengapa? Mengapa kau tidak bisa membuka hatimu untukku? Bukankah mudah bagi seorang pria untuk jatuh cinta?" Clarissa akhirnya mengeluarkan suaranya untuk bertanya.
__ADS_1