
Pak Wawan dan Lukas tidak memberitahukan kepada publik kalau Jeremy hilang, karena takutnya akan membuat saham perusahaan menjadi merosot dan musuh-musuh bisnisnya menyerang perusahaannya. Mereka juga tidak memberitahukan kepada orang tua dan saudara-saudaranya. Selesai bercerita, Pak Wawan kemudian bertanya,
"Tuan Muda, sebenarnya apa yang terjadi?" Jeremy lalu menceritakan tentang kejadian yang menimpa mereka, tanpa terkecuali. Ia tidak menyangka kalau ternyata musuhnya sampai mengejar mereka hingga ke sana. Jeremy kemudian menelpon asistennya yang sangat senang mendengar kalau bosnya sudah kembali dalam keadaan sehat. Jeremy juga meminta Lukas untuk membeli dan mengantarkan beberapa ekor ternak kepada kakek petani yang sudah menolong mereka dengan tulus. Ia juga berpesan agar memberi sejumlah uang padanya karena Jeremy berpikir, mungkin saja suatu saat nanti petani itu akan membutuhkan uang tersebut.
Sementara itu, Pak Wawan keluar memanggil Dokter Darren yang saat ini sedang ada di Mansion untuk memeriksa kondisi kaki Jeremy.
******
Pagi ini, Emily merasa tubuhnya sangat bugar setelah semalaman beristirahat dengan nyenyak. Saat ini ia sedang berdiri memperhatikan seorang pria yang sedang membersihkan taman kecil yang ada di dalam Mansion tersebut.
"Namanya Gerald." kata Dokter Darren yang tiba-tiba sudah ada di samping Emily, membuatnya terkejut.
Dokter Darren ternyata sudah sejak tadi melihat Emily terus memperhatikan pria yang tempo hari di tolonginya itu. Emily bersandar pada tiang yang ada di sampingnya.
'Siapa yang mengijinkannya bekerja sebagai tukang kebun di sini?' isyaratnya bertanya.
"Pak Wawan dan Bibi Liana yang menyuruhnya. Kondisi tubuhnya sudah lebih baik. Dia sendiri yang meminta untuk diberi pekerjaan karena tidak enak jika hanya berdiam diri saja." jawab Dokter Darren.
Melihat Emily yang hanya terdiam sambil terus memandangi Gerald, Dokter Darren kembali bertanya,
"Apakah Nona Muda tidak menyukainya? Atau Nona Muda tertarik padanya? Wajahnya sangat tampan."
Dokter Darren tidak sungkan menanyakan hal itu karena ia tahu kalau Jeremy dan Emily tidak saling mencintai.
'Aku tidak tertarik padanya. Aku hanya khawatir lukanya belum benar-benar sembuh.' isyarat Emily.
"Jangan kuatir, Nona. Aku sudah memastikan keadaannya. Ia baik-baik saja." kata Dokter Darren dengan mantap.
__ADS_1
Siang ini matahari bersinar dengan terik. Gerald sepertinya tidak tahan dengan kondisi itu. Ia mengangkat tangannya untuk menyeka keringat di wajahnya. Tindakannya itu membuat matanya bertabrakan dengan pandangan Emily. Gerald mengenali Emily sebagai Nona Muda sekaligus orang yang sudah menolongnya dari jalanan, karena sudah pernah di tunjukkan fotonya oleh Pak Wawan.
Ia pun memberikan hormat dari kejauhan yang di balas dengan senyuman oleh Emily yang tidak sadar kalau senyum itu membuat getaran di hati Gerald.
******
Clarissa menarik tangan Jeremy ketika pria itu baru saja keluar dari kamarnya. Sejak kemarin sore ia menunggu pria itu datang sendiri menjelaskan padanya namun Jeremy malahan pergi tidur. Jeremy dan Emily juga sama sama melewatkan makan malam mereka. Pagi ini Clarissa tidak bisa bersabar lagi.
"Jeremy, apa yang terjadi pada kalian berdua? Kemana kalian menghilang selama beberapa hari ini?" tanya Clarissa dengan tidak sabaran.
Meskipun Jeremy selalu mengatakan bahwa ia tidak mencintai istrinya dan kedekatan keduanya hanya kepura-puraan agar orang lain tidak curiga, namun melihat kedekatan mereka kemarin Clarissa tidak bisa berhenti khawatir dan curiga.
"Saat aku mencari Emily di danau, ada banyak orang yang mencoba membunuhku. Mereka membawa pistol, jadi aku terpaksa melompat bersama Emily ke dalam sungai karena aku tahu kami tidak bisa mengalahkan mereka." jawab Jeremy singkat dengan tidak bersemangat.
Ia sebenarnya ingin menemui Emily dan menanyakan keadaannya sekaligus mengajaknya sarapan bersama. Namun Clarissa justru menariknya. Gadis pencemburu ini kadang membuatnya tidak tahan dengan sikapnya.
Melihat Jeremy tetap diam, Clarissa kembali bertanya,
"Dan mengapa juga kamu menyelamatkan Emily? Jika saja kamu membiarkannya mati di sana, kita bisa...."
"Clarissa Eden!" Jeremy berbalik dan menatap Clarissa dengan tajam membuat gadis itu tertegun.
"Berhenti membicarakan masalah ini." kata Jeremy dengan tegas. Dia tidak senang saat Clarissa membicarakan tentang kematian Emily. Hal itu membuat hatinya menjadi marah namun pikirannya menyadarkannya bahwa gadis yang ada di depannya ini masih memiliki manfaat yang penting baginya.
"Kenapa?" Clarissa bertanya dengan perasaan yang semakin tidak menentu. Bagaimanapun, sejak awal mereka bertemu, Jeremy selalu bersikap lemah lembut padanya. Lalu mengapa ia langsung berubah dalam waktu singkat? Apakah selama beberapa hari Jeremy dan Emily bersama, pria ini mulai membuka hatinya untuk istri bisunya itu? Clarissa mengepalkan kedua tangannya dengan kuat memikirkan hal tersebut.
"Apa wanita itu murahan itu sudah merayumu dan kamu jatuh kedalam rayuannya?" tuduhnya kasar.
__ADS_1
"Apa yang kau katakan, Emily tidak...."
"Tidak apa? Lihat, kau bahkan mulai membelanya sekarang." potong Clarissa.
"Jeremy, katakan padaku siapa yang lebih penting bagimu, aku atau dia? Mengapa kamu tidak membiarkannya mati di sungai dan justru menyelamatkannya? Jeremy, jika kamu meninggalkan di sana, kita berdua bisa menikah lebih cepat atau...." Clarissa menelan salivanya dengan kasar. Ia terdiam sejenak lalu menundukkan kepalanya dan berkata dengan lirih.
"A..Atau apakah kamu sudah tidak ingin menikah denganku dan lebih memilihnya?"
Jeremy terdiam beberapa saat ketika mendengar pertanyaan yang panjang dari Clarissa. Awalnya, ia sangat membenci gadis bisu yang menjadi istrinya itu. Namun, setelah mengingat siapa Emily sebenarnya, ia berbalik membenci dirinya sendiri. Jeremy menarik nafas kemudian memegang kedua pundak Clarissa. Gadis muda itu mengangkat wajahnya menatap Jeremy dengan mata yang berkaca-kaca.
"Sudah aku katakan, jangan mengkhawatirkan hal yang tidak perlu." kata Jeremy. Kemudian ia menunduk dan berbisik di telinganya dengan lembut.
"Kau yang akan menjadi istriku."
Clarissa tertegun sejenak.
"Benarkah?" tanyanya. Jeremy menggangguk sebagai jawaban.
Clarissa menatapnya dengan serius.
"Tapi, sampai kapan aku harus menunggu? Sampai kapan kamu akan menahannya disini?"
Jeremy terdiam. Pertanyaan Clarissa barusan terulang lagi di kepalanya. Sampai kapan ia akan menahan Emily di sini? Sejujurnya, sejak kembali dari hutan tempat petani tua itu tinggal, ia selalu berpikir untuk terus menahan Emily di sampingnya seperti yang dilakukan petani tua itu kepada ibu tirinya. Jeremy menyentuh rambut Clarissa dengan lembut.
"Bersabarlah sebentar. Sebaiknya kau jangan memikirkan atau mengkhawatirkan hal-hal yang tidak berguna. Kau tahu persis siapa yang aku butuhkan antara kamu dan Emily." kata Jeremy.
Dia belum bisa melepaskan Clarissa karena Clarissa adalah batu pijakan agar ia bisa berada di atas ayahnya. Mendengar itu, Clarissa terdiam dan tidak menanyakan apa-apa lagi. Jeremy kemudian mengajaknya untuk sarapan bersama.
__ADS_1