
Tiga tahun kemudian
Di sebuah desa kecil yang berada di kota N, terlihat sebuah toko bunga yang sangat ramai pengunjungnya. Desa itu berada di tengah lembah, sangat jauh dari keramaian kota. Di tempat itu masih sangat kental budayanya. Jaringan internet di sana sangat tersendat-sendat. Listrik pun hanya di nyalakan di malam hari.
Lily Florist, nama toko bunga itu, menjual berbagai jenis bunga. Toko itu adalah gabungan dua nama pemiliknya, Li dari Bibi Liana dan Ly dari Emily. Selama tinggal di sana, mereka tidak ketinggalan berita di kota J, khususnya berita yang berkaitan tentang Jeremy.
Tiga bulan setelah berita kematian Emily di umumkan, Jeremy kemudian menikah dengan Clarissa. Acara pernikahan mereka di siarkan di beberapa stasiun televisi. Saat itu, Bibi Liana mengatakan banyak hal sambil menggerutu ketika menontonnya. Emily yang mendengarnya hanya tersenyum. Ia pikir setelah kepergiannya, mereka akan menikah dalam waktu satu bulan saja. Siapa sangka ternyata Jeremy membutuhkan waktu lebih lama untuk memutuskan.
Tak lama setelah menikah, Jeremy terpilih sebagai gubernur, dan dua tahun kemudian ia terpilih lagi menjadi presiden di negara itu. Di saat Jeremy terpilih sebagai presiden, Bibi Liana pun meninggal dunia, tinggallah Emily sendiri mengurus toko bunga itu. Tentu saja Jeremy sudah pasti terpilih, mengingat banyaknya dukungan dari para mafia dan juga keluarga Eden, posisinya sudah tentu lebih kuat dari kandidat lain.
Sejujurnya Emily merasa kasihan kepada Jeremy, karena ia tahu bahwa orang-orang yang mendukung Emily untuk berada di posisinya sekarang, hanya ingin memperalatnya. Terutama para mafia berhati kejam yang hanya ingin mendapat dukungan dan perlindungan dari pemerintah, agar kejahatan mereka tidak diketahui publik.
Namun Emily juga merasa sedih ketika mendengar berita kematian ayah dan ibu mertuanya. Mereka di kabarkan meninggal dalam sebuah kecelakaan tunggal di jalan tol. Emily curiga kalau itu semua adalah perbuatan Jeremy demi membalaskan dendamnya, tetapi tidak ada bukti yang menunjukkan kalau kecelakaan itu di sengaja. Tak lama berita kecelakaan itu pun tenggelam, ditutupi dengan berita tentang kelahiran putra pertama Jeremy dan Clarissa.
Emily menghela nafasnya. Jeremy dan Clarissa akhirnya bahagia bersama, dan Emily rasa ia juga baik-baik saja dengan hidupnya saat ini. Sekalipun ia masih belum bisa melupakan mantan suaminya itu, setidaknya ia tidak mengakhiri hidupnya dan terus hidup dengan mensyukuri kehidupan yang di berikan Tuhan padanya.
Emily tidak tahu, sementara ia merasa puas dengan kehidupannya yang sekarang, di Istana Negara, pria itu tidak pernah berhenti memikirkannya.
*****
"Ibu! Ibu!"
Suara seorang anak laki-laki terdengar berteriak kegirangan. Anak kecil itu berlari memasuki toko bunga Lily Florist. Di tangannya terlihat selembar kertas koran.
"Ibu!" panggilnya lagi ketika melihat Emily.
Emily tersenyum lembut pada anak itu dan melambaikan tangannya.
'Ada apa?'
Anak laki-laki itu berusaha mengatur nafasnya, kemudian meletakkan kertas koran yang di bawanya ke atas meja.
__ADS_1
"Kata kepala desa, bapak Presiden akan berkunjung ke desa kita minggu ini." katanya dengan girang sambil menunjuk tulisan yang tercetak tebal di koran tersebut.
Emily melihat dan membacanya sekilas lalu menghela nafasnya.
"Untuk menyambut kedatangan Presiden, kepala desa menghimbau agar semua orang melakukan gotong royong membersihkan lingkungan. Ibu..." Anak laki-laki itu menahan perkataannya. Ia terlihat ragu untuk mengucapkannya.
Emily menatap anak laki-laki itu, namanya Ferry. Saat itu, Emily baru tiba beberapa bulan di tempat ini, dan tetangganya yang merupakan orang tua dari anak itu meninggal karena sakit. Dan karena anak yatim piatu itu tidak ada yang mengurus, maka Emily dan Bibi Liana memutuskan untuk mengangkatnya menjadi anak Emily. Anak itu berusia sembilan tahun saat ini, namun tubuhnya lebih pendek dari anak-anak seusianya. Bibi Liana yang mengajari anak itu untuk mengerti bahasa isyarat semasa hidupnya.
Emily lalu mengusap kepala anak itu kemudian kembali menggerakkan tangannya.
'Kita akan pergi melihat kedatangan presiden bersama yang lainnya jika kau ingin melihatnya.'
Melihat apa yang dikatakan Emily, kedua mata anak itu yang tadi redup kembali cerah dan berbinar.
"Benarkah, Ibu? Benarkah kita akan pergi?" Ferry tidak bisa menyembunyikan rasa gembiranya.
'Ya, kita akan pergi. Anggap saja ini hadiah untukmu karena menjadi anak yang baik.' isyarat Emily sambil terus tersenyum.
****"
Karena kabar kedatangan Jeremy sang Presiden sudah menyebar, orang-orang di desa ini menjadi sangat sibuk. Mereka sibuk membersihkan dan menghias seluruh desa agar terlihat indah di mata presiden. Toko bunga Lily Florist mendapat banyak keuntungan. Pemesanan bunga di toko itu meningkat pesat karena hampir semua orang ingin memberi bunga pada Presiden. Namun, sejauh yang di ingat Emily, Jeremy sama sekali tidak menyukai bunga.
"Lily."
Emily menoleh mendengar panggilan itu. Di desa ini, ia memang mengenalkan diri sebagai Lily dan Bibi Liana sebagai ibunya. Saat kemari, Emily juga memotong rambutnya menjadi pendek.
Emily saat rambut pendek
Dan kini setelah tiga tahun berlalu, rambut indahnya mulai panjang kembali.
__ADS_1
'Alvin.' isyarat Emily ketika melihat seorang pria berdiri di pintu masuk tokonya. Alvin adalah seorang kurir yang selalu mengantar bunga ke toko Emily. Pria berusia sekitar dua puluhan tahun itu tersenyum melihatnya.
"Apa yang kau pikirkan sampai tidak mendengarku membuka pintu?" tanya Alvin.
Emily tidak menjawab pertanyaannya.
'Apakah bunga-bunga yang kupesan bisa di kirim dua hari sebelum kedatangan Presiden? Ada banyak sekali pesanan di hari itu.' isyarat Emily bertanya.
Alvin menghela nafasnya.
"Presiden akan datang dan semua orang sangat sibuk." ujarnya.
'Itu karena kedatangannya membawa kebahagiaan bagi banyak orang dan berkah bagi sebagian orang. Contohnya untuk kita. Kau lihat saja, kedatangannya membuat bisnis kita mengembang pesat. Bayangkan jika dia berkunjung ke sini setiap bulan. Kau tidak perlu bekerja sebagai kurir pengantar bunga lagi.' isyarat Emily membuat Alvin tertawa.
"Hahaha... Kau benar. Jika presiden berkunjung setiap bulan, mungkin aku bisa menjadi pemilik kebun bunga." ujar Alvin masih tertawa.
'Jadi, bagaimana? Apakah persediaan bunga di tempat bosmu sekarang cukup?' tanya Emily lagi lewat isyaratnya.
"Aku akan memeriksanya besok. Tenang saja, jika persediaan di sana habis, aku akan membantumu mencari di tempat lain." kata Alvin dengan santai.
'Terima kasih.' isyarat Emily senang.
"Oh ya, di mana Ferry?" tanya Alvin.
'Dia sedang pergi mencari anjing peliharaannya.' isyarat Emily menjawab.
Baru saja Alvin hendak bertanya lagi, terdengar suara Ferry dari luar.
"Kau benar-benar merepotkan. Ingat, jangan berani kabur lagi, atau aku akan memakan makananmu!"
Mendengar itu, Emily dan Ferry bergegas keluar melihatnya.
__ADS_1