
Melihat Clarissa, Jeremy bertanya-tanya dalam hatinya, mengapa wanita hamil itu berjalan sendirian tanpa pengawal di sisinya. Jeremy melihat ke sekitar, tidak ada satupun pelayan yang terlihat yang bisa disuruhnya untuk mengikuti Clarissa. Jadi, ia tak memiliki pilihan selain mengikutinya sendiri. Karena sekalipun dia membencinya, wanita itu sedang mengandung anaknya. Jeremy tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada calon anaknya, jadi ia berusaha mengejar Clarissa. Gaun merah Clarissa seakan menyapu lantai saat ia berjalan.
"Clarissa!!" Jeremy memanggilnya. Langkah kaki Clarissa terhenti, tapi ia tidak menoleh sama sekali. Ia justru terus berjalan menaiki tangga, seolah mengabaikan panggilan itu. Jeremy menjadi tidak sabar melihat Clarissa mengabaikannya, jadi ia mempercepat langkahnya menaiki anak tangga, namun Clarissa telah sampai di paling atas.
Halaman di depan Istana Berlian lebih sering di sebut Halaman Bintang, merupakan halaman terluas di Istana. Ada sekitar lima puluhan anak tangga di halaman itu. Tempat ini biasanya di gunakan oleh para presiden terdahulu untuk melihat bintang bersama anggota keluarganya. Malam ini sangat cerah, tak ada satupun awan yang terlihat.
Clarissa berdiri di sana sambil menatap bintang-bintang. Selama pernikahannya, tidak pernah sekalipun Jeremy membawanya ke tempat ini. Padahal konon katanya, halaman ini adalah tempat paling romantis untuk Presiden dan pasangannya menghabiskan malam mereka walau hanya dengan sekedar makan malam di sana.
"Apa kau tuli?!" bentak Jeremy dengan tidak senang begitu ia sampai ke atas.
Clarissa menoleh menatapnya, gaun merahnya sedikit bergerak tersapu angin, dan tatapannya membuat Jeremy tidak nyaman. Clarissa masih tersenyum manis padanya, hingga matanya yang cantik membentuk bulan sabit, tetapi pandangannya sangat sendu.
"Apa yang kau lakukan di sini, seorang diri tanpa satupun pengawal atau pelayan?" tanya Jeremy memarahinya. Namun, Clarissa justru semakin tersenyum lebar bahkan sampai tertawa kecil saat mendengar pertanyaan itu. Membuat Jeremy mengerutkan dahinya.
"Apa yang kau tertawakan?" tanya Jeremy tak mengerti, ia berpikir apa wanita ini mendadak gila?
Clarissa masih tertawa kecil, ia melihat posisi mereka berdua, ada jarak yang begitu luas. Dia berdiri di ujung tangga yang lain, dan Jeremy di ujung lainnya. Clarissa mulai berhenti tertawa. Sejak mencintai Emily, Jeremy tidak pernah ingin terlalu dekat dengannya. Setiap kali Clarissa mencoba mendekatinya, Jeremy akan menjauh seolah Clarissa adalah sangat menjijikkan untuknya.
"Malam ini, aku merasa bahagia." ucap Clarissa.
"Bahagia? Untuk apa?" tanya Jeremy heran. Clarissa menatapnya sambil tersenyum lembut.
__ADS_1
"Karena malam ini kau memperhatikanku. Bahkan mengkhawatirkan diriku yang berjalan sendirian." kata Clarissa senang.
"Berhenti bicara omong kosong. Aku mengkhawatirkan calon anakku, dan bukan dirimu. Jadi, cepat masuk dan kembali ke tempatmu. Aku akan menyuruh pelayan untuk mengikutimu." kata Jeremy kesal. Mendengar itu, Clarissa menjadi terdiam. Ia menundukkan kepalanya dengan sedih.
"Jadi begitu? Di matamu, aku benar-benar tidak pernah ada." katanya dengan nada sendu.
"Kau sudah mengetahuinya sejak awal, jadi mengapa kau masih bersikeras dengan perasaanmu padaku? Clarissa, sejak awal aku..."
"Sejak awal?" potong Clarissa dengan cepat.
"Jeremy, sejak awal aku sudah mengagumi dan aku mengakuinya bahwa aku telah jatuh cinta sejak pertama kali aku melihatmu. Namun, saat itu aku hanya mencintaimu dalam diam. Lantas, siapa yang memberiku keberanian untuk menunjukkan rasa cintaku padamu?" tanya Clarissa menuntut.
Kali ini Jeremy yang terdiam mendengarnya. Ia mengingat saat itu, masa di mana ia begitu ambisius untuk mengalahkan ayahnya. Hingga ia menghalalkan segala cara untuk mendapatkan dukungan dan memperbesar kekuatannya, termasuk menggoda Clarissa yang tidak tahu apa-apa.
"Kau memberiku harapan dengan mengatakan bahwa kau tidak pernah mencintai istrimu. Kau bilang kau tidak pernah ingin hidup dengannya. Kau bilang pernikahanmu adalah sebuah beban sangat besar yang harus kau tanggung. Kau bilang kau akan menikahiku bagaimanapun caranya. Jadi, mengapa hatimu berbalik?" tanya Clarissa dengan putus asa.
"Kau bilang, kau tidak menyukainya, lalu mengapa tiba-tiba saja kau sangat menginginkannya dan membuangku begitu saja? Apakah semua yang kau katakan itu adalah kebohongan? Apa kau hanya memanfaatkanku saja?" Clarissa mempertanyakan sesuatu yang sebenarnya ia sudah tahu jawabannya.
Clarissa sadar, sejak awal Jeremy tidak pernah mencintainya dan hanya ingin memanfaatkannya, tapi cinta yang ia miliki ditambah setiap kata manis yang pria itu berikan, membuatnya berhalusinasi dan berharap suatu hari nanti, pria itu akan mencintainya. Ia terus berharap dan menunggu. Tapi, malam ini ia sadar, itu hanyalah angan-angannya saja, yang ia harapkan tidak pernah terjadi.
"Aku sudah mengatakan ini sangat aku ingin memulangkanmu ke rumahmu, bukan?" kata Jeremy balik bertanya.
__ADS_1
"Ini salahmu." kata Clarissa pelan.
"Apa?" Jeremy tidak mengerti.
"Kalau saja kau tidak memberiku harapan, mungkin aku tidak akan jatuh terlalu dalam. Kau memintaku melupakanmu disaat aku tidak bisa melupakanmu. Kau satu-satunya pria yang kucintai di dunia ini, cinta pertamaku setelah ayahku. Jadi, bagaimana aku bisa melupakanmu?" tanya Clarissa.
Kali ini, Jeremy tidak mengatakan apa-apa lagi untuk menyanggahnya. Sepertinya ia mulai mengerti perasaan Clarissa. Ini seperti perasaannya untuk Emily, tidak akan berubah meskipun jarak dan waktu memisahkan. Jeremy berpikir, sepertinya Clarissa benar. Seharusnya ia tidak bermain dengan perasaan seseorang sejak awal.
"Aku masih mencintaimu bahkan meskipun kau mengabaikanku dan memilih mencintai wanita lain. Aku masih tidak bisa membencimu meskipun hatiku terluka setiap hari. Apa yang harus aku lakukan?" tanya Clarissa.
Melihat Clarissa yang sangat putus asa, Jeremy merasa tidak nyaman tetapi ia tidak tahu harus melakukan apa.
"Clarissa, ayo masuk. Kita bicarakan ini nanti." Jeremy berusaha bicara lembut.
"Kenapa? Apa kau khawatir dengan anak ini?" tanya Clarissa sambil mengelus perutnya yang membesar.
"Berhenti bicara dan turuti saja kata-kataku." kata Jeremy tegas. Ia ingin melangkah mendekati Clarissa namun tiba-tiba saja Clarissa berkata menghentikannya.
"Jangan khawatir, Bapak Presiden yang Terhormat. Malam ini, dia akan menjadi temanku. Aku tidak bisa menahan sakitnya lebih lama lagi. Membayangkan dirimu bersama wanita lain, sungguh membuatku merasa sangat tersiksa. Aku benar-benar tidak sanggup lagi. Jadi, mungkin ini satu-satunya langkah yang bisa aku ambil. Selamat tinggal, My Love..."
Jeremy membelalakkan matanya, ia merasa waktu seakan berhenti berputar saat melihat clarissa dengan sengaja menjatuhkan dirinya sendiri dengan perlahan begitu ia selesai bicara. Dengan cepat ia berlari meraih Clarissa ke pelukannya, namun dengan kondisi Clarissa yang sedang hamil besar, membuatnya kehilangan keseimbangan dan mereka berdua terjatuh berguling bersama-sama menuruni puluhan anak tangga. Jantung Jeremy berpacu dengan cepat, ia memeluk Clarissa dengan erat. Jeremy merasakan sangat sakit saat kepalanya membentur ubin. Namun, ia berusaha menahannya dan tidak melepaskan pelukannya sama sekali dari Clarissa. Ia berusaha melindunginya. Saat akhirnya mereka berhenti, Jeremy merasakan sakit dan pusing yang luar biasa. Ia berusaha mempertahankan kesadarannya. Jeremy melepaskan pelukannya pada Clarissa dan melihat wajahnya yang pucat pasi.
__ADS_1
"Clarissa!!" Jeremy memanggilnya, tetapi hanya isak tangis dan air mata yang mengalir. Tak ada luka ataupun lebam di wajah Clarissa tetapi saat Jeremy berusaha untuk duduk, ia melihat ubin itu dipenuhi darah yang mengalir dari gaun merah Clarissa, darah itu menyatu dengan warna gaunnya.