Emily, Sang Gadis Bisu

Emily, Sang Gadis Bisu
Mungkinkah Ini Karma?


__ADS_3

Pegangan tangan Della pada pergelangan Clarissa semakin erat. Mengapa keponakannya seperti ini, mencintai pria yang bahkan tidak menganggapnya sama sekali. Mengapa Clarissa harus mencintai pria yang hanya memanfaatkannya?


"Tante.." panggil Clarissa dengan lembut saat Della tidak melepaskan tangannya.


Perlahan, Della melonggarkan genggaman tangannya kemudian melepaskannya. Clarissa tidak memperhatikan ekspresi kecewa di wajah tantenya. Ia segera berjalan dengan buru-buru menuju halaman utama Istana Negara untuk menyambut Jeremy.


Layaknya seorang istri yang sangat bahagia ketika mendengar suaminya pulang dari perjalanan yang jauh, wajah Clarissa terlihat cerah dan ia berjalan dengan penuh semangat tanpa memperdulikan sekitar, membuat para pelayan cemas. Bagaimana kalau Ibu Negara jatuh jika berjalan tergesa-gesa seperti itu?


"Hati-hati, Ibu." pelayan yang tadi bersamanya terus berusaha memperingatinya, tetapi Clarissa tidak menghiraukannya. Ia terus berjalan dan hanya berhenti saat ia sudah tiba di halaman, melihat rombongan Presiden telah tiba dari kunjungan mereka.


"Dimana Jordan? Apakah tidak ada yang memberitahukan padanya kalau ayahnya telah kembali?" tanya Clarissa dengan tidak sabar sambil melihat ke sekitar. Jordan adalah putra dari Clarissa dan Jeremy.


"Tuan Muda akan segera sampai, Ibu." jawab pelayannya.


"Ah, Itu dia Tuan Muda." kata pelayan itu lagi ketika melihat Jordan berjalan menghampiri mereka di antar pengasuhnya.


Clarissa menatap putranya yang beberapa bulan lagi akan berusia 3 tahun. Wajah Jordan sungguh sangat mirip dengan Jeremy. Tidak ada yang terbuang darinya, baik warna matanya maupun rambutnya. Semuanya diwariskan dari Jeremy. Clarissa bergegas menghampirinya. Jordan menatap ibunya tanpa senyuman di wajahnya.


"Bersikap baiklah." kata Clarissa, dan Jordan hanya mengangguk sebagai jawaban.

__ADS_1


Clarissa lalu mengangkatnya ke gendongannya tanpa memperdulikan perutnya yang membesar. Saat menggendong Jordan, mereka terus memperhatikan satu persatu rombongan itu turun dari mobil.


Clarissa tersenyum ceria ketika melihat Jeremy juga turun, namun senyumnya perlahan luntur seketika, saat Jeremy berjalan menghampiri mobil yang paling belakang. Dan ketika pintu mobil itu terbuka, tubuh Clarissa seketika membeku. Hatinya sangat sakit melihat Jeremy dengan lembut ingin membantu Emily turun dari mobil.


Saat melihat pandangan ini, mau tidak mau ingatan Clarissa terlempar ke masa lalu. Dimana saat itu Jeremy masih Tuan Muda biasa. Jeremy membawanya ke Mansionnya dan membiarkan istrinya yang tidak ia cintai melihatnya membawa dirinya dengan mesra. Clarissa tidak menyangka semua ini bisa berbalik. Sekarang, Clarissa adalah istri Jeremy, tetapi pria itu membawa mantan istrinya dengan tatapan mesra, penuh kasih sayang dan perhatian. Mengapa semua ini bisa terjadi?


Sedangkan Emily, saat itu hendak turun dari mobil ketika Jeremy membuka pintu dan mengulurkan tangan hendak membantunya turun. Tetapi, kemudian ia melihat Clarissa berdiri di depan sana menggendong seorang anak kecil dengan perutnya yang membuncit, memandang mereka dari teras istana. Membuat Emily juga teringat akan kejadian beberapa tahun lalu. Di mana saat itu ia juga sedang berdiri di teras menunggu kedatangan sang suami yang telah lama pergi. Saat itu, suaminya pulang dengan menggandeng tangan seorang gadis muda. Bedanya, saat itu dirinya tidak mencintai pria ini dan tidak sedang mengandung ataupun memiliki anak dengannya. Sedangkan Clarissa sangat mencintai Jeremy, hatinya saat ini pasti sangat terluka.


Emily menghela nafas di tempat duduknya. Ia berpikir, apakah ini karma? Karma karena Clarissa dulu telah melakukan hal buruk kepada Emily? Bagaimanapun juga saat itu Jeremy adalah seorang pria beristri, dan meskipun dia tidak mencintai istrinya, Clarissa seharusnya tidak menjalin hubungan dengannya.


"Emily.." panggil Jeremy ketika melihatnya diam di tempat.


Emily melihat tangan Jeremy yang terulur padanya, namun ia memilih mengabaikannya dan turun sendiri. Melihat tangannya diabaikan, Jeremy tersenyum pahit dengan kekosongan yang ia rasakan di dalam hatinya. Dia perlahan menarik tangannya kembali. Namun, tak masalah baginya jika Emily tidak menyukainya saat ini. Ia percaya suatu hari nanti Emily akan merubah sikapnya padanya. Bagaimanapun Emily adalah seseorang yang lembut hatinya.


Jeremy hendak melingkari pinggang Emily dengan lengannya, tetapi Emily segera menghindar dan menarik tangan Ferry untuk berdiri di belakang sang presiden. Wajah Ferry nampak sangat terpesona dengan apa yang ia lihat. Bocah itu sama sekali tidak menyangka akan menginjakkan kakinya di Istana Negara, bahkan mendapatkan sambutan yang sangat meriah.


Tetapi Jeremy juga berjalan mundur ke belakang dan berdiri di samping Emily. Mau tidak mau, Emily terpaksa berjalan berdampingan dengannya. Sedangkan para pelayan dan semua yang ada di istana merasa Emily adalah seorang yang tidak masuk akal dan sangat keterlaluan. Bagaimana bisa wanita itu membawa seekor anjing ke istana? Namun, Jeremy tidak mempedulikannya. Ia ingin menunjukkan kepada orang-orang bahwa wanita yang ada di sampingnya itu adalah orang yang sangat penting baginya, hingga ia membiarkannya membawa apa yang ia mau.


Tempat yang akan di tinggali Emily dan Ferry harus melalui Istana Utama. Emily berhenti ketika ia berada beberapa langkah lagi dari Clarissa. Hati Emily merasa bersalah karena harus menjadi orang ketiga dalam hubungan mereka. Bahkan, saat melihat wajah Clarissa, ia bisa ikut merasakan kesedihan, kekecewaan sekaligus kemarahan di hatinya.

__ADS_1


Emily tidak tahu harus berbuat apa saat melihat Clarissa. Bahkan kata maaf sama sekali tidak ada gunanya, karena selama Jeremy terus memilihnya, Clarissa akan terus terluka.


"Mengapa kau berhenti?" tanya Jeremy yang sejak tadi berjalan hanya memandang ke arah Emily.


Emily tidak menjawab dan terus diam di tempatnya. Saat itulah baru Jeremy memutar kepalanya melihat ke depan, lalu menatap Clarissa dengan tidak puas. Ia ingin menyingkirkan wanita itu yang di anggap menghalangi jalan mereka, namun putranya dalam gendongan wanita itu membuatnya menahan diri untuk tidak berkata kasar. Clarissa berusaha untuk tetap tersenyum dan membungkuk memberi hormat.


"Selamat datang kembali."


Clarissa lalu menatap putranya dan menyuruhnya memberi salam. Jordan merasa tidak nyaman di pelukan ibunya, tapi saat melihat ayahnya, ia segera menjadi ceria. Ia dengan senang hati memberi salam pada ayahnya dengan senyum yang mengembang di wajahnya.


"Selamat datang kembali, Ayah."


Jeremy tersenyum padanya, lalu ia menaiki tangga untuk mengambil Jordan dari Clarissa.


"Apa kau di sini untuk menyambut ayah?" tanya Jeremy.Jordan mengangguk.


"Mm,, aku senang ayah kembali." sahutnya.


"Apa kau menjadi anak yang baik selama ayah pergi?" tanya Jeremy.

__ADS_1


"Iya, Ayah." jawab Jordan kembali mengangguk. Jeremy mengusap kepala anak itu dengan lembut.


Emily melihat interaksi Jeremy dan putranya. Meskipun ia mengatakan kalau ia tidak mencintai Clarissa, pria itu sangat menyayangi putranya. Clarissa tersenyum puas saat menatap Emily. Ia menunjukkan hal yang tidak Emily miliki, yaitu seorang anak. Jeremy mencintainya atau tidak, pria itu akan kembali ke sisinya untuk putranya.


__ADS_2