Emily, Sang Gadis Bisu

Emily, Sang Gadis Bisu
Terkadang, Dunia Terlalu Jahat


__ADS_3

Di tengah malam, saat orang-orang terlelap dalam tidurnya, Jeremy pergi ke kamar Emily untuk melihatnya, tetapi Emily mengunci pintunya dari dalam. Jeremy menyerah untuk menemuinya, ia pun segera berbalik menuju kamar putranya. Ia masih ingat putranya sangat ketakutan mendengar kata-katanya. Sesampainya di sana, ia melihat putranya telah tertidur pulas. Jeremy mengusap pipi putranya dengan lembut. Ia berharap Jordan akan segera melupakan kata-katanya tadi. Sentuhan Jeremy membangunkan Jordan dari tidurnya. Anak itu membuka matanya dan menemukan ayahnya berada di sampingnya.


"Ayah.." katanya dengan suara serak.


"Apa ayah membangunkanmu?" tanya Jeremy.


"Mmm..." Jordan mengangguk sambil mengucek matanya. Lalu bangkit dan memeluk Jeremy. Melihat reaksi putranya, Jeremy tahu anak itu tidak takut lagi padanya.


"Sebelumnya, apa ayah membuatmu takut?" tanyanya. Jordan mengangguk dalam pelukannya. Ia lalu melepaskan pelukannya dan menatap ayahnya.


"Ayah, ayah tidak akan membunuhku, kan?" tanyanya polos. Jeremy merasa hatinya sakit mendengar pertanyaan itu. Ia menggeleng cepat.


"Tidak, ayah tidak akan membunuhmu." sahutnya.


"Tapi, mengapa ayah bilang akan membunuhku jika wanita itu tidak menyukaiku?" tanya Jordan lagi.


"Ayah hanya berpura-pura ingin menakutinya sedikit." jawab Jeremy.


"Tapi ayah juga membuatku takut." kata Jordan cepat.


"Benarkah?" tanya Jeremy membuat putranya mengangguk. Jeremy menggendongnya dan membawanya kembali ke tempat tidur.


"Ayah minta maaf karena sudah membuatmu takut. Ayah berjanji, ayah tidak akan melakukannya lagi." kata Jeremy. Ia mengusap-usap kepala putranya dengan lembut. Jeremy sangat penasaran apa yang di lakukan putranya dan Emily saat ia pergi.


"Apa wanita itu mengatakan sesuatu padamu?" tanyanya.


"Iya, Ayah. Dia bilang ayah hanya bercanda." sahut Jordan sambil mengangguk. Mendengarnya membuat Jeremy tersenyum puas.

__ADS_1


"Benarkah? Lalu apalagi yang ia katakan?" Ia tahu, Emily tidak akan membiarkan putranya bersedih.


"Dia bilang, dia menyukaiku." kata Jordan.


"Dia bilang, tidak ada yang bisa membenci anak selucu diriku. Ayah, apa aku lucu?" lanjutnya bertanya. Hati Jeremy menghangat, ia mencubit pipi Jordan.


"Kalau dia bilang begitu, berarti itu benar." katanya.


Jordan terdiam, bukan hanya wanita itu, hampir semua orang mengatakan kalau ia adalah anak yang lucu. Tapi sang Ibu Negara tidak pernah menganggapnya lucu.


"Tapi Ibu..."


"Tidak perlu memikirkannya. Sekarang kau memiliki Bunda yang akan menyayangimu dengan baik." potong Jeremy.


Sekali lagi Jordan terdiam. Setiap kali ia membicarakan ibu kandungnya, ayahnya akan berubah menjadi dingin dan tidak senang. Tetapi, ayahnya tiba-tiba membawa seorang wanita dan bilang kalau wanita itu adalah Bundanya mulai hari ini. Sikap wanita itu sangat hangat padanya, wanita itu juga tersenyum dan memeluknya serta menghiburnya. Sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan dari Ibu Negara. Apa sebenarnya wanita itu adalah ibu kandungnya? Jika iya, maka itu bagus karena ia menyukainya.


"Ayah.." panggil Jordan.


"Mengapa wanita itu tidak bisa berbicara dengan benar?" tanyanya. Lidahnya masih terasa kaku untuk menyebut kata 'Bunda'.


"Bukan dia yang tidak bisa berbicara dengan benar, tapi kau yang harus belajar untuk bicara dengannya. Besok akan datang seorang guru yang mengajarimu bahasa isyarat." ujar Jeremy.


Jordan teringat, wanita itu selalu menggerakkan tangannya saat berbicara dengan ayahnya dan juga dengan kakak laki-laki bernama Ferry yang bersama dengan wanita itu. Ia juga ingin seperti mereka yang mengerti apa yang di sampaikan wanita itu lewat gerakan tangannya. Tapi...


"Aku lebih suka mendengar suaranya." kata Jordan sambil memejamkan matanya. Jeremy terhenyak.


"Kau mendengar suaranya?" Dengan mata terpejam, Jordan mengangguk.

__ADS_1


"Tadi siang saat aku akan tidur, dia bersenandung untukku." jawabnya dengan suara yang mulai melemah, tanda ia mulai memasuki alam mimpinya.


Sial!! Jeremy seketika merasa iri pada putranya. Ia juga ingin di senandungkan lagu oleh Emily.


****


Berita tentang "Sang Presiden membawa kembali Istrinya dari Kuburan" menjadi tajuk perbincangan yang hangat di seluruh negeri. Koran-koran mencetaknya dalam jumlah besar dan meraih banyak keuntungan dari itu. Berita itu menjadi perhatian dari banyak kalangan, karena bagaimanapun, Jeremy dan Emily sudah terkenal sebelum pria itu menjadi Presiden. Bahkan kini, Jeremy mengumumkan akan mengadakan pesta pernikahan sekali lagi dengan Emily dan mengundang banyak orang untuk merayakannya.


Orang-orang yang mengenal dan menerima kebaikan Emily di masa lalu, saat ini tidak tahu harus berbuat seperti apa. Kala itu, ketika mendengar kabar kematian Emily yang tiba-tiba, mereka sangat sedih dan pemakamannya menjadi lautan manusia yang ingin mengantarnya ke peristirahatan terakhir.


Tetapi sekarang, orang yang mereka tangisi tiba-tiba kembali menjadi istri kedua Presiden. Mereka merasa dipermainkan oleh kebohongan tentang kematiannya dan mulai bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi masa lalu. Tak terkecuali Tante Agnes yang membaca koran pagi ini. Ia melipat kembali koran itu dan memutuskan untuk menghadiri pesta yang di adakan Jeremy untuk Emily.


"Emily... Sebenarnya, apa yang sudah kau lakukan?" gumam Tante Agnes.


*****


"Ibu.." Ferry memanggil Emily yang sejak tadi melamun sambil menatap ke luar jendela. Hari ini anginnya sangat kencang. Dedaunan beterbangan di luar sana. Emily menoleh menatap anak angkatnya dan tersenyum lembut.


'Ada apa?' tanyanya.


"Apa yang ibu pikirkan?" Ferry memberanikan dirinya untuk bertanya. Ia bisa melihat, ibunya sangat tidak bahagia di tempat ini. Emily menggeleng dan mengatakan tidak apa-apa, meskipun banyak hal yang ia pikirkan tentang bagaimana caranya untuk lepas dari cengkraman Jeremy. Ferry tahu ibunya lagi-lagi berbohong. Ibunya selalu berpikir dirinya masih kecil sehingga terkadang ibunya selalu menyimpan semua masalahnya sendirian. Ia tahu ibunya ingin bebas, ibarat burung dalam sangkar yang selalu melihat keluar dan berharap bisa terbang bebas lagi di dunia yang luas.


"Izinkan aku keluar, Ibu. Aku pasti bisa mencari jalan keluar, jadi kita bisa pergi dari sini." kata Ferry.


Emily merasa tersentuh mendengar kata-katanya, tetapi ia sadar tempat ini terlalu berbahaya. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi jika Ferry hilang dari pandangannya sedikit saja. Misalnya, bagaimana jika Clarissa bertemu dengan Ferry saat ia keluar, dan melampiaskan amarahnya pada anak itu? Atau bagaimana jika Jeremy melakukan sesuatu pada Ferry untuk menekannya? Emily tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Ferry.


'Tidak perlu. Kau tidak perlu melakukannya.' isyarat Emily sambil mengelus kepala Ferry.

__ADS_1


"Tapi, kenapa? Bukankah Ibu ingin pergi dari sini?" tanya Ferry bingung. Ia tidak mengerti, bahwa semuanya lebih rumit dari yang ia kira.


'Terkadang, dunia terlalu jahat pada orang-orang yang polos. Tempat ini terlalu berbahaya bagimu. Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu. Jadi, tetaplah di sini. Masalah itu, akan Ibu pikirkan sendiri. Jangan khawatir.' isyarat Emily masih mengusap kepala Ferry, berharap anak itu bisa mengerti apa yang ia sampaikan.


__ADS_2