
Masih Flashback
"Aku bukan bagian dari para pria yang kau sebutkan." kata Jeremy dingin.
"Aku tidak ingin melukai hatinya. Tapi kau menghancurkan segalanya. Kau membuatku terpaksa harus menikahi dirimu, wanita yang sama sekali tidak aku inginkan."
Hati Clarissa sangat tercabik-cabik mendengar perkataan itu. Tanpa berpikir dua kali, ia berkata dengan marah,
"Kau bilang kau tidak ingin melukai hatinya, apa menurutmu dia juga mencintaimu sehingga dia akan merasa terluka melihatmu bersamaku? Kau tahu, jika dia benar mencintaimu, dia akan memperjuangkan cintanya sama seperti aku yang berjuang untuk mendapatkan cintamu. Tapi apa, dia justru melepaskanmu dan memberikanmu padaku! Bahkan ide gila untuk berpura-pura sakit keras dan mati berasal darinya! Dia tidak mencintaimu! Itu sebabnya dia menghilang dan bersembunyi, dia tidak ingin di temukan olehmu! Jeremy, satu-satunya orang yang mencintaimu dengan tulus adalah aku! Hanya aku!!"
PLAK!!!
Clarissa tersentak dan merasa pusing ketika ia tiba-tiba di tampar Jeremy. Ia hampir tidak bisa berdiri dengan benar, namun ia berusaha bertahan. Dengan memegang pipinya yang memerah, ia menatap Jeremy dengan nanar.
"Berhenti bicara dan berhenti mengucapkan omong kosong!!" bentak Jeremy.
"Mengapa kau menamparku? Apa karena kau baru sadar dan tidak bisa menerima kenyataan kalau dia tidak mencintai dirimu dan meninggalkanmu begitu saja?" tanya Clarissa dengan mata berkaca-kaca.
Jeremy menggeram marah, darahnya mendidih mendengar setiap perkataan wanita yang ada di depannya ini.
"Kau tidak tahu apa-apa." ucap Jeremy pelan kemudian memilih pergi sari sana meninggalkan Clarissa sebelum ia berbuat lebih buruk lagi.
__ADS_1
Percuma saja, apapun yang dia lakukan, pada akhirnya Emily tetap tidak ada di sini. Jeremy tidak ingin berdebat dengan Clarissa lagi. Wanita itu tidak tahu apa-apa. Di masa lalu, Clea menyukainya, dan begitu pun Emily, ia yakin gadis bisu itu juga pasti menyukainya, kalau tidak, mengapa ia mencium pipinya hari itu sebelum ia pergi?
Sementara itu, saat Jeremy pergi, Clarissa tidak bisa menopang tubuhnya lagi. Ia jatuh terduduk di lantai yang dingin, menangis seorang diri di sana dengan hati yang hancur berkeping-keping. Semua orang berpikir dia adalah wanita beruntung karena menjadi istri dari orang nomor satu di negera ini. Mereka tidak tahu, setiap harinya ia selalu tersiksa di hatinya. Publik tertipu dengan foto-foto dan sikap mesra mereka yang terlihat di depan umum, itu sama seperti dulu, orang-orang tertipu dengan kedekatan Emily dan Jeremy.
Di luar, Jeremy duduk di kursi sambil meminum minuman dingin yang ia ambil sebelum keluar. Ia berusaha meredakan amarahnya lewat minuman itu. Iseng-iseng, ia membuka telepon genggam dan menjelajah medsos miliknya. Tiba-tiba matanya melotot, seketika ia berdiri dari tempatnya ketika melihat postingan video salah satu karyawannya di perusahaan. Hampir saja ia menjatuhkan handphonenya jika ia tidak memeganginya dengan kuat.
Kembali Jeremy memutar ulang video tersebut. Tampak beberapa pria dan wanita yang sepertinya teman-teman karyawannya itu sedang turun dari kapal. Ekspresi mereka tampak kagum dengan keadaan di sekitar pantai yang terlihat bersih dan indah. Video kemudian beralih ke arah para nelayan yang sedang menurunkan ikan dari perahu. Lalu video itu beralih ke kendaraan yang di tumpangi karyawannya menuju tempat yang akan mereka tuju. Karyawannya itu sepertinya sangat menyukai pemandangan di desa itu yang terlihat masih asri dan penuh kultural budaya. Video kemudian menampilkan sisi jalan yang di lewati kendaraan mereka. Karyawannya yang memegang kamera terdengar meminta orang yang membawa mereka itu untuk menghentikan kendaraannya ketika melihat toko yang menjual beraneka ragam bunga. Lily Florist. Jeremy membaca tulisan itu ketika kamera sang karyawan di arahkan ke sebuah papan yang berada di depan toko tersebut. Saat kamera semakin dekat ke arah seseorang yang menyambut rombongan karyawannya di toko itu, tubuh Jeremy seketika menegang. Ia menghentikan video dan memperbesar layarnya.
Dengan perasaan yang berkecamuk di dadanya, ia menelpon Lukas, asistennya yang paling setia di perusahaannya untuk menanyakan tentang di mana karyawannya merekam video tersebut. Tak butuh waktu lama, Lukas kembali mengiriminya pesan yang berisi nama dan lokasi tempat tersebut.
Jeremy membaca pesan singkat itu.
Jeremy menyeringai. Akhirnya ia tahu di mana Emily berada. Ia bergegas menelepon Lukas.
"Belikan rumah dan mobil dan berikan pada karyawan yang memberi informasi tadi. Naikkan juga gajinya. Kalau bisa, promosikan dia untuk naik jabatan tahun ini." kata Jeremy yang sukses membuat Lukas tercengang di sebelah sana.
Namun Lukas tak punya waktu untuk bertanya, sebab Jeremy sudah duluan mematikan panggilan teleponnya. Ia hanya bisa menarik nafas panjang dan melakukan apa yang di perintahkan Jeremy.
"Karyawan yang sangat beruntung." gumam Lukas.
__ADS_1
Di tempatnya, Jeremy ingin sekali melompat kegirangan. Ia ingin pergi ke desa itu malam ini juga untuk menjemput Emily, namun ia tahu, itu sangat mustahil. Mengingat ia sekarang adalah seorang presiden yang tidak bisa pergi ke mana saja sesuka hatinya. Dengan tugasnya sebagai seorang kepala negara dan banyaknya pertemuan penting yang sudah di jadwalkan, membuat Jeremy harus menahan diri. Ia pun membuat rencana untuk mengunjungi daerah terpencil tersebut, dan dua minggu kemudian barulah ia bisa ke sana.
Flashback Off
*****
Jam menunjukkan pukul tujuh malam, Emily dan Ferry berjalan-jalan di sekitar desa untuk mencari warung makan yang buka di malam hari. Pekerjaan mereka sangat melelahkan beberapa hari terakhir, mengingat besok adalah kedatangan Presiden. Mereka melihat desa ini telah di persiapkan dengan baik untuk menyambut kedatangannya. Jalanan di bersihkan dan lampu-lampu di pasang di beberapa titik. Para orang tua juga membiarkan anak-anak mereka untuk bersenang-senang bermain di luar malam ini.
"Lily!" terdengar suar Alvin memanggilnya, membuat Emily dan Ferry menoleh dan melihat pemuda itu mendekati mereka.
"Apa kalian ingin makan di luar malam ini?" tanyanya.
Emily mengangguk.
'Bagaimana denganmu? Apa kau sudah selesai bekerja?' isyarat Emily bertanya.
Alvin menggaruk kepalanya sebelum menjawab sambil tersenyum.
"Iya, aku baru saja selesai bekerja."
Ferry memicingkan matanya melihat sikap Alvin. Meskipun masih kecil, namun ia tahu, pemuda ini tertarik pada ibu angkatnya. Sebelumnya, ia sudah melihat ada begitu banyak pria yang tertarik pada ibunya, namun tidak ada satupun dari mereka yang berhasil mendapatkan hatinya.
__ADS_1
Saat itu juga, ketika Bibi Liana masih ada, beliau pernah bertanya, pria seperti apa yang di sukai Emily, namun Emily hanya menggelengkan kepalanya dan menolak semua lamaran yang datang padanya.