Emily, Sang Gadis Bisu

Emily, Sang Gadis Bisu
Kembali ke Mansion


__ADS_3

Melihat Jeremy hanya terdiam, Emily kemudian bangkit dari duduknya.


'Ayo kita lanjutkan perjalanan kita, atau kita akan bermalam di hutan ini.' isyaratnya.


Jeremy masih diam di tempatnya menatap Emily yang mengibas rumput di pakaiannya. Ia berpikir, itu bagus jika Emily melupakan masa kecilnya. Itu artinya Emily tidak membencinya karena dia tidak mengingatnya. Jeremy merasa bersyukur karena rencananya untuk membunuh Emily di Villa waktu tidak berhasil atau dia akan menyesal seumur hidupnya.


Emily menoleh menatap Jeremy yang tidak beranjak dari tempat duduknya.


'Apakah kakimu masih terasa sakit? Apa kamu masih perlu waktu untuk beristirahat?' isyarat Emily bertanya.


Jeremy tersenyum kemudian menggeleng dan bangkit berdiri.


"Tidak, aku baik-baik saja." jawabnya.


Mulai saat ini, semuanya akan baik-baik saja. Mungkin...


*****


Emily dan Jeremy sampai di desa terdekat menjelang Maghrib. Karena itu, mereka memutuskan untuk menginap di salah satu penginapan yang ada di sana. Beruntung bagi mereka karena saat mereka melompat ke sungai, cincin dan kalung milik Emily serta jam tangan yang di pakai Jeremy tidak hanyut di sungai. Jadi mereka memutuskan untuk menjual jam tangan milik Jeremy yang terbuat dari emas 24 karat tersebut di salah satu tokoh perhiasan yang ada di desa itu. Jam itu berhasil dijual dengan harga yang murah karena tidak ada surat-suratnya begitu juga dengan kalung berlian milik Emily. Pemilik toko perhiasan itu merasa sangat gembira karena mendapat barang bagus dengan harga yang murah. Hanya cincin yang di pakai Emily saja yang tidak di jual karena uang yang mereka dapatkan dari hasil penjualan dua benda itu sudah cukup untuk membayar tempat untuk bermalam serta makan minum.


Keesokannya, Jeremy membeli sebuah motor sport. Jeremy menatap puas ke arah motor itu. Ia merasa beruntung karena tidak menyangka berhasil menemukan motor yang sebagus itu di pedesaan.


"Ini motor terbaik yang ada disini. Apakah kau menyukainya?" tanya Jeremy ketika Emily menghampirinya.


Mendengar bertanya membuat Emily merasa heran karena selama ini ia tidak pernah bertanya tentang pendapat Emily, tapi sekarang berapa ia terkesan lebih perhatian padanya. Emily kemudian hanya mengangguk sebagai jawabannya.

__ADS_1


"Kita akan pulang menggunakan ini." kata Jeremy yang membuat Emily sontak melebarkan matanya menatap Jeremy.


'Apa? Kita naik itu bersama? Mengapa kita tidak naik kendaraan sendiri-sendiri saja? Apa menurutmu Clarissa akan suka melihat kita menaiki motor yang sama?' isyarat Emily.


Jeremy menatap Emily dengan sedikit kesal. Ia tidak senang karena Emily terus memikirkan perasaan Clarissa. Apa istrinya ini berpikir hubungan dirinya dan Clarissa sedalam itu?


"Memangnya kamu bisa mengendarai motor sendiri?" tanya Jeremy mendelik.


Emily terdiam. Perkataan Jeremy benar. Emily tidak bisa mengendarai motor sendiri.


"Lagipula, aku tidak memiliki uang untuk membeli dua buah motor." ucap Jeremy yang sontak membuat Emily tertawa mendengarnya.


Bagaimana bisa seorang Jeremy Charlos tidak memiliki uang? Lagipula bukankah lebih murah menyewa sebuah mobil daripada membeli sebuah motor sport? Di mobil, mereka bisa duduk dengan tenang dan tidak terlalu berdekatan seperti di atas motor. Apakah setelah jatuh dari tebing tempo hari membuat otaknya tidak bisa berpikir dengan cerdas? Emily tertawa sambil menggelengkan kepalanya. Ia tidak tahu saja kalau Jeremy memang sengaja membeli motor agar ia bisa lebih dekat lagi dengan Emily.


"Apa kita bisa berangkat sekarang?" tanyanya sambil menyodorkan sebuah helm. Emily mengangguk kemudian menerima helm itu dan memakainya, lalu naik ke atas motor. Jeremy sengaja mengendarai motornya tidak terlalu cepat sehingga mereka membutuhkan waktu yang lebih lama untuk sampai ke kota J.


*****


Saat mereka sampai di Mansion, para pelayan sangat senang melihat mereka.


"Tuan Muda!! Nona Muda!! Kalian sudah kembali!" seru mereka dengan girang.


Clarissa yang berada di kamarnya berlari secepat yang ia bisa untuk menemui Jeremy, dan terkejut melihat Emily dan Jeremy berada di atas motor yang sama dengan posisi Emily memegang bahu Jeremy. Hal itu membuatnya merasakan cemburu di dalam hatinya. Diam-diam ia mengepalkan tangannya dengan kesal.


Emily menatap Bibi Liana dan Pak Wawan yang datang menghampiri mereka dengan wajah khawatir. Terutama Bibi Liana yang wajahnya dipenuhi kesedihan. Emily tersentuh melihat antusiasme para pelayan menyambut mereka. Bibi Liana benar-benar menganggapnya sebagai keluarganya. Jika ia tidak kembali hari ini, pasti perasaan Bibi Liana akan sangat hancur. Emily merasa keputusannya untuk kembali ke tempat ini adalah keputusan yang tepat.

__ADS_1


"Tuan dan Nona Muda.. Kalian berdua benar-benar membuat kamu takut." ujar Bibi Liana dengan suara yang bergetar.


'**J**angan sedih, Bibi. Lihat apa yang aku bawakan untukmu.' isyarat Emily kemudian memberikan satu kantung penuh strawberry yang segar, bahkan ada beberapa yang masih memiliki tangkai.


Bibi Liana merasa heran dan tangisnya berhenti. Dari mana mereka mendapatkan semua ini? Sementara Jeremy menahan tawanya melihat wajah heran Bibi Liana. Ia tersenyum dan menutupi tangannya dengan kepalan tangannya ketika mengingat dari mana stroberi itu berasal. Saat mereka melewati jalan di desa, secara kebetulan di pinggiran jalan itu ada yang menanam stroberi dan Emily tanpa memberi isyarat mengulurkan tangannya untuk memetik strawberry itu. Jeremy ingat di masa lalu Clea sangat menyukai stroberi, dan sepertinya itu sama sekali tidak berubah. Dia kemudian menghentikan motor dan memutuskan untuk membeli buah stroberi tersebut.


Si pemilik kebun mengijinkan mereka untuk memetik sendiri buah stroberi yang diinginkan mereka. Dan karena Jeremy tidak tahu cara memetiknya, ia justru memetik buah tersebut bersamaan dengan tangkai-tangkainya, sehingga mereka sempat ditegur oleh sang pemilik kebun. Namun karena Jeremy beralasan kalau itu adalah keinginan istrinya yang sedang ngidam, mereka pun pun memakluminya.


"Jeremy.." panggil Clarissa.


Jeremy menatapnya sekilas kemudian membantu Emily karena ia tahu istrinya itu pasti merasa kram di kakinya karena perjalanan yang jauh. Hal itu membuat Emily merasa tidak enak pada Clarissa, namun ia berusaha untuk tidak terlalu peduli karena sejak awal Clarissa memang tidak pernah menyukainya, dan sepertinya ia tidak akan pernah bisa menyukainya.


"Tuan, Nona.. Kalian pasti sangat lelah. Sebaiknya masuk dan beristirahat sekarang." kata Bibi Liana.


Emily kemudian masuk dibantu Bibi Liana. Jeremy ingin membantu Emily namun tangannya sudah ditarik oleh Clarissa lebih dulu.


"Jeremy, apa yang terjadi padamu? Mengapa kamu menghilang begitu lama dan meninggalkanku sendirian di Villa? Aku sampai meminta asistenmu untuk mengantarku pulang. Tahukah kamu, aku sangat takut." cecar Clarissa.


Jeremy mengusap rambut gadis itu.


"Aku akan menceritakan padamu nanti. Jangan khawatir, aku baik-baik saja sekarang. Kamu masuklah dulu, ada yang ingin aku bicarakan dengan Pak Wawan." katanya lembut.


Setelah Clarissa masuk, Jeremy kemudian meminta Pak Wawan masuk ke ruang kerjanya lalu bertanya tentang apa saja yang terjadi selama ia menghilang. Pak Wawan kemudian menceritakan bahwa hari itu Clarissa menelpon ke Mansion dan mengatakan kalau Jeremy dan Emily tidak ada di Villa. Dia bertanya apakah mereka ada kembali ke Mansion. Clarissa curiga kalau Emily sengaja mengajak mereka ke sana untuk meninggalkan Clarissa sendirian di Villa.


Pak Wawan yang tahu kalau Emily tidak mungkin melakukan hal tersebut, langsung curiga kalau ada yang sesuatu pada majikan mereka. Ia lalu menelepon Lukas, asisten Jeremy, untuk mencari tahu apa yang terjadi. Lukas selalu segera ke Villa dan menjemput Clarissa kembali ke Mansion. Namun ia tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan di Villa, karena orang-orang itu tidak meninggalkan jejak apapun.

__ADS_1


__ADS_2