Emily, Sang Gadis Bisu

Emily, Sang Gadis Bisu
Kisah sang Petani


__ADS_3

Mendengar perkataan Jeremy yang terdengar seperti mencurigainya, membuat Emily menatapnya sambil menautkan kedua alisnya. Apakah pria ini berpikir dia sedang mengambil kesempatan untuk menggodanya? Memikirkannya membuat Emily tidak tahan untuk tidak tertawa. Jeremy mengernyit. Apa yang lucu?


'*B*erhenti berpikiran buruk tentangku. Aku sama sekali tidak berselera padamu. Aku hanya ingin tidur dengan nyaman dan tenang malam ini.' isyaratnya.


Jeremy tentu terkejut mendengar perkataan Emily. Apa maksudnya dengan tidak memiliki selera padanya? Apa di matanya, Jeremy adalah pria yang sama sekali tidak menarik?


Jeremy seketika merasa rendah diri. Bahkan selama ini tidak ada satu gadis pun yang tidak tertarik padanya. Tapi Emily?


Ya, benar. Selama ini hanya istrinya, Emily, satu-satunya gadis yang begitu tenang di sampingnya. Seperti seorang wanita tua yang tidak memiliki minat lagi pada pria.


Jeremy ingin mengatakan sesuatu tetapi ternyata Emily sudah tertidur pulas di sampingnya. Istrinya itu pasti sangat kelelahan sehingga langsung tertidur dengan begitu cepat.


Jeremy memperhatikan wajah Emily agak lama, setelah itu barulah ia memutuskan untuk berbaring dan mengikuti Emily ke alam mimpi.


*****


Pagi harinya, Jeremy terbangun dan dan mendapati hanya dia satu-satunya yang berada di dalam kamar itu. Emily ternyata sudah bangun pagi-pagi sekali dan membantu sama petani untuk menyiapkan bubur.


Emily merasa bebas di tempat ini karena ia tidak perlu berpura-pura menjadi orang sakit. Ia bisa melakukan apa yang ingin ia lakukan. Emily kembali ke kamar dan mendapati Jeremy sudah terbangun. Pria itu sedang duduk bersandar di tempat tidur. Emily kemudian menyodorkan bubur yang dibawanya untuk dimakan Jeremy.


'Kakek petani akan datang dan memeriksa lukamu sekaligus menggantinya perbannya dengan yang baru.' isyarat Emily. Ia menghela nafas. Mereka sudah mencoba menanyakan nama petani itu namun petani itu tidak mau memberi tahu namanya, dan mereka juga tidak ingin memaksanya.


Petani itu hanya ingin dipanggil petani tua. Sedangkan Jeremy yang mendengar perkataan Emily, spontan menjatuhkan sendoknya. Ia mengingat dengan baik bagaimana petani tua itu merawat kemarin.


Jeremy menelan salivanya dengan susah payah.


"Jangan merepotkan orang lain untuk hal yang seharusnya yang bisa kamu lakukan sendiri. Apa kamu tidak kasihan pada kakek petani itu? Dia sudah terlalu tua. Belum lagi ia masih harus mengurus istrinya yang sakit." kata Jeremy.

__ADS_1


Haah? Emily melongo menatapnya. Apa pria ini baru saja memintanya untuk merawatnya? Melihat tatapan Emily yang penuh tanda tanya dan tidak percaya, Jeremy tetap berusaha mempertahankan sikap tenangnya.


"Bagaimanapun yang orang lain tahu kita adalah suami istri. Apakah sebagai seorang istri kamu tidak merasa malu jika kewajibanmu merawat suamimu dilakukan oleh orang lain?" lanjut Jeremy bertanya.


Emily berkedip menatapnya.


'Tapi aku adalah seorang istri yang tidak tahu bagaimana caranya merawat orang sakit. Yang orang tahu aku adalah seorang Nona Muda. Bisa memasak saja itu sudah termasuk sebuah keajaiban.' isyarat Emily. Jeremy menelan ludahnya. Ia benar-benar kehilangan kata-katanya.


'Selain itu lukamu cukup parah. Jadi biarkan ahlinya yang mengobatinya. Lagipula, kakek petani itu mengatakan kalau dia tidak keberatan merawatmu.' lanjut Emily.


Mendengar itu, Jeremy tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Ia tahu petani itu sama sekali tidak ahli, tetapi Emily sepertinya sangat percaya padanya. Jeremy kemudian menghabiskan makanannya dengan perasaan kesal.


Selesai makan, Emily kemudian memanggil sang petani sementara ia mencuci piring. Dari luar, ia mendengar suara teriakan Jeremy yang membuatnya tidak tahan untuk tidak tertawa.


Emily kemudian menyelesaikan pekerjaannya lalu kembali masuk ke kamar. Ia bisa melihat kalau petani itu bukanlah seorang ahli. Sang petani hanya melakukan apa yang bisa ia lakukan. Dia sangat kasar dan tidak berhati-hati, tentu saja Jeremy berteriak kesakitan.


"Apa kau ingin melakukannya?" tanya sang petani.


Emily kemudian mengangguk.


"Hahaha... Baiklah. Seorang istri memang harus tahu bagaimana cara merawat suaminya. Ayo, duduk di sini. Aku akan menjelaskan bagaimana caranya." kata sang petani sambil menepuk bangku di sampingnya.


"Kau hanya perlu membersihkan lukanya setiap pagi dan sore.Lalu memberi obat ini padanya, dan membungkusnya dengan perban." kata petani itu menjelaskan dengan penuh semangat.


Emily memperhatikan ramuan herbal yang diberikan oleh sang petani. Ramuan itu terbuat dari dedaunan yang Emily sendiri tidak tau apa namanya. Daun-daun itu sudah di tumbuk menjadi halus seperti bubur. Setelah memberikan mangkuk ramuan itu, sangat petani segera keluar. Emily menatap wajah Jeremy yang terlihat pucat. Jeremy terengah-tengah dan berkeringat dingin seperti baru selesai mengikuti lari maraton.


"Mengapa kau tidak melakukannya sejak tadi aku memintamu?" tanyanya dengan mada merajuk.

__ADS_1


Emily memilih untuk mengabaikannya. Sebenarnya ia tidak mau melakukan ini, tapi mendengar suara jeritan kesakitan Jeremy, ia tidak bisa pura-pura tidak tahu apa-apa. Lagipula, ia juga merasa kasihan kepada yang petani yang menang harus mengurus dua orang sakit sekaligus, istrinya dan juga Jeremy.


Dengan perlahan dan hati-hati, Emily membersihkan luka Jeremy dengan air hangat lalu menempelkan obat pada lukanya. Karena Emily melakukannya dengan sangat lembut, Jeremy merasa tidak terlalu sakit seperti yang tadi dilakukan oleh sang petani.


******


Jeremy merasa bosan terus berada di dalam kamar, karena itu ia meminta Emily untuk membantunya keluar.


'Aku masih kesulitan berkomunikasi dengan kakek petani itu. Terkadang ia masih tidak mengerti apa yang aku katakan. Bisakah kau menanyakan kepadanya, mengapa dia tidak membawa istrinya si kota untuk mendapatkan perawatan?' isyarat Emily ketika ia dan Jeremy berada di teras. Mereka berdua menatap sang petani yang sedang memberi makan ayam-ayamnya.


Jeremy merasa Emily terlalu ingin tahu dengan kehidupan sang petani. Namun ia tidak keberatan untuk menanyakannya. Jadi ketika sang petani menghampiri mereka, Jeremy menyampaikan pertanyaan Emily.


Petani tua itu menunduk dengan wajah yang penuh dengan kesedihan membuat Emily merasa bersalah.


"Kondisi istriku sangat menurun karena umurnya sudah tua. Aku tidak ingin membawanya ke kota karena aku tidak ingin meninggalkan tempat yang damai ini. Kami berdua akan tetap berada di sini sampai kami mati." ujarnya.


Emily terkejut mendengar jawabannya. "Mengapa kakek tidak ingin meninggalkan tempat ini?" tanya Jeremy. Ia ikut penasaran seperti Emily.


Petani itu terus tersenyum perih sambil mengenang masa lalu.


"Itu karena hubungan kami tidak diterima oleh masyarakat." ucapnya pilu.


Kakek petani kemudian menceritakan banyak hal tentang kehidupannya masa lalunya. Tentang bagaimana ia jadi cinta pada ibu tirinya yang berusia 18 tahun lebih tua dari dirinya. Ayah sang petani adalah kepala desa di desa yang berada di seberang hutan ini.


Petani ini dulunya dikenal sebagai anak yang sangat cerdas di desanya dan ia sangat diharapkan untuk menjadi penerus ayahnya. Ibu kandungnya telah meninggal dunia saat petani ini berusia 6 tahun. Sejak itu, ayahnya membesarkannya seorang diri.


Lalu ketika sang petani berusia 14 tahun, sang ayah menikah lagi. Dua tahun setelah menikah, ayahnya meninggal dunia tanpa memiliki anak dengan istri barunya. Sejak saat itulah, sang petani hanya tinggal berdua dengan ibu tirinya membuat hubungan mereka semakin dekat dan akhirnya saling jatuh cinta.

__ADS_1


__ADS_2