Emily, Sang Gadis Bisu

Emily, Sang Gadis Bisu
Emily Menangis


__ADS_3

Gerald menghampiri Emily dan Dokter Darren yang masih memperhatikannya. Ia melambaikan tangannya untuk mengucapkan terima kasih. Emily menatapnya dengan heran.


'Kamu bisa menggunakan bahasa isyarat?' isyaratnya bertanya.


Gerald mengangguk.


"Iya, Nona Muda. Saya mengerti dan bisa menggunakan bahasa isyarat." jawabnya.


'Dari mana kamu belajar bahasa isyarat?' tanya Emily lagi.


"Para pelayan di sini yang mengajariku. Kata mereka, kalau aku ingin tinggal dan bekerja di sini, aku harus belajar bahasa isyarat. Dengan begitu, aku bisa mengucapkan 'terima kasih' kepada Nona Muda." jawab Gerald sambil melambaikan tangannya mengisyaratkan terima kasih. Ia kemudian tersenyum memperlihatkan lesung pipinya yang manis. Ia terlihat seperti seorang tuan muda dalam pakaian tukang kebun.


"Aku benar-benar berterima kasih padamu, Nona. Terima kasih karena Nona Muda, karena sudah mau menyempatkan hidupku." kata Gerald sekali lagi.


'Bukan aku, tapi Tuhan yang menyelamatkanmu. Lagipula, siapa saja bisa menolongmu. Kebetulan saja saat itu aku yang melewati jalan itu duluan, jadi tidak perlu terlalu berterima kasih padaku. Dokter Darren juga berjasa dalam penyembuhanmu.' isyarat Emily. Ia menghela nafas sejenak, lalu melanjutkan,


'Baiklah. Aku mau masuk sekarang. Kau bisa melanjutkan apa yang tadi kamu kerjakan.'


Setelah itu Emily langsung berbalik meninggalkan mereka. Gerald menggaruk belakang kepalanya.


"Sepertinya Nona Muda tidak menyukaiku." gumamnya.


******


Jeremy menatap Clarissa yang sedang di antar oleh pelayan ke kamarnya setelah selesai sarapan. Ia kemudian beranjak untuk mencari Emily tanpa menyadari kalau Clarissa berbalik dan menatapnya dengan sedih.


"Di mana Emily?" tanya Jeremy kepada salah seorang pelayan ketika melihat kamar istrinya itu kosong.


"Nona Muda tadi berjalan-jalan bersama Dokter Darren setelah selesai pemeriksaan." jawab pelayan itu sambil menundukkan kepalanya.


Jeremy mengerutkan alisnya.


"Apakah dia baik-baik saja?" tanyanya.


"Nona Muda terlihat lesu." kata pelayan itu. Pelayan itu tidak tahu kalau itu Emily hanya pura-pura lesu saja karena perjanjian itu, padahal sebenarnya Emily merasa sangat bugar. Namun Jeremy sendiri sepertinya melupakan hal tersebut, karena itu ia berkata sambil menggerutu dengan kesal,

__ADS_1


"Lalu kenapa dia berjalan-jalan dan bukannya istirahat?"


"Kemana dia pergi?" tanyanya lagi.


"Maaf, Tuan Muda. Saya tidak tahu." jawab pelayan itu dengan takut.


Jeremy sedikit kecewa dengan jawaban itu namun ia lalu melambaikan tangannya menyuruh pelayan itu pergi. Jeremy memutuskan untuk mencari Emily sendiri dan bertemu dengan Bibi Liana di dapur.


"Bibi, apa Bibi melihat Emily? Bagaimana keadaannya?" tanya Jeremy karena ia tahu Bibi Liana pasti selalu menemani Emily.


"Apa Tuan Muda benar-benar sangat perhatian sehingga menanyakan hal itu?" tanya Bibi Liana.


Jeremy mengernyit. Ia kemudian ingat kalau Bibi Liana tidak tahu tentang hubungannya dengan Clea, wanita paruh baya itu masih menganggapnya sebagai pria yang membenci istrinya.


"Bibi Liana, aku...."


"Jika Tuan Muda benar-benar peduli pada Nona, mengapa Tuan membuatnya menangis? Apa yang telah Tuan katakan padanya?" potong Bibi Liana.


Sebentar,, apa?


"Ya, semalam saat aku ingin membangunkannya untuk makan malam, ia menangis dalam tidurnya seperti orang yang putus asa. Itu membuat dadaku sesak. Sebenarnya apa yang Tuan Muda lakukan padanya saat kalian menghilang beberapa hari ini?" tanya Bibi Liana lagi.


"Aku tidak melakukan apa-apa. Apakah Bibi tidak bertanya padanya?" Jeremy berbalik bertanya.


"Apa Tuan pikir, Nona Muda akan memberitahukan padaku tentang apa yang terjadi dan apa yang membuatnya sedih?" sahut Bibi Liana.


Jeremy terdiam, Bibi Liana benar. Emily adalah jenis orang yang memendam segalanya, sama seperti kebisuannya. Melihat reaksi Jeremy, Bibi Liana paham kalau sepertinya Tuannya itu benar-benar tidak tahu apa-apa.


"Tuan Muda benar-benar tidak melakukan apapun." ujar Bibi Liana sambil menghela nafas.


"Memangnya apa yang telah aku lakukan? Jika aku mau melakukan sesuatu padanya karena kebencianku, bukankah aku cukup membiarkannya hanyut di sungai atau meninggalkannya sendirian di hutan?" kata Jeremy dingin.


Bibi Liana merasa apa yang di ucapkan Jeremy itu masuk akal. Bahkan dia saja, ketika mendengar kalau Jeremy dan Emily menghilang, sempat berpikir kalau Jeremy mungkin menggunakan kesempatan ini untuk menghilangkan nyawa Emily.


"Tapi semalam, Nona Muda bilang ia bermimpi kalau ia tiba-tiba sangat sedih dan tidak sanggup untuk tidak menangis dalam mimpinya hingga tidak sadar kalau air matanya benar-benar keluar saat ia tertidur." kata Bibi Liana yang masih yakin kalau Jeremy telah mengatakan sesuatu yang kejam pada Emily.

__ADS_1


Jeremy menyipitkan matanya. Ia berpikir sejenak.


"Tiba-tiba merasa sedih? Apa dia tidak mengatakan apa-apa lagi?"


Bibi Liana menggeleng sebagai jawaban membuat Jeremy terdiam. Ia berpikir, apakah mungkin Emily bermimpi tentang bagaimana kedua orang tuanya meninggal di masa lalu? Bahkan, meskipun ia melupakan masa kecilnya, kenangan yang mengerikan itu pasti membekas dalam jiwanya sehingga bisa saja saat Emily tertidur, alam bawah sadarnya membuatnya bersedih. Jeremy ingat kalau tidak salah, Emily pernah bilang kalau dia kadang berpikir untuk mati.


Jeremy tersentak dengan pemikirannya sendiri. Bagaimana jika Emily benar-benar memutuskan untuk mengakhiri hidupnya? Jeremy bergegas meninggalkan Bibi Liana untuk mencari Emily. Ia menghentikan langkahnya dengan nafas yang tersengal-sengal ketika akhirnya menemukan Emily. Istrinya itu sedang berada di samping kolam dan terlihat seperti sedang menari. Emily menari dengan gerakan yang lincah dan indah. Ia tidak sadar jika sedang di perhatikan


oleh dua orang pria. Bayangan Emily yang terpantul jelas di air kolam, membuat ilusi seperti ada dua Emily yang menari.


Kedua pria yang menatapnya dari tempat yang berbeda, terpesona dengan tariannya, sekaligus bertanya-tanya, mengapa tarian Emily terlihat begitu indah tapi juga terasa begitu sedih?


Jeremy menundukkan kepalanya. Sekelebat bayangan muncul di otaknya.


*****


*****flashback*****


Clea kecil menari dengan indah di ruangan kelas balet yang ada di sekolah.


"Kak Jeremy, suatu hari aku akan menjadi seorang penari balet yang sangat hebat. Aku akan menari di depan banyak orang." katanya girang dengan suaranya yang selalu nyaring seperti biasanya.


Jeremy muda tersenyum bangga.


"Tentu saja. Sekarang saja kau sangat hebat! Aku yakin, mimpimu itu pasti akan terwujud. Dan aku akan menjadi orang pertama yang menonton pertunjukanmu!" kata Jeremy memberi semangat.


"Kakak janji?" tanya Clea kecil dengan mata yang berbinar.


"Ya, aku janji!" sahut Jeremy muda dengan mantap, lalu menautkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Clea yang terulur ke arahnya.


flashback off


*****


Diam-diam Jeremy menyeka air mata yang menetes di kedua pipinya. Ia merasa semakin membenci dirinya sendiri. Ia yang memberi semangat dan membuat janji, namun dia juga yang merenggut semua kesempatan itu. Bahkan, hari ini ia melihat Emily menari, namun tidak ada senyum di wajahnya.

__ADS_1


__ADS_2